Andrew Jackson, Trail of Tears, dan Tragedi Penduduk Asli Amerika

Ilustrasi/digitalprairieok.net
Wajah Andrew Jackson masih menatap dari lembar uang 20 dolar Amerika. Rahangnya keras. Rambut putihnya disisir ke belakang seperti jenderal tua yang belum selesai marah pada dunia. Uang itu berpindah tangan di supermarket, pom bensin, kasino, restoran cepat saji, tanpa banyak orang benar-benar memikirkan siapa lelaki itu sebenarnya.

Sementara di Oklahoma, North Carolina, Georgia, Tennessee, nama Jackson terdengar lain. Tidak selalu diucapkan keras-keras. Kadang muncul dalam museum kecil suku Cherokee, di arsip tua, di cerita keluarga yang diwariskan dengan nada pendek dan datar. Jenis cerita yang terlalu sering diulang sampai kehilangan energi untuk terdengar dramatis.

Anak-anak Cherokee meninggal di jalan karena disentri. Orang tua roboh di lumpur dingin. Kereta-kereta berjalan lambat. Tentara mengawasi. Trail of Tears terdengar seperti judul film sentimental kalau belum membaca detailnya.

Jackson lahir miskin di wilayah perbatasan Carolina. Masa kecilnya keras dan berantakan. Ayahnya meninggal sebelum ia lahir. Saat remaja, ia ditangkap tentara Inggris dalam Perang Revolusi Amerika. Seorang perwira Inggris pernah menebas wajah dan tangannya dengan pedang, karena Jackson muda menolak membersihkan sepatu sang perwira. Bekas lukanya bertahan seumur hidup. Tubuh Jackson dipenuhi sisa-sisa kekerasan. Peluru duel bersarang di tubuhnya bertahun-tahun. Salah satu peluru dekat paru-paru. Ia sering batuk darah.

Amerika menyukai tokoh seperti itu; pria kasar dari pinggiran yang naik sendiri tanpa aristokrasi lama. Jackson jadi simbol “orang biasa” melawan elite Pantai Timur. Pendukungnya meneriakkan namanya seperti penggemar petarung. Politik Amerika berubah lebih gaduh di eranya. Kampanye massa, slogan populis, kultus kepribadian.

Ia juga pemilik budak besar di Hermitage, perkebunannya dekat Nashville.

Orang sering membicarakan kontradiksi Amerika seolah itu sesuatu yang tersembunyi rapi. Banyak kontradiksi justru dipamerkan terang-terangan sejak awal.

Jackson terkenal sebagai pahlawan perang setelah Pertempuran New Orleans tahun 1815. Orang Amerika memujanya habis-habisan. Padahal perang secara teknis sudah selesai sebelum pertempuran terjadi; kabar perjanjian damai belum sampai. Tetap saja kemenangan itu menciptakan legenda nasional. “Old Hickory”, julukannya, terdengar seperti nama pohon keras yang tidak bisa dipatahkan.

Di Florida, ia pernah memerintahkan pembakaran desa Seminole. Dua warga Inggris, Alexander Arbuthnot dan Robert Ambrister, dieksekusi setelah pengadilan militer yang kontroversial. Jackson sering bertindak seperti orang yang yakin batas hukum hanyalah gangguan administratif.

Ketika menjadi presiden pada 1829, salah satu obsesi terbesarnya adalah memindahkan suku-suku Indian dari wilayah tenggara Amerika ke tanah di barat Mississippi. Cherokee, Creek, Choctaw, Chickasaw, Seminole. Tanah mereka terlalu subur, terlalu berharga, terlalu menggoda bagi ekspansi kapas kulit putih.

Demam kapas sedang meledak. Mesin cotton gin karya Eli Whitney membuat produksi kapas jauh lebih menguntungkan. Para pemilik perkebunan di Georgia dan Alabama menginginkan lebih banyak lahan. Budak Afrika dibutuhkan. Tanah Indian dianggap hambatan.

Cherokee waktu itu bukan masyarakat yang hidup terisolasi seperti stereotip film koboi lama. Mereka punya konstitusi tertulis, surat kabar bilingual Cherokee Phoenix, sistem pemerintahan terpusat. Sequoyah menciptakan sistem tulisan Cherokee yang sangat efektif, sampai tingkat literasi meningkat cepat. Sebagian elite Cherokee memiliki rumah bergaya Eropa, bahkan budak. Mereka mencoba beradaptasi dengan dunia Amerika kulit putih demi bertahan.

Tetap tidak cukup.

Mahkamah Agung Amerika sempat memihak Cherokee dalam kasus Worcester v. Georgia tahun 1832. Ketua Mahkamah Agung, John Marshall, memutuskan negara bagian Georgia tidak punya hak mengatur wilayah Cherokee secara sepihak.

Jackson konon menanggapi dengan kalimat terkenal, “John Marshall has made his decision; now let him enforce it.”

Sejarawan masih berdebat apakah ia benar-benar mengucapkannya persis begitu. Sikapnya jelas sama saja. Jackson tidak berniat melindungi Cherokee.

Indian Removal Act tahun 1830 lolos tipis di Kongres. Banyak pidato pendukungnya memakai bahasa paternalistik yang menjijikkan kalau dibaca sekarang. Mereka mengklaim pemindahan paksa justru demi “menyelamatkan” suku Indian dari kepunahan. Bahasa politik sering punya kemampuan aneh mengubah pengusiran menjadi kemurahan hati.

Tentara mulai mengumpulkan Cherokee ke kamp-kamp penahanan tahun 1838 di bawah Presiden Martin Van Buren, penerus Jackson. Kebijakan itu lahir dari era Jackson, didorong Jackson, dipopulerkan Jackson. Rantai tanggung jawabnya jelas.

Benteng-benteng sementara penuh sesak. Sanitasi buruk. Musim panas lembap. Bau muntahan dan kotoran manusia bercampur. Banyak orang Cherokee dipaksa meninggalkan rumah hanya dengan barang yang bisa dibawa cepat. Tentara kadang menjarah harta mereka setelah pergi.

Salah satu rute Trail of Tears melewati Tennessee, Kentucky, Illinois, Missouri, lalu masuk wilayah yang kini menjadi Oklahoma. Ribuan orang berjalan lebih dari 1.000 kilometer. Musim dingin datang. Salju turun. Banyak yang tidak punya sepatu layak.

Seorang misionaris bernama Daniel Butrick menulis bahwa jalanan dipenuhi kuburan dangkal. Ia melihat anak-anak sakit terbaring di gerobak. Ada perempuan yang melahirkan di perjalanan, lalu terus berjalan lagi beberapa jam kemudian.

Perkiraan korban berbeda-beda, tapi sekitar 4.000 Cherokee diyakini meninggal akibat penyakit, kelaparan, paparan cuaca, dan kelelahan selama proses relokasi. Choctaw mengalami tragedi serupa lebih awal. Seorang kepala suku Choctaw menyebutnya “trail of tears and death” bahkan sebelum istilah itu melekat pada Cherokee.

Amerika saat itu tetap menganggap Jackson luar biasa. Popularitas memang sering punya bau yang mengerikan kalau dilihat dari jarak sejarah.

Di Washington, pesta pelantikan Jackson tahun 1829 begitu liar, sampai tamu-tamu menginjak furnitur Gedung Putih. Orang-orang membawa lumpur di sepatu mereka, masuk ke ruang resmi negara. Pendukung Jackson menyukai citranya sebagai presiden rakyat biasa. Elite lama jijik melihat massa masuk terlalu dekat ke pusat kekuasaan.

Sementara itu, orang-orang Cherokee dikurung di kamp.

Kontrasnya kasar sekali.

Jackson juga punya perang pribadi melawan Bank Kedua Amerika Serikat. Ia menyerang bank nasional sebagai simbol elite kaya yang mengendalikan negara. Banyak rakyat kecil mencintainya karena itu. Ada semacam energi populis mentah dalam dirinya yang masih terasa sangat modern. Tokoh politik yang membuat pendukung merasa akhirnya ada orang kuat yang mau “menghajar sistem”.

Orang seperti Jackson sering muncul dalam sejarah negara mana pun. Karisma mereka nyata. Keberanian mereka nyata. Kekejaman mereka juga nyata. Ketiganya bercampur tanpa rapi.

Di Hermitage hari ini, wisatawan bisa melihat rumah besar Jackson, wallpaper tua, perabot antik, makam keluarga. Rumputnya terawat. Burung berkicau. Souvenir dijual rapi di toko hadiah. Wajah Jackson masih muncul di kaus, mug, magnet kulkas.

Beberapa tahun lalu muncul usulan mengganti wajah Jackson di uang 20 dolar dengan Harriet Tubman, mantan budak yang membantu pelarian budak lain lewat Underground Railroad. Perdebatan meledak. Sebagian marah besar, seolah mengganti gambar uang adalah penghinaan terhadap identitas nasional.

Tubuh Jackson sudah lama terkubur di Tennessee, tapi emosinya masih berkeliaran di politik Amerika. Orang-orang masih berdebat tentang “rakyat vs elite”, tentang nasionalisme keras, tentang siapa yang dianggap penghalang kemajuan bangsa.

Di New Echota, bekas ibu kota Cherokee di Georgia, ada cetakan koran Cherokee Phoenix yang dipajang di museum kecil. Huruf-huruf Cherokee tampak indah di atas kertas pucat. Di luar, pepohonan bergoyang pelan.

Rumah-rumah putih berdiri di tanah yang dulu diambil.


Related

Sejarah 674872648570996314

Posting Komentar

emo-but-icon

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item