Leaves of Grass, Kumpulan Puisi Paling Berpengaruh dalam Sastra Amerika
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/leaves-of-grass-kumpulan-puisi-paling.html
![]() |
| Ilustrasi/brandeis.edu |
Pada musim panas 1855, seorang pria bertubuh besar, dengan janggut belum sepenuhnya liar, berdiri di sebuah percetakan di Brooklyn sambil mengawasi huruf-huruf timah disusun satu per satu.
Namanya Walt Whitman. Umurnya tiga puluh enam tahun. Ia bukan profesor sastra, juga bukan bangsawan literer Boston. Ia mantan guru sekolah, mantan tukang cetak, mantan editor koran yang terlalu sering dipecat karena pendapat politiknya sendiri. Bajunya kadang tampak seperti buruh pelabuhan. Di beberapa foto awal, ia lebih mirip mandor dermaga daripada penyair.
Ia ikut mengatur sendiri desain bukunya. Sampul hijau tua. Judul dengan huruf emas: Leaves of Grass. Tidak ada nama pengarang di sampul depan.
Buku itu tipis. Hanya berisi dua belas puisi. Tapi salah satu puisinya sangat panjang, nyaris seperti orang mabuk berbicara tanpa henti. Kalimat-kalimatnya tidak patuh pada bentuk puisi yang lazim saat itu. Tidak ada rima teratur. Tidak ada sopan santun sastra ala Inggris. Whitman menulis seperti seseorang yang membuka kerah bajunya di tengah ruang tamu kaum terhormat lalu mulai berteriak tentang tubuh manusia, seks, jalanan, kapal feri, buruh, keringat, demokrasi, dan dirinya sendiri.
Kalimat pembukanya langsung seperti tonjokan: “I celebrate myself, and sing myself.”
Amerika tahun 1855 belum genap satu abad sebagai negara. Tapi kota-kotanya sudah bising. New York City dipenuhi suara roda kereta, tapal kuda di batu jalan, teriakan penjual ikan, asap kapal uap, dan pekerja migran yang tidur berhimpitan di kamar sempit. Dermaga East River bau garam, lumpur, alkohol murah, dan limbah. Orang-orang masuk dan keluar kota setiap hari; imigran Irlandia, buruh Jerman, pelaut, pencopet, politisi lokal.
Whitman menyukai semua itu. Ia berjalan kaki sangat jauh hampir setiap hari. Ia senang mengamati kusir, tukang kayu, awak kapal, penjual apel. Ada sesuatu yang nyaris rakus dalam cara ia memandangi manusia. Bukan romantis. Lebih seperti seseorang yang terus menyerap keramaian kota ke dalam tubuhnya sendiri.
Whitman pernah bekerja di percetakan sejak remaja. Tangannya akrab dengan tinta dan logam panas. Itu penting. Whitman bukan penyair yang hidup jauh dari proses produksi buku. Ia tahu bau ruang cetak. Ia tahu bagaimana huruf timah bisa terasa berminyak di jari. Saat menerbitkan Leaves of Grass, ia ikut mengawasi penyusunan teks seperti tukang bangunan mengawasi bata.
Potret dirinya di halaman depan buku juga aneh untuk zamannya. Penyair abad ke-19 biasanya tampil formal; jas rapi, pose aristokrat, ekspresi serius. Whitman justru berdiri dengan topi miring, satu tangan di pinggang, kemeja kerja terbuka di leher. Tatapannya seperti mengatakan ia tidak terlalu peduli apakah pembaca menganggapnya beradab atau tidak. Dan memang banyak yang tidak.
Beberapa kritikus menganggap bukunya menjijikkan. Ada yang menyebut puisinya “kotor”. Ada yang menganggapnya tidak bermoral. Whitman menulis tubuh manusia secara terlalu langsung untuk ukuran Amerika puritan saat itu. Ia menulis kulit, napas, paha, sentuhan. Kadang tanpa metafora halus. Kadang terasa sengaja kasar.
Puisi-puisinya juga penuh daftar panjang yang aneh. Ia bisa menyebut tukang batu, pelaut, janda, anak kecil, budak, dokter, pemadam kebakaran, pengemudi kereta, semua dalam satu arus kalimat panjang tanpa rem. Seperti katalog manusia. Sebagian pembaca bingung apakah itu puisi atau ocehan.
Tetapi ada energi yang tidak bisa diabaikan. Whitman menulis seperti seseorang yang merasa bahasa Inggris terlalu sempit dan mencoba mendorong dindingnya dengan bahu telanjang.
Ia memuja demokrasi Amerika, tapi bukan demokrasi pidato resmi. Yang ia sukai justru kerumunan kasar di jalan, tubuh manusia yang saling bergesekan di kota, suara pekerja, bau pelabuhan. Dalam puisinya, Amerika terasa seperti pasar yang terlalu penuh.
Ada bagian lain yang membuat orang gelisah; cara Whitman menulis kedekatan antarpria. Ia punya persahabatan sangat intens dengan beberapa laki-laki sepanjang hidupnya. Puisi-puisinya kadang berbicara tentang tubuh pria lain dengan kelembutan yang sulit disamarkan. Pada abad ke-19, hal seperti itu jarang ditulis terang-terangan dalam sastra Amerika arus utama. Whitman tidak pernah memberi penjelasan publik yang jelas. Ia hanya terus menulis.
Sementara itu, negeri yang ia rayakan sebenarnya sedang retak. Tahun 1855 juga tahun terbitnya The Anti-Slavery Almanac dan masa meningkatnya konflik soal perbudakan. Di wilayah Kansas, bentrokan berdarah antara kubu pro dan anti-perbudakan mulai meledak. Amerika menuju perang saudara, meski banyak orang saat itu belum mau mengakuinya.
Whitman sendiri menentang perbudakan, tetapi sikap politiknya tidak selalu konsisten atau nyaman dibaca sekarang. Ia kadang menulis dengan nada nasionalis yang keras. Kadang terdengar sangat egaliter. Kadang tidak.
Leaves of Grass edisi pertama dicetak sekitar 795 eksemplar. Sebagian besar tidak langsung laku. Whitman mengirim salinan ke berbagai tokoh sastra. Salah satunya kepada Ralph Waldo Emerson.
Emerson membalas dengan surat terkenal. “Aku menyambutmu pada awal karier besar,” tulisnya.
Whitman sangat senang, sampai-sampai ia mencetak kutipan surat itu di edisi berikutnya tanpa izin penuh yang jelas. Emerson agak terganggu.
Whitman memang punya kecenderungan mempromosikan dirinya sendiri secara agresif. Kadang ia menulis ulasan anonim tentang bukunya sendiri di surat kabar. Kadang ia membangun mitos dirinya seperti petinju yang sedang mencari penonton.
Dan bukunya terus berubah. Edisi pertama hanya awal. Whitman merevisi Leaves of Grass terus-menerus sepanjang hidupnya. Menambah puisi, mengganti susunan, mengubah baris. Buku itu seperti proyek yang tidak pernah selesai. Dari dua belas puisi berkembang menjadi ratusan halaman.
Selama Perang Saudara Amerika, Whitman pergi ke rumah sakit-rumah sakit tentara. Ia merawat prajurit terluka, membawa buah, menulis surat untuk mereka, duduk di samping ranjang amputasi. Bau darah dan kloroform masuk ke puisinya sesudah perang.
Tubuh manusia tetap menjadi pusat segalanya baginya. Tubuh sakit, tubuh telanjang, tubuh pekerja, tubuh mati.
Ada catatan tentang Whitman berjalan di jalanan Washington sambil membawa tongkat dan mengenakan pakaian kusut. Ia makin tua, makin terkenal, tapi tetap seperti orang yang baru keluar dari bengkel kapal. Anak-anak kadang mengenalinya di jalan. Beberapa menganggapnya orang eksentrik setengah gila.
Menjelang akhir hidupnya, Leaves of Grass sudah berubah status. Buku yang dulu dianggap memalukan mulai diperlakukan sebagai karya besar Amerika. Akademisi mulai menafsirkannya serius. Penyair-penyair muda mengutipnya. Foto Whitman yang tua—janggut putih besar, mata lelah, topi lusuh—mulai terlihat seperti nabi sastra nasional.
Padahal inti buku itu sejak awal bukan sesuatu yang rapi. Ada terlalu banyak tubuh di dalamnya. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak ego. Kadang Whitman terdengar megah, lalu mendadak seperti pria kesepian yang bicara terlalu keras di feri malam. Kadang puisinya luar biasa hidup, lalu beberapa halaman kemudian terasa berantakan dan penuh pengulangan. Tetapi bahkan kekacauannya punya tenaga sendiri.
Di percetakan Brooklyn itu, 4 Juni 1855, huruf-huruf timah terus disusun. Kertas-kertas ditumpuk. Mesin cetak bergerak naik turun dengan suara logam berat. Whitman mondar-mandir memeriksa halaman sambil sesekali membetulkan posisi teks. Di luar gedung, gerobak lewat membawa barel ikan asin menuju dermaga East River, sementara udara musim panas menempel di kulit seperti lapisan tipis minyak.

.png)


