Masjidil Haram Diserang, Ka’bah Terkepung, Burung Ababil Tidak Datang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/masjidil-haram-diserang-kabah-terkepung.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Darah pernah mengalir di lantai marmer Masjidil Haram. Bukan darah kambing kurban. Bukan lutut jamaah yang lecet karena thawaf. Tapi darah manusia yang ditembak, meledak, membusuk di bawah matahari Mekah. Bau mesiu bercampur bau tubuh ribuan peziarah yang terjebak panik. Di dalam kompleks paling suci umat Islam, suara azan tergantikan bunyi sniper dan rentetan senapan otomatis.
Dan langit tetap kosong.
Tidak ada burung ababil datang berputar di udara sambil menjatuhkan batu panas dari neraka. Yang terjadi hari itu berbeda dengan kisah hancurnya pasukan Abrahah yang diajarkan sejak kecil di madrasah. Tidak ada mukjizat spektakuler. Tidak ada tentara misterius turun dari langit. Yang datang justru pasukan Saudi, gas air mata, kendaraan lapis baja, dan akhirnya bantuan pasukan khusus Prancis.
Itu yang membuat peristiwa 1979 terasa begitu mengganggu kalau dipikir terlalu lama.
Pagi buta, 20 November 1979, ribuan jamaah sedang bersiap shalat subuh di Masjidil Haram, ketika sekelompok militan bersenjata menutup gerbang kompleks. Mereka dipimpin Juhayman al-Otaybi, mantan anggota Garda Nasional Saudi yang berubah menjadi pengkhotbah radikal.
Juhayman bukan orang luar yang membenci agama. Justru sebaliknya. Ia merasa terlalu mencintai agama, sampai yakin kerajaan Saudi telah rusak, korup, terlalu dekat dengan Barat, terlalu mewah, terlalu penuh televisi, musik, dan keluarga kerajaan yang hidup berlimpah sementara rakyat hanya berkutat dengan kesalehan keras gurun.
Ia membawa serta seorang pria bernama Mohammed Abdullah al-Qahtani, yang diyakini sebagai Imam Mahdi.
Nama “Muhammad bin Abdullah” sendiri punya bobot simbolik besar dalam eskatologi Islam. Banyak hadis menyebut Imam Mahdi akan memiliki nama serupa Nabi. Juhayman melihat tanda-tanda itu, dan percaya zaman akhir sudah dekat.
Yang mengerikan, cukup banyak orang ikut percaya.
Mereka menyelundupkan senjata ke dalam Masjidil Haram lewat peti mati palsu. Orang-orang mengira itu jenazah untuk dishalati. Di dalamnya ternyata senapan, amunisi, makanan, radio komunikasi. Rencana mereka matang. Mereka menduduki titik-titik strategis, termasuk menara masjid yang tinggi.
Bayangkan suasana di sana. Jamaah dari berbagai negara baru saja selesai shalat subuh, lalu mendengar pengumuman bahwa Imam Mahdi telah datang. Sebagian bingung. Sebagian ketakutan. Sebagian mungkin sempat percaya.
Panik di tempat suci punya atmosfer berbeda. Orang membawa keyakinan paling dalam mereka ke sana. Ketika kekerasan masuk, seluruh batas psikologis runtuh.
Pemerintah Saudi lumpuh beberapa saat. Masjidil Haram bukan lokasi biasa. Menggunakan kekerasan di sana adalah mimpi buruk teologis dan politik sekaligus. Tentara Saudi awalnya kesulitan menyerbu karena kompleks masjid sangat luas dan penuh lorong bawah tanah.
Militan Juhayman bertahan berminggu-minggu. Ka’bah seperti terkepung. Sniper mereka menembaki tentara dari menara. Mayat mulai menumpuk. Air menipis. Panas Mekah menusuk kepala. Ada laporan tubuh membusuk di dalam area masjid. Sebagian jamaah yang terjebak bersembunyi sambil mendengar tembakan sepanjang hari.
Pemerintah Saudi kemudian meminta fatwa ulama agar operasi militer diizinkan. Tanpa legitimasi agama, menyerbu Masjidil Haram bisa menghancurkan otoritas kerajaan sendiri.
Lalu pasukan khusus Prancis dari GIGN ikut membantu secara teknis, meski secara resmi keterlibatan mereka lama disamarkan karena sensitivitas besar soal non-Muslim memasuki kota suci.
Gas digunakan untuk memaksa para militan keluar dari terowongan bawah tanah. Pertempuran berlangsung brutal. Banyak korban tewas bahkan tidak pernah dihitung pasti dengan jelas. Ada angka ratusan. Ada yang menduga lebih tinggi.
Al-Qahtani, sang “Mahdi”, mati tertembak.
Dan dunia tidak runtuh setelah itu. Matahari tetap terbit. Ka’bah tetap berdiri. Tidak ada pasukan langit turun menyelamatkannya.
Di titik itulah peristiwa 1979 jadi sangat menarik secara psikologis dan teologis. Kisah Abrahah dalam tradisi Islam begitu kuat; pasukan bergajah menyerang Ka’bah lalu dihancurkan burung ababil yang melempar batu dari sijjil. Cerita itu diajarkan sebagai bukti perlindungan ilahi terhadap rumah suci Tuhan.
Lalu pada abad ke-20, Masjidil Haram benar-benar diserang manusia bersenjata lengkap, diduduki selama dua minggu, penuh mayat dan tembakan.
Langit diam saja.
Sebagian orang berusaha menjelaskan bahwa mukjizat tidak bekerja seperti itu. Sebagian lain memilih tidak memikirkan kontradiksi itu terlalu jauh. Karena ada momen tertentu ketika pertanyaan sederhana bisa terasa lebih mengganggu daripada jawaban rumit.
Kenapa Tuhan yang dulu mengirim burung pembawa batu tidak melakukan apa-apa saat rumah sucinya dipenuhi darah?
Pertanyaan seperti itu sering dianggap terlalu kasar untuk diucapkan keras-keras di banyak komunitas Muslim. Orang lebih nyaman memindahkan pembicaraan ke wilayah iman abstrak. Tapi sejarah kadang memang brutal terhadap narasi religius yang terlalu rapi.
Ironisnya, setelah peristiwa Juhayman, Arab Saudi justru bergerak makin konservatif. Bioskop ditutup. Polisi agama diperkuat. Ulama garis keras diberi ruang lebih besar. Kerajaan tampaknya ketakutan kehilangan legitimasi religius setelah kejadian itu. Sebagian sejarawan melihat peristiwa 1979 sebagai titik balik besar Islam konservatif modern.
Jadi kelompok ekstrem yang menyerang Masjidil Haram malah ikut mendorong Arab Saudi jadi lebih religius dan keras selama beberapa dekade berikutnya.
Osama bin Laden masih muda saat itu. Banyak generasi jihadis berikutnya tumbuh dalam atmosfer pasca-1979 tersebut. Kadang sejarah bergerak dengan cara yang hampir sinis.
Saya membaca kesaksian beberapa saksi hidup tragedi itu, dan detail-detail kecilnya lebih mengganggu daripada teori besar mana pun. Orang tidur di lantai masjid sambil memeluk anaknya karena takut tertembak. Air zamzam tercampur debu dan darah. Suara pengeras masjid yang biasanya berisi ayat suci berubah jadi komando militer.
Tempat paling suci pun ternyata tetap bangunan fisik yang bisa dipenuhi teror manusia.
Dan mungkin itu bagian paling tidak nyaman dari seluruh kisah ini; manusia terus berharap dunia supranatural turun tangan secara dramatis, sementara kenyataan sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa ketika kekacauan datang, yang muncul biasanya tentara, politik, propaganda, dan mayat.
Tidak ada burung ababil.
Catatan terkait: Darah dan Air Mata di Karbala, Tragedi Cucu Nabi dan Pengikutnya
.jpg)

