Deadpool, Film Konyol yang Jadi Balas Dendam Ryan Reynolds

Ilustrasi/eloutput.com
Film superhero biasanya ingin penontonnya menyukai tokoh utama. Deadpool punya ambisi yang lebih sederhana dan lebih kasar: membuat penonton menyukai seorang bajingan yang tidak berhenti bicara, lalu membiarkannya melakukan kekerasan sambil mengomentari film yang sedang ia bintangi.

Deadpool dimulai dengan adegan yang sengaja menolak kesopanan. Kamera melayang di atas mobil yang hancur di jalan tol, tubuh manusia bertebaran, kemudian kredit pembuka muncul satu demi satu dengan gaya penghinaan: “A Film By Someone Who Has No Taste”, “A Hot Chick”, “A British Villain”. Nama sebenarnya sengaja disembunyikan di balik lelucon. Bahkan sebelum cerita berjalan, film sudah mengumumkan bahwa ia tidak berniat memainkan permainan superhero dengan wajah serius.

Lucunya, keberhasilan Deadpool justru bergantung pada sesuatu yang jauh lebih tua daripada lelucon meta: Ryan Reynolds.

Karakter Wade Wilson sudah pernah dimainkan Reynolds dalam X-Men Origins: Wolverine (2009), dan hasilnya mengerikan dalam cara yang hampir lucu. Wade yang cerewet dan berisik di awal film diubah menjadi sosok berjuluk Weapon XI yang mulutnya dijahit. Karakter yang seharusnya hidup dari ocehan justru dibuat tidak bisa bicara. 

Reynolds sendiri, bertahun-tahun kemudian, ikut menjadikan kegagalan tersebut sebagai bahan bakar promosi Deadpool. Film 2016 itu seperti kesempatan untuk mengambil kembali karakter yang pernah dirampas darinya.

Reynolds mendapat kesempatan kedua, dan kali ini ia memegang mikrofon sendiri.

Wade Wilson adalah mantan anggota pasukan khusus yang bekerja sebagai tentara bayaran di New York. Ia menerima pekerjaan untuk menghajar orang, mematahkan tulang, atau mengancam seseorang, selama bayarannya masuk akal. Kehidupannya berubah setelah ia bertemu Vanessa Carlysle, diperankan Morena Baccarin. Hubungan mereka berkembang melalui percakapan kotor, saling mengejek, seks, dan jenis romantisme yang biasanya dibuang dari film superhero karena dianggap terlalu tidak sopan.

Justru hubungan itu membuat film bekerja.

Ketika Wade didiagnosis menderita kanker stadium lanjut, ia meninggalkan Vanessa tanpa penjelasan. Ia kemudian menerima tawaran dari seorang pria misterius bernama Ajax, diperankan Ed Skrein, yang menjanjikan terapi eksperimental. Wade masuk ke sebuah program penyiksaan yang dipimpin Ajax dan Angel Dust, diperankan Gina Carano. Tubuhnya dipaksa bereaksi terhadap serum mutan. Ia sembuh dari kanker, tetapi wajah dan tubuhnya mengalami kerusakan parah.

Wade keluar dengan satu tujuan: mencari Ajax.

Plotnya sederhana sekali. Film sengaja tidak menyembunyikan kesederhanaan tersebut. Wade bahkan sering berbicara kepada penonton, mengomentari struktur cerita, memperolok film superhero, mengejek studio, dan membuat lelucon mengenai Hugh Jackman. Ia tahu dirinya berada dalam film. Ia tahu penonton tahu. Ia tidak berniat membiarkan penonton melupakan hal itu.

Teknik semacam itu sebenarnya berbahaya. Karakter yang sadar bahwa dirinya karakter dapat dengan cepat jadi menjengkelkan. Deadpool lolos karena Reynolds punya timing komedi yang sangat presisi. Ia tahu kapan harus terus mengoceh dan kapan harus berhenti. Ia bisa membuat satu kalimat terasa seperti improvisasi, padahal struktur komedinya sangat terukur.

Contoh terbaiknya adalah hubungan Wade dengan Vanessa. Reynolds tidak memainkan Wade sebagai pria lucu yang kebetulan punya kekasih. Ia memainkan seorang lelaki yang menemukan seseorang yang sama-sama sinting, lalu panik ketika hubungan tersebut mulai serius. Mereka berdua saling mencintai dengan cara yang sangat tidak sopan. Ketika Wade pergi setelah diagnosis kanker, keputusan tersebut terasa bodoh sekaligus menyedihkan.

Film kemudian melakukan sesuatu yang cukup licin: ia menyembunyikan kisah cinta di balik lelucon.

Penonton tertawa, kemudian perlahan menyadari bahwa semua lelucon itu berputar mengelilingi seorang lelaki yang takut mati sebelum sempat hidup bersama perempuan yang dicintainya.

Tim Miller, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai animator dan sutradara efek visual, mengarahkan film ini dengan energi yang sesuai. Adegan pembuka di jalan tol menjadi contoh paling jelas. Wade menghadapi sekelompok anak buah Ajax sendirian, menggunakan dua pistol, dua pedang, tubuh lawan, mobil, dan lingkungan sekitarnya sebagai bagian dari koreografi. Peluru habis. Pedang terlepas. Tubuh terlempar. Wade terus bercanda.

Kekerasannya terasa fisik. Darah berceceran. Tulang patah. Tubuh ditabrak kendaraan. Kepala dihantam. Wade menembak orang dengan ekspresi yang sama santainya ketika orang lain memesan kopi. PG-13 tidak akan pernah cukup untuk film seperti ini, dan Deadpool memang memperoleh rating R di Amerika Serikat karena kekerasan berdarah, bahasa kasar, seksualitas, dan humor vulgar.

Keputusan itu penting. Fox memberi film superhero beranggaran sekitar $58 juta kebebasan yang biasanya hanya diberikan kepada film yang dianggap tidak terlalu penting. Hasilnya mengejutkan: Deadpool meraih sekitar $782 juta di seluruh dunia. Anggaran relatif kecil, pemeran utama bukan lagi bintang muda yang sedang berada di puncak, sutradaranya bukan nama besar, rating-nya R, dan karakter utamanya mengenakan topeng hampir sepanjang film.

Secara bisnis, film ini seperti kesalahan yang menghasilkan uang.

Ryan Reynolds menjadi pusat dari semuanya. Ia tidak sekadar cocok dengan karakter Wade Wilson. Ia memiliki sejarah panjang dengan karakter tersebut, termasuk kegagalan X-Men Origins: Wolverine, sehingga keberhasilan Deadpool membawa sedikit aroma balas dendam profesional.

Film ini juga tahu kapan harus mengecilkan dirinya sendiri. Colossus, disuarakan Stefan Kapičić, hadir sebagai mutant raksasa yang berbicara dengan bahasa sopan dan moralitas bersih. Wade membencinya, karena Colossus terlalu sehat secara mental. Negasonic Teenage Warhead, dimainkan Brianna Hildebrand, lebih banyak memasang wajah kesal terhadap Wade. Mereka jadi semacam keluarga X-Men paling aneh yang pernah dibentuk secara tidak sengaja.

Colossus ingin membawa Wade ke Xavier's School for Gifted Youngsters. Wade lebih tertarik memotong kepala orang.

Hubungan tersebut menghasilkan salah satu lelucon terbaik film: Deadpool tidak benar-benar ingin jadi bagian dari dunia X-Men, tetapi ia membutuhkan dunia X-Men untuk membuat leluconnya bekerja. Ia mengejek Profesor Xavier, Cerebro, mansion, bahkan keterbatasan jumlah anggota X-Men yang bisa digunakan produksi. Ketika Wade bertanya mengapa hanya ada Colossus dan Negasonic di mansion, film tidak memberi alasan dramatis. Ia hanya mengakui kenyataan produksi: anggaran.

Itu lelucon, tetapi juga kejujuran.

Deadpool tahu bahwa film superhero adalah bisnis yang sangat mahal untuk menghasilkan manusia berotot memakai kostum. Ia memilih mengatakannya terus terang.

Masalah film ini muncul ketika Ajax mulai mengambil terlalu banyak ruang. Ed Skrein memainkan penjahat yang fungsional, tetapi Ajax tidak pernah memiliki daya tarik yang sebanding dengan Wade. Hubungan mereka juga dibangun terutama untuk memberi target pada Wade. Ajax menyiksa Wade, Wade ingin membalas, mereka bertemu lagi, bertarung, berpisah, bertemu lagi. Selesai.

Angel Dust bahkan lebih tipis sebagai karakter.

Untungnya, Deadpool tidak benar-benar hidup dari penjahat. Film hidup dari Wade Wilson yang berjalan di antara trauma dan kebodohan. Ketika ia melihat wajahnya sendiri setelah eksperimen, humor film mendadak terasa lebih getir. Wajah tersebut tidak sekadar alasan untuk memakai topeng. Wade merasa jijik terhadap dirinya sendiri. Ia takut Vanessa tidak akan mengenalinya. Ia bersembunyi.

Di situ, Reynolds melakukan sesuatu yang cukup sulit: ia membuat wajah yang tidak terlihat sepanjang sebagian besar film tetap menjadi pusat emosi film.

Wade bercanda karena ia takut diam. Ketika ia diam, film terasa berbeda. Mata penonton tidak lagi mengikuti seorang superhero yang sedang menghibur kita. Kita melihat lelaki yang sedang berusaha memastikan dirinya masih punya alasan untuk pulang.

Lalu ia kembali memakai kostum merah. Ia mengambil pedang. Ia mulai bicara lagi.

Deadpool tidak mengubah film superhero. Klaim sebesar itu terlalu malas. Film ini melakukan sesuatu yang lebih spesifik: ia membuktikan bahwa sebuah karakter superhero bisa mengejek mekanisme industrinya sendiri, sambil tetap membutuhkan semua mekanisme tersebut agar bisa hidup.

Setelah kredit mulai berjalan, Wade masih punya satu urusan. Ia menoleh kepada penonton dan mengatakan sesuatu tentang sekuel.

Tentu saja. Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan.


Related

Entertainment 3069013215609937226

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item