Mukjizat Ekaristi di Lanciano dan Keributan Hosti di Media Sosial

Ilustrasi/catholicmasstimes.com
Sepotong roti tipis berwarna pucat diletakkan di lidah seorang jemaat. Tidak ada rasa aneh. Kering. Hampir hambar. Orang Katolik menyebutnya hosti. Dalam misa, benda kecil bundar itu dipercaya sebagai tubuh Kristus. Bukan simbol semata, tapi sungguh tubuh Kristus, melalui doktrin transubstansiasi. Tepung dan anggur tetap terlihat seperti tepung dan anggur, tetapi hakikatnya diyakini berubah.

Bagi banyak orang modern, gagasan itu mungkin terdengar cukup ganjil bahkan sebelum masuk ke cerita mukjizat.

Lalu internet datang membawa cerita yang lebih liar lagi; hosti berdarah, berubah menjadi jaringan jantung manusia, atau tetap utuh bertahun-tahun tanpa membusuk. Unggahan media sosial yang beredar itu membahas bagaimana Vatikan menyikapi mukjizat-mukjizat semacam itu—mana yang diakui, mana yang ditolak, mana yang dibiarkan menggantung tanpa keputusan final.

Saya tahu beberapa detail kecil dalam tradisi Katolik, karena sering terasa sangat fisik. Sangat material. Agama lain kadang bergerak di wilayah abstrak; cahaya, energi, kesadaran. Katolik justru penuh benda. Tulang santo. Darah. Air suci. Dupa. Lilin. Tubuh yang membusuk atau tidak membusuk. Ada sesuatu yang hampir biologis dalam imajinasi spiritualnya.

Hosti sendiri dibuat sederhana sekali. Tepung dan air. Di banyak gereja Katolik, hosti diproduksi oleh biarawati di biara-biara sunyi yang bahkan jarang diketahui publik. Mesin cetak tipis memotong lembaran roti kecil bundar seperti kertas wafer. Bau tepung panggang tipis. Tangan-tangan tua bekerja pelan.

Lalu benda sesederhana itu bisa berubah menjadi pusat kontroversi global ketika muncul bercak merah menyerupai darah.

Kasus yang paling sering dibicarakan orang adalah mukjizat Ekaristi di Lanciano. Ceritanya berasal dari abad ke-8. Seorang imam Basilian, yang meragukan transubstansiasi, sedang memimpin misa. Saat konsekrasi, hosti disebut berubah menjadi daging, dan anggur berubah menjadi darah. Potongan itu masih disimpan sampai sekarang di gereja kecil bernama San Francesco Church.

Yang membuat kisah Lanciano bertahan bukan cuma legenda abad pertengahannya, tetapi klaim ilmiah yang datang jauh kemudian. Pada 1970-an, seorang profesor anatomi Italia, bernama Odoardo Linoli, melakukan pemeriksaan terhadap sampel tersebut. Ia menyimpulkan jaringan itu adalah jaringan otot jantung manusia, dan darahnya berjenis AB.

Golongan darah AB muncul lagi dalam berbagai klaim relik Kristen lain, termasuk Kain Kafan Turin. Orang beriman langsung percaya, mereka melihat pola ilahi. Orang skeptis melihat kemungkinan kontaminasi, bias penelitian, atau sekadar narasi yang dibangun sesudahnya.

Vatikan sendiri sering jauh lebih hati-hati dibanding umatnya. Itu bagian yang jarang dipahami orang luar. Gereja Katolik tidak otomatis menerima semua klaim mukjizat. Justru sebagian besar ditolak, diabaikan, atau tidak pernah diberi pengakuan resmi. Ada proses investigasi panjang, melibatkan uskup lokal, dokter, ahli patologi, teolog. Gereja tahu terlalu banyak kisah ajaib palsu pernah beredar sepanjang sejarah.

Abad pertengahan penuh relik aneh. Ada gereja yang mengklaim punya bulu malaikat. Ada yang menjual “susu Perawan Maria”. Ada potongan kayu salib Yesus dalam jumlah absurd, sampai John Calvin pernah menyindir bahwa jika semua potongan itu dikumpulkan, mungkin cukup untuk membuat satu kapal penuh.

Sindiran Calvin brutal, tentu saja, tapi tidak sepenuhnya salah.

Gereja belajar dari sejarah panjang penipuan religius. Maka ketika ada hosti berdarah hari ini, respons resmi biasanya dingin dulu. Sampel diperiksa. Laboratorium dilibatkan. Kontaminasi bakteri dipertimbangkan. Salah satu penjelasan yang sering muncul adalah bakteri Serratia marcescens, mikroorganisme yang bisa menghasilkan warna merah menyerupai darah pada roti atau makanan lembap.

Bayangkan seorang pastor tua membuka tabernakel pagi hari, lalu melihat bercak merah di hosti. Jemaat mulai gempar. Foto menyebar ke Facebook. Orang menangis. Mereka datang berziarah. Lalu beberapa bulan kemudian, laboratorium bilang; bakteri.

Rasa malu pasti muncul.

Katolik punya hubungan yang aneh dengan mukjizat. Mukjizat penting, tapi terlalu banyak mukjizat juga berbahaya. Gereja besar tidak suka kehilangan kontrol narasi. Mukjizat liar bisa melahirkan kultus liar. Vatikan memahami psikologi massa jauh sebelum media sosial lahir.

Saya pernah melihat video prosesi Ekaristi di kota kecil Italia selatan. Seorang nenek menangis saat monstrans emas lewat di depan wajahnya. Tangannya gemetar menyentuh rosario plastik. Wajahnya tampak seperti orang yang benar-benar percaya Tuhan sedang lewat beberapa meter di depannya. Mata manusia berubah berbeda saat percaya penuh pada sesuatu. Sulit menjelaskan itu hanya dengan logika dingin.

Lalu internet modern masuk dengan gaya khasnya; semua harus segera dipastikan asli atau palsu. Orang menuntut video HD, uji DNA, jurnal peer-review, analisis forensik. Padahal agama tidak pernah bekerja sesederhana laboratorium.

Lucunya, Vatikan sendiri justru lebih dekat ke pendekatan skeptis dibanding sebagian umat fanatik. Mereka tahu, iman yang seluruhnya bergantung pada sensasi ajaib biasanya rapuh. Hari ini orang percaya karena hosti berdarah. Besok muncul video debunking, lalu iman pun runtuh.

Mungkin itu sebabnya Gereja Katolik bertahan begitu lama; ia punya kemampuan curiga, bahkan terhadap mukjizatnya sendiri.

Di Indonesia, pembicaraan soal hosti sering cepat berubah jadi bahan sensasi lintas agama. Orang Kristen kadang menyebarkan kisah mukjizat hosti sambil kagum. Orang ateis menyebarkannya sambil mengejek. Orang Protestan tertentu memakainya untuk menyerang doktrin Katolik. Semua ribut sendiri tanpa benar-benar memahami betapa rumit hubungan Katolik dengan benda-benda suci.

Hosti bukan sekadar roti dalam tradisi Katolik. Ada aturan ketat tentang cara menyimpannya, siapa yang boleh menyentuh, bagaimana jika jatuh ke lantai. Seorang imam tua di Yogyakarta pernah berkata bahwa hosti yang jatuh harus diperlakukan dengan hormat luar biasa, karena dipercaya tetap mengandung kehadiran Kristus.

Kalimat itu terdengar ganjil di telinga modern yang terbiasa melihat segala sesuatu sebagai objek biasa.

Tubuh Kristus dalam bentuk wafer kecil. Tuhan dalam benda yang bisa hancur terkena air liur.

Saya juga tertarik pada ketakutan tersembunyi di balik semua kisah mukjizat hosti; ketakutan bahwa iman tidak cukup tanpa bukti fisik. Orang terus mencari darah, jaringan jantung, aroma mawar surgawi, tubuh santo yang tidak membusuk. Seolah keyakinan perlu ditopang sesuatu yang bisa difoto dan diunggah.

Padahal dalam Injil sendiri, ada momen ketika Yesus justru tampak lelah menghadapi manusia yang terus meminta tanda.

Di media sosial, mukjizat berubah jadi konten. Thumbnail YouTube. Reel Instagram dengan musik gregorian dramatis. Orang membahas jaringan otot jantung sambil scroll komentar dan makan keripik. Bahkan hal paling sakral pun sekarang harus bersaing dengan algoritma.

Saya membayangkan ruang arsip di Vatikan yang dingin dan sunyi. Dokumen-dokumen investigasi mukjizat menumpuk dalam map tua. Foto-foto bercak darah. Surat uskup. Hasil laboratorium. Ada pastor yang percaya penuh. Ada yang diam-diam skeptis. Ada yang mungkin cuma lelah menghadapi umat yang ingin segala sesuatu jadi spektakuler.

Lalu misa tetap berjalan. Hosti tetap dibagikan. Orang-orang tua tetap maju perlahan ke altar sambil menangkup tangan.

Related

Internasional 6069167733569424709

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item