Jonas Salk Wafat, Meninggalkan Dunia Aman Bersama Vaksin Polio
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/jonas-salk-wafat-meninggalkan-dunia.html
![]() |
| Ilustrasi/duke.edu |
Jeritan anak-anak lumpuh memenuhi musim panas Amerika pada awal 1950-an. Kolam renang ditutup. Bioskop sepi. Orang tua melarang anak bermain terlalu jauh. Kata “polio” menyebar seperti kabut yang membuat semua benda biasa terasa mencurigakan; gagang pintu, air mancur publik, tangan teman sekolah.
Foto-foto masa itu terasa ganjil ketika dilihat sekarang. Anak kecil dengan kaki kurus terbungkus penyangga logam. Ruangan penuh paru-paru besi—mesin silinder besar tempat pasien berbaring dengan kepala menyembul keluar seperti manusia yang separuh ditelan mesin. Suara dengung pompa udara terus bekerja siang malam supaya dada mereka tetap bergerak.
Lalu muncul Jonas Salk, lelaki berkacamata dengan wajah yang lebih mirip guru matematika yang lelah daripada tokoh penyelamat dunia.
Ia bukan ilmuwan flamboyan. Tidak punya aura eksentrik seperti ilmuwan film Hollywood. Tidak terdengar seperti orator besar. Suaranya pelan. Kadang terlalu hati-hati. Bahkan ketika diwawancarai televisi, ekspresinya sering tampak seperti orang yang belum tidur cukup.
Mungkin justru itu yang membuatnya menarik.
Salk lahir di New York City tahun 1914 dari keluarga imigran Yahudi miskin. Ayahnya, Daniel Salk, bekerja di industri garmen. Ibunya, Dora, hampir obsesif soal pendidikan anak-anaknya. Mereka tinggal di apartemen kecil Bronx. Bukan lingkungan romantis penuh nostalgia artistik; lebih dekat ke suara langkah kaki di tangga sempit, dapur pengap, dan orang-orang yang terus bekerja supaya tidak tenggelam.
Ia masuk City College of New York saat usianya masih sangat muda. Banyak mahasiswa di sana yang berasal dari keluarga pekerja yang terlalu miskin untuk universitas elite. Salk awalnya tidak yakin ingin jadi ilmuwan. Ia tertarik pada hukum. Pada manusia. Pada hal-hal besar yang abstrak.
Tubuh manusia lalu menariknya ke laboratorium.
Di New York University School of Medicine, Salk tidak terlalu tertarik menjadi dokter praktik biasa. Ia lebih tertarik memahami penyakit sebelum pasien tiba di meja operasi. Ada perbedaan temperamen di situ. Sebagian dokter menyukai drama ruang gawat darurat; Salk lebih cocok dengan tabung reaksi, data, kultur virus, kesabaran monoton.
Polio saat itu seperti mimpi buruk nasional Amerika. Penyakit itu menyerang sistem saraf. Banyak korbannya anak-anak. Sebagian hanya mengalami demam ringan. Sebagian bangun pagi dan mendapati kaki mereka tidak lagi bekerja.
Presiden Franklin D. Roosevelt sendiri lumpuh akibat polio. Ia mendirikan March of Dimes, organisasi yang menggalang donasi receh dari jutaan warga untuk penelitian vaksin. Ironis juga, salah satu proyek medis terbesar abad ke-20 sebagian dibiayai koin-koin kecil dari rakyat biasa.
Laboratorium Salk di University of Pittsburgh jauh dari gambaran laboratorium futuristik mengilap. Bau bahan kimia. Lemari pendingin tua. Tumpukan catatan. Jam kerja brutal. Timnya bekerja dengan virus polio yang sudah “dimatikan” menggunakan formaldehida.
Pendekatan itu kontroversial.
Sebagian ilmuwan percaya vaksin dari virus mati tidak akan cukup efektif. Peneliti lain seperti Albert Sabin mendukung vaksin virus hidup yang dilemahkan. Persaingan ilmiah mereka kemudian berubah hampir personal. Dunia sains ternyata penuh ego juga; hanya saja orang-orangnya memakai jas laboratorium, bukan jubah kerajaan.
Salk bergerak cepat. Terlalu cepat menurut sebagian kolega.
Tahun 1952 menjadi tahun polio terburuk di Amerika Serikat; lebih dari 57 ribu kasus. Rumah sakit penuh. Orang tua panik setiap musim panas datang. Ketakutan terhadap polio punya rasa yang berbeda dibanding wabah modern. Penyakit itu sering menyerang anak-anak sehat secara acak. Tidak ada pola nyaman untuk dipahami.
Salk menguji vaksinnya pada monyet, lalu pasien bekas polio, lalu pada dirinya sendiri, istrinya, Donna, dan ketiga anak mereka. Detail itu sering terdengar heroik dalam artikel populer, tapi juga sedikit gila kalau dipikir lama-lama. Membayangkan seorang ayah menyuntikkan vaksin eksperimental ke tubuh anaknya sendiri memberi sensasi dingin yang aneh.
Uji coba massal dimulai tahun 1954. Sekitar 1,8 juta anak ikut serta di Amerika, Kanada, dan Finlandia. Mereka disebut “Polio Pioneers”. Nama yang terdengar seperti klub pramuka, padahal mereka berada di pusat eksperimen medis terbesar saat itu.
Anak-anak antre di sekolah dengan lengan digulung. Bau alkohol medis. Jarum suntik kaca. Guru-guru mencoba menjaga suasana tetap tenang. Sebagian ibu mungkin pulang sambil menahan napas sepanjang perjalanan.
Tanggal 12 April 1955, hasilnya diumumkan di University of Michigan. Aula dipenuhi wartawan. Ketika diumumkan bahwa vaksin Salk “safe, effective, and potent”, suasananya nyaris meledak.
Gereja membunyikan lonceng. Orang-orang menangis di jalan. Pabrik menghentikan kerja sesaat untuk mendengarkan radio. Sulit mencari peristiwa ilmiah modern yang reaksinya sedramatis itu.
Amerika waktu itu sedang hidup dalam paranoia Perang Dingin dan ancaman nuklir. Lalu mendadak ada kemenangan nyata terhadap sesuatu yang membunuh anak-anak mereka.
Wawancara televisi dengan jurnalis Edward R. Murrow menjadi momen yang terus dikutip sampai sekarang. Murrow bertanya siapa pemilik paten vaksin polio.
Salk menjawab, “Well, the people, I would say. There is no patent. Could you patent the sun?”
Kalimat itu terdengar terlalu bersih untuk abad ke-21.
Orang sekarang sering membagikannya di media sosial seperti kutipan suci dari zaman ketika ilmuwan masih murni dan industri farmasi belum rakus. Kenyataannya lebih rumit. Produksi vaksin tetap melibatkan perusahaan besar seperti Eli Lilly and Company dan Parke-Davis. Ada distribusi, kontrak, politik kesehatan publik.
Tetap saja, keputusan tidak mematenkan vaksin itu terasa hampir mustahil dibayangkan hari ini.
Lalu tragedi muncul hanya beberapa minggu kemudian.
Cutter Incident terjadi ketika vaksin produksi Cutter Laboratories ternyata mengandung virus aktif akibat kegagalan proses inaktivasi. Sekitar 40 ribu anak terinfeksi polio ringan, ratusan lumpuh, beberapa meninggal.
Bayangkan tekanan psikologis yang menghantam Salk setelah itu. Publik yang baru saja memujanya mendadak ketakutan lagi. Dunia medis panik. Orang tua bingung harus percaya siapa.
Polio akhirnya benar-benar ditekan setelah kombinasi vaksin Salk dan vaksin oral Sabin dipakai secara luas. Rivalitas dua ilmuwan itu sering dibuat seperti duel moral hitam-putih dalam sejarah populer. Padahal tanpa keduanya, pemberantasan polio mungkin jauh lebih lambat.
Salk kemudian mendirikan Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, California. Bangunannya dirancang arsitek Louis Kahn; beton geometris menghadap Samudra Pasifik, garis-garis bersih, saluran air tipis membelah halaman tengah menuju horizon laut.
Tempat itu terlihat hampir terlalu tenang untuk lahir dari sejarah wabah anak-anak lumpuh.
Salk meninggal pada 23 Juni 1995. Dunia saat itu sudah berbeda. Polio mulai mendekati kepunahan global. Banyak generasi muda bahkan tidak benar-benar tahu rasa takut terhadap penyakit tersebut.
Mungkin itu keberhasilan terbesar vaksin; manusia lupa betapa mengerikannya dunia sebelum vaksin ada.
Sekarang kita hidup di masa ketika vaksin bisa berubah menjadi perang ideologi, algoritma, konspirasi, identitas politik. Orang berdebat di internet sambil mengetik dari tempat tidur hangat, nyaris tanpa memori tentang bangsal paru-paru besi atau kaki anak-anak yang tiba-tiba berhenti bergerak.
Foto Jonas Salk tua sering membuat saya berhenti beberapa detik lebih lama. Wajahnya tampak capek. Tidak seperti pahlawan super. Tidak ada senyum kemenangan besar.
Cuma lelaki kurus dengan mata yang terlihat seperti masih memikirkan sesuatu ketika kamera sudah selesai memotret.

.png)


