The Transporter, Awal Jason Statham Membuka Mata Hollywood

Ilustrasi/primevideo.com
Frank Martin punya tiga aturan yang seharusnya membuat hidupnya tenang: jangan mengubah kesepakatan, jangan menanyakan nama, jangan membuka paket. Ia juga punya BMW 735i hitam, rumah di tepi Laut Mediterania, pakaian yang selalu rapi, kepala yang hampir selalu plontos, dan kemampuan menghabisi sekelompok orang bersenjata tanpa membuat simpul dasinya berantakan. Kalau kehidupan punya kantor tenaga kerja khusus untuk orang-orang yang terlalu berbahaya untuk pekerjaan biasa, Frank mungkin mendapat rekomendasi sebagai kandidat sempurna.

Masalahnya cuma satu: pekerjaan Frank adalah mengantar barang ilegal.

The Transporter (2002) memahami sesuatu tentang Jason Statham yang belum sepenuhnya dipahami Hollywood pada saat itu. Ia bukan aktor yang membutuhkan karakter dengan psikologi rumit untuk menarik perhatian. Tubuhnya sudah seperti argumen. Kepala plontos, rahang keras, tatapan yang tidak terlalu ramah, gerak tubuh yang cepat dan ekonomis. 

Sebelum menjadi Frank Martin, Statham sudah muncul dalam Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch, keduanya karya Guy Ritchie. Ia sudah punya aura lelaki yang kelihatannya tahu cara memukul orang, tetapi belum memiliki kendaraan sinematik yang tepat untuk mengantarnya ke pusat perhatian. The Transporter memberinya kendaraan tersebut. Secara harfiah.

Film ini disutradarai Louis Leterrier dan Corey Yuen, ditulis Luc Besson bersama Robert Mark Kamen, dan diproduksi oleh Besson melalui EuropaCorp. Versi Amerika berdurasi 92 menit dan memperoleh rating PG-13. Anggarannya sekitar $21 juta, sementara pendapatan globalnya mencapai sekitar $43,9 juta. Angka-angka itu tidak menjadikannya fenomena sebesar film-film superhero yang muncul kemudian, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa formula itu punya umur panjang.

Formula itu sebenarnya sederhana sampai hampir memalukan. Frank dibayar untuk mengantarkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, tanpa pertanyaan. Pada pekerjaan terbaru, ia mengantar sebuah paket besar yang ternyata berisi seorang perempuan Tionghoa bernama Lai, diperankan Shu Qi. 

Frank membuka paket, melanggar aturan ketiganya sendiri, kemudian mengetahui bahwa Lai terlibat dalam jaringan perdagangan manusia yang dijalankan oleh Mr. Kwai dan anak buahnya. Matt Schulze memainkan Wall Street, penjahat yang mempekerjakan Frank, dan kemudian sangat tidak senang ketika si pengantar barang mulai mempunyai hati nurani.

Adegan pembuka sudah memberi tahu penonton bahwa film ini tidak terlalu tertarik pada realisme. Frank menerima pekerjaan mengemudikan BMW untuk membantu sekelompok perampok bank melarikan diri. Ia menjalankan tugas dengan presisi, sampai jumlah polisi yang mengejar mulai terlalu banyak. Mobil melesat, berbelok, menghantam sesuatu, melompat, kemudian Frank menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu ia pergi dengan ketenangan seorang pegawai yang baru saja mengantar dokumen sebelum jam makan siang.

Roger Ebert justru melihat masalah film ini di sana. Menurutnya, pembukaan tersebut menjanjikan karakter yang menarik, seorang lelaki dengan kode hidup yang ketat dan masa lalu militer yang membuatnya jadi penyendiri, tetapi film kemudian terlalu sering menukar perkembangan karakter dengan aksi. Ia juga mengkritik kecenderungan film untuk menumpuk adegan aksi sampai ketegangannya justru menjadi datar.

Kritik itu benar. Sekaligus agak tidak relevan.

Menonton The Transporter dengan tuntutan agar Frank berkembang secara psikologis sama saja dengan datang ke restoran cepat saji sambil membawa daftar menu degustasi. Film ini tidak ingin menyelidiki trauma Frank secara mendalam. Ia ingin menunjukkan bahwa Frank bisa mengemudikan BMW dengan sangat cepat, memukul orang dengan sangat keras, dan tetap terlihat rapi setelah semuanya selesai. Ketika film sesekali mencoba memberi kedalaman emosional pada Frank, hasilnya malah terasa seperti gangguan terhadap mesin utama.

Justru bagian yang paling bertahan sampai sekarang adalah aksinya. Corey Yuen membawa bahasa sinema laga Hong Kong ke film yang secara permukaan terlihat seperti thriller kriminal Eropa. Tubuh Statham diperlakukan sebagai benda yang benar-benar bisa bergerak. Ia menendang, berguling, memanjat, meluncur, memukul dengan siku, menggunakan benda-benda di sekelilingnya dan, dalam salah satu adegan paling konyol sekaligus menyenangkan, berkelahi dengan orang-orang bersenjata sambil menggunakan oli dan tongkat sebagai alat improvisasi.

Adegan tersebut sangat Transporter. Logika fisiknya boleh diperdebatkan, tetapi koreografinya punya gagasan. Frank tidak hanya berdiri di tengah ruangan lalu menembak semua orang. Ia menggunakan lantai, kendaraan, tangga, senjata lawan, bahkan benda yang kebetulan berada di dekat tangan. Tubuhnya terus bergerak. Kamera mengikuti cukup dekat sehingga kita bisa merasakan berat pukulan, gesekan sepatu, dan perubahan keseimbangan. 

Untuk film tahun 2002, ketika banyak film aksi Hollywood semakin tergoda oleh editing yang hiperaktif, The Transporter masih memberi ruang untuk melihat siapa memukul siapa.

Statham juga menemukan sesuatu yang kelak menjadi identitas kariernya: diam yang produktif.

Frank Martin tidak banyak bicara. Ia tidak perlu. Wajah Statham dapat menampung ketidaksabaran, ancaman, kejengkelan dan sedikit humor tanpa harus diberi monolog. François Berléand, sebagai Inspektur Tarconi, membantu membuat sisi itu bekerja. Tarconi tidak sekadar menjadi polisi yang mengejar Frank; ia memiliki hubungan yang santai dengan lelaki Inggris tersebut, seolah keduanya sudah terlalu sering bertemu untuk terus berpura-pura menjadi musuh. Interaksi mereka memberi film sedikit udara di antara ledakan dan perkelahian.

Shu Qi juga jauh lebih penting daripada sekadar “perempuan yang berada di dalam paket”. Lai punya energi yang berbeda dari Frank. Ia cerewet, emosional, keras kepala dan terus mengganggu sistem hidup Frank yang dibangun dari aturan. Ketika Frank terbiasa memperlakukan manusia sebagai bagian dari pekerjaan, Lai memaksa manusia itu kembali masuk ke dalam paket. Film memang tidak selalu menulis karakternya dengan elegan, tetapi kehadirannya memberi alasan naratif bagi Frank untuk berhenti menjadi mesin.

Masalahnya, naskah Besson dan Kamen terlalu sering memperlakukan dunia kriminal sebagai taman bermain. Sindikat perdagangan manusia, penyelundupan imigran, polisi korup, gudang, senjata, ledakan—semuanya hadir sebagai bahan bakar untuk adegan berikutnya. Film memiliki isu yang sebenarnya cukup gelap, tetapi ia tidak mau tinggal lama di sana. Penonton diberi cukup informasi untuk memahami bahwa Lai dan orang-orang yang dibawanya berkaitan dengan eksploitasi manusia, kemudian film kembali mengejar mobil.

Karena itulah The Transporter terasa lebih tua daripada Statham sendiri. Beberapa dialog sekarang terdengar kaku. Beberapa penjahat terlalu kartun. Plotnya kadang bergerak hanya karena seseorang perlu muncul di lokasi berikutnya. Rotten Tomatoes merangkum kelemahan film ini dengan cukup tepat: aksi didahulukan dengan mengorbankan koherensi cerita.

Tetapi justru campuran itu yang membuat film ini memiliki karakter. Ia belum terlalu serius untuk menjadi film laga “prestise”, tetapi juga belum sepenuhnya menjadi tontonan komedi. Ia berada di wilayah aneh ketika Luc Besson membawa formula produksi Eropa, Corey Yuen membawa koreografi Hong Kong, Pierre Morel menangani sinematografi, Stanley Clarke memberi musik yang punya bass dan groove, sementara Jason Statham berdiri di tengah semuanya dengan ekspresi seorang lelaki yang berharap semua orang berhenti bicara dan mulai berkelahi. 

Kredit film memang menunjukkan campuran kreatif yang tidak biasa itu.

Yang paling menarik justru posisi film ini dalam karier Statham. The Transporter datang ketika ia belum menjadi Jason Statham yang kita kenal sekarang. Ia belum memiliki puluhan film aksi di belakang namanya. Ia belum menjadi orang yang bisa menjual film hanya dengan foto dirinya memakai jas sambil berdiri di samping mobil. Frank Martin membantu menciptakan citra tersebut.

Sesudahnya datang Transporter 2, Crank, Death Race, The Mechanic, Safe, Parker, Homefront, sampai Fast & Furious. Karakter-karakternya berubah nama, pekerjaannya berubah, begitu pun tingkat kebodohan lawannya. Statham tetap membawa paket yang sama: bicara seperlunya, mengemudi dengan brutal, memukul dengan cepat, kemudian merapikan jas.

Ada sesuatu yang lucu ketika menyadari bahwa film pertama ini sebenarnya sudah memberikan seluruh cetak birunya. Frank Martin tidak membutuhkan banyak perubahan. Ia hanya membutuhkan masalah yang cukup besar untuk membuat tiga aturannya tidak berguna.

Kalau ada satu adegan yang menjelaskan mengapa film ini tetap enak ditonton setelah lebih dari dua dekade, mungkin bukan ledakan terbesar atau pertarungan terpanjang. Saya justru memilih ketika Frank kembali ke mobil, duduk, menarik napas, memegang kemudi, lalu menjalankan mesin. BMW menyala. Musik terdengar. Wajahnya tetap datar.

Pekerjaan berikutnya menunggu. Frank tentu saja sudah tahu ia seharusnya menolak. Ia juga tahu ia tidak akan menolak.

Mobil bergerak.


Related

Entertainment 6711208994589997827

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item