Doel Sumbang, Penyanyi yang Memotret Kehidupan dalam Lagu
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/doel-sumbang-penyanyi-yang-memotret.html
![]() |
| Ilustrasi/timesindonesia.co.id |
Keanehan pertama dari Doel Sumbang adalah ketika seseorang menikmati lagu-lagunya tanpa memahami apa yang sedang dinyanyikan.
Secara teori, itu agak aneh. Lirik biasanya dianggap jantung sebuah lagu. Orang menghafal kata-kata, lalu menghubungkannya dengan pengalaman pribadi. Dalam kasus Doel Sumbang, banyak pendengar di luar Jawa Barat tidak mengerti satu kalimat pun bahasa Sunda yang ia nyanyikan, tetapi tetap menikmati lagunya. Saya termasuk yang seperti itu.
Ada jenis musik yang menembus makna kata-kata, dan langsung bekerja pada bagian lain dalam kepala manusia. Melodi, ritme, aksen vokal, cara seseorang mengucapkan suku kata tertentu, semuanya bergerak lebih cepat daripada proses penerjemahan. Lagu-lagu Sunda Doel Sumbang tampaknya bekerja di jalur itu.
Nama asli Doel Sumbang adalah Wachyoe Affandi. Ia lahir di Tasikmalaya pada 1963. Ketika orang membicarakan musik Sunda populer, namanya hampir mustahil dilewatkan. Ia menulis lagu dalam jumlah yang sangat besar, menyanyikannya sendiri, dan selama puluhan tahun menjadi salah satu figur paling khas dalam budaya populer Sunda. Kata "khas" kadang terlalu murah dipakai. Dalam kasus Doel Sumbang, kata itu memang tepat. Sulit menemukan musisi Indonesia lain yang terdengar seperti dirinya.
Suara Doel Sumbang tidak mengikuti standar penyanyi pop yang biasanya dipuji karena kemerduan atau teknik vokal yang bersih. Suaranya kadang terdengar seperti orang yang sedang berbicara sambil bernyanyi. Kadang sengaja dipelintir. Kadang terdengar usil. Kadang terdengar seperti seseorang yang sedang menahan tawa ketika mengucapkan sebuah kalimat. Karakter semacam itu membuat lagu-lagunya langsung dikenali bahkan sebelum pendengar memahami isi liriknya.
Banyak orang mengenal Doel Sumbang melalui lagu-lagu humor. Itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Humor memang salah satu senjatanya. Lagu seperti “Runtah”, “Saritem”, “Ceu Romlah”, atau puluhan lagu lainnya, sering membuat orang tertawa. Masalahnya, banyak pendengar berhenti pada lapisan itu. Mereka menganggap Doel Sumbang sebagai pelawak yang kebetulan bisa bernyanyi. Pendapat semacam itu membuat saya sedikit tidak sabar.
Pendengar yang memahami bahasa Sunda biasanya tahu bahwa di balik kelucuan tersebut sering tersimpan sindiran sosial yang cukup tajam. Doel Sumbang gemar mengamati kebiasaan sehari-hari masyarakat. Ia memperhatikan percakapan di warung, gosip kampung, hubungan suami-istri, gaya pejabat, perilaku anak muda, sampai persoalan ekonomi. Semua bahan itu masuk ke dalam lagu. Kadang terdengar ringan. Kadang terasa agak tajam.
Kepekaan semacam itu tidak muncul dari ruang hampa. Tasikmalaya, Bandung, Garut, Ciamis, Banjar, dan kota-kota lain di Jawa Barat, menyediakan bahan mentah yang melimpah bagi seorang pengamat sosial. Jalan-jalan yang dipenuhi angkot, pasar tradisional yang mulai terdesak minimarket modern, obrolan panjang di warung kopi, orang-orang yang saling mengenal terlalu dekat. Dunia yang menjadi bahan bakar utama lagu-lagu Doel Sumbang terasa sangat konkret.
Ketika banyak musisi Indonesia berusaha terdengar internasional, Doel Sumbang justru semakin lokal. Anehnya, langkah itu membuatnya lebih unik daripada mereka yang mengejar standar global. Ia tidak berusaha menyembunyikan identitas Sundanya. Ia memeliharanya dengan sengaja. Bahasa Sunda bukan sekadar alat komunikasi dalam lagu-lagunya. Bahasa itu menjadi sumber ritme, sumber humor, bahkan sumber musikalitas.
Saya sering membandingkan pengalaman mendengarkan lagu Sunda Doel Sumbang dengan pengalaman menonton film asing tanpa subtitle yang lengkap. Sebagian makna hilang, tetapi emosi dasarnya tetap sampai. Pendengar tetap bisa menangkap kapan lagu sedang bercanda, kapan sedang mengejek, kapan sedang bercerita tentang kerinduan, kapan sedang menggambarkan kekacauan hidup seseorang. Tubuh manusia rupanya cukup pintar membaca nada suara.
Kelebihan lain Doel Sumbang terletak pada keberaniannya menulis tentang hal-hal yang dianggap terlalu biasa untuk dijadikan lagu. Banyak pencipta lagu terpaku pada cinta. Putus cinta. Menunggu cinta. Kehilangan cinta. Cinta lagi. Dunia Doel Sumbang jauh lebih berisik. Ia bisa menulis tentang sampah. Tentang perilaku masyarakat. Tentang perubahan sosial. Tentang absurditas kehidupan sehari-hari. Tentang topik yang jarang dianggap layak masuk studio rekaman.
Hal itu mengingatkan saya pada tradisi musisi rakyat di berbagai negara. Mereka bukan sekadar penghibur. Mereka juga pencatat kehidupan. Bedanya, Doel Sumbang tidak pernah tampil seperti intelektual yang sedang memberi kuliah. Ia lebih sering menyelipkan kritik melalui candaan. Pendengar tertawa dulu, baru beberapa detik kemudian menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang ditertawakan.
Kariernya juga tidak berhenti pada musik berbahasa Sunda. Doel Sumbang menulis dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang cukup populer secara nasional. Lagu “Laut”, misalnya, atau “Rindu Aku Rindu Kamu”, pernah menjadi hit besar. Banyak orang yang mengenal lagu-lagu tersebut bahkan tidak sadar bahwa penciptanya adalah orang yang sama dengan musisi Sunda yang sering muncul dengan lirik-lirik nyeleneh.
Saya justru menyukai bagian itu dari kisahnya. Industri hiburan sering memaksa seniman memilih identitas yang jelas agar mudah dipasarkan. Penyanyi pop harus menjadi penyanyi pop. Musisi daerah harus tetap menjadi musisi daerah. Pelawak harus tetap melawak. Doel Sumbang bergerak keluar-masuk kategori tersebut tanpa terlalu peduli.
Sebagian orang menganggap lagu-lagu daerah memiliki keterbatasan karena bahasa jadi penghalang. Pengalaman mendengarkan Doel Sumbang membuat argumen itu terasa rapuh. Kalau bahasa adalah satu-satunya faktor penting dalam musik, banyak orang tidak akan menikmati opera Italia, lagu Korea, musik Portugis, atau nyanyian tradisional Afrika yang tidak mereka pahami. Fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Manusia sering menikmati musik lebih dulu, baru mencari arti liriknya belakangan.
Kadang malah tidak pernah mencari artinya.
Saya pernah mendengar lagu Sunda diputar di sebuah warung makan, yang pengunjungnya sebagian besar bukan orang Sunda. Tidak satu pun ikut bernyanyi. Tidak satu pun tampak memahami isi lagu. Mereka tetap menikmati musiknya. Seseorang menyeruput kopi. Seseorang lain mengangguk-angguk mengikuti ritme. Kipas angin berputar pelan di langit-langit. Bau minyak goreng bercampur asap rokok. Lagu terus berjalan.
Momen-momen kecil seperti itu membuat saya curiga bahwa musik sebenarnya jauh lebih tua daripada bahasa. Sebelum manusia menulis puisi, mereka mungkin sudah mengenal ritme. Sebelum memahami tata bahasa, mereka sudah mengenal nada.
Doel Sumbang tampaknya memahami naluri dasar itu dengan sangat baik. Ia menulis lirik yang kaya permainan bahasa, tetapi tidak bergantung sepenuhnya pada lirik. Lagu-lagunya tetap hidup bahkan ketika sebagian pendengarnya kehilangan akses terhadap makna kata demi kata. Tidak banyak pencipta lagu yang mampu melakukan hal tersebut selama puluhan tahun tanpa kehilangan identitas.
Beberapa musisi jadi terkenal karena satu album besar. Sebagian karena satu lagu yang kebetulan meledak di pasaran. Doel Sumbang membangun sesuatu yang lebih aneh. Ia menciptakan dunia kecilnya sendiri. Dunia yang dipenuhi logat Sunda, humor yang kadang usil, kritik sosial yang menyelinap dari samping, dan melodi yang tetap enak didengar ketika pendengarnya sama sekali tidak tahu apa arti kalimat yang baru saja dinyanyikan.
Radio tua masih menyimpan suara itu di suatu tempat. Mungkin di sebuah kios dekat Terminal Indihiang. Mungkin dari speaker warung di Lembang. Mungkin dari mobil bak terbuka yang melintas sambil membawa sayuran ke Pasar Caringin sebelum matahari naik penuh.
Catatan terkait: Deddy Dores, Musisi dan Pencipta Lagu Produktif Indonesia


