Maslamah al-Majriti: Ahli Astronomi, Kimia, Sekaligus Guru Matematika
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/maslamah-al-majriti-ahli-astronomi.html
![]() |
| Ilustrasi/sanadmedia.com |
Maslamah al-Majriti sering muncul dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam seperti sosok yang terlihat dari sudut mata. Namanya ada, pengaruhnya besar, murid-muridnya terkenal, tetapi sosok manusianya sendiri terasa kabur. Banyak ilmuwan abad pertengahan meninggalkan jejak berupa puluhan buku, surat, atau catatan pribadi. Al-Majriti meninggalkan sesuatu yang berbeda: sebuah tradisi intelektual. Ia lebih mirip sumber mata air yang tidak selalu terlihat, tetapi alirannya bisa ditemukan jauh di hilir.
Kota kelahirannya, Madrid, terdengar aneh bagi telinga modern ketika disandingkan dengan ilmu pengetahuan Islam. Orang cenderung membayangkan Baghdad, Damaskus, atau Kairo. Padahal Madrid pada abad ke-10 masih bernama Majrit, sebuah kota perbatasan di Al-Andalus yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah Cordoba. Dari nama kota itulah ia memperoleh nisbah “al-Majriti”, artinya “orang Madrid”. Ia lahir sekitar pertengahan abad ke-10, kemungkinan sekitar tahun 950-an.
Al-Andalus pada masa itu sedang berada di salah satu puncak kejayaannya. Di Cordoba, jalan-jalan diterangi lampu minyak ketika banyak kota Eropa Barat masih gelap setelah matahari terbenam. Perpustakaan khalifah menyimpan ratusan ribu manuskrip. Para pedagang membawa kertas dari Timur. Para penerjemah menerjemahkan karya Yunani, Persia, dan India. Di pasar-pasar terdengar campuran bahasa Arab, Latin, Ibrani, dan berbagai dialek lokal. Dunia Islam bagian barat sedang mengalami ledakan intelektual yang sering terlupakan, karena perhatian sejarah terlalu sering tertuju ke Baghdad.
Al-Majriti tumbuh di lingkungan seperti itu. Ia belajar matematika, astronomi, dan ilmu hitung yang ketika itu merupakan alat praktis sekaligus sarana memahami kosmos. Nama gurunya tidak tercatat dengan jelas. Itu salah satu frustrasi terbesar ketika menelusuri biografinya. Kita mengetahui banyak tentang hasil kerjanya, tetapi jauh lebih sedikit tentang bagaimana ia menjadi ilmuwan.
Ketika namanya mulai muncul dalam sumber-sumber sejarah, ia sudah menjadi salah satu astronom paling dihormati di Al-Andalus. Salah satu pekerjaannya yang paling penting adalah mengoreksi dan memperbarui tabel astronomi karya ilmuwan besar Asia Tengah, Al-Khwarizmi.
Tabel astronomi atau zīj pada masa itu bukan sekadar daftar angka yang membosankan. Ia adalah mesin komputasi dunia sebelum adanya kalkulator. Dengan tabel seperti itu, seorang astronom dapat menghitung posisi Matahari, Bulan, dan planet; seorang pelaut dapat memperkirakan arah; seorang ahli agama dapat menentukan waktu shalat.
Al-Khwarizmi menyusun tabelnya berdasarkan kondisi geografis dan astronomis dunia Timur Islam. Al-Majriti menyadari bahwa data tersebut tidak selalu cocok untuk Al-Andalus. Ia menyesuaikan berbagai parameter agar lebih sesuai dengan meridian Cordoba dan kondisi pengamatan lokal. Tindakan itu mungkin terdengar teknis, tetapi sebenarnya menunjukkan sesuatu yang penting. Ia tidak memperlakukan ilmu pengetahuan sebagai warisan suci yang harus diterima apa adanya. Ia memperlakukan ilmu sebagai sesuatu yang harus diuji ulang terhadap kenyataan.
Kecenderungan itu muncul berulang kali dalam kariernya. Banyak ilmuwan sezamannya bertugas melestarikan pengetahuan. Al-Majriti tampaknya lebih tertarik memperbaikinya.
Kita bisa membayangkan ruang kerjanya di Cordoba: lembaran perkamen, tinta hitam yang meninggalkan aroma khas logam dan getah, instrumen astronomi dari kuningan, angka-angka yang memenuhi halaman manuskrip. Astronomi abad ke-10 bukan pekerjaan romantis. Berjam-jam pengamatan dilakukan pada malam hari yang dingin. Mata pedih karena terus menatap posisi bintang. Kesalahan satu angka dapat merusak seluruh perhitungan.
Cordoba pada masa itu bukan sekadar kota besar. Ia adalah salah satu pusat urban terbesar di dunia. Penduduknya mungkin mencapai ratusan ribu jiwa. Sungai Guadalquivir membelah kota. Di dekat Masjid Agung Cordoba, para ulama berdebat tentang hukum, tata bahasa, filsafat, dan matematika. Al-Majriti bergerak dalam lingkungan yang sangat kompetitif. Untuk diakui di sana, seseorang harus benar-benar luar biasa.
Reputasinya sebagai matematikawan tumbuh begitu besar sehingga generasi sesudahnya menyebutnya sebagai pemimpin sekolah matematika Al-Andalus. Sebutan itu penting, karena menunjukkan bahwa ia bukan hanya penulis buku, tetapi juga guru. Murid-muridnya menyebarkan metode dan pendekatannya ke berbagai wilayah Semenanjung Iberia.
Salah satu murid yang sering dikaitkan dengannya adalah Ibn al-Samh. Murid lain, Ibn al-Saffar, menjadi astronom terkemuka. Dari lingkaran itulah lahir tradisi astronomi Andalusia yang kemudian mempengaruhi Eropa Latin beberapa abad berikutnya.
Ada sisi lain yang membuat Al-Majriti sering disalahpahami: hubungannya dengan alkimia dan ilmu-ilmu esoterik. Berabad-abad setelah kematiannya, sejumlah karya mistik dan okultisme secara keliru dikaitkan dengannya. Yang paling terkenal adalah kitab yang di Eropa dikenal sebagai Picatrix, berasal dari karya Arab berjudul Ghāyat al-Ḥakīm. Selama berabad-abad, banyak orang percaya Al-Majriti adalah penulisnya.
Masalahnya, bukti sejarah menunjukkan karya itu kemungkinan ditulis beberapa dekade setelah kematiannya.
Kesalahan atribusi tersebut justru menarik. Nama Al-Majriti memiliki reputasi intelektual yang begitu tinggi sehingga penulis-penulis kemudian merasa karyanya akan lebih berwibawa jika ditempelkan pada dirinya. Fenomena itu tidak jarang terjadi dalam sejarah. Nama besar berubah menjadi merek. Orang yang sebenarnya perlahan menghilang di balik legenda.
Sumber-sumber Arab menggambarkannya sebagai ahli matematika, astronom, dan kimia. Kata “kimia” di sini perlu dipahami dalam konteks abad ke-10. Batas antara kimia, alkimia, astronomi, dan filsafat alam, masih sangat cair. Banyak ilmuwan bergerak bebas di antara disiplin-disiplin tersebut. Dunia belum mengenal sekat akademik modern.
Ada satu karya yang sering dikaitkan dengannya mengenai pemurnian emas dan perak. Sulit memastikan sejauh mana teks yang kita miliki benar-benar berasal dari tangannya. Manuskrip abad pertengahan memiliki kehidupan yang rumit. Salinan demi salinan dibuat selama ratusan tahun. Nama penulis bisa hilang, berubah, atau dipindahkan.
Kematiannya diperkirakan terjadi sekitar tahun 1007 atau 1008. Tahun-tahun itu berada di ambang perubahan besar. Kekhalifahan Cordoba yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuatan Islam Barat mulai memasuki masa krisis. Tidak lama kemudian perang saudara menghancurkan stabilitas politik Al-Andalus. Perpustakaan terbakar. Patronase ilmiah melemah. Banyak intelektual harus berpindah kota untuk mencari perlindungan.
Al-Majriti meninggal tepat sebelum badai itu mencapai puncaknya.
Kadang saya merasa ada ironi yang menarik di sini. Seorang ilmuwan yang menghabiskan hidupnya menghitung keteraturan langit justru hidup di tengah masyarakat yang sedang bergerak menuju kekacauan politik. Planet-planet tetap mengikuti lintasannya. Dinasti tidak.
Beberapa abad kemudian, ketika karya-karya Arab diterjemahkan ke Latin di kota-kota seperti Toledo, pengaruh tradisi yang ia bangun ikut mengalir ke Eropa. Nama Al-Majriti memang tidak setenar Ibn Sina atau Al-Biruni. Ia juga tidak meninggalkan kisah dramatis tentang pengembaraan, pengasingan, atau konflik istana. Banyak pembaca modern mungkin bahkan tidak pernah mendengar namanya.
Namun ketika menelusuri sejarah ilmu pengetahuan di Al-Andalus, sosoknya muncul terus-menerus seperti tanda tangan yang tersisa di tepi halaman. Muridnya ada di sana. Metodenya ada di sana. Revisi tabel astronominya ada di sana. Jejaknya tersebar lebih luas daripada biografinya sendiri.
Sebuah manuskrip astronomi tua yang penuh angka biasanya tidak membuat jantung berdebar. Tetapi angka-angka yang dihitung Al-Majriti lebih dari seribu tahun lalu pernah digunakan untuk membaca langit di Cordoba, Sevilla, Toledo, bahkan kemudian di pusat-pusat pembelajaran Eropa.
Di suatu malam yang sudah lama lenyap, seseorang menyalakan lampu minyak, membuka tabel perhitungannya, lalu mengangkat kepala ke arah bintang-bintang. Nama Maslamah al-Majriti tertulis kecil di halaman awal, sementara dunia di luar terus berubah dengan kecepatan yang jauh lebih liar daripada gerak Saturnus.
Catatan terkait: Al-Khwarizmi, Raksasa Pengetahuan yang Mengubah Wajah Dunia


