15 Tahun BSM: Perubahan di Tengah Disrupsi dan Kepungan AI

Ilustrasi/beautynesia.id
Hari ini, 17 Agustus 2026, situs Belajar Sampai Mati (BSM) memasuki usia 15 tahun, bersamaan dengan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Untuk ukuran situs personal, usia 1,5 dekade mungkin terkesan “megah” jika dilihat dari luar. Tapi dari dalam, saya menghadapi kenyataan sulit: antara setia pada konsep lama, atau berubah secara total akibat disrupsi!

Lima belas tahun lalu, ketika mulai membangun situs ini, motivasi saya sangat sederhana, yaitu memecahkan masalah yang saya hadapi sendiri. Sebagai pembelajar, saya suka membaca dan mempelajari banyak hal, senang menanyakan apa saja lalu mencari jawabannya. Saya punya rasa ingin tahu yang amat besar, yang terus menggerakkan saya untuk terus belajar. Kesukaan itu khususnya dilatari kesenangan saya yang lain: menulis. 

Sejak menggunakan internet pertama kali, saya menghadapi masalah khas: ketika ingin mencari suatu jawaban atau informasi, saya harus berhadapan dengan artikel yang sangat panjang, atau menghadapi artikel ringkas tapi isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan. 

Wikipedia, misalnya, menyediakan artikel dalam jumlah raksasa, tapi punya kelemahan khas: artikelnya sering kali sangat panjang karena penuh detail ala ensiklopedia. Sementara di forum-forum internet—yang waktu itu bermunculan—orang bisa menanyakan apa pun dan mendapatkan jawaban dari orang lain, tapi jawabannya sering tidak dapat diverifikasi, karena berdasarkan “menurut saya” ala obrolan forum internet.

Padahal yang saya inginkan sepele: ingin tahu sesuatu, dan mendapatkan jawaban dalam waktu singkat, tanpa harus membaca artikel panjang lebar, dan jawabannya dapat dipertanggungjawabkan! Sepele, tapi waktu itu internet tidak mampu memberikan yang saya inginkan.

Jadi, waktu itu, saya berhadapan dengan masalah khas pencarian informasi yang bisa jadi juga dirasakan/dialami banyak orang lain di internet. Orang hanya ingin tahu “apa itu X”, dan ingin jawabannya segera. Orang hanya ingin tahu “mengapa X terjadi”, dan ingin dapat penjelasan tanpa harus membaca artikel yang melelahkan. Karena di masa itu belum ada solusinya, saya pun akhirnya terpikir untuk membuat solusinya sendiri. Dari latar itulah, BSM lahir.

Saya membangun BSM dengan semangat seorang pembelajar. Ada banyak pertanyaan di kepala saya, yang lalu saya cari jawabannya sendiri dengan membaca buku, artikel panjang, ensiklopedia, dan lain-lain. Lalu saya tuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan hasilnya saya terbitkan di sini. Saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan saya sendiri, dan jawaban-jawaban itu bisa jadi juga dibutuhkan banyak orang lain di internet. 

Karenanya, di masa-masa awal BSM, kebanyakan isinya artikel ringkas, dengan format tanya jawab. Pertanyaan dibuat sangat spesifik, jawabannya (isi artikel) juga dibuat sangat spesifik. Dan untuk menghindari bias, saya selalu menulisnya dengan “menjaga jarak”; tidak memasukkan opini. Jika orang-orang di internet ingin tahu jawaban atas suatu pertanyaan, mereka akan mendapatkan jawaban tanpa harus buang-buang waktu. Tinggal ketikkan pertanyaan di mesin pencari, dan mesin pencari akan menyodorkan situs ini.

Saya melihat masalah yang jelas, dan memberikan solusi yang jelas.

Apakah formula itu berhasil? Sangat! Sejak pertama kali dibangun pada 2011, BSM tumbuh secara pasti. Hanya dalam setengah tahun, trafik BSM bahkan langsung mengalahkan trafik blog pribadi saya. Setelah itu, pertumbuhan BSM melesat gila-gilaan hingga membuat saya takjub sendiri. 

Ada beberapa faktor yang menurut saya mendukung pertumbuhan BSM waktu itu. Pertama, seperti yang disebut tadi, saya memberikan solusi jelas untuk banyak orang di internet yang ingin tahu banyak hal dan mendapatkan jawabannya seketika. Solusi yang jelas untuk masalah yang jelas akan mendatangkan hasil yang jelas. 

Kedua, BSM bisa dibaca siapa pun dari golongan usia mana pun, karena artikel-artikelnya ringkas dan mudah dipahami. Anak SMP sampai dosen kampus bisa sama-sama mengunyahnya. Ketiga, saya membangun situs BSM dengan sangat ringan—hanya satu klik, dan halaman langsung terbuka dalam 1 detik! Itu “rekor” untuk zamannya.

Pada zaman kuno—maksud saya, lima belas tahun lalu—internet di Indonesia masih lemot. Ya sekarang juga masih lemot, sih. Tapi 15 tahun lalu, lemotnya internet di negara kita bisa bikin orang kena hipertensi. Masalah itu berhadapan dengan masalah lain: keterbatasan teknologi browser (yang belum secanggih sekarang), performa server yang buruk (kapasitasnya masih terbatas dan sering terjadi crash), sampai komputer pengguna yang di masa itu sering mengalami bottleneck atau kehabisan memori saat harus menerjemahkan kode mentah (HTML/CSS). Dengan segala masalah itu, orang harus punya kesabaran Ayub hanya untuk membuka situs Detik atau Kompas!

Jadi, ketika BSM lahir pada zaman itu, kelahirannya mudah diterima, karena seluruh komponennya dibangun untuk mengatasi masalah yang sangat jelas. Orang ingin tahu tentang banyak hal, mereka langsung mendapatkan jawabannya secara ringkas. Dan untuk mendapatkan jawaban, mereka tinggal klik, dan satu detik kemudian jawabannya muncul di depan mata! Saya suka formula itu, dan jutaan orang lain di internet juga suka! 

Karena keberhasilan itu, saya pun merasa nyaman, dan terus melakukan sesuatu yang sudah jelas berhasil. Artikel ringkas. Jawaban objektif. Format tanya jawab. Situs Quora waktu itu belum masuk Indonesia, Yahoo Answer sudah mati suri, sementara forum-forum internet mulai sepi. BSM bisa dibilang melaju sendirian. Bahkan ketika saya tidak sempat menulis untuk BSM sampai berbulan-bulan—karena fokus mengerjakan hal lain—trafik situs ini tetap stabil. 

Lalu zaman berubah, internet berubah, semuanya berubah. Situs-situs baru bermunculan, koneksi internet membaik, media sosial makin ramai. BSM masih mampu menghadapi perubahan itu. Tapi kemudian ChatGPT lahir, lalu mesin pencari dilengkapi AI. Di titik itu, saya sadar “sesuatu sedang terjadi”... dan saya harus memperbarui diri. 

ChatGPT dan snippet AI (AI overview) di mesin pencari adalah disrupsi yang secara telak menggeser BSM. Karena mereka menggunakan formula yang sama persis dengan BSM, tapi dengan sistem yang jauh lebih canggih. Mereka dibangun mesin, BSM dibangun manusia. Konyolnya, AI overview di Google kerap menggunakan artikel BSM untuk menjawab pertanyaan pengguna. Itu piye, kalau dipikir-pikir.

Di titik itu, saya sadar harus berubah. Keluar dari konsep lama. Saya tidak bisa lagi menggunakan formula buku pintar yang semula jadi ciri khas BSM. Dan sejujurnya berat sekali. Dulu saya membayangkan BSM akan jadi arsip berbagai pengetahuan yang saya pelajari. Tetapi, setelah AI bermunculan, saya sadar visi itu tidak bisa diteruskan. Jika harus berhadapan dengan AI sekarang, mau tidak mau saya harus melakukan “upgrade” agar relevan dengan perubahan zaman.

AI sangat pintar sekarang, dan akan semakin pintar di tahun-tahun mendatang. Jadi, saya memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditiru AI. Format lama BSM, yang berupa tanya jawab, sangat mudah ditiru AI. Umpama saya mengubah formatnya jadi artikel panjang, tetap saja AI masih bisa meniru. Sampai sangat lama, saya bertanya-tanya, apa yang saat ini tidak dimiliki AI, dan tetap tidak akan mereka miliki sampai bertahun-tahun mendatang, atau bahkan sampai akhir zaman. 

Jawabannya akhirnya datang.

Jiwa.

AI tidak memiliki jiwa! Mereka punya pikiran, kecerdasan, kemampuan menyusun kata-kata, tapi mereka tidak memiliki jiwa! Fakta itu sangat telanjang, khususnya jika kita membaca tulisan-tulisan yang diproduksi AI. Mungkin panjang, mendalam, tapi datar dan kering. Tidak ada jiwa penulis yang dapat dirasakan pembaca. AI sendiri mengakui, dan itulah kelemahan mereka!

Berpijak pada kenyataan itu, saya memikirkan format tulisan yang memungkinkan saya bisa memasukkan jiwa ke dalamnya, sebagai bentuk pembaruan BSM. 

Saya tidak bisa lagi menulis artikel dengan konsep buku pintar seperti semula, karena tulisan semacam itu mengharuskan saya “menjaga jarak” untuk menghindari bias. Tanpa perspektif, jiwa saya—sebagai penulis—akan tertahan, dan tidak akan masuk ke tulisan. Karenanya, meski dengan berat, saya harus melangkah ke luar dari konsep itu, dan mengubah total format tulisan di BSM. 

Hasilnya seperti yang kalian lihat sekarang.

Catatan-catatan di BSM sekarang berbeda total dengan yang dulu. Catatan-catatan sekarang lebih panjang, tapi bukan itu perbedaan pentingnya. Di catatan-catatan yang sekarang, saya memasukkan sesuatu yang sebelumnya selalu saya tahan ketika menulis di BSM: jiwa saya. Kadang saya masih menggunakan format tanya jawab di sini, tapi selalu berusaha memasukkan perspektif pribadi ke dalam tulisan, untuk membedakannya dengan AI atau snippet mesin pencari.

Perubahan ini saya mulai pada Mei 2026, atau sekitar tiga bulan terakhir, dan saya mulai nyaman dengan konsep penulisan yang sekarang. Format tulisan yang sekarang memungkinkan saya “bermain-main” di dalamnya, memasukkan pikiran dan perspektif, kadang juga sarkasme atau humor yang aneh—mirip ocehan di Twitter dulu, namun dalam skala lebih panjang dan lebih detail. Dan itu menyenangkan! BSM yang dulu saya tujukan untuk jadi arsip pengetahuan sekarang berubah jadi arsip pemikiran.

Perubahan format tulisan—dari tanya jawab ringan jadi esai-esai panjang dan mendalam—kemungkinan akan “menggeser” sebagian pembaca, dan saya memahami konsekuensinya. Tapi perubahan memang selalu mengandung risiko. Orang-orang yang menginginkan jawaban ringkas sekarang bisa mendapatkannya langsung lewat AI atau mesin pencari, dan BSM sekarang ditujukan untuk pembaca yang menginginkan perspektif atas fakta, peristiwa, atau sejarah dunia. 

BSM masih berdiri di atas topik-topik semula, tapi sekarang fakta-fakta tidak lagi ditulis secara telanjang; ada perspektif di dalamnya, ada jiwa saya di dalamnya. Di tengah kultur internet sekarang yang serbacepat dan serbasingkat, saya berharap BSM bisa menjadi semacam oase bagi orang-orang yang menginginkan kedalaman pengetahuan.

Saya senang dengan perubahan ini, dan saya berharap kalian—para pembaca setia BSM—juga ikut senang. Terima kasih telah menemani perjalanan selama 15 tahun ini. Mari tetap belajar, dan berani menghadapi perubahan.


Related

Hoeda's Note 7370534834168661088

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item