13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi, Film Michael Bay yang Berbeda

Ilustrasi/catchplay.com
Debu beterbangan di bawah cahaya lampu sorot. Peluru tracer merah melintas di langit malam seperti seseorang sedang mencoret-coret kegelapan dengan besi pijar. Di atas atap sebuah kompleks CIA di Benghazi, enam pria menembak ke segala arah sambil berteriak koordinat, meminta bantuan yang tidak kunjung datang. Kamera Michael Bay bergerak cepat, hampir gelisah. Asap memenuhi layar. Radio berisik. Telinga seperti berdenging hanya dengan menontonnya.

Banyak orang mengenal Michael Bay sebagai sutradara ledakan. Nama yang identik dengan mobil terbang, robot raksasa, kamera berputar 360 derajat mengelilingi pahlawan yang berdiri gagah di tengah kobaran api. Ia sering diperlakukan seperti anak nakal Hollywood yang kebetulan diberi anggaran ratusan juta dolar. 

Karena itu, ketika “13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi” muncul pada 2016, reaksi banyak orang agak membingungkan. Michael Bay membuat film perang yang serius? Michael Bay membuat film yang nyaris tidak punya humor? Michael Bay membuat film yang sebagian besar durasinya dihabiskan oleh pria-pria berjanggut yang berkeringat, kelelahan, dan ketakutan?

Hasilnya bukan film sempurna. Dan justru karena itu, film ini menarik.

“13 Hours” didasarkan pada buku karya Mitchell Zuckoff yang menceritakan serangan terhadap fasilitas diplomatik Amerika Serikat di Benghazi, Libya, pada September 2012. Peristiwa itu segera berubah menjadi badai politik di Amerika. Nama Duta Besar Christopher Stevens menjadi berita utama. Kongres menggelar penyelidikan selama bertahun-tahun. Politisi saling serang. Televisi kabel bekerja lembur. Benghazi berubah dari nama sebuah kota pesisir Libya menjadi kata yang sarat muatan politik.

Film Bay memilih jalur yang lebih sempit. Ia tidak terlalu tertarik pada politik Washington. Ia fokus pada enam kontraktor keamanan yang bekerja di kompleks rahasia CIA, yang disebut “The Annex”. Karakter-karakter utama diperankan oleh John Krasinski sebagai Jack Silva, James Badge Dale sebagai Tyrone “Rone” Woods, Pablo Schreiber sebagai Kris “Tanto” Paronto, David Denman sebagai Dave Benton, Dominic Fumusa sebagai John Tig, dan Max Martini sebagai Mark Geist. 

Pilihan itu penting, karena mengubah jenis cerita yang sedang ditonton. Banyak film perang Amerika mencoba menjelaskan geopolitik. Film ini nyaris tidak peduli. Penonton tidak diberi kuliah panjang tentang faksi-faksi Libya pasca-jatuhnya Muammar Gaddafi. Tidak ada papan tulis yang penuh panah dan diagram. Michael Bay tampak hanya tertarik pada satu pertanyaan; bagaimana rasanya berada di sana malam itu?

Jawaban yang ia berikan sangat nyata.

Ada adegan ketika para kontraktor pertama kali tiba di Benghazi. Jalanan tampak kacau. Truk pikap berseliweran. Milisi membawa senapan AK-47 terbuka di bahu mereka. Kamera menangkap dinding beton yang dipenuhi lubang peluru. Warna kota terasa kering dan berdebu. Benghazi dalam film ini bukan kota eksotis seperti postcard Timur Tengah yang sering muncul dalam film petualangan. Tapi Benghazi yang terasa lelah.

Kelebihan terbesar “13 Hours” terletak pada obsesinya terhadap detail operasional kecil. Bagaimana seseorang mengisi magasin dalam keadaan gelap. Bagaimana posisi tubuh saat mengawasi jalan dari balik tembok. Bagaimana radio terus berderak dengan pesan yang tidak lengkap. Bagaimana orang-orang yang sudah sangat terlatih tetap bisa bingung ketika informasi datang setengah-setengah.

Film perang sering menjadikan tentara sebagai mesin. Mereka bergerak efisien, berbicara efisien, mati efisien.

Orang-orang dalam “13 Hours” justru terlihat seperti pekerja yang kebetulan berada di tengah neraka. Mereka bercanda. Mengeluh. Membicarakan keluarga. Salah paham. Membuat keputusan tergesa-gesa.

Saat serangan dimulai, film perlahan berubah menjadi sesuatu yang hampir menyerupai film horor. Musuh jarang terlihat jelas. Tembakan datang dari gang-gang gelap. Bayangan bergerak di kejauhan. Sebuah kota dengan populasi ratusan ribu orang tiba-tiba terasa kosong sekaligus penuh ancaman. Ada momen ketika para penjaga mencoba mengidentifikasi siapa yang bersenjata dan siapa yang hanya warga sipil yang ketakutan. Kegagalan membedakan keduanya bisa berakibat fatal.

Michael Bay biasanya dikenal karena kemampuan menciptakan skala. Di film ini, ia menunjukkan kemampuan lain yang jarang dibahas; menciptakan kebingungan.

Penonton sering mengeluh bahwa adegan aksinya terlalu kacau. Saya justru curiga kekacauan itu disengaja.

Perang yang nyata sering kali memang membingungkan. Seseorang berteriak dari radio. Orang lain meneriakkan arah berbeda. Asap menghalangi pandangan. Peluru menghantam tembok. Tidak ada musik heroik yang menjelaskan apa yang harus dirasakan.

Kebanyakan film perang modern masih menyisakan ilusi kontrol. Penonton tahu siapa yang unggul, siapa yang kalah, siapa yang sedang bergerak menuju kemenangan. Dalam “13 Hours”, kemenangan terasa seperti konsep yang tidak relevan. Fokusnya jauh lebih sederhana; bertahan hidup sampai matahari terbit.

John Krasinski memberi salah satu penampilan paling menarik dalam kariernya. Banyak orang masih mengenalnya sebagai Jim Halpert dari serial televisi “The Office”. Wajah yang identik dengan lelucon kantor dan ekspresi sinis ke arah kamera. Di “13 Hours”, tubuhnya lebih besar, janggutnya lebih tebal, matanya terus bergerak mencari ancaman. Kadang masih terlihat sisa-sisa Jim Halpert di wajahnya, tetapi justru itu membuat karakter Jack Silva terasa manusiawi. Ia tidak tampak seperti pahlawan aksi yang dipahat dari granit.

James Badge Dale mencuri perhatian hampir setiap kali muncul. Ada kualitas tenang pada karakternya, Rone Woods. Semacam ketenangan yang membuat orang lain terlihat lebih aman hanya karena ia berada di ruangan yang sama. Film ini dipenuhi pria-pria keras, tetapi Dale berhasil menciptakan sosok yang tidak perlu banyak bicara untuk menunjukkan otoritas.

Film perang Amerika sering jatuh ke perangkap patriotisme yang malas. Bendera berkibar. Musik menggelegar. Musuh jadi karikatur. “13 Hours” tidak sepenuhnya lolos dari kecenderungan itu, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Ada upaya untuk mempertahankan fokus pada pengalaman para kontraktor tanpa terlalu banyak berkhotbah. Bay tampaknya lebih tertarik pada stres dibanding ideologi.

Sisi yang lebih problematis justru muncul dari pilihan naratif tersebut. Karena film begitu terkunci pada perspektif enam orang Amerika, Libya sering berubah jadi latar belakang yang samar. Warga lokal muncul sebentar lalu menghilang. Milisi muncul lalu menghilang. Kota menjadi arena tembak-menembak, bukan masyarakat yang sedang mengalami kekacauan pasca-revolusi. Film ini memahami cara kerja senapan M4 jauh lebih baik daripada memahami Libya.

Kritik tersebut valid.

“13 Hours” juga tidak terlalu tertarik menjawab pertanyaan-pertanyaan politik yang membuat peristiwa Benghazi begitu kontroversial. Sebagian penonton menganggapnya kelemahan. Sebagian lain mungkin menganggapnya keputusan cerdas. Washington sudah menghabiskan bertahun-tahun memperdebatkan Benghazi. Michael Bay tampaknya tidak ingin membuat sidang kongres selama dua setengah jam.

Yang membuat “13 Hours” bertahan dalam ingatan saya bukan adegan ledakannya. Ironis, mengingat film ini dibuat oleh Michael Bay. Yang tertinggal justru kelelahan. Keringat di wajah para karakter. Mata merah karena kurang tidur. Suara napas berat ketika mereka menaiki tangga menuju atap. Tubuh yang bergerak semakin lambat setelah berjam-jam bertempur. 

Film perang sering membuat pertempuran terlihat mengasyikkan. “13 Hours” kadang membuat pertempuran terlihat seperti pekerjaan terburuk yang bisa dibayangkan manusia.

Ketika matahari mulai muncul di ufuk Benghazi, warna langit berubah jadi abu-abu pucat. Asap masih menggantung di udara. Orang-orang yang masih hidup tampak jauh lebih tua dibanding saat film dimulai. Tidak ada euforia. Tidak ada rasa kemenangan besar. Hanya wajah-wajah yang terlihat kosong setelah malam yang terlalu panjang.

Radio masih menyala. Seseorang masih memanggil nama seseorang yang tidak akan menjawab.


Related

Entertainment 7183095168723392973

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link hidup ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item