Awareness, Film Action Spanyol yang Sulit Menandingi Hollywood
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/awareness-film-action-spanyol-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/yahoo.com |
Perasaan bosan saat menonton film kadang lebih menarik daripada filmnya sendiri. Saya teringat hal itu ketika membaca komentar-komentar tentang Awareness, film thriller fiksi ilmiah Spanyol tahun 2023 karya Daniel Benmayor yang dibintangi Carlos Scholz.
Banyak penonton tidak mengatakan film itu buruk. Mereka mengatakan sesuatu yang lebih mematikan: film itu terasa biasa saja. Terasa seperti pernah ditonton sebelumnya. Terasa seperti kumpulan potongan film lain yang dijahit menjadi satu.
Ironisnya, premis Awareness sebenarnya cukup menjanjikan. Seorang remaja bernama Ian memiliki kemampuan memanipulasi persepsi orang lain. Ia bisa membuat orang melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Bersama ayahnya, Vicente, Ian menggunakan kemampuan tersebut untuk melakukan penipuan kecil demi bertahan hidup. Dunia film kemudian berkembang menjadi kisah tentang organisasi rahasia, manusia-manusia dengan kemampuan khusus, konspirasi, dan perebutan kendali.
Di atas kertas, semua bahan sudah tersedia. Masalahnya mungkin justru karena semua bahan itu terlalu akrab.
Saat menonton Awareness, saya terus-menerus menemukan bayangan film lain. Sedikit aroma Chronicle. Sedikit rasa Jumper. Percikan Push. Kadang terasa seperti versi muda dari X-Men. Dalam beberapa adegan, saya bahkan merasa film Awareness sedang berusaha keras mengingatkan penonton bahwa ia juga bisa membuat aksi cepat, kejar-kejaran, dan ledakan visual seperti film superhero Amerika.
Di situlah persoalan menarik muncul. Banyak penonton yang tumbuh bersama Hollywood tidak sadar bahwa mereka sedang membawa standar yang sangat spesifik ke dalam setiap film yang mereka tonton.
Hollywood selama puluhan tahun telah melatih otak penonton. Bukan sekadar melatih selera. Tapi juga melatih ritme. Dua menit pertama harus memancing rasa ingin tahu. Menit kesepuluh harus memberi kejutan. Menit ketiga puluh harus menaikkan taruhan. Menit kesembilan puluh harus menghasilkan ledakan emosional atau visual.
Tubuh penonton bahkan mulai mengenali pola itu sebelum pikiran sadar mengenalinya. Saat ritme tersebut tidak muncul, muncul sensasi yang aneh. Mata masih menatap layar. Cerita masih berjalan. Aktor masih berbicara. Tetapi perhatian mulai menguap sedikit demi sedikit.
Awareness mengalami masalah semacam itu. Film berdurasi sekitar dua jam tersebut sebenarnya tidak kekurangan adegan aksi. Tidak kekurangan efek visual. Tidak kekurangan misteri. Tetapi energi naratifnya sering terasa datar. Seperti mobil yang melaju pada kecepatan yang sama terlalu lama.
Carlos Scholz sebagai Ian cukup meyakinkan secara fisik. Ia memiliki wajah yang cocok untuk karakter remaja bermasalah yang menyimpan kekuatan berbahaya. María Pedraza dan Pedro Alonso juga membawa pengalaman akting yang cukup kuat ke dalam proyek ini. Saya tidak merasa para pemain adalah masalah utama. Persoalannya lebih dekat ke jantung cerita.
Film Awareness terus memperkenalkan lapisan-lapisan baru tentang kemampuan Ian, asal-usulnya, kelompok-kelompok yang memburunya, dan sejarah masa lalu yang perlahan terungkap. Setiap kali satu misteri terjawab, misteri lain muncul. Secara teori, itu seharusnya membuat cerita semakin menarik. Yang terjadi justru kebalikannya. Semakin banyak informasi muncul, semakin berkurang rasa penasaran.
Fenomena itu cukup menarik. Banyak penulis skenario percaya bahwa kompleksitas otomatis menciptakan kedalaman. Padahal tidak selalu begitu. Kadang misteri yang terlalu banyak justru terasa seperti seseorang yang terus menambahkan rempah ke dalam masakan karena takut rasa aslinya kurang kuat.
Film-film Hollywood yang paling efektif sering melakukan hal yang lebih sederhana. Lihat The Matrix pertama. Premisnya sebenarnya rumit. Tetapi motivasi Neo sangat jelas. Penonton tahu apa yang harus dirasakan dalam setiap tahap cerita.
Dalam Awareness, hubungan emosional dengan Ian sering terasa kabur. Saya tahu apa yang sedang terjadi kepadanya. Saya tidak selalu peduli. Perbedaan kecil itu penting. Kepedulian jauh lebih berharga daripada informasi.
Ada hal lain yang jarang dibahas ketika orang mengatakan film non-Hollywood terasa membosankan. Kadang masalahnya bukan kualitas film. Kadang masalahnya justru kolonisasi selera.
Kata "kolonisasi" mungkin terdengar berlebihan untuk urusan hiburan, tetapi lihat kenyataannya. Selama puluhan tahun, industri film Amerika membanjiri dunia dengan narasi, tempo, struktur cerita, jenis humor, cara pengambilan gambar, bahkan cara karakter berbicara. Penonton di Jakarta, Semarang, Madrid, Bangkok, hingga Buenos Aires, akhirnya terbiasa dengan bahasa sinema yang sama.
Akibatnya muncul situasi yang aneh. Sebuah film Spanyol membuat film fiksi ilmiah dengan ritme khas Eropa. Penonton yang dibesarkan oleh Marvel merasa film itu lambat. Sementara penonton Eropa mungkin menganggap ritme tersebut masih normal.
Tubuh kita sudah terlatih untuk mengharapkan suntikan dopamin setiap beberapa menit. Ketika tidak mendapatkannya, kita menyebutnya "membosankan".
Saya tidak sedang membela Awareness sebagai film yang diam-diam brilian. Film itu memang memiliki kelemahan nyata. Karakternya tidak terlalu mengesankan. Konfliknya sering terasa turunan dari banyak film lain. Beberapa dialog terdengar generik. Organisasi rahasia yang jadi pusat konflik terasa seperti cetakan standar yang bisa dipindahkan ke puluhan film berbeda.
Tetapi pengalaman bosan saat menontonnya membuat saya memikirkan sesuatu yang lebih luas.
Banyak film Hollywood sebenarnya juga biasa-biasa saja. Bedanya, mereka memiliki anggaran besar untuk menyembunyikan hal yang biasa-biasa saja itu. Ledakan lebih besar. Musik lebih keras. Pencahayaan lebih mahal. Aktor lebih terkenal.
Penonton pulang dengan kesan bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang spektakuler. Beberapa hari kemudian mereka lupa seluruh jalan ceritanya.
Awareness tidak memiliki kemewahan semacam itu. Kekurangan-kekurangannya terlihat telanjang. Saat sebuah adegan gagal membangun ketegangan, penonton langsung menyadarinya. Saat misteri terasa lemah, tidak ada bintang kelas dunia yang bisa mengalihkan perhatian. Saat karakter kurang menarik, tidak ada humor cepat ala Marvel yang datang menyelamatkan.
Mungkin itulah sebabnya Awareness terasa lebih membosankan daripada sebenarnya. Ia gagal menyembunyikan kelemahannya. Hollywood sangat ahli menyamarkan kelemahan.
Menjelang akhir film, ketika berbagai rahasia mulai terbuka dan pertarungan besar mulai mengambil alih layar, saya justru semakin sadar bahwa masalah utama Awareness tidak pernah berada pada efek visual atau kemampuan supranatural Ian. Masalahnya berada pada rasa urgensi yang tidak pernah benar-benar tumbuh. Film terus meminta penonton percaya bahwa sesuatu yang sangat penting sedang terjadi.
Jantung saya tidak pernah ikut percaya.
Ada adegan-adegan yang cukup bagus. Ada beberapa konsep yang menarik. Ada potensi dunia fiksi yang sebenarnya bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Ketika kredit penutup mulai berjalan, yang tertinggal bukan rasa kecewa besar. Lebih mirip rasa datar. Seperti keluar dari bioskop setelah menonton film yang sepanjang waktu berusaha meyakinkan kita bahwa ia luar biasa, sementara kepala kita diam-diam sibuk mengingat film-film lain yang pernah melakukan hal serupa dengan lebih baik.
Lampu ruangan menyala. Nama Daniel Benmayor lewat di layar. Saya masih ingat satu atau dua adegan. Sebagian besar sisanya sudah mulai kabur bahkan sebelum film benar-benar selesai.
Catatan terkait: Deadpool, Film Konyol yang Jadi Balas Dendam Ryan Reynolds


