Fajr al-Islam, Sejarah Pemikiran Islam dalam Pikiran Ahmad Amin

Ilustrasi milik BSM
Sejarah pemikiran biasanya mudah sekali berubah menjadi daftar nama. Hasan al-Basri mengatakan ini. Wasil ibn ‘Ata’ mengatakan itu. Khawarij muncul. Syiah berkembang. Mu‘tazilah datang. Setelah beberapa halaman, pembaca sudah melihat begitu banyak nama sampai kepala terasa penuh, tetapi masih belum tahu mengapa semua itu terjadi.

Ahmad Amin tidak puas dengan sejarah semacam itu.

Dalam Fajr al-Islam, ia mencoba melihat kehidupan intelektual Islam sebagai sesuatu yang tumbuh dari keadaan konkret. Kitab yang pertama kali terbit di Kairo pada 1929 ini bahkan mempunyai subjudul yang sangat terus terang: yabhathu ‘an al-hayah al-‘aqliyyah fi sadr al-Islam ila akhir al-dawlah al-Umawiyyah—“penelitian mengenai kehidupan intelektual pada masa awal Islam sampai berakhirnya Dinasti Umayyah”. Ia tidak sedang membuat katalog ulama. Ia ingin mengetahui bagaimana kehidupan intelektual itu terbentuk. 

Cara melihat seperti itu terasa biasa bagi ilmu sosial modern. Pada awal abad ke-20, untuk seorang penulis Arab Muslim yang sedang menulis sejarah kebudayaan Islam, pendekatan tersebut memiliki tenaga yang berbeda. 

Ahmad Amin lahir di Kairo pada 1886, belajar di Al-Azhar, pernah bekerja sebagai qadi, kemudian mengajar sastra Arab di Universitas Kairo dan menjadi dekan Fakultas Sastra. Ia hidup pada masa Nahdah, ketika intelektual Arab sedang berdebat keras tentang pendidikan, modernitas, warisan Islam, Barat, dan masa depan masyarakat Muslim. Ia tidak menulis dari dunia yang steril dari perdebatan itu. 

Hal itu terasa ketika ia membahas munculnya berbagai aliran. Misalnya, persoalan politik tidak diletakkan di luar sejarah teologi seolah-olah keduanya berada dalam dua ruangan berbeda. Konflik mengenai kepemimpinan setelah Nabi Muhammad, perang saudara, persoalan legitimasi kekhalifahan, dan pertarungan antara kelompok-kelompok politik, ikut menjadi bagian dari penjelasan tentang bagaimana berbagai posisi teologis berkembang.

Di sini sejarah jadi sedikit lebih berantakan, tetapi justru lebih masuk akal. Orang tidak menciptakan teori politik sambil duduk sendirian di perpustakaan. Mereka hidup dalam kerajaan, berada di bawah penguasa tertentu, kehilangan kerabat dalam perang, mempunyai kepentingan kelompok, dan membawa pengalaman itu ketika berbicara tentang siapa yang seharusnya memimpin umat.

Ahmad Amin sangat tertarik pada Mu‘tazilah. Dalam Fajr al-Islam, sekitar dua puluh halaman dari sekitar 330 halaman digunakan untuk membahas kelompok tersebut; pembahasannya berkembang jauh lebih besar dalam kitab Duha al-Islam, yang terbit dalam tiga jilid antara 1933 dan 1936. Itu bukan kebetulan. Ahmad Amin melihat rasionalisme Mu‘tazilah sebagai salah satu bagian penting dari sejarah intelektual Islam yang perlu dibaca ulang pada zaman modern. 

Penelitian kontemporer tentang Ahmad Amin menunjukkan bahwa ia memang menggunakan pembahasan Mu‘tazilah sebagai bagian dari proyek intelektual yang lebih besar: mendorong pembacaan Islam yang lebih rasional dan kritis terhadap tradisi naql, atau pengetahuan yang diterima melalui transmisi. 

Di Fajr al-Islam mulai terasa lebih dari sekadar sejarah. Ahmad Amin sebenarnya sedang melakukan dua pekerjaan sekaligus. Ia menjelaskan masa lalu, tetapi sambil membawa kegelisahan zamannya sendiri. Ketika ia memuji atau menghidupkan kembali perhatian kepada Mu‘tazilah, ia tidak sedang berbicara kepada abad kedua Hijriah saja. Ia sedang berbicara kepada pembaca Muslim abad ke-20 yang sedang menghadapi ilmu pengetahuan modern, kolonialisme, pendidikan Barat, dan pertanyaan tentang mengapa dunia Islam mengalami kemunduran.

Maka Fajr al-Islam mempunyai sedikit bau pertarungan zamannya. Dan itu membuatnya menarik. 

Judul bukunya juga penting. Fajr berarti fajar. Ahmad Amin tidak memilih kata yang netral seperti “sejarah” atau “catatan”. Ia melihat periode awal Islam sebagai awal munculnya kehidupan intelektual yang kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dalam dua kitab berikutnya: Duha al-Islam dan Zuhr al-Islam. Trilogi tersebut bergerak dari awal Islam sampai sekitar abad ke-10, mengikuti perkembangan agama, teologi, fikih, filsafat, historiografi, filologi, dan aktivitas intelektual lain dengan latar perubahan sosial, politik, etnis, dan kebudayaan. 

H. A. R. Gibb bahkan menyebut rangkaian karya itu sebagai usaha komprehensif awal untuk memasukkan metode kritis ke dalam historiografi Arab-Muslim modern. 

Cara membaca itu menghasilkan sesuatu yang sederhana tetapi mengubah banyak hal: gagasan memiliki lingkungan hidup.

Sebuah doktrin dapat menguat karena penguasa menyukainya. Sebuah aliran dapat melemah karena kehilangan perlindungan politik. Sebuah kota dapat menjadi pusat ilmu karena perdagangan dan perpindahan manusia membuat buku, guru, murid, dan gagasan bertemu di sana. Perdebatan teologi bisa memperoleh bentuk baru ketika masyarakat mengalami krisis politik. Bahkan bahasa dan kebiasaan intelektual suatu masyarakat dapat menentukan pertanyaan apa yang dianggap penting.

Sepertinya bagian itu yang membuat Fajr al-Islam lebih menggelisahkan daripada buku sejarah pemikiran yang sekadar menyusun kronologi. Ahmad Amin memaksa kita curiga kepada penjelasan yang terlalu bersih. Ketika sebuah aliran disebut “rasionalis”, misalnya, kita ingin tahu siapa yang mendukungnya, siapa yang memusuhinya, di bawah penguasa mana ia berkembang, dan mengapa gagasannya menjadi penting pada masa tertentu.

Tentu Ahmad Amin sendiri tidak kebal dari masalah. Sejumlah penilaiannya tentang hadis dan sejarah awal Islam juga mendapat kritik keras. Pandangannya tentang pemalsuan hadis dan sejarah penulisan hadis, misalnya, diperdebatkan oleh para intelektual Muslim yang menganggap sebagian kesimpulannya terlalu jauh. Karya Kamil Mustafa al-Siba‘i secara khusus mengkritik sejumlah tesis Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam. Jadi kitab ini tidak bisa diperlakukan sebagai mesin yang menghasilkan fakta tanpa masalah. 

Tapi justru itu membuat cara kerjanya lebih menarik. Ahmad Amin membuka sebuah pintu, tetapi tidak berarti semua orang yang masuk melewati pintu tersebut harus menerima semua kesimpulannya.

Bahkan bentuk kitabnya sendiri terasa seperti proyek seorang intelektual yang ingin merapikan ruangan yang terlalu lama penuh dengan cerita terpisah. Ia mengumpulkan sumber, membaca karya-karya klasik, memperbandingkan riwayat, lalu memasukkan hal-hal yang sering dipisahkan ke dalam sejarah: politik, masyarakat, ekonomi, agama, bahasa, dan pemikiran. Dalam sejarah intelektual semacam itu, seorang teolog tidak pernah hanya menjadi “teolog”. Ia hidup di sebuah kota, punya guru, punya lawan, berhadapan dengan pemerintah, membaca kitab tertentu, berbicara dalam bahasa tertentu, dan menghadapi masalah yang tidak ia pilih sendiri. 

Karena itulah Fajr al-Islam terasa sangat berbeda ketika dibaca setelah karya-karya klasik yang sebelumnya kita bicarakan. Tafsir al-Tabari memperlihatkan bagaimana tafsir tumbuh dari kumpulan riwayat dan seleksi argumentatif. Ihya’ memperlihatkan bagaimana Al-Ghazali masuk ke dalam motif manusia. Ahmad Amin mengambil jarak yang lebih jauh: ia bertanya mengapa seluruh ekosistem gagasan itu bisa tumbuh.

Kita jadi tidak lagi melihat Mu‘tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syiah, ahli hadis, fuqaha, dan para teolog sebagai nama-nama yang muncul satu demi satu di buku pelajaran. Mereka mulai kelihatan sebagai manusia yang hidup dalam sejarah yang sama, tetapi mengalami sejarah itu dengan cara berbeda.

Ada sedikit bahaya dalam pendekatan seperti itu. Kalau semua gagasan dijelaskan melalui kondisi sosial dan politik, gagasan itu sendiri bisa menghilang. Teori teologi akhirnya dianggap hanya sebagai gejala ekonomi, politik, atau konflik kekuasaan. Ahmad Amin kadang bergerak dekat dengan wilayah tersebut. Tetapi justru karena itulah bukunya penting: ia memaksa pembaca untuk mengajukan pertanyaan yang sebelumnya tidak diajukan.

Mengapa gagasan itu muncul di sini? Mengapa pada masa itu? Mengapa kelompok ini tumbuh sementara kelompok lain menghilang? Mengapa sebuah argumen yang tampaknya sangat abstrak tiba-tiba menjadi urusan politik?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat sejarah pemikiran Islam terasa kurang suci dalam arti yang aneh: ia kembali menjadi sejarah manusia. Kitab-kitab ditulis, guru mengajar, murid membantah, penguasa memilih pihak, kota berubah, perang pecah, perdagangan bergerak, dan orang-orang yang hidup di tengah semuanya mencoba menjelaskan Tuhan, manusia, kekuasaan, dosa, takdir, dan dunia.

Ahmad Amin meninggalkan pekerjaannya yang jauh lebih panjang daripada Fajr al-Islam. Kitab Duha al-Islam menyusul. Lalu Zuhr al-Islam menyusul lagi. Sampai akhirnya kita melihat bahwa “sejarah pemikiran” yang ia maksud memang tidak pernah tinggal di kepala para pemikir. Ia berceceran di jalan, istana, pasar, masjid, sekolah, perpustakaan, dan ruang-ruang tempat orang berdebat terlalu lama tentang satu kalimat yang bagi kita sekarang mungkin hanya tampak seperti satu kalimat.


Related

Keislaman 3140375934361354378

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item