Manusia di Antara Kenyataan dan Impian: Catatan dari Qatar

Ilustrasi milik BSM
Seseorang bisa membangun gedung yang akan dilihat jutaan orang tanpa pernah mempunyai hak untuk merasa gedung itu bagian dari kotanya.

Doha penuh dengan keganjilan semacam itu. Orang-orang yang memasang kaca pada gedung pencakar langit, membersihkan lantai mal, mengemudikan taksi, memasak di dapur restoran, menjaga hotel, memperbaiki pendingin udara, merawat anak, mengangkut barang, dan mengecat dinding, datang dari India, Nepal, Bangladesh, Filipina, Pakistan, Sri Lanka, Kenya, dan berbagai negara lain. 

Mereka membuat kota berfungsi. Sebagian besar bukan warga negara Qatar. Banyak yang datang untuk bekerja selama beberapa tahun, mengirim sebagian besar penghasilan ke keluarga, kemudian pulang. Kota yang mereka bantu bangun bukan tempat yang akan mereka warisi.

Kalau Doha dilihat pada malam hari dari Corniche, kenyataan itu hampir hilang. Lampu gedung memantul di air. Museum of Islamic Art tampak tenang. West Bay berdiri dengan gedung-gedung kaca yang menyala. Mobil bergerak di jalan yang lebar dan bersih. Sulit membayangkan berapa banyak pasang tangan yang dibutuhkan agar pemandangan itu terlihat begitu mulus.

Qatar adalah salah satu contoh paling ekstrem dari masyarakat yang penduduknya didominasi migran. Data ketenagakerjaan negara-negara Teluk memang memiliki keterbatasan, tetapi ILO (International Labour Organization) mencatat bahwa pekerja migran merupakan bagian yang sangat besar dari pasar kerja Qatar. Secara regional, negara-negara Arab menampung lebih dari 24 juta pekerja migran pada 2019, dan pekerja migran membentuk sekitar 41,4 persen seluruh tenaga kerja di kawasan tersebut. Qatar termasuk negara dengan ketergantungan sangat tinggi pada tenaga kerja asing.

Angka semacam itu mengubah cara kita memahami kata “kota”.

Kota biasanya dibayangkan sebagai komunitas. Orang lahir, tumbuh, bekerja, berkeluarga, menua, lalu anak-anaknya tumbuh di tempat yang sama. Doha bekerja dengan pola yang berbeda. Sebagian besar manusia yang menghidupkan ekonominya datang karena kontrak kerja. Mereka hadir sangat lama untuk ukuran sebuah pekerjaan, tetapi belum tentu lama untuk ukuran sebuah kehidupan.

Seorang pekerja dari Nepal dapat menghabiskan bertahun-tahun di Qatar, hafal jalur bus, tahu toko kelontong yang menjual makanan dari negaranya, mengenali teman-teman di akomodasi pekerja, dan mempunyai nomor telepon tukang cukur yang sama. Ia mungkin lebih mengenal ritme Doha daripada seorang turis kaya yang datang untuk seminggu. Tetapi ketika kontraknya selesai, hubungan itu dapat berakhir dengan tiket pesawat pulang.

Doha telah menjadi tempat tinggalnya tanpa harus menjadi rumahnya secara permanen.

Kata “rumah” memang sering terlalu romantis untuk pengalaman migrasi tenaga kerja. Bagi Kamal Kumar, seorang operator mesin asal Nepal yang diwawancarai ILO, kehidupan di Qatar berkaitan erat dengan uang yang dikirim pulang kepada istri dan tiga anaknya yang bersekolah. Ia tinggal di Qatar, tetapi sebagian makna ekonomis dari keberadaannya berada ribuan kilometer jauhnya, di keluarganya sendiri.

Remitansi membuat geografi menjadi aneh. Gaji diperoleh di Doha, dimakan sebagian di Doha, lalu sebagian lainnya berubah menjadi biaya sekolah, cicilan rumah, makanan, atau obat, di Kathmandu, Dhaka, Kochi, Manila, atau Lahore. Satu orang secara fisik berada di satu kota, sementara hasil kerjanya terus bergerak ke kota dan desa lain.

Karena itulah pekerja migran di Doha tidak tepat dilihat hanya sebagai “orang asing”. Mereka adalah bagian dari sistem yang membuat kota itu berjalan.

Pada saat yang sama, Qatar telah melakukan perubahan besar dalam sistem ketenagakerjaannya. Reformasi 2020 menghapus keharusan memperoleh No Objection Certificate dari pemberi kerja untuk berpindah pekerjaan, dan menghapus persyaratan izin keluar bagi sebagian besar pekerja. Pada Maret 2021, Qatar memberlakukan upah minimum nondiskriminatif yang berlaku bagi semua pekerja, semua kewarganegaraan, dan semua sektor, termasuk pekerja domestik. Upah dasar minimum ditetapkan QAR 1.000 per bulan, dengan tunjangan makanan dan akomodasi jika kebutuhan tersebut tidak disediakan pemberi kerja.

Perubahan itu penting. Terlalu mudah membicarakan Doha dengan gambaran kafala (sistem hukum yang mengatur dan mengawasi buruh migran) seolah tidak pernah ada perubahan hukum. Kenyataannya lebih rumit. ILO mencatat bahwa sekitar 350.000 permohonan perpindahan kerja telah disetujui dalam dua tahun setelah reformasi, tetapi pekerja masih menghadapi hambatan, termasuk pembalasan dari pemberi kerja dan masalah dalam penerapan aturan. Program kerja sama ILO-Qatar yang diperpanjang pada 2024 masih menempatkan mobilitas tenaga kerja, upah, keselamatan kerja, dan suara pekerja, sebagai agenda utama.

Jadi hukum berubah, tetapi struktur sosial tidak menguap begitu saja.

Seorang pekerja konstruksi dapat memperoleh hak untuk berpindah pekerjaan dan tetap berada jauh di bawah pekerja profesional asing dalam hierarki ekonomi. Seorang manajer ekspatriat dapat hidup di apartemen nyaman, mengirim anak ke sekolah internasional, makan di restoran mahal, dan merasa Doha sebagai rumah selama sepuluh tahun. Seorang pekerja kebersihan dapat tinggal di akomodasi yang jauh lebih padat, naik transportasi yang berbeda, dan menghabiskan sebagian besar waktu luangnya bersama orang-orang dari negara yang sama.

Mereka semua disebut ekspatriat atau migran dalam percakapan umum. Kehidupan mereka tidak sama.

Kota global biasanya menjual gagasan bahwa siapa pun dapat datang dan menjadi bagian dari kota selama ia mampu membayar biaya hidup di sana. Doha menunjukkan batas gagasan itu. Uang dapat membeli apartemen, restoran, mobil, sekolah, dan akses ke ruang-ruang tertentu. Uang tidak otomatis mengubah kewarganegaraan. Qatar tidak menawarkan jalur naturalisasi massal bagi jutaan pekerja yang datang untuk menopang ekonominya. Status warga negara tetap sangat berbeda dari status pekerja asing.

Akibatnya, kota itu mempunyai banyak orang yang kehidupannya sangat penting bagi Doha, tetapi masa depannya tidak sepenuhnya berada di Doha.

Kondisi tersebut menghasilkan semacam kehidupan sementara yang bisa berlangsung bertahun-tahun. Lima tahun masih dianggap sementara. Sepuluh tahun masih bisa disebut sementara. Seorang pekerja mungkin membeli ponsel baru, mengirim uang untuk membangun rumah di kampung, mengirim anak sekolah, mengumpulkan tabungan, dan menghitung berapa tahun lagi sebelum pulang. Setiap keputusan mempunyai dua alamat: alamat kehidupan sekarang dan alamat kehidupan yang ingin dibangun nanti.

Bahkan ruang kota mengikuti pembagian itu.

West Bay, The Pearl, Msheireb, dan kawasan hotel mewah, menghadirkan Doha sebagai kota global: restoran internasional, kantor perusahaan multinasional, pusat perbelanjaan, galeri, dan apartemen dengan harga tinggi. Di tempat lain, kehidupan pekerja berlangsung dengan logika yang lebih sederhana dan jauh lebih padat. Mereka berbelanja makanan dari negara asal, menelepon keluarga dengan koneksi internet, menonton pertandingan sepak bola dari negeri sendiri, dan berbicara dalam bahasa yang mungkin tidak terdengar sama sekali di lobi hotel.

Dua Doha dapat berada beberapa kilometer dari satu sama lain.

Saya kira di sanalah konsep “kota global” mulai terasa agak menipu. Kita sering melihat kota global dari atas: bandara, gedung tinggi, modal internasional, perusahaan asing, museum, stadion. Dari bawah, kota global berarti seseorang bangun sebelum matahari terlalu tinggi, mengenakan pakaian kerja, naik bus, mengangkat benda berat, berdiri berjam-jam, menerima gaji, kemudian mengirim sebagian uangnya ke keluarga yang bahkan mungkin tidak pernah melihat gedung tempat ia bekerja.

Keringatnya tidak masuk ke brosur pariwisata.

Panas juga tidak terdistribusi secara adil. Qatar memberlakukan larangan kerja luar ruang pada jam-jam tertentu selama musim panas untuk melindungi pekerja dari tekanan panas, dan aturan tersebut diperluas melalui reformasi keselamatan kerja. ILO masih menempatkan perlindungan dari panas, pembayaran upah tepat waktu, akses ke keadilan, dan pelaksanaan hak pekerja sebagai persoalan yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan.

Di lobi hotel berpendingin udara, suhu mungkin terasa terlalu dingin sampai kulit lengan merinding. Beberapa kilometer dari sana, seseorang mungkin sedang berdiri di bawah matahari dengan helm proyek yang bagian dalamnya sudah basah oleh keringat.

Keduanya bekerja untuk kota yang sama. Salah satunya mungkin memiliki paspor Qatar. Yang lain mungkin menyimpan paspornya di loker.

Malam hari, setelah pekerjaan selesai, pekerja dari Kerala menelepon ibunya. Seorang Nepal menelepon istrinya. Seorang Filipina membuka pesan dari anaknya. Mereka berbicara tentang harga makanan, uang yang belum dikirim, kabar keluarga, dan kapan bisa pulang.

Besok pagi Doha tetap membutuhkan mereka.

Belum tentu Doha harus mengenal nama mereka.


Related

Internasional 3085384712563188855

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item