Peoples Temple, Sekte Gila yang Mengajak Anggotanya Bunuh Diri Massal

Ilustrasi/nbcnews.com
Suara anak kecil menangis di rekaman Jonestown terdengar terlalu biasa. Bukan jeritan film horor. Bukan tangisan dramatis. Lebih seperti suara anak kelelahan yang tidak mengerti kenapa orang dewasa di sekelilingnya mulai panik. Di latar belakang, Jim Jones terus bicara lewat mikrofon dengan nada berat dan lelah, seperti guru sekolah yang frustrasi menghadapi murid keras kepala.

“Kita tidak melakukan bunuh diri. Kita melakukan tindakan revolusioner.” Kalimat itu masih ada di rekaman.

Sulit mendengarnya sampai selesai tanpa merasa ada sesuatu yang menekan dada pelan-pelan.

Kebanyakan orang mengenal Jonestown dari satu frasa pop culture murahan; “drink the Kool-Aid”. Meme internet, candaan politik, slogan sinis untuk menggambarkan orang yang terlalu patuh. Padahal yang terjadi di Guyana bukan metafora lucu. Lebih dari 900 manusia mati di tengah hutan tropis. Ratusan di antaranya anak-anak. Tubuh anak-anak ditemukan bertumpuk di dekat tubuh ibu mereka.

Awalnya, Peoples Temple tidak terlihat seperti jalan menuju pembantaian massal. Tahun 1950-an dan 1960-an, Amerika penuh gereja segregasi rasial. Jim Jones justru tampil progresif. Ia mengadopsi anak dari berbagai ras, sesuatu yang masih jarang waktu itu. Ia berkhotbah soal kesetaraan. Ia membuka dapur umum dan membantu orang miskin. 

Banyak pengikut kulit hitam benar-benar percaya Jones tulus. Itu bagian yang sering hilang ketika Jonestown dibahas terlalu simpel sebagai “orang bodoh ikut sekte”. 

Peoples Temple menarik banyak orang yang sebenarnya mencari keadilan sosial. Lansia miskin. Perempuan kulit hitam kelas pekerja. Orang yang muak dengan rasisme Amerika. Mereka melihat Jones sebagai pendeta yang benar-benar mau hidup bersama mereka, bukan cuma berkhotbah dari mimbar nyaman.

Foto-foto awal Peoples Temple terasa hangat. Paduan suara gereja. Orang-orang berpelukan. Jim Jones berdiri di tengah jemaat dengan kacamata hitam besar khas 1970-an. Wajahnya selalu tampak berkeringat sedikit. Ia sangat pandai membaca kebutuhan emosional manusia. Jones juga sangat pandai berbohong.

Ia mengaku bisa menyembuhkan penyakit lewat mukjizat. Kanker disembuhkan. Kursi roda ditinggalkan. Belakangan diketahui sebagian “mukjizat” itu palsu. Ada anggota yang pura-pura sakit lalu disembuhkan di depan jemaat. Teknik sulap religius. Tetap saja orang percaya.

Karisma sering lebih efektif daripada fakta. Orang tidak selalu datang ke pemimpin karena logikanya kuat. Kadang mereka datang karena ingin seseorang berbicara dengan kepastian mutlak di dunia yang terasa retak di mana-mana.

Jones perlahan berubah makin paranoid. Ia memakai amfetamin dalam jumlah besar. Ceramahnya makin panjang dan kacau. Ia mulai bicara tentang konspirasi CIA, perang nuklir, pengkhianatan internal. Pengikut yang kritis dipermalukan di depan umum. Anak-anak dipukuli. Anggota dipaksa menyerahkan uang dan properti. Sekte hampir selalu bergerak dari cinta menuju kontrol.

Tekanan media dan investigasi membuat Jones membawa ratusan pengikut pindah ke Guyana, negara kecil di Amerika Selatan dengan hutan lebat dan panas yang menempel di kulit seperti kain basah. Mereka membangun Jonestown di tengah area terpencil.

Nama resminya “Peoples Temple Agricultural Project”. Terdengar seperti proyek pertanian utopis kecil. Realitasnya cepat membusuk.

Jonestown penuh lumpur, panas lembap, nyamuk, pengeras suara yang terus memutar pidato Jim Jones siang malam. Orang bekerja berjam-jam di ladang sambil kekurangan makanan. Surat-surat disensor. Paspor disita. Penjaga bersenjata berjaga di sekitar kompleks.

Jones tinggal di kabin lebih nyaman, dengan obat-obatan menumpuk di dekat tempat tidurnya.

Ada rekaman audio “White Night”, latihan bunuh diri massal yang dilakukan sebelum tragedi final. Jones sering membangunkan komunitas tengah malam, lalu memberi tahu mereka bahwa musuh akan datang. Anak-anak dan orang dewasa diminta meminum cairan yang katanya racun. Setelah semua panik dan menangis, Jones memberi tahu itu hanya tes loyalitas.

Bayangkan hidup berbulan-bulan dalam atmosfer seperti itu. Tidur tidak pernah benar-benar tenang. Dunia luar disebut monster. Pemimpin terus berkata kiamat sudah dekat. Tubuh manusia bisa dipaksa hidup dalam ketakutan, sampai ketakutan terasa normal.

Kongresman Amerika, Leo Ryan, datang ke Jonestown pada November 1978 untuk menyelidiki laporan penyiksaan. Awalnya komunitas tampil ramah. Ada musik. Ada makan malam. Orang-orang tersenyum ke kamera wartawan.

Lalu beberapa anggota diam-diam menyelipkan catatan kepada rombongan Ryan, “Tolong bantu kami keluar.” Retakan mulai terlihat.

Saat Ryan dan rombongannya hendak pergi dari lapangan terbang Port Kaituma, anggota Peoples Temple bersenjata datang dan menembaki mereka. Ryan tewas bersama empat orang lain. Salah satu wartawan sempat merekam beberapa detik kekacauan sebelum kamera jatuh.

Di Jonestown sendiri, Jim Jones tahu semuanya selesai. Rekaman audio terakhir—yang dikenal sebagai “Death Tape”—dimulai dengan Jones berbicara tentang serangan musuh dan kebutuhan melakukan “revolutionary suicide”. Racun sianida dicampur dalam minuman rasa anggur, kemungkinan Flavor Aid, bukan Kool-Aid seperti mitos populer.

Anak-anak diberi duluan. Perawat menyuntik bayi menggunakan spuit tanpa jarum. Orang tua dipaksa melihat. Tangisan memenuhi paviliun kayu besar tempat komunitas berkumpul. Sebagian anggota menolak. Sebagian histeris. Sebagian tampak pasrah total.

Jones terus bicara di mikrofon.

Ada perempuan bernama Christine Miller, dalam rekaman, yang mencoba melawan. Ia mengatakan masih ada pilihan lain. Suaranya gemetar tapi tetap mencoba berbicara masuk akal di tengah lautan kepanikan. Jones memotongnya terus-menerus. Anggota lain meneriakinya supaya diam.

Momen itu terasa sangat manusiawi dan menyakitkan. Satu orang mencoba mempertahankan logika ketika seluruh lingkungan sosial sudah runtuh.

Anak-anak mulai mati lebih cepat, karena tubuh kecil mereka tidak mampu melawan sianida terlalu lama. Setelah itu orang dewasa meminum racun atau dipaksa meminumnya. Sebagian ditembak saat mencoba kabur.

Ketika pasukan Guyana masuk ke Jonestown sehari kemudian, mereka menemukan tubuh di mana-mana. Hamparan mayat memenuhi tanah sekitar paviliun. Banyak tubuh mulai membusuk cepat di panas tropis. 

Foto udara Jonestown sulit dilupakan sekali lihat. Warna pakaian cerah korban terlihat hampir absurd di tengah hijau hutan. Biru. Merah. Kuning. Tubuh orang dewasa menutupi tubuh anak-anak kecil di bawahnya. Seperti orang tidur siang massal yang berubah jadi sesuatu yang jauh lebih buruk.

Jim Jones sendiri ditemukan mati karena luka tembak di kepala. Tidak jelas apakah bunuh diri atau dibantu orang lain. Tubuhnya tergeletak di dekat kursi.

Saya pernah mencoba mendengar seluruh Death Tape tanpa jeda. Menjelang akhir, suara mulai bercampur; tangisan, batuk, erangan, Jones yang makin kacau karena obat-obatan dan paranoia. Telinga terasa berdenging sesudahnya. Bukan karena volume keras. Ada jenis suara tertentu yang membuat tubuh tahu sedang mendengar sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Banyak korban Jonestown tidak datang untuk mencari kiamat. Mereka datang mencari komunitas yang tidak rasis. Tempat hidup lebih adil. Sedikit harapan di Amerika yang waktu itu masih penuh segregasi dan kemiskinan. 

Jim Jones memahami rasa lapar itu lebih baik daripada siapa pun di sekelilingnya. Di foto-foto lama Peoples Temple, sebelum semuanya runtuh, orang-orang tampak benar-benar bahagia. Itu bagian yang paling mengganggu. Karena berarti sebagian mimpi mereka memang nyata sebelum berubah jadi racun.


Related

Umum 6657720834666039550

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item