Bagaimana Buenos Aires Terasa seperti Kota di Eropa
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/bagaimana-buenos-aires-terasa-seperti.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Buenos Aires bisa membuat orang lupa sejenak bahwa ia berada di Amerika Selatan. Naik taksi melewati Recoleta, melihat fasad apartemen tua, kubah, balkon besi, jendela tinggi, toko roti dan kafe yang menjorok ke trotoar, lalu sampai di Avenida de Mayo dengan gedung-gedung bergaya Paris, Madrid, Turin, bahkan sedikit London, kepala bisa membuat kesalahan geografis kecil. Kota itu terasa seperti seseorang mengambil potongan-potongan Eropa, memasukkannya ke kapal, membawanya menyeberangi Atlantik, lalu menyusunnya kembali di tepi Río de la Plata.
Julukan Paris of South America memang bukan sepenuhnya karangan promosi wisata. Buenos Aires mengalami ledakan ekonomi dan migrasi Eropa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dan para arsitek dari Italia, Prancis, Inggris, Jerman serta Eropa Tengah ikut membentuk wajah kota. Pemerintah kota di sana menggambarkan arsitekturnya sebagai campuran eklektik yang lahir dari kekayaan kota dan gelombang imigrasi tersebut.
Tetapi pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: siapa yang sebenarnya ingin Buenos Aires terlihat seperti Eropa?
Jawabannya tidak sesederhana imigran Eropa yang membawa kebiasaan dari kampung halaman. Pada abad ke-19, sebagian elite Argentina memang sengaja menoleh ke Eropa. Domingo Faustino Sarmiento, Juan Bautista Alberdi, dan kemudian kelompok politik yang dikenal sebagai Generasi 80, melihat Eropa sebagai model modernitas yang ingin mereka impor: pendidikan, kota, perdagangan, imigrasi, teknologi, dan tata pemerintahan. Argentina yang baru membentuk dirinya sebagai negara modern sedang mencari bentuk. Mereka tidak puas dengan warisan kolonial Spanyol, dan memandang sebagian masa lalu itu sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan.
Ketika Buenos Aires ditetapkan sebagai ibu kota nasional pada 1880, proyek perubahan kota mendapat tenaga politik yang besar. Pemerintah kota kemudian membuka Avenida de Mayo, sebuah jalan monumental yang menghubungkan Casa Rosada dengan gedung Kongres. Model urbanistiknya sangat jelas: Paris pada masa Georges-Eugène Haussmann. Torcuato de Alvear, intendan pertama Buenos Aires, menunjuk arsitek Italia, Juan Antonio Buschiazzo, untuk merancang dan mengawasi proyek yang dimulai pada 1884 dan dibuka pada 1894.
Maka jalan itu tidak muncul karena orang Argentina tiba-tiba punya selera yang sama dengan orang Paris. Ia merupakan proyek politik. Buenos Aires sedang mencoba mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Lihat Avenida de Mayo dari dekat, dan kebohongan kecil itu jadi lebih rumit. Jalan tersebut memang mengambil gagasan boulevard Paris, tetapi bangunan-bangunannya tidak membentuk Paris yang rapi. Kubah menonjol di antara mansard, balkon berdesakan, bay window muncul dari fasad, ornamen Italia berdempetan dengan Art Nouveau, dan pengaruh Spanyol masuk melalui kehidupan sosial para imigran. Pemerintah Argentina sendiri menggambarkannya sebagai campuran pengaruh terutama Italia, Prancis dan Eropa Tengah, sementara arsitekturnya berkembang lebih bebas daripada model Haussmann yang menjadi inspirasinya.
Jadi mungkin persoalannya sejak awal memang salah disebut “Eropa”. Buenos Aires tidak menyalin satu kota. Ia menumpuk Eropa.
Casa Rosada memberi contoh yang lucu. Bangunan yang sekarang jadi simbol Argentina itu memiliki sejarah yang jauh lebih berantakan daripada warna merah mudanya. Pada akhir abad ke-19, arsitek Italia, Francisco Tamburini, menggabungkan bangunan-bangunan yang sebelumnya terpisah melalui sebuah portiko besar. Tamburini juga terlibat dalam sejumlah proyek penting pada masa konsolidasi negara. Kongres Nasional dirancang oleh arsitek Italia, Vittorio Meano, dengan bahasa arsitektur yang terhubung dengan tradisi monumental Italia dan bahkan mengingatkan pada monumen Vittorio Emanuele II di Roma.
Teatro Colón membawa cerita yang sama ke dunia pertunjukan. Ketika gedung opera menjadi salah satu simbol kota, Buenos Aires tidak sedang membangun sekadar tempat pertunjukan. Opera sendiri merupakan pernyataan kelas, kekayaan, dan orientasi budaya. Kota yang kaya karena ekspor hasil pertanian dan peternakan ingin memiliki gedung yang pantas bagi ibu kota yang merasa dirinya sedang masuk klub negara-negara modern.
Uang sangat penting dalam cerita itu. Buenos Aires pada pergantian abad ke-20 sedang menikmati kekayaan yang membuat ambisi arsitekturnya masuk akal. Kota memperoleh keuntungan besar dari ekonomi ekspor, terutama hubungan dengan pasar Eropa. Pelabuhan menjadi pintu bagi barang, modal, manusia, dan gagasan. Hotel de los Inmigrantes di dekat pelabuhan, yang dibuka pada 1911, bahkan mampu menampung sampai 2.000 imigran sekaligus.
Bayangkan orang yang baru turun dari kapal di Buenos Aires pada masa itu. Ia mungkin datang dari Genoa, Naples, Galicia, Barcelona, atau tempat lain di Eropa, membawa koper dan bahasa yang belum tentu dimengerti tetangganya. Kota yang menyambutnya sedang membangun boulevard dengan nama Avenida de Mayo. Di sekelilingnya, orang-orang dari berbagai negeri sedang membuat ulang kota menggunakan batu, bata, besi, semen, kaca, dan gaya yang mereka bawa dari tempat asal. Sebagian besar dari mereka tidak sedang berpikir tentang proyek kebudayaan nasional. Mereka perlu pekerjaan.
Di situlah teori tentang “kota Eropa” mulai terasa terlalu bersih.
Bangunan-bangunan besar memang dibuat oleh arsitek asing atau arsitek yang mendapat pendidikan Eropa, tetapi bangunan itu dikerjakan oleh jaringan tukang, pekerja, kontraktor, pemilik toko, dan keluarga imigran. Bahkan arsitektur Italia di Buenos Aires bukan benda yang diimpor utuh dari Italia. Ia berubah ketika bertemu kondisi lokal, bahan lokal, aturan kota, dan kebiasaan masyarakat Río de la Plata.
Palacio Barolo mungkin contoh paling sinting. Pengusaha Italia, Luis Barolo, meminta arsitek Italia, Mario Palanti, merancang bangunan di Avenida de Mayo. Pembangunannya dimulai pada 1919 dan selesai pada 1923. Bangunan setinggi sekitar 100 meter itu terinspirasi oleh Divine Comedy karya Dante Alighieri: bagian bawah merujuk pada Inferno, bagian tengah pada Purgatorio, bagian atas pada Paradiso. Bahkan jumlah lantai dan ketinggiannya disusun dengan referensi terhadap karya Dante.
Itu sudah jauh dari sekadar “orang Argentina suka arsitektur Eropa”. Seorang imigran Italia membangun sebuah gedung di Buenos Aires untuk menyimpan, menurut kisah yang dicatat pemerintah kota, abu Dante ketika Barolo khawatir Eropa akan mengalami perang. Bangunan itu berdiri di Argentina, dirancang oleh orang Italia, memakai imajinasi sastra Italia abad pertengahan, dan kemudian menjadi salah satu benda paling aneh di lanskap Buenos Aires.
Ada ironi kecil di sini. Buenos Aires tampak Eropa justru karena terlalu banyak orang datang dari luar Eropa.
Orang Italia memberi kota itu bahasa arsitektur, orang Spanyol membawa budaya kafe dan teater, Inggris meninggalkan jejak pada kereta api, kawasan permukiman, dan bangunan tertentu, sementara komunitas dari berbagai wilayah lain ikut mengisi kota. Torre Monumental di Retiro, misalnya, diberi komunitas Inggris pada 1910 untuk memperingati seratus tahun Argentina.
Maka berjalan di Buenos Aires bukan seperti berjalan melalui museum Eropa. Museum biasanya sudah selesai. Buenos Aires masih memperlihatkan proses pencampurannya. Di Avenida de Mayo, Café Tortoni berada tidak jauh dari Palacio Barolo. Di Recoleta, makam-makam keluarga elite berdiri dengan kemegahan yang kadang terasa berlebihan. Di sudut lain, bangunan Art Nouveau buatan imigran berdempetan dengan konstruksi yang sama sekali tidak punya satu gaya.
Pemerintah kota mencatat ratusan bangunan Art Nouveau di Buenos Aires, termasuk Palacio Barolo, Galería Güemes, dan El Ateneo Grand Splendid. Kemegahan itu juga punya sisi yang tidak nyaman. Proyek europeisasi Buenos Aires tidak terjadi di ruang kosong. Ia berjalan bersamaan dengan pembentukan negara, modernisasi ekonomi, ketimpangan sosial, dan kebijakan yang memandang sebagian penduduk sebagai penghalang bagi Argentina yang ingin dibangun elite.
Penelitian sejarah tentang Buenos Aires abad ke-19 menunjukkan bagaimana proyek modernisasi kota berjalan bersamaan dengan gagasan tentang siapa yang dianggap cocok untuk masa depan Argentina.
Karena itu, ketika orang menyebut Buenos Aires “kota Eropa di Amerika Selatan”, saya justru ingin memperlambat kalimat tersebut. Kota itu memang punya Paris di Avenida de Mayo, Italia pada fasad Casa Rosada dan Congreso, Inggris di sekitar Retiro, Spanyol dalam kafe dan teaternya. Tetapi semuanya sudah berubah setelah menyeberangi Atlantik. Nama jalan, aksen, makanan, politik, tango, sepak bola, kehidupan malam, cara orang duduk berlama-lama di kafe—semuanya membuat hasil akhirnya tidak mungkin dikembalikan menjadi kota Eropa yang asli.
Di Buenos Aires, Eropa datang membawa cetak biru. Orang-orang di sana mengubahnya sambil membangun gedung.
Palacio Barolo masih berdiri di Avenida de Mayo 1370. Di puncaknya, lampu mercusuar pernah digunakan untuk mengirimkan kabar hasil pertandingan tinju Luis Ángel Firpo melawan Jack Dempsey pada 1923. Dante, semen, imigrasi Italia, gedung pencakar langit, pertandingan tinju Amerika, dan sebuah kota di Río de la Plata, bertemu dalam satu bangunan.
Begitulah Buenos Aires terlihat dari trotoar: orang berjalan cepat di bawah balkon-balkon tua, bus lewat dengan suara berat, pelayan kafe membawa dua cangkir di atas nampan, dan di atas kepala mereka sebuah kota yang pernah ingin menjadi Eropa sudah terlanjur menjadi sesuatu yang lain.
Catatan terkait: Banyak Masjid Dihancurkan di China, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
.jpg)

