Kisah Perempuan yang Jadi Teknisi di Tengah Perang Dunia II
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/kisah-perempuan-yang-jadi-teknisi-di.html
![]() |
| Ilustrasi/nam.ac.uk |
Foto Mary Oldnall bekerja dengan peralatan listrik di Shoeburyness, pada sekitar 1941, tampak sangat tenang. Tidak ada ledakan, tidak ada pesawat di langit, tidak ada tentara berlari membawa senapan. Mary berdiri di depan perangkat yang penuh kabel dan komponen, mengenakan seragam Auxiliary Territorial Service. Tangannya bekerja pada sesuatu yang bagi mata awam tampak membosankan. Justru karena itulah foto tersebut layak diperhatikan. Perang modern sangat bergantung pada pekerjaan yang tidak menghasilkan satu pun gambar heroik.
Mary Oldnall adalah Section Leader dalam ATS, dan National Army Museum menyimpan fotonya sedang mengoperasikan peralatan listrik di Shoeburyness, Essex, sekitar 1941. Foto lain memperlihatkannya bekerja dengan searchlight. Keterangan arsipnya pendek sekali. Nama, pangkat, lokasi, tahun. Selesai.
Padahal perangkat yang berada di depan Mary membawa kita ke bagian perang yang biasanya hilang ketika sejarah diringkas menjadi tank, pesawat, kapal, dan jenderal: perang sebagai persoalan listrik, pengukuran, sambungan, eksperimen, prosedur, dan orang yang harus tahu kapan sebuah mesin sedang melakukan sesuatu yang benar atau hampir benar.
Shoeburyness bukan tempat yang dipilih secara acak. Kawasan di South Shoebury telah digunakan untuk eksperimen artileri sejak abad ke-19. Pada 1849, Board of Ordnance membeli tanah di sana untuk mendirikan artillery testing and practice range; pada 1859 berdiri Royal Artillery School of Gunnery. Sejak 1920 sampai 1948 fasilitas itu dikenal sebagai Experimental Establishment, tempat Angkatan Darat Inggris menguji persenjataan dan sistem pertahanan.
Jadi ketika Mary berdiri di depan peralatan listrik pada 1941, ia sedang bekerja di salah satu bagian teknis dari mesin militer Inggris yang sudah mempunyai sejarah panjang.
Kita terbiasa menganggap perempuan dalam perang melalui pekerjaan yang mudah dikenali: perawat, sekretaris, pengemudi, operator telepon, atau pekerja pabrik. Seragam ATS memang sudah mengubah gambaran itu, tetapi foto Mary menunjukkan sesuatu yang lebih mengganggu gambaran lama tersebut. Ia tidak sedang membantu seorang teknisi laki-laki membawa kotak perkakas. Ia berdiri sebagai personel yang menjalankan pekerjaan teknis sendiri. Keterangan National Army Museum menyebutnya bekerja sebagai Experimental Gunnery Assistant di Shoeburyness. Ia bahkan menominasikan dirinya sendiri untuk pekerjaan tersebut setelah kembali dari Prancis.
Kata “menominasikan” terasa penting. Ada jenis sejarah perempuan masa perang yang terlalu cepat mengubah mereka menjadi korban keadaan: perang membutuhkan tenaga kerja, laki-laki pergi ke medan tempur, perempuan masuk untuk mengisi kekosongan. Kisah Mary sedikit lebih keras daripada itu. Ia memilih pekerjaan tersebut. Ia meminta kesempatan masuk ke lingkungan eksperimental persenjataan. Sesudah pengalaman di Prancis, ia kembali ke Inggris dan mengarahkan dirinya ke pekerjaan yang jauh lebih teknis di Shoeburyness.
Sebelumnya ia telah menjadi bagian dari gelombang awal ATS yang dikirim ke Prancis bersama British Expeditionary Force. Dalam kesaksian yang kemudian direkam National Army Museum, Mary mengingat kedatangannya di Paris dan bagaimana warga sipil Prancis mempertanyakan pengerahan perempuan Inggris. Ia berangkat sebagai clerical sub-leader, bukan sebagai teknisi persenjataan. Ketika situasi militer memburuk pada 1940, ia ikut dalam evakuasi ATS dari Prancis dan menyaksikan arus pengungsi yang bergerak melalui Le Mans.
Perjalanan dari pekerjaan administratif menuju peralatan eksperimental membuat kisahnya lebih menarik daripada sekadar “perempuan bekerja selama perang”. Perang mengubah jenis pekerjaan yang tersedia, tetapi Mary juga menggunakan perubahan itu untuk mengubah dirinya sendiri. National Army Museum mencatat bahwa wawancaranya membicarakan dampak pekerjaan di Shoeburyness terhadap perkembangan pribadinya. Ia juga membicarakan kesenjangan upah dan pengalaman bekerja bersama laki-laki ketika dirinya memegang posisi sebagai senior NCO.
Foto Mary dengan mesin listrik menjadi jauh lebih hidup setelah mengetahui bagian itu.
Perhatikan cara foto-foto perang biasanya dibuat. Kamera menyukai benda besar: meriam, kapal, pesawat, radar, tank. Mesin yang ukurannya lebih kecil, tetapi menentukan apakah sistem tersebut bekerja dengan benar, jauh lebih jarang menjadi objek sejarah. Mary berdiri di hadapan peralatan yang tidak punya bentuk dramatis. Tidak ada laras meriam yang mengarah ke cakrawala. Tidak ada api. Hanya panel, kabel, sambungan, dan tubuh seorang perempuan yang harus tahu apa yang sedang ia kerjakan.
Kerja semacam itu menuntut bentuk perhatian yang tidak fotogenik. Tangan harus stabil. Mata harus membaca instrumen. Kesalahan kecil mungkin tidak menghasilkan adegan spektakuler; ia hanya menghasilkan eksperimen yang salah, pembacaan yang keliru, atau sistem yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kita tidak melihat ketegangan semacam itu dalam foto. Kamera hanya menangkap Mary sedang bekerja.
Ada detail lain yang lebih kasar. Mary bekerja sebagai senior NCO dan harus bekerja bersama laki-laki yang berada dalam sistem militer yang sama, sementara persoalan upah menunjukkan bahwa seragam tidak otomatis menghapus hierarki gender. National Army Museum secara eksplisit memasukkan pay gap sebagai bagian dari kisahnya. Jadi seseorang dapat mengenakan seragam yang sama, bekerja dalam organisasi yang sama, memiliki tanggung jawab yang nyata, dan tetap menerima perlakuan ekonomi yang berbeda.
Hal seperti itu membuat foto tersebut agak menjengkelkan. Ia terlihat terlalu sederhana untuk memuat persoalan sebesar itu.
Mary Oldnall tidak sedang membuat sejarah dalam pose yang heroik. Ia sedang melakukan pekerjaan. Justru pekerjaan teknis semacam itulah yang memungkinkan perang industri berjalan. Senjata tidak cukup dibuat; ia harus diuji. Sistem pertahanan tidak cukup dipasang; ia harus dioperasikan. Peralatan listrik tidak peduli apakah tangan yang menyentuhnya milik laki-laki atau perempuan. Mesin hanya merespons apakah sambungan benar, apakah pengaturan tepat, apakah prosedurnya diikuti.
Institusi militer tentu saja peduli.
Mary harus beroperasi di antara dua dunia: dunia teknologi yang menuntut kompetensi, dan dunia organisasi yang masih membawa aturan sosial tentang pekerjaan perempuan. Ia mencapai posisi senior, bekerja dengan laki-laki, dan menjalankan pekerjaan eksperimental. Namun arsip masih perlu menjelaskan bahwa ia seorang perempuan yang melakukan pekerjaan teknis, seolah fakta bahwa tangannya mampu mengoperasikan mesin merupakan sesuatu yang perlu diberi keterangan tambahan.
National Army Museum memperoleh koleksi yang berkaitan dengan Mary Coomer, nama yang kemudian dipakainya, termasuk wawancara sejarah lisan yang direkam pada 1995. Papers tersebut tampaknya disumbangkan oleh Mary sendiri setelah wawancara. Karenanya, kita memiliki sesuatu yang jarang dimiliki foto perang: suara orang yang berada di dalam gambar. Foto menunjukkan Mary Oldnall; wawancara membantu memperlihatkan bagaimana Mary Coomer mengingat kehidupannya sendiri.
Ia berbicara tentang Prancis. Tentang evakuasi. Tentang Shoeburyness. Tentang pekerjaan. Tentang upah. Tentang promosi. Tentang bekerja bersama laki-laki.
Foto 1941 itu tetap diam.
Mary berdiri di depan peralatan listrik, tubuhnya sedikit membungkuk ke arah mesin. Di luar mungkin udara Essex dingin; arsip bahkan menyimpan foto personel ATS bersepeda di Shoeburyness pada Februari 1941, mengenakan perlengkapan musim dingin. Di dalam tempat kerja, benda-benda logam dan kabel menunggu tangan manusia. Mary memegang pekerjaannya dengan keseriusan yang tidak membutuhkan pose.
Kamera memotret satu detik.
Mesinnya, untungnya, sedang baik-baik saja.
Catatan terkait: Bendera Perang yang Tertinggal dari Pertempuran Iwo Jima


