Internet Explorer, Raksasa yang Mati karena Terlalu Percaya Diri

Ilustrasi/lifehacker.com
Bunyi modem dial-up pada 26 Mei 1995 seperti sesuatu yang hidup—melengking, terputus-putus, lalu tiba-tiba menyatu jadi nada panjang yang menenangkan sekaligus menjanjikan. Di sebuah ruang kerja di Redmond, Washington, layar CRT memantulkan cahaya kebiruan ke wajah-wajah yang tampak lelah tapi tidak benar-benar ingin pulang. Mereka tahu sesuatu sedang dibuka, meski belum ada yang bisa menjelaskan dengan kalimat yang rapi; internet bukan lagi sekadar jaringan akademik atau mainan para teknisi.

Di tengah suasana itu, Microsoft masuk agak terlambat ke pesta.

Pada pertengahan 1990-an, nama yang lebih dulu bergaung di ruang-ruang diskusi daring adalah Netscape Navigator. Browser itu ringan, relatif stabil, dan—yang paling penting—punya aura pionir. Banyak orang mengingat bagaimana mereka pertama kali “berselancar” menggunakan Navigator, mengklik tautan yang terasa seperti membuka pintu-pintu kecil menuju dunia yang tidak terbatas. Di kantor-kantor kampus, di laboratorium komputer, bahkan di rumah-rumah dengan koneksi yang tersendat, Netscape adalah gerbang.

Microsoft, dengan segala dominasinya di sistem operasi lewat Windows 95, justru terlihat ragu di awal. Bill Gates pernah mengakui—meski dengan cara yang tidak sepenuhnya jujur—bahwa mereka “terlambat melihat potensi web”. Dokumen internal yang kemudian terkenal, memo “Internet Tidal Wave” tahun 1995, memperlihatkan kepanikan yang jarang ditunjukkan oleh perusahaan sebesar itu. Di sana, Bill Gates menulis dengan nada yang hampir seperti peringatan; internet bukan tren sementara, tapi arus besar yang bisa menenggelamkan siapa pun yang tidak siap.

Lalu keputusan diambil dengan cepat, bahkan tergesa. Microsoft tidak membangun browser dari nol. Mereka membeli lisensi dari Spyglass Inc., yang pada gilirannya mengembangkan produk berdasarkan Mosaic—browser awal dari National Center for Supercomputing Applications. Dari situlah versi pertama Internet Explorer lahir pada Agustus 1995, sebagai bagian dari paket add-on Windows 95 yang disebut Plus!.

Versi awal itu sederhana, hampir terasa seperti prototipe yang dilepas ke publik. Fitur-fiturnya terbatas, tampilannya kaku dan, dibandingkan Netscape, ia belum punya karakter. Tapi ia punya sesuatu yang jauh lebih penting; posisi. Internet Explorer tidak berdiri sendiri sebagai produk yang harus dicari dan diunduh secara terpisah. Ia menempel pada Windows, sistem operasi yang sudah menguasai sebagian besar komputer pribadi di dunia.

Strategi itu terdengar biasa hari ini, tapi saat itu terasa seperti langkah yang agak… kasar.

Microsoft mulai memasukkan Internet Explorer langsung ke dalam sistem operasi, membuatnya nyaris mustahil untuk dihindari oleh pengguna biasa. Ketika seseorang membeli komputer baru, browser itu sudah ada di sana, diam-diam menunggu untuk diklik. Netscape, yang sebelumnya tumbuh dengan model distribusi terbuka, tiba-tiba harus bersaing dengan sesuatu yang “gratis” dan sudah terpasang.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Ada rasa tidak adil yang mengendap di kalangan pengembang. Di forum-forum awal internet, keluhan mulai muncul; tentang praktik monopoli, tentang dominasi yang terlalu besar, tentang bagaimana satu perusahaan bisa menentukan arah teknologi dengan cara yang begitu agresif. Tapi di sisi lain, banyak pengguna tidak peduli. Mereka hanya ingin sesuatu yang bekerja.

Dan Internet Explorer bekerja. Versi demi versi dirilis dengan cepat—IE 2, IE 3, lalu IE 4 yang mulai terasa matang. Microsoft tidak sekadar mengejar; mereka menabrak. Fitur-fitur baru ditambahkan, integrasi dengan Windows semakin dalam, dan perlahan-lahan Netscape mulai kehilangan pijakan. Pada akhir 1990-an, Internet Explorer menguasai sebagian besar pasar browser.

Ada momen yang sering diabaikan ketika membicarakan dominasi ini; pengalaman pengguna biasa. Duduk di depan komputer Pentium dengan RAM 32 MB, membuka Internet Explorer, mengetik alamat situs yang sering salah eja, lalu menunggu halaman dimuat dengan sabar. Gambar muncul baris demi baris, dari atas ke bawah, seperti tirai yang dibuka perlahan. Iklan-iklan GIF berkedip tanpa henti. Kadang browser tiba-tiba nge-lag, lemot, atau bahkan hang, dan satu-satunya solusi adalah menekan Ctrl+Alt+Del.

Rasanya menjengkelkan, tapi juga anehnya memikat.

Microsoft tidak hanya menjual perangkat lunak; mereka ikut membentuk cara orang memahami internet. Internet Explorer menjadi semacam standar de facto. Banyak situs dirancang khusus untuk kompatibel dengan IE, sering kali mengabaikan browser lain. Teknologi seperti ActiveX diperkenalkan—kuat, tapi juga membuka celah keamanan yang kemudian jadi mimpi buruk. Virus, malware, dan berbagai ancaman mulai menyusup melalui browser sama yang sebelumnya dianggap sebagai pintu ke dunia baru.

Apakah itu harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan yang cepat?

Kasus hukum mulai mengejar. Pemerintah Amerika Serikat menggugat Microsoft dalam perkara antitrust yang terkenal pada akhir 1990-an. Intinya sederhana; apakah sah bagi perusahaan yang mendominasi sistem operasi untuk memaksa produknya sendiri di dalamnya, sehingga mematikan kompetisi? Persidangan itu menghadirkan momen-momen yang hampir teatrikal, termasuk video demonstrasi yang dipertanyakan keasliannya, dan email internal yang menunjukkan niat untuk “memotong suplai udara” bagi Netscape.

Di ruang sidang, teknologi menjadi bahan debat hukum yang kaku. Di luar sana, jutaan orang terus menggunakan Internet Explorer tanpa memikirkan semua itu.

Microsoft memenangkan perang melawan Netscape, dan sempat menghentikan pengembangan Internet Explorer selama bertahun-tahun setelah merasa tidak ada saingan lagi.

Lalu waktu bergerak, dan dominasi mulai retak. Awal 2000-an membawa kejenuhan. Internet Explorer, yang pernah berkembang cepat, mulai stagnan. Versi 6 bertahan terlalu lama, penuh dengan masalah keamanan dan ketidakpatuhan terhadap standar web. Pengembang frustrasi. Pengguna mulai mencari alternatif.

Di titik itu, cerita berbelok ke arah yang mungkin tidak diantisipasi pada 1995. Proyek-proyek open source seperti Mozilla Firefox muncul, menawarkan sesuatu yang terasa lebih bersih, lebih cepat, dan lebih… jujur. Kemudian datang Google Chrome pada 2008, dengan pendekatan yang lebih radikal terhadap performa dan kesederhanaan.

Internet Explorer, yang dulu seperti raja tak tergoyahkan, perlahan berubah menjadi simbol keterlambatan.

Sulit untuk tidak melihat ironi di sini. Browser yang lahir dari kepanikan dan strategi agresif justru tersandung oleh rasa terlalu nyaman dengan posisinya sendiri. Microsoft akhirnya mengganti Internet Explorer dengan Microsoft Edge, mencoba memulai ulang dengan fondasi yang lebih modern. Nama “Internet Explorer” secara resmi dihentikan pada 2022, seperti menutup bab yang panjang dan agak canggung dalam sejarah internet.

Tapi menganggapnya sekadar kegagalan terasa terlalu sederhana.

Internet Explorer pernah menjadi cara utama manusia mengenal web. Ia adalah jendela pertama bagi banyak orang—tempat mereka membaca email pertama, mengunjungi situs pertama, bahkan mungkin bertemu orang pertama di dunia maya. Di balik segala kritik tentang monopoli dan stagnasi, ada jutaan pengalaman personal yang melekat pada browser itu. 

Bayangkan seseorang di warnet kecil di pinggir kota, kursi plastik yang sedikit retak, kipas angin berputar malas di langit-langit. Ia membuka Internet Explorer, mengetik sesuatu yang sederhana—mungkin “cara membuat email” atau “lirik lagu favorit”—dan dunia tiba-tiba terasa lebih luas. Tidak ada diskusi tentang antitrust di sana. Hanya rasa ingin tahu yang akhirnya menemukan jalannya.

Microsoft mungkin tidak bermaksud menciptakan momen-momen seperti itu. Mereka ingin menang—sederhana saja. Mengalahkan Netscape, mengamankan dominasi, memastikan Windows tetap menjadi pusat dari segalanya. Tapi produk teknologi sering kali melampaui niat penciptanya.

Internet Explorer adalah contoh yang agak berantakan dari hal itu.

Sekarang, ketika membuka browser modern dengan kecepatan yang hampir instan, sulit membayangkan bagaimana dulu orang menunggu dengan sabar, mendengarkan suara modem, berharap koneksi tidak terputus di tengah jalan. Sulit juga membayangkan satu perusahaan bisa begitu menentukan bagaimana internet diakses oleh hampir semua orang.

Apakah itu benar-benar masa lalu yang sudah selesai, atau hanya bentuk awal dari sesuatu yang terus berulang dengan wajah berbeda?

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Related

Internet 9068494464962531161

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item