Harry Tanabe: Dari Balik Kawat Berduri ke Meja Interogasi

Ilustrasi milik BSM
Pada suatu tahap dalam Perang Dunia II, Harry Tanabe harus berbicara kepada orang Jepang yang baru saja menjadi tawanan perang. Ia mengenal bahasa mereka, memahami kebiasaan mereka, tahu bagaimana kalimat Jepang disusun, dan tahu bahwa satu kata yang salah diterjemahkan dapat mengubah arti sebuah jawaban.

Yang membuat adegan itu ganjil bukan pekerjaan Tanabe sebagai interogator. Beberapa tahun sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat sendiri telah menempatkan Tanabe di balik kawat berduri.

Harry Harushi “Cowboy” Tanabe lahir di Marysville, California, pada 12 April 1923. Setelah serangan Pearl Harbor, hidup keluarga Jepang-Amerika berubah dengan cepat. Executive Order 9066 membuka jalan bagi pemindahan paksa warga keturunan Jepang dari kawasan Pantai Barat. Tanabe mula-mula ditahan di Tule Lake, kemudian dikirim ke Topaz, Utah. Nama kedua tempat itu tercatat dalam arsip wawancara militernya.

Topaz berada di gurun Utah, tempat yang jauh dari Marysville. Debu, angin, barak kayu, pagar kawat. Tanabe mengenang periode itu bukan sebagai catatan abstrak tentang kebijakan perang, tetapi bagian dari masa mudanya sendiri. Dalam wawancara sejarah lisan, ia juga membicarakan pengalaman diskriminasi sebagai orang Jepang-Amerika dan pengalaman pertamanya menghadapi rasisme ketika mencoba masuk dinas militer.

Kemudian ia melakukan sesuatu yang pada masa sekarang terasa hampir seperti lelucon sejarah yang terlalu kasar untuk dibuat-buat: ia menjadi sukarelawan Angkatan Darat Amerika Serikat.

Tanabe diterima pada 13 Maret 1944 di Camp Atterbury, Indiana. Ia menjalani pelatihan di Camp Lee, Virginia, kemudian Camp Holabird, Maryland. Camp Holabird merupakan pusat penting pelatihan Counter Intelligence Corps. Tanabe tidak ditempatkan sebagai infanteri biasa. Spesialisasinya berhubungan dengan intelijen militer, interogasi tawanan perang, dan kontraintelijen. Database pengalaman militer Jepang-Amerika mencatat tanggung jawabnya secara cukup teknis: menginterogasi tawanan, mengevaluasi informasi, meneruskannya kepada komando yang lebih tinggi, serta membaca dan menafsirkan dokumentasi persenjataan Jepang.

Perubahan perannya hampir terlalu tajam untuk dicerna secara normal. Kemarin ia orang yang dicurigai. Sekarang ia bagian dari mesin yang mencurigai orang lain.

Kalimat seperti itu mudah dibuat menjadi slogan, dan justru karena itu sebaiknya jangan. Pengalaman Tanabe jauh lebih berantakan. Ia tidak menerima kewarganegaraan Amerika dari pemerintah yang kemudian ia layani sebagai hadiah. Ia memang warga Amerika sejak lahir. Negara hanya membutuhkan waktu perang untuk membuat fakta tersebut terasa tidak cukup.

Ketika Tanabe dikirim ke Pasifik, kemampuan bahasanya memperoleh nilai yang sama sekali berbeda. Di Okinawa, perang sudah berubah menjadi pekerjaan yang sangat fisik. Pertempuran berlangsung dari April sampai Juni 1945. Desa-desa hancur, penduduk sipil terjebak, gua-gua menjadi tempat perlindungan sekaligus posisi militer Jepang. Pasukan Amerika membutuhkan orang yang mampu memahami apa yang dikatakan pihak lawan.

Tanabe menjadi salah satunya.

Kesaksian sejarah lisannya pada 2002 menyimpan bagian yang jarang masuk ke ringkasan perang: ia membicarakan metode interogasi, pengalamannya terluka di Okinawa, serta tugasnya setelah itu di Niigata dan Jepang yang diduduki. Ia juga kemudian menjadi bagian dari pekerjaan yang berhubungan dengan tawanan dan personel Jepang.

Interogasi memiliki bentuk yang berbeda dari pertempuran. Tidak selalu ada suara peluru. Tidak ada peta dengan garis depan yang bergerak setiap jam. Seorang tahanan duduk di hadapan seorang Amerika yang berbicara bahasa Jepang. Pertanyaan diajukan. Jawaban dicatat. Satu nama, satu lokasi, satu unit, satu gudang amunisi, satu informasi tentang posisi pasukan. Pekerjaan itu bergantung pada ketelitian yang membosankan.

Tanabe bahkan membawa pengalaman bahasanya ke dokumen. Database militer mencatat bahwa salah satu tugas personalnya adalah membaca dan menerjemahkan dokumentasi persenjataan Jepang. Itu pekerjaan yang mungkin terdengar kering, tetapi dalam perang, selembar dokumen tentang senjata atau organisasi unit dapat lebih berguna daripada keberanian seseorang di garis depan.

Ia juga terluka di Okinawa. Arsip Veterans History Project secara khusus mencatat pengalaman tersebut, bersama keterangan bahwa Tanabe melakukan debriefing terhadap tawanan perwira Jepang. Rekaman wawancara lain dari Go For Broke National Education Center juga membahas proses interogasi dan luka yang dideritanya.

Detail itu mengganggu gambaran sederhana tentang “penerjemah”. Tanabe bukan orang yang duduk aman di belakang garis depan sambil membantu orang lain membaca surat. Ia masuk ke wilayah pertempuran dan terluka. Bahasa Jepang yang ia kuasai menjadi alat militer, sama konkretnya dengan senjata atau radio.

Ada ironi yang lebih kasar lagi pada tubuhnya sendiri. Tanabe pernah berada di Topaz karena keturunan Jepang. Di Okinawa ia berhadapan dengan orang-orang yang, secara etnis, dapat dengan mudah dianggap “sesama Jepang”. Mereka berdiri pada sisi sejarah yang berbeda. Tanabe mengenakan seragam Amerika; orang-orang di hadapannya mengenakan seragam Kekaisaran Jepang atau baru saja melepaskannya.

Bagi tentara Amerika yang tidak memahami bahasa Jepang, seorang tawanan Jepang adalah sumber informasi yang sulit ditembus. Bagi Tanabe, bahasa itu tidak sepenuhnya asing. Ia tidak harus menunggu penerjemah lain mengubah setiap kalimat. Ia dapat mendengar nada, pilihan kata, mungkin juga keraguan kecil yang hilang ketika bahasa diterjemahkan secara mekanis.

Kemampuan semacam itu tidak otomatis membuatnya memahami orang yang diinterogasi. Justru sebaliknya. Kesamaan bahasa dapat membuat perbedaan politik terasa semakin kasar.

Tanabe kemudian ikut dalam pendudukan Jepang. Arsip mencatat penugasannya di Niigata dan Tokyo melalui 441st Counter Intelligence Corps. Tanggung jawabnya tetap berkaitan dengan interogasi dan evaluasi informasi. Perang telah bergeser dari membunuh musuh jadi mencari tahu bagaimana negara yang kalah harus diawasi.

Pada tahap itu, kata “musuh” sendiri mulai kehilangan bentuk. Jepang telah menyerah. Orang yang kemarin merupakan sasaran tembakan kini bisa menjadi orang yang harus ditanyai. Seorang perwira Jepang dapat duduk di hadapan seorang prajurit Jepang-Amerika. Mereka mungkin sama-sama memahami bahasa yang digunakan, tetapi hanya satu dari mereka yang memegang wewenang.

Tanabe juga pernah mengikuti Officer Candidate School, tetapi, menurut catatan Veterans History Project, ia tidak memperoleh pangkat second lieutenant. Arsip wawancara singkat VHP pada 2004 mencatat sejumlah detail yang terasa sangat manusiawi: ia mengalami diskriminasi sebagai tentara Jepang-Amerika, kehilangan indera penciuman, terluka di Okinawa, dan menjalankan tugas interogasi terhadap perwira Jepang.

Kehilangan indera penciuman mungkin terdengar seperti detail kecil dibandingkan Okinawa. Justru detail semacam itu yang membuat perang kembali menjadi pengalaman tubuh. Bau tanah basah, makanan, asap, tubuh manusia, bahan peledak—semuanya dapat hilang begitu saja. Seorang veteran kemudian menceritakan perang melalui apa yang masih diingat telinga dan matanya, sementara satu indera sudah tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Wawancara Tanabe baru direkam pada 2002, hampir enam dekade setelah perang. Rekaman itu tidak memberi kita seorang tokoh yang berbicara seperti buku sejarah. Ia berbicara sebagai Harry Tanabe, lelaki kelahiran Marysville yang pernah masuk Tule Lake, pernah dikirim ke Topaz, kemudian menjadi sukarelawan Angkatan Darat, menjalani pelatihan CIC, pergi ke Okinawa, terluka, menginterogasi orang Jepang, dan bekerja dalam pendudukan Jepang. 

Empat bagian wawancara itu bahkan bergerak dari masa kecil dan pengalaman kamp menuju interogasi, Okinawa, Niigata, kehidupan setelah perang, keluarga, serta kariernya.

Setelah perang, Tanabe tidak menghilang ke dalam catatan kaki. Ia menjadi bagian dari komunitas veteran Jepang-Amerika dan aktif dalam organisasi veteran. Pacific Citizen pada 1966 menyebutnya sebagai salah satu tokoh dalam pembentukan sebuah post VFW Nisei di California Selatan; pada 1984 ia tercatat memimpin upacara Memorial Day komunitas Jepang-Amerika.

Foto atau rekaman tentang Tanabe setelah perang mungkin tidak akan langsung memberi kesan bahwa lelaki tersebut pernah menjadi tahanan di Topaz. Seragam sudah dilepas. Tahun-tahun sudah lewat. Wajah manusia memang tidak menyimpan label administratif yang pernah ditempelkan negara kepadanya.

Dokumen menyimpannya.

Topaz. Tule Lake. Counter Intelligence Corps. Okinawa. Interogasi. Luka. Niigata. Urutan kata-kata itu, kalau disusun tanpa penjelasan panjang, sudah cukup aneh. Seorang anak muda Amerika keturunan Jepang masuk ke kamp tahanan Amerika, kemudian keluar dari sistem itu untuk belajar bagaimana mengorek informasi dari tentara Jepang, kemudian terluka di Okinawa dan meneruskan pekerjaannya di Jepang yang telah kalah.

Pada 2002, ketika Harry Tanabe duduk di depan pewawancara, perang sudah lama menjadi sejarah. Ia tetap harus mengucapkan nama-nama tempat itu dari ingatan. Tidak ada kawat berduri di belakangnya. Tidak ada penjaga kamp.

Hanya mikrofon. Ia mulai bercerita.


Related

Sejarah 7283040742489521021

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item