Elsa Brändström, 'Malaikat Siberia' yang Namanya Abadi

Ilustrasi/slakthistoria.se
Orang-orang yang mengenal Elsa Brändström tidak memanggilnya dengan nama lengkap. Mereka punya nama lain untuk perempuan Swedia yang berulang kali masuk ke tempat-tempat yang membuat orang waras ingin segera keluar: Engel von Sibirien, Malaikat Siberia. Nama itu terdengar terlalu manis untuk pekerjaan yang dilakukannya. 

Siberia pada masa Perang Dunia I tidak membutuhkan malaikat. Ia membutuhkan orang yang mau membuka pintu barak, melihat isi ruangan, mencium bau penyakit, menghitung selimut, memeriksa air, mencatat siapa yang mati, kemudian kembali lagi besok.

Brändström lahir di St. Petersburg pada 26 Maret 1888, putri Edvard Brändström, diplomat dan perwira Swedia yang bertugas di Rusia. Ia tumbuh di antara dua dunia: keluarga diplomatik Swedia dan masyarakat Rusia yang ia kenal cukup dekat. Hubungan itu kelak menjadi modal yang sangat praktis. Ketika Perang Dunia I pecah, ia berada di St. Petersburg dan menjadi sukarelawan perawat untuk tentara Rusia. Pada 1915, Palang Merah Swedia mengirimnya bersama Ethel von Heidenstam ke Siberia untuk memperbaiki pelayanan dasar bagi tawanan perang Jerman dan Austria-Hungaria.

Kondisi kamp-kamp tersebut menghancurkan jarak aman yang biasanya dimiliki orang dari kelas sosialnya. Tawanan dikirim jauh ke timur dalam gerbong kereta, kadang melewati perjalanan panjang dalam suhu yang menggigit, lalu ditempatkan di barak dengan kekurangan makanan, pakaian, tempat tidur, air bersih, dan perawatan medis. Tifus dan penyakit menular berkembang dengan cepat. 

Dokumen Palang Merah Jerman menggambarkan delegasi Swedia menyeberangi Irtysh yang membeku untuk mencapai kamp-kamp tawanan; foto-fotonya menunjukkan barak, tempat perawatan, dan orang-orang yang tampak kurus sampai pakaian mereka seolah menggantung dari tulang.

Brändström tidak sekadar membagikan obat lalu pulang. Ia mulai mengurusi persoalan yang sangat membosankan, dan karena itu sangat penting: kebersihan, makanan, pakaian musim dingin, tempat tidur, distribusi bantuan, serta pengawasan kondisi kamp. Ia mengunjungi kamp-kamp yang tersebar di Rusia, Siberia, bahkan Turkestan. Selama lima setengah tahun, ia menjadi salah satu wakil netral yang paling konsisten bekerja langsung di antara tawanan perang di wilayah tersebut. Karena aktivitasnya itu, para tawanan memberinya julukan “Angel of Siberia”.

Satu detail kecil menjelaskan mengapa pekerjaan semacam itu memerlukan kegilaan tertentu. Brändström sendiri tertular tifus. Ia harus keluar dari lingkungan yang penuh penyakit untuk mendapatkan perawatan, kemudian kembali ke pekerjaan yang sama. Dalam satu laporan tentang kamp Krasnoyarsk, tingkat kematian tawanan pernah disebut sangat tinggi; setelah upaya perbaikan kondisi medis dan sanitasi, angka tersebut turun drastis. Angka persisnya berbeda menurut sumber dan periode, tetapi persoalannya jelas: kematian di kamp bukan kejadian sesekali. Ia merupakan bagian dari rutinitas.

Revolusi Rusia membuat pekerjaan itu semakin kacau. Pemerintahan berubah, jalur transportasi terganggu, perang saudara menyusul, dan akses organisasi bantuan asing semakin dibatasi. Brändström mendirikan organisasi bantuan Swedia untuk mempertahankan pekerjaan tersebut. Pemerintah Soviet kemudian mencabut izin kerjanya. Ia tetap melakukan perjalanan. Pada 1920, ia ditangkap di Omsk dan dituduh sebagai mata-mata. Ia sempat menghadapi ancaman hukuman mati sebelum dibebaskan dan dipulangkan ke Swedia.

Orang mungkin mengira bagian terpenting hidupnya selesai ketika ia kembali ke Swedia. Justru di sana karakter Brändström jadi lebih aneh. Ia tidak menganggap kepulangan tawanan sebagai akhir pekerjaan. Ribuan orang kembali dari perang dalam keadaan sakit, cacat, miskin, atau tidak mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil. Keluarga mereka juga rusak. Anak-anak tumbuh tanpa ayah yang meninggal di kamp. Brändström mulai mengumpulkan uang dan membangun sistem bantuan bagi mereka.

Ia kemudian pindah ke Jerman dan bekerja untuk bekas tawanan perang. Di Marienborn-Schmeckwitz, Saxony, ia membantu pengembangan sanatorium bagi mantan tentara yang pulang dari perang dalam kondisi fisik dan mental yang buruk. Ia membeli Schreibermühle dekat Lychen dan mengubah tempat itu menjadi pusat rehabilitasi dan reintegrasi. Tanah, hutan, ladang, kentang—semua terdengar sangat jauh dari diplomasi internasional. Justru benda-benda seperti itu yang diperlukan seseorang yang baru pulang dari Siberia.

Pada 1923, ia melakukan tur selama enam bulan di Amerika Serikat untuk mengumpulkan uang bagi anak-anak tawanan perang Jerman dan Austria yang meninggal atau mengalami trauma. Ia mengunjungi 65 kota dan berhasil mengumpulkan sekitar 100.000 dolar. 

Pada Januari 1924, ia mendirikan Neusorge, sebuah rumah anak di Mittweida, Saxony, yang mampu menampung lebih dari 200 anak. Sumber-sumber tentang hidupnya menyebut bahwa di Siberia ia pernah berjanji kepada tentara yang sedang sekarat bahwa ia akan membantu anak-anak mereka.

Janji kepada orang yang sekarat sering terdengar seperti bahan legenda. Dalam kasus Brändström, konsekuensinya sangat administratif: penggalangan dana, tanah, bangunan, makanan, beasiswa, pengasuh, surat-menyurat. Mungkin justru bagian administratif itu yang paling menarik. Ia mengubah rasa bersalah dan kesedihan akibat perang menjadi pekerjaan yang bisa dihitung.

Namanya beberapa kali diajukan untuk Nobel Perdamaian. Arsip Nobel menunjukkan nominasi pada 1922, 1923, 1928, dan 1929, dengan alasan yang secara khusus menyebut pekerjaannya di Rusia dan Siberia, kunjungan ke kamp, pengawalan tawanan pulang, dan pengorganisasian repatriasi tawanan Jerman serta Austria setelah perang.

Kemudian Adolf Hitler berkuasa.

Robert Ulich, profesor pedagogi yang dinikahi Brändström pada 1929, menerima posisi akademik di Harvard. Keluarga mereka pindah ke Amerika Serikat pada 1933. Brändström kembali melakukan sesuatu yang sudah ia lakukan selama bertahun-tahun: membantu orang-orang yang kehilangan tempat. Ia menolong pengungsi Jerman dan Austria yang tiba di Amerika. Pada 1939, di Cambridge, Massachusetts, ia membuka Window Shop, sebuah restoran yang juga memberi kesempatan kerja kepada para pengungsi.

Perang Dunia II kemudian pecah. Brändström sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Ia tidak kembali menjadi perawat kamp seperti pada 1915. Tubuh dan zaman sudah berubah. Bentuk pekerjaannya juga berubah. Ketika perang berakhir, Jerman penuh perempuan, anak-anak, orang kelaparan, rumah yang hancur, dan orang-orang yang hidupnya tidak punya arah. Brändström menggalang dana melalui CARE dan CRALOG untuk membantu perempuan dan anak-anak yang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal. Ia juga melakukan tur ceramah terakhirnya di Eropa untuk Save the Children Fund. 

Palang Merah Jerman mencatat salah satu proyek terakhirnya dengan detail yang terasa hampir terlalu sederhana: pakaian hangat dikumpulkan dan dikirim dalam peti-peti kayu kecil kepada anak-anak Jerman yang membutuhkan. Peti tersebut kemudian dapat dipakai anak-anak sebagai lemari.

Saya suka detail peti kayu itu, karena ia menolak semua kemegahan yang biasanya menempel pada kisah kepahlawanan. Brändström pernah menyeberangi Siberia ketika penyakit membunuh tawanan dalam jumlah besar. Ia pernah dituduh sebagai mata-mata dan menghadapi hukuman mati. Ia dinominasikan berkali-kali untuk Nobel. Namanya terkenal di Eropa. Semua itu benar.

Kemudian, pada usia hampir enam puluh tahun, salah satu pekerjaan terakhirnya adalah memastikan seorang anak yang lapar memperoleh pakaian, dan sebuah peti kayu untuk menyimpan barang.

Elsa Brändström meninggal di Cambridge, Massachusetts, pada 4 Maret 1948, hanya beberapa tahun setelah Perang Dunia II selesai. Kankernya membuat rencana perjalanan terakhirnya di Eropa semakin berat. Ia tidak sempat melihat seluruh pekerjaan bantuan yang sedang dibangunnya berkembang.

Di Jerman dan Austria, namanya kemudian dipakai untuk sekolah, jalan, yayasan, dan lembaga sosial. Orang-orang yang melewati nama itu mungkin tidak tahu mengapa seorang perempuan Swedia dari St. Petersburg menjadi nama sebuah sekolah di kota mereka.

Mereka mungkin hanya melihat tulisan Elsa-Brändström-Schule di atas pintu.

Di belakang nama itu ada Siberia, sebuah gerbong kereta, tifus, barak yang dingin, sebuah rumah anak bernama Neusorge, Harvard, Cambridge, dan peti-peti kayu yang dikirim kepada anak-anak yang bahkan belum lahir ketika ia pertama kali masuk ke kamp tawanan perang.


Related

Tokoh 8896387573813250309

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item