Surat untuk Olivia: Kisah Pria yang Melewati Brutalnya Perang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/surat-untuk-olivia-kisah-pria-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Seorang bayi Yahudi tidur di ranjang seorang perempuan Indonesia yang tidak bisa berbahasa Belanda. Di bawah bantal perempuan itu terselip pisau. Rumah yang ditempatinya berada di Belanda yang diduduki Nazi, bayi itu tidak boleh terlihat oleh tetangga, tidak boleh mendekati jendela, bahkan tidak memiliki jatah makanan resmi karena secara administratif ia seolah-olah tidak ada.
Tujuh puluh enam tahun kemudian, bayi tersebut menulis surat kepada seorang anak perempuan yang belum cukup umur untuk memahami semua yang akan dibacanya.
Namanya Alfred Münzer. Ia menulis surat untuk anak perempuan bernama Olivia.
Surat tersebut tersimpan di United States Holocaust Memorial Museum dalam seri Echoes of Memory. Münzer menulisnya pada 25 Desember 2018 setelah berbicara di Old Dominion University di Norfolk, Virginia. Ayah Olivia hadir dalam ceramah itu. Seusai acara, ia mendatangi Münzer dengan mata berkaca-kaca, dan mengatakan bahwa ia seorang ayah muda dengan anak perempuan berusia satu tahun. Pertanyaannya sederhana: siapa yang akan menceritakan kisah Münzer kepada Olivia ketika ia sudah cukup besar untuk mengerti? Münzer kemudian berjanji menulis surat kepadanya.
Surat itu dimulai dengan “Dear Olivia”. Tidak ada gaya pidato. Tidak ada jarak akademis. Münzer berbicara kepada seorang anak yang bahkan mungkin belum mampu membaca surat itu ketika ia pertama kali menulisnya. Ia sedang menitipkan sebuah sejarah kepada seseorang yang belum tahu bagaimana beratnya sejarah.
Münzer lahir di Den Haag pada 23 November 1941. Orang tuanya berasal dari Eropa Timur dan pindah ke Belanda untuk melarikan diri dari antisemitisme sekaligus mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik. Mereka menikah di Den Haag pada Desember 1932. Dua anak perempuan lahir lebih dulu: Eva pada Juli 1936 dan Leah pada November 1938.
Ketika Jerman menyerbu Belanda pada Mei 1940, kehidupan yang sebelumnya terasa aman mulai menyusut melalui larangan-larangan yang makin kasar: orang Yahudi diwajibkan menggunakan nama tambahan tertentu, harta benda harus didaftarkan, transportasi umum dibatasi, taman-taman umum ditutup bagi mereka.
Ibu Alfred bahkan mengalami masalah sebelum anak itu lahir. Pada awal 1941, ia hamil, dan dokternya menyarankan aborsi. Ia menolak setelah membaca kisah Hannah dalam Alkitab. Dokter tersebut kemudian tidak lagi mau merawatnya. Alfred lahir di rumah dengan bantuan seorang perawat.
Sembilan bulan kemudian, orang tuanya tahu bahwa mereka harus menghilang.
Eva dan Leah ditempatkan pada seorang perempuan Katolik yang bersedia menyembunyikan mereka. Alfred diserahkan kepada tetangga keluarga bernama Annie Madna. Orang tuanya sendiri bersembunyi di sebuah rumah sakit; ayahnya berpura-pura menjadi pasien, ibunya berpura-pura menjadi perawat. Strategi itu terdengar seperti cerita mata-mata, sampai kita ingat bahwa mereka sedang mencoba menjaga dua anak perempuan dan seorang bayi tetap hidup di negara yang sedang mencari orang-orang seperti mereka.
Annie Madna ketakutan. Ia pernah mengalami masalah dengan pendudukan Nazi, dan khawatir rumahnya akan diperiksa. Alfred kemudian diserahkan kepada adik Annie, Yorina, yang berusia 27 tahun. Tiga minggu kemudian, Yorina ikut ketakutan karena seorang tetangga ternyata anggota Partai Nazi Belanda. Alfred berpindah tangan lagi. Annie menyerahkannya kepada mantan suaminya, Tolé Madna.
Nama keluarga itu kemudian menjadi nama keluarga masa kecil Alfred.
Tolé menjadi “Papa”. Anak-anak Tolé—Wil, Dewie, dan Robby—menjadi saudara Alfred. Perempuan yang merawatnya adalah Mima Saïna, pengasuh Indonesia keluarga tersebut. Ia berasal dari keluarga yang sangat miskin, tidak bisa membaca atau menulis, tidak bisa berbahasa Belanda, dan hanya berbicara bahasa Indonesia. Alfred tidak menggambarkannya sebagai tokoh besar. Ia hanya menulis bahwa Mima merawatnya seolah-olah ia bayi miliknya sendiri.
Ia tidur bersama Alfred. Pisau disimpan di bawah bantal. Kalau Nazi datang, ia siap melawan.
Detail itu membuat seluruh cerita berubah bentuk. Orang yang menyelamatkan Alfred bukanlah sosok yang berada di podium sejarah. Ia seorang pengasuh yang tidak bisa membaca bahasa Belanda, seorang perempuan Indonesia dalam keluarga yang sedang mengalami kekurangan makanan di Belanda yang diduduki. Mereka harus memberikan sebagian makanan kepada bayi yang tidak memiliki kupon. Makanan dibeli dengan kupon. Alfred tidak punya kupon, karena keberadaannya sendiri harus disembunyikan.
Seseorang tetap memberinya makan.
Beberapa tahun sebelum menulis surat kepada Olivia, Münzer bertemu seorang perempuan di Belanda yang mengatakan sesuatu yang mungkin terdengar hampir lucu jika tidak mengandung seluruh perang di dalamnya: Alfred dahulu minum susu miliknya. Perempuan itu menjelaskan bahwa selama perang, anak-anak menerima sebotol kecil susu di sekolah. Ibunya menyuruhnya menyimpan separuh botol untuk bayi di rumah sebelah. Bayi tersebut adalah Alfred. Perempuan yang menyisihkan susu itu mungkin baru berusia delapan atau sembilan tahun.
Münzer memiliki beberapa kenangan yang justru terasa biasa. Ia tidak boleh keluar rumah atau mendekati jendela, karena orang luar bisa melihat seorang anak berkulit putih di tengah keluarga berkulit gelap. Dunia luar hanya dapat dilihat melalui lubang surat di pintu depan. Ketika rumah diperiksa, ia harus bersembunyi di lemari. Anehnya, lemari itu tidak selalu menakutkan baginya, karena hiasan Natal disimpan di sana dan ia bisa bermain dengannya.
Yang paling ia ingat adalah Tolé memainkan piano, dan Mima menyanyikan lagu nina bobo Indonesia. Ia juga ingat tempat duduk kesukaannya: ruang kosong di bawah meja tulis Papa.
Kenangan terakhirnya tentang masa persembunyian jauh lebih sederhana. Ia lapar. Musim dingin terakhir perang sangat buruk sampai orang Belanda menggiling umbi tulip untuk dimakan. Anak yang tumbuh dengan bunga tulip sebagai pemandangan kemudian mengetahui bahwa bagian tanaman yang selama ini diasosiasikan dengan keindahan juga bisa menjadi makanan ketika hampir tidak ada makanan lain.
Orang tua Alfred tidak mengalami akhir yang sama. Mereka ditemukan dan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Ibunya selamat dari Auschwitz dan kerja paksa di pabrik elektronik sampai kemudian menjalani perjalanan yang kelak dikenal sebagai death march. Ia dibebaskan di dekat perbatasan Denmark pada awal 1945.
Sementara ayahnya melewati Auschwitz dan beberapa kamp lain, kemudian dibawa ke Ebensee di Austria, bekerja di tambang garam bawah tanah untuk produksi senjata Jerman. Ia masih hidup ketika tentara Amerika membebaskan kamp tersebut, tetapi tubuhnya sudah terlalu rusak. Ia meninggal dua bulan kemudian, dan dimakamkan di bekas kamp yang kini menjadi pemakaman.
Eva dan Leah tidak kembali. Eva berusia tujuh tahun. Leah lima tahun. Mereka disembunyikan oleh seorang perempuan yang bersedia menolong, tetapi suami perempuan itu melaporkannya kepada Nazi karena menyembunyikan dua anak Yahudi. Perempuan tersebut dipenjara dan kemudian dibebaskan. Anak-anaknya tidak. Mereka dikirim ke Auschwitz dan dibunuh.
Alfred sendiri bertemu kembali dengan ibunya pada Agustus 1945, ketika usianya tiga setengah tahun. Ia tidak mengenali perempuan itu. Ia sedang tidur ketika dibawa masuk ke ruang tamu, kemudian dipindahkan dari satu pangkuan ke pangkuan lain. Ketika ibunya mencoba menggendongnya, Alfred menolak dan mendorongnya pergi.
Ibunya adalah orang asing. Itu mungkin salah satu bagian paling menyakitkan dari surat tersebut, karena tidak membutuhkan metafora apa pun. Seorang perempuan telah melewati deportasi, Auschwitz, kerja paksa, kelaparan dan death march, untuk kembali kepada anaknya. Dan anak itu tidak mengenalinya.
Beberapa saat kemudian, Alfred mulai memahami bahwa perempuan asing tersebut adalah ibunya.
Puluhan tahun sesudahnya, Alfred Münzer duduk di sebuah universitas di Virginia, bercerita kepada orang-orang yang lahir jauh setelah perang. Seorang ayah muda mendengarkannya sambil memikirkan anak perempuannya sendiri. Ia tidak meminta buku, kuliah, atau daftar tanggal. Ia meminta sebuah surat.
Maka seorang laki-laki yang pernah tidur di bawah perlindungan Mima Saïna menulis kepada Olivia tentang dua saudari yang tidak pernah dikenalnya kembali, tentang seorang perempuan yang menyimpan pisau di bawah bantal, tentang susu yang diam-diam disisihkan seorang anak Belanda, tentang piano Tolé Madna, tentang lubang surat di pintu, dan tentang pertemuan pertamanya dengan ibunya yang gagal menjadi adegan reuni.
Surat itu bertanggal Natal.
Alfred menandatanganinya dengan namanya sendiri.
Alfred Münzer.
Catatan terkait: Surat yang Datang Setelah Penulisnya Mati di Medan Perang
.jpg)

