Kisah Clifton Davis, Pria yang Menulis Catatan di Tengah Perang

Ilustrasi milik BSM
Seorang lelaki duduk di ranjang, membungkuk sedikit ke depan, memegang sesuatu untuk ditulis. Tidak ada ledakan di belakangnya. Tidak ada senapan yang diarahkan ke kamera. Tidak ada pesawat Jepang di langit, tidak ada tubuh yang tergeletak, tidak ada pemandangan yang langsung membuat kita mengenali Perang Dunia II. Ia hanya sedang menulis.

Di bawah foto tertulis pendek: “Me — Nov. 1944.”

Kalau foto itu dilepas dari arsipnya dan diberikan kepada seseorang tanpa keterangan, orang tersebut mungkin akan menebak bahwa lelaki itu sedang berada di barak militer mana pun di dunia. Tempat tidur, seragam, kertas, tubuh yang duduk dalam posisi bekerja. Selesai. Foto semacam itu hampir terlalu biasa untuk dianggap sebagai dokumen perang. Library of Congress (LOC) menyimpannya.

Nama lelaki itu Clifton Davis. Koleksinya berada dalam Veterans History Project dengan nomor AFC/2001/001/1203, terdiri atas 138 foto, rekaman wawancara, sebuah jurnal, peta-peta, kliping, serta bahan lain yang dikumpulkan sepanjang hidupnya. Keterangan resmi LOC menyebut Davis sebagai Seaman First Class dalam U.S. Navy, bertugas 1942–1945 bersama Naval Construction Battalion, Seabees, dengan lokasi dinas di Kepulauan Aleut, Alaska.

Jadi foto yang tampak begitu tenang itu berasal dari lingkungan perang yang sama sekali tidak tenang. Kepulauan Aleut.

Nama itu tidak mempunyai daya tarik Omaha Beach atau Guadalcanal. Ia terdengar seperti tempat yang terlalu jauh untuk menjadi panggung sejarah. Gugusan pulau vulkanik membentang di barat daya Alaska, dengan pegunungan, kabut, hujan, salju, lumpur, angin, dan suhu yang dapat membuat benda-benda sederhana jadi persoalan. Pada Juni 1942, pasukan Jepang mendarat di Attu dan Kiska. Amerika kemudian menjalankan kampanye panjang untuk merebut kembali wilayah tersebut. Pertempuran Attu pada 1943 menjadi salah satu pertempuran paling brutal di medan yang hampir sama berbahayanya dengan pasukan lawan.

Davis berada di dunia itu. karenanya, foto “Me — Nov. 1944” terasa hampir seperti kesalahan.

November 1944 berarti perang di Eropa sedang menuju fase terakhirnya. Pasukan Amerika telah berada jauh di Prancis dan Belgia. Tentara Soviet bergerak ke barat. Bom jatuh di Jerman. Di Pasifik, Amerika sedang bergerak menuju Filipina. Nama-nama besar perang sedang memenuhi surat kabar.

Davis duduk di ranjang dan menulis. Apa yang ia tulis tidak dijelaskan oleh keterangan foto tersebut. Library of Congress tidak memberi kita isi halaman yang sedang dikerjakannya. Foto berhenti tepat di sana.

Justru kekosongan itu membuatnya mengganggu.

Davis masuk Angkatan Laut setelah didraft. Ia bukan komandan kapal perang dan bukan pilot. Ia seorang Seabee—anggota Naval Construction Battalions yang bertugas membangun dan memperbaiki infrastruktur untuk mendukung operasi militer. Pekerjaan mereka dapat berarti membangun jalan, fasilitas, pangkalan, dan berbagai kebutuhan logistik yang membuat pasukan lain bisa beroperasi.

Perang semacam itu jarang masuk poster. Seorang prajurit yang mengangkat senapan mudah dikenali sebagai prajurit. Seorang Seabee yang sedang mengerjakan fasilitas di tanah berlumpur lebih sulit dimasukkan ke dalam gambar heroik. Padahal tanpa pekerjaan mereka, pesawat tidak punya landasan, kapal tidak punya fasilitas, kendaraan tidak punya jalan, pasukan tidak punya tempat untuk tinggal.

Aleutian Campaign bahkan mempunyai kualitas yang hampir absurd. Jepang menduduki Attu dan Kiska, dua tempat yang bagi pembaca modern tampak seperti titik kecil di ujung dunia. Amerika harus mengerahkan kekuatan besar untuk merebut kembali wilayah yang secara geografis terpencil dan secara cuaca menyiksa.

Library of Congress menyimpan hampir 600 narasi veteran kampanye Aleutian, dan menyebutnya sebagai salah satu bagian Perang Dunia II yang sebagian besar telah hilang dari ingatan kolektif. Koleksi Davis ditempatkan dalam bagian khusus itu. Foto-fotonya membantu menjelaskan mengapa.

Satu foto dalam koleksinya memperlihatkan lanskap Aleutian. Foto lain diberi keterangan “Attu, Alaska.” Sebagian besar tidak menawarkan adegan perang yang spektakuler. Pegunungan. Jalan. Bangunan. Lanskap. Orang-orang yang sedang melakukan sesuatu. Kamera Davis tampaknya lebih tertarik pada lingkungan tempat ia hidup daripada membuat dokumentasi pertempuran.

Kamera seorang prajurit sering kali mempunyai selera yang aneh. Ia tidak selalu memotret apa yang kelak dianggap penting oleh sejarawan. Ia memotret apa yang berada di depan mata ketika ia mempunyai kesempatan mengeluarkan kamera.

Kemudian foto November 1944 itu muncul. Davis duduk di ranjang. Tubuhnya mengisi bagian tengah gambar. Ia sedang menulis. Mungkin ada surat yang harus dikirim. Mungkin catatan untuk dirinya sendiri. Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Arsip tidak memberi kita hak untuk memilih salah satu kemungkinan itu. Saya justru lebih suka membiarkannya tidak diketahui.

Kita terlalu mudah mengisi foto lama dengan cerita yang kita inginkan. Seorang tentara menulis, berarti ia sedang menulis surat kepada ibunya. Seorang tentara tersenyum, berarti ia sedang bahagia. Seorang tentara memandang jauh, berarti ia sedang memikirkan rumah. Semua itu mungkin benar. Tidak satu pun otomatis benar.

Davis hanya menulis.

Ada detail kecil yang lebih penting daripada dugaan psikologis tersebut: ia mempunyai waktu untuk duduk.

Perang tetap berjalan di luar tempat itu. Namun pada saat kamera bekerja, dunia Davis mengecil menjadi ranjang, tubuh, alat tulis, dan permukaan tempat ia menulis. Kita tidak mendengar angin Aleutian. Tidak merasakan udara dingin yang menusuk tangan. Tidak mencium bau pakaian lembap atau kayu basah. Foto tidak menyimpan suhu.

Tubuh manusia di dalamnya tetap menyimpan semuanya, meskipun kita tidak bisa membacanya.

Beberapa dekade kemudian, Davis diwawancarai untuk Veterans History Project. Pada 2002, ketika bahan-bahannya masuk ke Library of Congress, perang telah menjadi masa yang sangat jauh. Ia juga pernah berdinas lagi setelah Perang Dunia II. Untuk Perang Korea, catatan LOC menunjukkan bahwa ia kemudian bertugas di U.S. Air Force dan ditempatkan di Inggris pada 1951–1952.

Koleksi itu akhirnya menjadi jauh lebih besar daripada satu foto. Jurnal. Peta. Kliping. Rekaman suara. Dan 138 foto yang dikumpulkan dari 1944 sampai 2002.

Sebuah kehidupan militer tidak masuk arsip dalam satu bentuk. Ia masuk sedikit demi sedikit, sering kali tanpa rencana. Foto lama mungkin tersimpan di album. Jurnal bisa masuk ke laci. Peta mungkin dilipat berkali-kali sampai tepinya lunak. Seseorang kemudian meninggal atau menyerahkan barang-barangnya kepada anak. Anak tersebut menyerahkannya kepada lembaga sejarah.

Begitu sebuah koleksi sampai di Library of Congress, benda-benda kecil tadi memperoleh nomor katalog. “Clifton Davis Collection.” AFC/2001/001/1203.

Bahasa arsip memang dingin. Foto itu sendiri tidak. Kita masih bisa melihat lelaki tersebut duduk di ranjang.

Saya kira ada alasan mengapa gambar semacam itu lebih mengusik daripada foto pertempuran yang dramatis. Foto pertempuran memberi tahu kita bahwa perang sedang berlangsung. Foto Davis tidak.

Ia menunjukkan bagaimana perang mengambil bentuk kehidupan sehari-hari. Bangun. Duduk. Menulis. Menunggu. Bekerja. Mungkin makan. Tidur. Kemudian bangun lagi.

Bagi orang yang bertugas di Aleutian, perang tidak selalu hadir sebagai serangan Jepang. Sebagian besar waktunya mungkin justru berupa pekerjaan yang harus diselesaikan dalam cuaca yang menjengkelkan. LOC menggambarkan lingkungan Aleutian sebagai pegunungan dan lanskap bersalju; veteran lain dari kampanye itu menggambarkan hari-hari yang gelap, lembap, dingin, dan berangin, tanpa perubahan berarti dari hari ke hari.

Itulah latar belakang sebenarnya dari foto Davis. Bukan Eropa. Bukan November 1944 di sebuah kota Prancis. Aleutian.

Dan bahkan ada koreksi lain yang cukup menarik: katalog LOC menempatkan foto “Me — Nov. 1944” dalam kumpulan Clifton Davis Collection yang keseluruhannya diberi rentang materi fotografis 1944–2002, tetapi halaman album LOC memberi metadata 1942 pada foto tersebut. Jadi tanggal yang tertulis langsung pada gambar dan metadata katalog tidak sepenuhnya sejalan. Untuk sejarah personal, ketidaksempurnaan kecil seperti itu perlu dibiarkan terlihat daripada dipaksa menjadi kepastian palsu.

Satu tanggal ditulis oleh Davis. Satu tanggal ditulis oleh katalog. Kita tahu siapa yang lebih dekat dengan kamera.

Davis menulis “Me — Nov. 1944.” Ia tidak menulis apa pun tentang cuaca. Tidak menulis tentang Jepang. Tidak menulis tentang perang. Tidak menulis kepada kita. Ia hanya duduk di ranjang, memegang alat tulis, sementara fotografer menekan tombol kamera.

Foto itu kemudian menunggu sekitar enam dekade sebelum seseorang di Library of Congress memberi nomor pada benda tersebut. 

AFC/2001/001/1203. Nama: Clifton Davis. Judul: Me — Nov. 1944.

Seorang lelaki sedang menulis. Halaman yang sedang ia tulis tidak ikut difoto.


Related

Sejarah 4686265372863744558

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item