Al-Battani, Orang Pertama yang Menghitung 365 Hari dalam Setahun
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/al-harrani-orang-pertama-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/riau24.com |
Di antara semua astronom abad pertengahan, hanya sedikit yang berhasil melakukan sesuatu yang sangat sulit: membuat ilmuwan berabad-abad sesudahnya diam sejenak dan mengakui, “orang ini ternyata lebih teliti daripada yang kita kira.”
Muhammad bin Jabir al-Harrani al-Battani termasuk kelompok kecil itu. Ia hidup pada abad ke-9 dan ke-10, ketika langit masih harus dibaca dengan mata telanjang, ketika tidak ada teleskop, tidak ada kamera CCD, tidak ada komputer untuk mengoreksi kesalahan. Namun beberapa hasil pengamatannya begitu presisi sehingga, ketika dibandingkan dengan perhitungan modern, selisihnya membuat banyak orang mengernyitkan dahi.
Namanya menunjukkan asal-usul yang berlapis. “Al-Harrani” mengacu pada Harran, kota kuno di Mesopotamia Hulu yang kini berada di Turki tenggara. Kota itu sudah tua bahkan sebelum Islam lahir. Pasar-pasarnya pernah melihat pedagang Romawi, Suriah, Persia, dan Yunani. Kuil-kuil pagan bertahan di sana lebih lama dibanding banyak wilayah lain. Tradisi astronomi memiliki akar yang dalam di kawasan tersebut. Sementara “al-Battani” merujuk pada daerah atau suku Batan yang terkait dengan keluarganya.
Ia lahir sekitar tahun 858. Masa kecilnya berlangsung ketika dunia Islam sedang berada di puncak salah satu ledakan intelektual terbesar dalam sejarah manusia. Di Baghdad, para penerjemah sedang mengubah karya-karya Yunani menjadi bahasa Arab. Di Samarkand, matematika berkembang pesat. Di Kairo, Damaskus, dan Basra, ilmu pengetahuan bergerak ke berbagai arah sekaligus. Banyak ilmuwan masa itu menjadi penerima warisan. Al-Battani termasuk kelompok yang mulai memperbaiki warisan tersebut.
Kebanyakan orang mengenal astronom Yunani kuno, Claudius Ptolemaios, sebagai raksasa yang mendominasi astronomi selama lebih dari seribu tahun. Al-Battani tumbuh dalam dunia yang sangat menghormati Ptolemaios. Karya besarnya, Almagest, menjadi fondasi astronomi. Banyak ilmuwan mempelajarinya dengan rasa hormat yang hampir menyerupai penghormatan terhadap otoritas suci.
Al-Battani memiliki kebiasaan yang lebih berbahaya bagi kemapanan ilmu: ia memeriksa ulang angka-angkanya.
Pusat aktivitas ilmiahnya berada di Raqqa, kota yang berdiri di tepi Sungai Efrat. Jika seseorang berdiri di sana pada malam musim dingin, angin gurun dapat terasa menggigit kulit wajah. Udara yang relatif kering memberi kondisi pengamatan yang baik. Dari wilayah itulah Al-Battani melakukan observasi selama puluhan tahun. Bukan hitungan bulan. Puluhan tahun. Banyak pengamat modern tidak menyadari betapa membosankannya astronomi sebelum teleskop. Malam demi malam mengukur sudut. Mengulang pengukuran yang sama. Menunggu musim berikutnya untuk memeriksa hasil sebelumnya.
Tangan memegang instrumen logam yang dingin. Mata terus mengikuti titik cahaya yang nyaris tidak bergerak. Leher pegal. Kelopak mata berat. Kerja seperti itu jarang menghasilkan ketenaran cepat.
Salah satu pencapaiannya yang paling terkenal adalah pengukuran panjang tahun matahari. Ia menghitungnya sekitar 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Nilai modern berbeda hanya sekitar dua menit. Dua menit. Pengukuran itu dilakukan lebih dari seribu tahun lalu.
Angka seperti itu sering lewat begitu saja ketika dibaca di buku sejarah. Padahal ada sesuatu yang hampir absurd di dalamnya. Seseorang yang hidup tanpa teleskop modern berhasil mendekati nilai yang masih dapat diterima dalam astronomi kontemporer. Tidak sempurna, tentu saja. Namun cukup dekat untuk membuat ilmuwan modern mengangguk dengan hormat.
Ia juga mengamati perubahan posisi titik apogee Matahari, memperbaiki sejumlah parameter astronomi yang diwariskan dari Ptolemaios, serta menghasilkan pengukuran kemiringan ekliptika yang lebih akurat dibanding pendahulunya. Dalam bahasa sederhana, ia menunjukkan bahwa langit tidak sepenuhnya sesuai dengan angka-angka lama yang diwariskan dari Alexandria.
Ada semacam keberanian intelektual di sana. Tidak dalam bentuk pidato atau polemik. Tapi keberanian yang muncul ketika seseorang lebih percaya pada hasil pengamatan daripada reputasi otoritas.
Karya terbesarnya dikenal sebagai Kitab az-Zij. Kata zīj sering diterjemahkan sebagai tabel astronomi, tetapi istilah itu tidak sepenuhnya menangkap kompleksitasnya. Isinya mencakup metode perhitungan, data observasi, tabel trigonometrik, posisi benda langit, serta berbagai instruksi praktis. Selama berabad-abad buku itu menjadi alat kerja bagi astronom.
Al-Battani juga memainkan peran besar dalam perkembangan trigonometri. Banyak orang mengenalnya terutama sebagai astronom, padahal kontribusinya terhadap matematika sangat penting. Ia menggunakan sinus, kosinus, dan tangen, secara sistematis. Sebelumnya, astronom Yunani lebih sering menggunakan konsep tali busur lingkaran. Pendekatan Al-Battani membantu membuka jalan menuju bentuk trigonometri yang lebih dekat dengan yang diajarkan di sekolah modern.
Kadang sejarah ilmu pengetahuan terlalu terobsesi pada penemuan besar yang mudah diceritakan. Orang menyukai kisah tentang seseorang yang menemukan benua, menciptakan mesin, atau memecahkan teori besar. Perubahan metode matematika jarang terdengar dramatis. Padahal seluruh bangunan astronomi modern bergantung pada perubahan-perubahan kecil semacam itu.
Nama Al-Battani menempuh perjalanan panjang setelah kematiannya. Manuskrip-manuskripnya bergerak melintasi wilayah Islam, disalin oleh para juru tulis yang mungkin tidak pernah melihat wajahnya. Berabad-abad kemudian, karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Di Eropa, ia dikenal sebagai Albategnius.
Nama Arabnya berubah bentuk, tetapi pengaruhnya tetap hidup.
Pada abad ke-12, para penerjemah di Toledo bekerja menerjemahkan teks-teks astronomi Arab ke bahasa Latin. Dunia Kristen Eropa sedang lapar akan ilmu pengetahuan. Banyak pengetahuan Yunani justru kembali ke Eropa melalui jalur Arab. Karya Al-Battani menjadi salah satu sumber penting dalam proses itu.
Pengaruhnya menjangkau tokoh-tokoh yang jauh lebih terkenal dalam sejarah Barat. Nicolaus Copernicus mengutip Al-Battani beberapa kali dalam karya monumentalnya, De revolutionibus orbium coelestium. Nama seorang astronom dari Raqqa muncul dalam buku yang kemudian membantu mengubah cara manusia memahami alam semesta.
Ada sesuatu yang hampir ironis dalam perjalanan ide semacam itu. Seorang pengamat langit dari tepi Sungai Efrat melakukan pengukuran pada abad ke-9. Catatan itu disalin berulang kali. Naskah berpindah tangan. Penerjemah menerjemahkannya. Seorang ilmuwan Polandia membacanya berabad-abad kemudian. Tidak ada satu orang pun dalam rantai itu yang dapat melihat keseluruhan perjalanan pengetahuan tersebut.
Tentang kehidupan pribadinya, sumber sejarah justru sangat pelit. Kita tidak mengetahui banyak tentang keluarganya, kebiasaannya, atau percakapannya sehari-hari. Tidak ada kisah dramatis tentang cinta, pengkhianatan, atau intrik istana. Sejarah sering berlaku tidak adil. Seorang penakluk yang membakar kota dapat meninggalkan jejak naratif lebih besar daripada ilmuwan yang menghabiskan empat puluh tahun mengukur bintang.
Catatan terakhir kehidupannya berkaitan dengan perjalanan menuju Baghdad. Sekitar tahun 929, ia meninggal dalam perjalanan dekat Samarra. Tubuhnya berhenti bergerak di salah satu wilayah yang sejak lama menjadi jalur lalu lintas para pedagang, tentara, ulama, dan pengembara.
Samarra pernah menjadi ibu kota Abbasiyah. Kota itu penuh istana, barak militer, dan bangunan megah yang kini banyak berubah menjadi reruntuhan. Di sekitar kawasan itulah perjalanan Al-Battani berakhir.
Langit yang diamatinya selama puluhan tahun tentu masih terlihat dari sana. Planet-planet tetap bergerak pada lintasannya. Bintang-bintang yang sama masih muncul setiap musim.
Di banyak museum dan perpustakaan modern, manuskrip astronomi tampak seperti benda mati. Kertas tua, tinta memudar, angka-angka yang membingungkan. Saya selalu merasa ada sesuatu yang hilang ketika manuskrip semacam itu dipajang di balik kaca. Kita melihat hasil akhirnya, bukan pekerjaan yang melahirkannya. Kita tidak melihat malam-malam panjang di Raqqa. Tidak melihat mata yang perih karena terus menatap instrumen. Tidak mendengar suara logam ketika alat ukur digeser beberapa milimeter untuk memastikan sebuah sudut.
Pada halaman-halaman tabel astronominya, ribuan angka berbaris rapi. Angka-angka itu tampak dingin. Padahal seseorang pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendapatkannya, satu demi satu, di bawah langit Mesopotamia yang gelap. Beberapa pengukuran ditulis ulang. Sebagian dikoreksi. Sebagian mungkin membuatnya kesal karena tidak cocok dengan hasil malam sebelumnya.
Tinta mengering. Manuskrip berpindah tangan. Nama Albategnius muncul di Eropa. Berabad-abad berlalu. Raqqa berubah berkali-kali, dikuasai dinasti yang berbeda, diguncang perang yang berbeda. Di salah satu tabel yang masih bertahan hingga sekarang, angka-angka Al-Battani tetap duduk di tempatnya, keras kepala seperti sejak pertama kali ditulis.


