Al-Hasan bin Musa bin Syakir, Pakar Matematika dan Genius Geometri

Ilustrasi/mdf.or.id
Nama Al-Hasan bin Musa bin Syakir jarang muncul sendirian. Ia hampir selalu datang bersama dua saudaranya, Muhammad dan Ahmad, di bawah satu label kolektif yang terkenal: Banu Musa. 

Sejarah memiliki kebiasaan kejam terhadap kelompok. Ia menyederhanakan banyak individu menjadi satu nama. Orang mengenal “Wright Brother”, “Lumière Bersaudara”, “Banu Musa”. Setelah itu identitas masing-masing perlahan kabur. Padahal di balik nama kolektif tersebut ada tiga manusia berbeda dengan minat berbeda, temperamen berbeda, dan mungkin juga ego yang berbeda. Al-Hasan adalah yang paling matematis di antara mereka.

Bila Ahmad tampak tertarik pada benda yang bergerak, pipa yang mengalirkan air, katup yang membuka dan menutup sendiri, Al-Hasan lebih sering muncul dalam wilayah abstraksi. Dunia yang dihuni garis, lingkaran, kurva, sudut, pembuktian, dan persoalan geometri yang tidak menghasilkan suara apa pun ketika diselesaikan. Tidak ada gemericik air. Tidak ada roda berputar. Hanya pikiran yang bergerak.

Ia lahir pada awal abad kesembilan, kemungkinan di wilayah Khurasan atau ketika keluarganya sudah terhubung dengan lingkungan Abbasiyah. Ayahnya, Musa bin Syakir, adalah sosok yang nyaris terasa seperti karakter novel. Sejumlah sumber klasik menggambarkannya sebagai mantan perampok atau petualang yang kemudian beralih ke astronomi dan berhasil mendapatkan perhatian Khalifah Al-Ma’mun. Setelah Musa meninggal, ketiga putranya berada di bawah perlindungan negara.

Banyak ilmuwan besar lahir dalam lingkungan akademik yang mapan. Al-Hasan lahir dari keluarga yang sejarahnya berbelok tajam. Dari jalanan menuju observatorium.

Lingkungan tempat ia tumbuh adalah Baghdad pada masa paling ambisius dalam sejarah intelektual Islam. Sulit menemukan kota lain pada abad kesembilan yang dapat menyaingi kepadatan intelektualnya. Di satu sudut, penerjemah menerjemahkan karya-karya Yunani dari bahasa Suryani ke Arab. Di tempat lain, astronom mengamati posisi bintang. Pedagang membawa barang dari Sindh, Transoxiana, dan Laut Tengah. Bau tinta, debu kertas, kulit jilid buku, minyak lampu, serta suara diskusi bercampur menjadi atmosfer sehari-hari.

Sering kali, ketika orang membicarakan Zaman Keemasan Islam, mereka membayangkan para ilmuwan sedang menemukan hal-hal baru. Gambaran itu benar, tetapi kurang lengkap. Banyak energi intelektual pada masa tersebut dihabiskan untuk memahami teks-teks lama. Euclid, Archimedes, Apollonius, Ptolemaios—nama-nama Yunani itu hidup kembali dalam bahasa Arab. Al-Hasan tumbuh di tengah proses besar tersebut.

Salah satu hal yang paling sering dikaitkan dengannya adalah geometri. Sumber-sumber abad pertengahan menggambarkannya sebagai anggota Banu Musa yang memiliki kemampuan matematis paling kuat. Ia tidak hanya membaca geometri Yunani; ia mengutak-atiknya, memperdebatkannya, memperluasnya.

Banyak orang modern menganggap geometri sebagai pelajaran sekolah yang membosankan. Segitiga. Lingkaran. Garis sejajar. Pada abad kesembilan, geometri adalah teknologi intelektual kelas atas.

Astronomi membutuhkan geometri. Kartografi membutuhkan geometri. Pengukuran tanah membutuhkan geometri. Arsitektur membutuhkan geometri. Filsafat alam membutuhkan geometri. Geometri adalah bahasa yang memungkinkan seseorang berbicara tentang ruang secara presisi. 

Salah satu karya yang dikaitkan dengan Banu Musa dan memiliki hubungan kuat dengan minat Al-Hasan adalah Kitab Ma’rifat Masahat al-Asykal—sebuah karya tentang pengukuran berbagai bentuk geometri. Judulnya terdengar kering bagi telinga modern. Isinya adalah upaya serius untuk menghitung luas dan volume berbagai bentuk secara sistematis. 

Terdapat sesuatu yang agak ganjil ketika membaca karya-karya matematika abad pertengahan. Kita mengetahui hasil akhirnya. Rumus-rumus itu kini tampak biasa. Pikiran modern kehilangan rasa aneh yang pernah menyertai penemuan tersebut.

Cobalah membayangkan seseorang duduk di bawah cahaya lampu minyak, membungkuk di atas lembaran perkamen, menggambar kurva demi kurva dengan penggaris dan jangka. Tidak ada kalkulator. Tidak ada komputer. Tidak ada perangkat lunak matematika. Kesalahan kecil berarti kembali ke awal. Tangan pegal. Mata perih karena asap lampu. Al-Hasan bekerja dalam dunia semacam itu.

Nama Al-Hasan juga muncul dalam sejumlah proyek besar yang melibatkan penerjemahan dan pelestarian karya Yunani. Banu Musa mengeluarkan dana besar untuk memperoleh manuskrip. Mereka mengirim agen ke wilayah Bizantium untuk mencari naskah-naskah langka. Kadang orang berbicara tentang para ilmuwan Abbasiyah seolah-olah mereka hanya duduk dan membaca buku. Kenyataannya lebih agresif. Mereka berburu manuskrip. 

Bayangkan harga satu manuskrip matematika langka pada abad kesembilan. Bayangkan perjalanan panjang melintasi perbatasan politik, negosiasi dengan pemilik naskah, hingga risiko kehilangan barang selama perjalanan. Ada sesuatu yang hampir obsesif dalam usaha mereka.

Salah satu tokoh yang bekerja bersama atau berada dalam orbit intelektual mereka adalah Hunayn ibn Ishaq, penerjemah legendaris yang menghasilkan terjemahan Arab berbagai karya Yunani. Nama lain yang sering muncul adalah Thabit ibn Qurra. Hubungan Banu Musa dengan Thabit cukup rumit. Mereka mendukungnya dalam beberapa kesempatan, lalu berselisih dalam kesempatan lain. 

Baghdad bukan komunitas akademik yang damai dan sopan seperti brosur universitas. Persaingan ada di mana-mana. Patronase politik menentukan banyak hal. Kedekatan dengan istana menentukan proyek mana yang memperoleh dana. Reputasi ilmiah dapat berubah menjadi kekuasaan. Al-Hasan hidup di tengah jaringan ambisi semacam itu.

Catatan sejarah juga mengaitkan Banu Musa dengan proyek pengukuran keliling Bumi yang dilakukan pada masa Al-Ma’mun. Para ilmuwan Abbasiyah melakukan pengukuran panjang satu derajat garis lintang di dataran Sinjar dan wilayah lain. Proyek tersebut sering dianggap salah satu pencapaian ilmiah paling mengesankan pada masanya. Kita tidak tahu persis peran teknis Al-Hasan dalam pekerjaan lapangan tersebut, tetapi lingkungan intelektual yang membentuknya adalah lingkungan yang percaya bahwa ukuran Bumi dapat dihitung melalui pengamatan dan matematika. 

Saya selalu menganggap bagian itu lebih radikal daripada yang sering disadari orang. Seorang matematikawan di Baghdad dapat menggunakan geometri untuk memperkirakan ukuran planet tempat ia hidup. Tidak ada satelit. Tidak ada teleskop modern. Tidak ada foto Bumi dari luar angkasa. Hanya pengukuran, bayangan, sudut, dan kesabaran.

Karya-karya Al-Hasan memperlihatkan kecenderungan yang khas pada banyak matematikawan besar: ketertarikan terhadap masalah yang tidak memiliki manfaat langsung yang jelas. Dunia modern sering memuja inovasi praktis. Investasi harus menghasilkan produk. Penelitian harus menghasilkan aplikasi. Geometri tidak selalu mematuhi logika tersebut.

Seseorang dapat menghabiskan berbulan-bulan memikirkan hubungan antara garis dan kurva tanpa menghasilkan alat baru atau keuntungan ekonomi apa pun. Anehnya, justru penelitian semacam itulah yang sering menjadi fondasi perkembangan besar berabad-abad kemudian.

Nasib pribadi Al-Hasan sendiri jauh lebih samar dibanding warisan intelektualnya. Kita tidak memiliki kisah-kisah dramatis tentang masa mudanya. Tidak ada catatan mengenai cinta, keluarga, penyakit, atau kebiasaan sehari-hari. Banyak ilmuwan abad pertengahan menghilang ke dalam karya mereka sendiri. 

Yang tersisa hanyalah jejak. Nama dalam manuskrip. Komentar dari penulis kemudian. Perselisihan kecil yang tercatat dalam biografi orang lain. Sebuah pembuktian geometri yang bertahan lebih lama daripada tubuh manusia yang menuliskannya.

Ketika Al-Hasan meninggal pada paruh kedua abad kesembilan, Baghdad masih menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Manuskrip-manuskrip terus disalin. Murid-murid terus belajar. Perdebatan terus berlangsung. Nama Banu Musa tetap hidup sebagai satu kesatuan, dan selama berabad-abad banyak pembaca bahkan tidak menyadari bahwa di dalam nama kolektif tersebut ada seorang matematikawan yang tampaknya lebih nyaman berbicara dengan lingkaran dan garis daripada dengan mesin-mesin yang membuat Ahmad terkenal. 

Di suatu meja kerja yang sudah lama menjadi debu, seseorang pernah menggoreskan ujung pena ke atas perkamen, mengukur sudut demi sudut dengan ketelitian yang nyaris keras kepala. Tidak ada yang tersisa dari suara goresan itu sekarang... selain hasilnya.


Related

Tokoh 2425092513948605477

Posting Komentar

  1. saat SD, hal yang membuatku tertarik adalah segitiga dan lingkaran

    BalasHapus

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item