Biografi Nagarjuna: Ajaran, Karya, Pemikiran, dan Pengaruhnya
https://www.belajarsampaimati.com/2023/03/siapa-nagarjuna-dan-apa-perannya-di.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Nagarjuna adalah salah satu filsuf dan pemikir besar dalam sejarah filsafat India. Ia dikenal sebagai pendiri dan Bapak Madhyamaka, sebuah aliran dalam filsafat Buddha yang berkembang di India pada abad ke-2 SM. Meskipun banyak hal tentang kehidupan pribadinya yang tidak diketahui, pengaruhnya dalam dunia filsafat dan agama Buddha sangat besar, dan karya-karyanya menjadi klasik di dunia filsafat Buddha.
Nagarjuna lahir di kota Nalgonda, Andhra Pradesh, India, pada sekitar abad ke-2 SM. Meskipun sedikit informasi tentang kehidupannya, beberapa sumber mengatakan bahwa ia berasal dari keluarga brahmana yang kaya dan mulia. Ia belajar filsafat dan agama Buddha di sebuah universitas di kota Nalanda, yang pada saat itu merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan terbesar di India.
Setelah menyelesaikan studinya di Nalanda, Nagarjuna dikatakan telah menjadi seorang bhikkhu (biarawan Buddha), dan menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam meditasi dan penelitian. Ia juga mengembara ke berbagai tempat di India, mengunjungi kuil-kuil Buddha dan berbicara dengan para biksu dan biksuni untuk belajar lebih banyak tentang ajaran Buddha.
Salah satu karya terkenal Nagarjuna adalah Mūlamadhyamakakārikā atau The Fundamental Verses on the Middle Way. Dalam karya ini, Nagarjuna mengembangkan pandangannya tentang kehampaan atau śūnyatā yang menjadi inti ajaran Madhyamaka. Konsep kehampaan ini mengatakan bahwa semua fenomena tidak berdiri sendiri dan tidak memiliki substansi yang tetap. Semua fenomena bersifat relatif, dan tidak memiliki keberadaan yang independen.
Dalam karya-karyanya, Nagarjuna mengkritik berbagai pandangan filsafat Buddha yang ada pada masanya, seperti pandangan Sarvastivada, yang berpendapat bahwa semua fenomena adalah nyata dan abadi. Nagarjuna berpendapat bahwa pandangan-pandangan tersebut tidak sejalan dengan ajaran Buddha yang sebenarnya, dan menunjukkan bagaimana konsep kehampaan dapat mengatasi masalah-masalah tersebut.
Salah satu kontribusi penting Nagarjuna adalah konsep “dua kebenaran”. Ia berpendapat bahwa ada dua jenis kebenaran; kebenaran konvensional dan kebenaran absolut. Kebenaran konvensional berkaitan dengan dunia fenomenal yang kita lihat, dan kebenaran absolut berkaitan dengan kehampaan yang merupakan inti ajaran Buddha.
Konsep kebenaran konvensional dan kebenaran absolut ini telah menjadi dasar bagi banyak aliran dalam filsafat Buddha, dan pengaruh Nagarjuna dalam sejarah filsafat Buddha sangat besar. Karya-karyanya telah menjadi bahan bacaan penting bagi banyak orang yang tertarik dalam agama dan filsafat Buddha, dan ia dihormati sebagai salah satu pemikir Buddha terbesar dalam sejarah.
Selain karya-karyanya dalam filsafat, Nagarjuna juga terkenal karena kontribusinya dalam perkembangan bahasa Sanskerta. Ia adalah satu dari sedikit orang pada zamannya yang mampu menguasai bahasa Sanskerta secara baik, dan ia memperkenalkan banyak istilah baru dalam bahasa tersebut untuk menjelaskan konsep-konsep dalam ajaran Buddha.
Nagarjuna juga dikenal sebagai orang yang sangat rendah hati dan tulus dalam praktik meditasi. Ia diceritakan pernah mempraktikkan meditasi selama beberapa tahun di bawah pohon yang sama tempat Buddha mencapai pencerahan. Konon, ketika seseorang bertanya kepadanya mengapa ia tidak pernah mencapai pencerahan, Nagarjuna hanya tersenyum dan berkata bahwa ia masih terus berusaha.
Karya-karya Nagarjuna telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak filsuf dan pemikir di bidang agama dan filsafat Buddha. Ia sangat dihormati oleh pengikut Madhyamaka, dan para pengikutnya terus memperbarui dan mengembangkan ajaran Madhyamaka sesuai dengan zaman dan tempat yang berbeda.
Di luar India, ajaran Madhyamaka telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan banyak pengikutnya yang terkenal, seperti Shantideva, Tsongkhapa, dan Dalai Lama. Ajaran Madhyamaka juga menjadi dasar bagi banyak aliran dalam Zen dan Kabbalah.
Dalam sejarah filsafat Barat, ajaran Madhyamaka dan karya-karya Nagarjuna mulai menarik perhatian pada abad ke-19 dan ke-20, terutama melalui karya-karya para intelektual seperti Arthur Schopenhauer dan Martin Heidegger. Mereka melihat ajaran kehampaan Nagarjuna sebagai suatu bentuk filsafat yang dapat membantu mengatasi berbagai masalah dalam pemikiran Barat.
Secara keseluruhan, Nagarjuna adalah salah satu tokoh terpenting dalam sejarah agama dan filsafat Buddha. Karya-karyanya dalam filsafat dan agama telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pemikiran manusia, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang dalam memahami ajaran Buddha dan mencapai pencerahan. Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadinya, namanya selalu dikenang sebagai salah satu filsuf terbesar dalam sejarah.
Pemikiran dan Pengaruh Nagarjuna
Tentang pemikiran Nagarjuna, ia memiliki dua karya yang paling terkenal, yaitu Mulamadhyamakakarika (The Fundamental Verses on the Middle Way) dan Vigrahavyavartani (The Refutation of Objections). Kedua karya tersebut menjadi dasar ajaran Madhyamaka.
Mulamadhyamakakarika adalah karya penting dalam tradisi filsafat Madhyamaka, yang berisi pemikiran-pemikiran Nagarjuna tentang konsep kehampaan. Menurut ajaran Madhyamaka, semua fenomena di dunia ini adalah kehampaan atau sunyata. Kehampaan bukan berarti ketiadaan atau nihilisme, melainkan realitas yang lebih fundamental dibandingkan dengan segala hal yang terlihat atau dirasakan.
Nagarjuna berpendapat bahwa semua konsep dan penilaian yang kita buat tentang dunia ini bersifat relatif dan tergantung pada perspektif yang kita ambil. Karena itu, kita tidak dapat mengambil suatu pandangan sebagai yang absolut atau benar.
Nagarjuna juga mengajarkan konsep prattyasamutpada atau ketergantungan timbal balik. Menurut ajaran ini, semua fenomena di dunia ini saling bergantung satu sama lain, dan tidak dapat dipahami secara terpisah. Karena itu, keberadaan suatu fenomena tidak dapat dipahami secara terpisah dari keberadaan fenomena lainnya.
Dalam Vigrahavyavartani, Nagarjuna menanggapi kritik-kritik terhadap ajaran Madhyamaka, dan menjelaskan bagaimana ajaran tersebut dapat dipahami dengan benar. Ia mengkritik pandangan-pandangan yang absolutis dan ekstrem dalam ajaran-ajaran Buddha, dan memperkenalkan konsep-konsep baru untuk menjelaskan konsep kehampaan.
Nagarjuna juga mengajarkan konsep karma dan reinkarnasi. Ia berpendapat bahwa semua tindakan manusia memiliki akibat atau karma, dan akibat-akibat tersebut akan membawa dampak pada kehidupan berikutnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperbaiki tindakan dan pikiran, agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan dan menghindari penderitaan.
Karya-karya Nagarjuna telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat Buddha dan agama Buddha pada umumnya. Konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik yang ia ajarkan masih menjadi topik yang penting dalam filsafat dan agama Buddha sampai saat ini. Ia memberi pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran Buddha, dan membantu orang untuk mencapai pencerahan atau nirwana.
Pemikiran Nagarjuna juga masih relevan dengan masalah-masalah kontemporer yang dihadapi manusia. Konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik dapat membantu kita memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini saling bergantung satu sama lain, dan tidak dapat dipahami secara terpisah. Karena itu, penting bagi kita untuk menghargai dan menjaga keseimbangan dalam hubungan antara manusia, lingkungan, dan alam semesta.
Dalam pandangan Nagarjuna, kehampaan bukanlah kekosongan, melainkan sebuah realitas yang menyeluruh dan inklusif. Karena itu, kita perlu menghindari pandangan absolutis dan ekstrem, dan mengambil sikap yang terbuka dan inklusif dalam memahami dunia.
Dalam konteks kehidupan manusia, konsep karma dan reinkarnasi yang diajarkan oleh Nagarjuna dapat memberikan pengertian tentang pentingnya tindakan dan pikiran yang baik. Tindakan manusia memiliki dampak yang luas, dan dapat mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya. Karena itu, kita perlu berusaha untuk memperbaiki tindakan dan pikiran, agar dapat mencapai kebahagiaan dan menghindari penderitaan.
Nagarjuna adalah tokoh yang sangat penting dalam sejarah filsafat dan agama Buddha. Karya-karyanya dalam filsafat dan agama telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pemikiran manusia, dan masih menjadi topik penting dalam diskusi filsafat dan agama sampai saat ini. Konsep kehampaan, ketergantungan timbal balik, karma, dan reinkarnasi yang diajarkannya dapat membantu kita memahami dunia secara lebih mendalam dan mencapai pencerahan atau nirwana.
Kontribusi Nagarjuna dalam Filsafat
Nagarjuna adalah filsuf dan pemimpin spiritual yang hidup pada abad ke-2 Masehi di India, dan dianggap sebagai tokoh yang sangat penting dalam sejarah filsafat dan agama Buddha. Berikut ini adalah latar belakang atau alasan Nagarjuna dianggap sebagai filsuf penting dalam sejarah.
Kontribusi dalam filsafat Madhyamaka
Salah satu alasan utama Nagarjuna dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah filsafat, karena kontribusinya dalam mengembangkan filsafat Madhyamaka. Filsafat Madhyamaka adalah aliran filsafat yang mengajarkan konsep kehampaan (sunyata) dan ketergantungan timbal balik (pratityasamutpada).
Konsep kehampaan mengajarkan bahwa semua fenomena di dunia ini tidak memiliki sifat yang tetap dan kekal, melainkan bersifat relatif dan bergantung pada konteks. Sementara itu, konsep ketergantungan timbal balik mengajarkan bahwa semua fenomena di dunia ini saling bergantung satu sama lain, dan tidak dapat dipahami secara terpisah.
Nagarjuna memperkenalkan konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik dalam karya-karyanya, seperti Madhyamakakarika dan Vigrahavyavartani. Ia juga membahas konsep ini secara mendalam, dengan mengkritik pandangan-pandangan yang salah tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik. Kontribusinya dalam mengembangkan filsafat Madhyamaka telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemikiran Buddha Mahayana, dan masih menjadi topik diskusi yang penting dalam filsafat dan agama sampai saat ini.
Metode dialektika Nagarjuna
Nagarjuna juga dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah filsafat, karena metode dialektikanya. Nagarjuna menggunakan metode dialektika untuk mengkritik pandangan-pandangan yang salah tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik, dan memperkenalkan konsep yang benar tentang konsep-konsep ini. Ia menggunakan argumen-argumen logis, dan mengajak pembaca untuk berpikir secara kritis, sehingga membantu pembaca memahami konsep-konsep yang rumit.
Metode dialektika Nagarjuna juga menjadi sumber inspirasi bagi filsuf-filsuf selanjutnya, terutama dalam aliran filsafat Madhyamaka. Banyak filsuf Madhyamaka yang mengembangkan metode dialektika Nagarjuna, dan memperluas cakupan penggunaannya dalam filsafat Buddha.
Pengaruh pada perkembangan Buddha Mahayana
Nagarjuna memiliki pengaruh besar pada perkembangan agama Buddha Mahayana. Ia adalah salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam agama Buddha Mahayana, dan karya-karyanya sangat dihargai dalam lingkungan tersebut. Konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik yang diajarkannya sangat relevan dengan ajaran Buddha Mahayana, yang menekankan pentingnya kesadaran akan kehampaan dan pengembangan cinta kasih yang meluas ke seluruh makhluk.
Nagarjuna juga mengajarkan konsep sunyata, atau kehampaan, sebagai suatu cara untuk mengatasi penderitaan dan pencarian manusia akan kebahagiaan. Konsep sunyata mengajarkan bahwa semua fenomena, termasuk kebahagiaan dan penderitaan, bersifat tidak tetap dan tidak kekal. Karena itu, manusia harus membebaskan diri dari ikatan dengan fenomena tersebut, dan mencari kebahagiaan yang abadi melalui pemahaman dan pengalaman kehampaan.
Konsep sunyata dan ketergantungan timbal balik juga menjadi landasan bagi ajaran Buddha Mahayana tentang prajnaparamita, atau kebijaksanaan sempurna. Prajnaparamita mengajarkan bahwa kebijaksanaan adalah cara untuk membebaskan diri dari dukha (penderitaan) dan mencapai kebahagiaan yang abadi. Konsep sunyata dan ketergantungan timbal balik dianggap sebagai dasar kebijaksanaan sempurna, karena memungkinkan manusia untuk melihat realitas sebagaimana adanya, dan mengatasi ikatan dengan dunia yang berubah-ubah.
Pengaruh pada filsafat Barat
Selain pengaruhnya pada filsafat dan agama Buddha, Nagarjuna juga memiliki pengaruh pada filsafat Barat. Beberapa filsuf Barat, seperti Schopenhauer dan Nietzsche, terinspirasi oleh konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik yang dianjurkan oleh Nagarjuna.
Schopenhauer, misalnya, menyatakan bahwa konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik dalam filsafat Nagarjuna memiliki kesamaan dengan konsep Voluntarisme miliknya, yang menyatakan bahwa kehampaan adalah realitas yang mendasari semua fenomena. Nietzsche juga terinspirasi oleh filsafat Nagarjuna, terutama dalam konsep perspektivisme, yang mengajarkan bahwa tidak ada satu perspektif yang dapat mengklaim kebenaran secara absolut.
Pengaruh Nagarjuna pada filsafat Barat juga semakin penting pada abad ke-20, ketika filsuf-filsuf Barat mulai membahas filsafat Asia secara serius. Konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik dalam filsafat Nagarjuna menjadi topik diskusi yang penting dalam filsafat Barat, dan banyak filsuf Barat yang mengadopsi konsep-konsep ini ke dalam pemikiran mereka.
Konsistensi pemikiran Nagarjuna
Salah satu keunikan dari filsafat Nagarjuna adalah konsistensi pemikirannya. Ia tidak hanya memperkenalkan konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik, tetapi juga mengkritik pandangan-pandangan yang salah tentang konsep-konsep tersebut. Ia memperlihatkan bahwa konsep kehampaan dan ketergantungan timbal balik bukanlah konsep yang mudah dipahami, dan harus dipahami secara mendalam dan konsisten.
Nagarjuna juga konsisten dalam pemikirannya tentang konsep karma dan reinkarnasi. Meskipun ia mengajarkan bahwa semua fenomena tidak tetap dan tidak kekal, ia tetap mempertahankan keyakinannya pada keberadaan karma dan reinkarnasi. Ia mengajarkan bahwa karma dan reinkarnasi adalah konsep yang diperlukan untuk memahami bagaimana manusia dapat membebaskan diri dari penderitaan, dan mencapai kebahagiaan yang abadi.
Pengaruh pada budaya dan seni
Pengaruh Nagarjuna tidak terbatas pada filsafat dan agama. Ia juga memiliki pengaruh yang besar pada budaya dan seni di seluruh dunia, terutama di Asia. Ajarannya tentang kesadaran akan kehampaan dan pengembangan cinta kasih yang meluas ke seluruh makhluk, memengaruhi seni rupa, puisi, dan musik di seluruh Asia.
Misalnya, seni rupa Buddhisme Tibet menampilkan gambaran Buddha dan Bodhisattva yang sering kali menggambarkan ajaran Nagarjuna tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik. Puisi-puisi Jepang seperti Haiku juga terinspirasi oleh ajaran Nagarjuna, dengan menampilkan gambaran alam yang terus berubah dan tidak tetap.
Nagarjuna juga memiliki pengaruh pada seni dan budaya di Asia Tenggara. Di Indonesia, misalnya, ajaran Nagarjuna memengaruhi seni wayang kulit dan seni ukir yang menggambarkan cerita-cerita tentang Bodhisattva dan dewa-dewa Buddha.
Kritik terhadap Nagarjuna
Meskipun Nagarjuna dianggap salah satu filsuf terbesar dalam sejarah, ajarannya juga mendapat kritik dari beberapa filsuf dan penganut agama. Beberapa kritik terhadap ajaran Nagarjuna adalah sebagai berikut:
Kritik terhadap konsep kehampaan: Beberapa filsuf dan penganut agama mengkritik konsep kehampaan yang dianjurkan oleh Nagarjuna, karena dianggap sebagai nihilisme atau penyangkalan akan keberadaan. Mereka berpendapat bahwa konsep kehampaan menyangkal keberadaan yang nyata dan membuat manusia kehilangan orientasi dalam hidup.
Kritik terhadap konsep ketergantungan timbal balik: Beberapa filsuf dan penganut agama juga mengkritik konsep ketergantungan timbal balik, karena dianggap tidak mempertimbangkan keberadaan entitas yang independen. Mereka berpendapat bahwa konsep ketergantungan timbal balik hanya menggambarkan hubungan antara fenomena, tanpa mempertimbangkan keberadaan entitas yang mendasari fenomena tersebut.
Kritik pada pemahaman terhadap sutra: Beberapa kritikus juga mengkritik pemahaman Nagarjuna terhadap sutra Buddha, karena dianggap sebagai interpretasi yang salah. Mereka berpendapat bahwa Nagarjuna tidak memahami sutra dengan benar, dan melakukan interpretasi yang tidak tepat terhadap ajaran Buddha.
Kritik terhadap metode argumen: Beberapa kritikus juga mengkritik metode argumen yang digunakan oleh Nagarjuna, karena dianggap sebagai kurang koheren. Mereka berpendapat bahwa Nagarjuna sering kali menggunakan kontradiksi dan paradoks untuk membuktikan bahwa semua konsep adalah tidak tetap dan tidak kekal, namun hal ini dianggap sebagai tidak koheren, dan tidak dapat diterapkan pada semua situasi.
Meskipun mendapat kritik, ajaran Nagarjuna tetap menjadi salah satu kontribusi terbesar dalam sejarah filsafat dan agama. Ajarannya tentang kehampaan, ketergantungan timbal balik, dan cinta kasih, meluas ke seluruh dunia dan mempengaruhi banyak bidang kehidupan, termasuk seni, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Karya-karya Penting
Nagarjuna dikenal karena karya-karyanya dalam filsafat dan agama, khususnya dalam tradisi Mahayana. Berikut adalah beberapa karya penting Nagarjuna:
Madhyamaka-karika atau Stanza-stanza tentang Middle Way adalah karya yang paling terkenal dan penting dari Nagarjuna. Dalam karya ini, Nagarjuna membahas ketergantungan timbal balik dan kehampaan, serta membantah argumen-argumen yang menganggap bahwa fenomena yang ada adalah kekal dan tidak berubah.
Sunyata-saptati atau Tujuh Puluh Stanza tentang Kehampaan adalah karya yang juga membahas tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik, tetapi dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana daripada Madhyamaka-karika. Karya ini terdiri dari tujuh puluh stanza, dan dikutip serta dibahas oleh banyak filsuf dan pengajar di seluruh Asia.
Vigrahavyavartani atau Pembalikan Argumen adalah karya yang menanggapi kritik terhadap ajaran Nagarjuna oleh filsuf lain. Dalam karya ini, Nagarjuna membela ajarannya tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik, dan membantah argumen-argumen yang salah atau tidak tepat dari kritikusnya.
Ratnavali atau Mahkota Berlian adalah karya tentang Buddha-nature, atau hakikat batin manusia yang memiliki potensi untuk mencapai kebijaksanaan dan pembebasan dari penderitaan. Dalam karya ini, Nagarjuna mengajarkan bahwa semua makhluk memiliki potensi Buddha-nature yang sama.
Prajnaparamita atau Perfeksi Kebijaksanaan adalah karya yang terkenal dalam tradisi Mahayana, dan mengandung ajaran-ajaran tentang kehampaan dan ketergantungan timbal balik, serta pentingnya cinta kasih dan karma dalam mencapai kebahagiaan yang abadi.
Selain karya-karya tersebut, Nagarjuna juga dipercaya menulis banyak karya lain, meskipun beberapa karya ini telah hilang atau hanya dikenal melalui kutipan dalam karya-karya lain. Beberapa karya lain yang dikaitkan dengan Nagarjuna adalah: Bodhicittavivarana atau Penjelasan tentang Kemurahan Hati, Suhrllekha atau Surat kepada Seorang Teman, Yukti-dipika atau Lampiran Argumen, dan Vaidalyaprakarana atau Pembicaraan tentang Kecacatan.
Karya-karya itu menunjukkan bahwa Nagarjuna adalah seorang filsuf yang produktif, dan telah memberikan banyak sumbangan penting bagi tradisi Mahayana dan filsafat secara umum. Karya-karyanya masih dipelajari dan dihargai hingga saat ini, dan banyak penelitian serta diskusi masih terus dilakukan untuk memahami pemikiran dan kontribusi filsuf besar ini.
Kutipan Penting Nagarjuna
Berikut adalah kutipan-kutipan atau quotes dari Nagarjuna yang penting, yang ditulis dalam bahasa Inggris serta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
“Whatever is dependent origination, that is emptiness. That being a dependent designation is itself the middle way.” (Apa pun yang merupakan ketergantungan timbal balik, itulah kehampaan. Karena menjadi sebuah penunjukan yang tergantung adalah jalan tengah itu sendiri.)
“One does not become happy by suppressing desire, but by fulfilling it.” (Seseorang tidak menjadi bahagia dengan menekan keinginan, tetapi dengan memenuhinya.)
“Those who know that the mind is a fiction and devoid of anything real know that their own mind neither exists nor doesn’t exist.” (Mereka yang tahu bahwa pikiran adalah fiksi dan tidak memiliki apa pun yang nyata, mengetahui bahwa pikiran mereka sendiri tidak ada atau tidak tidak ada.)
“The elimination of all views is non-attachment. When there is no non-attachment, there is no path, and when there is a path, there is no realization.” (Penyingkiran semua pandangan adalah ketiadaan ikatan. Ketika tidak ada ketiadaan ikatan, tidak ada jalan, dan ketika ada jalan, tidak ada pengertian.)
“If a person suffers seeing the suffering of others, he is said to be compassionate. If a person, desiring his own good, punishes others, he is said to be selfish.” (Jika seseorang menderita melihat penderitaan orang lain, dia memiliki belas kasihan. Jika seseorang, dengan menginginkan kebaikan sendiri, menghukum orang lain, dia egois.)
“Neither from itself nor from another, nor from both, nor without a cause, does anything whatever, anywhere arise.” (Tidak dari dirinya sendiri, tidak dari yang lain, tidak dari keduanya, tidak tanpa sebab, suatu apa pun muncul di mana saja.)
“The true nature of things is not known to those who have a distorted mind and perceive only the manifestations of things.” (Sifat sejati dari hal-hal tidak diketahui oleh mereka yang memiliki pikiran yang terdistorsi dan hanya mengetahui manifestasi dari banyak hal.)
“All phenomena arise from causes and conditions. The Tathagata has taught the causes of all phenomena, and their cessation too.” (Semua fenomena muncul dari penyebab dan kondisi. Sang Tathagata telah mengajarkan penyebab dari semua fenomena, dan juga pemutusannya.)
“If there is anything among the doctrines of which it is difficult to have a clear understanding, it is non-violence.” (Jika ada sesuatu di antara doktrin-doktrin yang sulit dipahami dengan jelas, itu adalah non-kekerasan.)
“The perfection of wisdom lies in the realization that phenomena neither arise nor cease, but merely exist in the mind.” (Kemurnian kebijaksanaan terletak pada pengertian bahwa fenomena tidak muncul atau pun berhenti, tetapi hanya ada dalam pikiran.)
Catatan terkait: Biografi Zhuangzi: Ajaran, Karya, Pemikiran, dan Pengaruhnya


