Silvio Ortona: Rasisme Italia, Jatuhnya Mussolini, dan Perang Dunia
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/silvio-ortona-rasisme-italia-jatuhnya.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Sebelum membawa senapan ke pegunungan, Silvio Ortona sudah lebih dulu dikeluarkan dari kehidupan normal oleh negaranya sendiri.
Ia lahir di Casale Monferrato pada 24 Mei 1916, tumbuh sebagai seorang Yahudi Italia, belajar hukum di Universitas Turin, dan lulus pada 1937. Tahun yang sama ia mendaftarkan diri dalam kursus perwira cadangan Regio Esercito. Jalur hidupnya kelihatan cukup lurus: sarjana hukum, tentara, profesi, keluarga. Italia sedang berada di bawah Mussolini, tetapi, bagi seorang anak muda terdidik dari keluarga mapan, fasisme belum tentu terasa seperti sesuatu yang akan mengobrak-abrik meja makan di rumah sendiri.
Tahun 1938 mengubahnya. Pemerintah Mussolini memberlakukan undang-undang rasial. Ortona dipaksa meninggalkan jalur militernya karena keturunan Yahudi. Karier hukum pun ikut terhalang. Ia tidak perlu menunggu kamp konsentrasi untuk mengetahui bahwa negara dapat mengubah seseorang menjadi warga kelas dua hanya dengan sebuah keputusan administratif. Nama, ijazah, seragam, kemampuan—semuanya mendadak kurang penting daripada asal-usul keluarga.
Perubahan politik Ortona berlangsung bertahap. Menurut catatan ANPI, pada 1941 ia mulai berhubungan dengan gerakan antifasis dan menjadi anggota Partai Komunis Italia. Itu detail yang penting karena membuat cerita tentang dirinya jauh lebih menarik daripada kisah sederhana seorang pemuda yang melihat Mussolini jatuh lalu spontan mengambil senjata. Ortona sudah bergerak sebelum rezim runtuh. Kesadarannya tumbuh ketika sistem itu masih kuat, ketika menjadi antifasis berarti memilih posisi yang tidak memberi keuntungan praktis.
Di Turin, ia juga berada dalam lingkaran anak-anak muda Yahudi dan antifasis yang kelak menghasilkan beberapa nama besar dalam sejarah Italia. Primo Levi termasuk di dalamnya.
Ketika tekanan terhadap orang Yahudi meningkat, sebagian kelompok itu bergerak ke Milan. Rumah Ada Della Torre menjadi salah satu tempat pertemuan. Di sana berkumpul orang-orang seperti Ortona, Levi, Eugenio Gentili-Tedeschi, Franco Momigliano, Vanda Maestro, dan lainnya. Mereka membaca, berbicara, berdebat, mencari pekerjaan, menyiasati dokumen. Dunia mereka belum berbentuk perang gerilya. Lebih mirip sekumpulan anak muda terpelajar yang perlahan menyadari bahwa hidup biasa sudah tidak tersedia bagi mereka.
Kemudian datang 25 Juli 1943. Mussolini dijatuhkan. Bagi Italia, momen itu tampak seperti pintu yang terbuka. Hanya beberapa minggu kemudian pintu tersebut berubah menjadi jebakan baru. Pada 8 September, pemerintah Italia mengumumkan gencatan senjata dengan Sekutu. Tentara Jerman bergerak mengambil alih wilayah Italia yang sebelumnya dikuasai tentara Italia. Negara yang secara resmi masih ada mendadak tidak mampu memberi kepastian kepada tentaranya sendiri. Sebagian prajurit pulang. Sebagian ditangkap. Sebagian mencoba menghilang. Sebagian naik ke gunung.
Ortona memilih gunung. Ia menuju Biellese, wilayah industri di Piemonte yang mempunyai tradisi buruh kuat. Di sana kelompok-kelompok komunis, buruh, bekas tentara, dan antifasis, mulai membentuk perlawanan. Salah satu formasi awal Garibaldi adalah Fratelli Bandiera, dan Ortona masuk ke dalamnya. Pendidikan militernya yang sempat terputus ternyata berguna. Ia kemudian menggunakan nama perang “Lungo”—julukan yang cukup sederhana, berasal dari tubuhnya yang tinggi—dan menjadi komandan.
Musim dingin 1943 di pegunungan tidak punya kemewahan seperti yang kadang diberikan film perang kepada gerilyawan. Fratelli Bandiera menghabiskan musim itu di kamp pegunungan, mengumpulkan orang dan persediaan sambil menunggu kesempatan. Mereka belum merupakan tentara besar yang memiliki garis depan, gudang amunisi, kendaraan, dan rumah sakit lapangan. Mereka adalah kelompok yang harus bertahan cukup lama untuk menjadi kekuatan tempur.
Pada musim semi, kegiatan mereka meningkat: serangan kecil, sabotase, operasi terhadap pasukan dan fasilitas fasis. Bentuk perang semacam itu memiliki ukuran yang aneh. Satu sabotase mungkin hanya membutuhkan beberapa orang, beberapa menit, dan keberanian yang cukup untuk membuat keputusan bodoh. Konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada ukuran kelompok yang melakukan tindakan itu.
Ortona juga terlibat dalam sesuatu yang lebih tidak kasatmata: Radio Libertà, radio bawah tanah yang digunakan kelompoknya untuk menyebarkan propaganda anti-Jerman. Itu bagian dari kisahnya yang saya kira mudah terlewat karena Ortona lebih mudah dibayangkan sebagai lelaki bersenjata di gunung. Padahal perlawanan juga membutuhkan suara. Informasi harus bergerak melewati wilayah yang dikontrol musuh. Orang-orang yang hidup di bawah pendudukan perlu mengetahui bahwa pasukan Jerman dan Republik Sosial Italia bukan satu-satunya kekuatan yang masih bekerja.
Di sini Ortona menjadi sosok yang agak ganjil. Ia sarjana hukum, pernah dipersiapkan menjadi perwira, aktivis komunis, Yahudi yang telah mengalami diskriminasi negara, kemudian komandan partisan. Satu identitas tidak menghapus identitas lainnya. Justru semuanya menumpuk. Ia tidak berperang hanya karena Jerman menduduki Italia. Ia sudah memiliki alasan untuk memusuhi sistem fasis sebelum Wehrmacht datang menguasai sebagian besar Italia setelah gencatan senjata.
Pengalaman Yahudinya juga tidak bisa dipisahkan dari kisah tersebut. Keluarga dari pihak ayahnya kehilangan lima orang karena deportasi; dari pihak ibunya, empat orang dideportasi ke Jerman dan tidak kembali, menurut kesaksian Ortona yang dicatat ANPI. Angka-angka seperti itu mengubah arti kata “undang-undang rasial”. Hukum yang pada mulanya tampak seperti pasal administratif akhirnya berujung pada orang-orang yang hilang.
Ada ironi lain yang jauh lebih kecil, tetapi justru menarik. Salah satu sahabat Ortona adalah Primo Levi. Beberapa tahun kemudian nama Levi akan menjadi salah satu suara paling penting tentang Auschwitz. Ortona sendiri mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak menjadi penulis terkenal. Ia tetap berada dalam politik Italia, memimpin organisasi Partai Komunis di Vercelli, menjadi anggota parlemen dari 1948 sampai 1958, dan kemudian terlibat dalam CGIL serta gerakan koperasi.
Perang selesai, tetapi kisah Ortona tidak berhenti pada hari pembebasan. Pada awal Mei 1945, ketika Vercelli sudah berada dalam suasana kemenangan, terdapat foto Ortona di markas partisan bersama anggota kelompoknya dan para perwira Sekutu. Dalam salah satu foto arsip CDEC, ia berdiri di belakang sambil memegang gagang telepon. Meja, kursi, seragam, wajah-wajah yang tampak lelah. Tidak ada pose heroik yang berlebihan. Seorang komandan partisan sedang menelepon.
Telepon itu terasa lebih cocok untuk Ortona daripada patung pahlawan.
Sebab setelah senjata berhenti, pekerjaan politik dimulai lagi. Ortona memimpin federasi komunis Vercelli dan menjadi penggerak surat kabar L'Amico del Popolo. Di halaman koran itulah, beberapa tahun setelah perang, tulisan Primo Levi tentang pengalaman kamp mulai memperoleh tempat. Lima bab dari Se questo è un uomo diterbitkan di sana pada 1947, setelah sebelumnya puisi Levi muncul dalam koran yang sama. Ortona, yang pernah menjadi rekan seperjuangan Levi, menjadi salah satu orang yang membuka pintu penerbitan pertamanya.
Hubungan itu terasa hampir absurd jika ditempatkan di atas garis waktu. Seorang lelaki yang pernah disingkirkan dari tentara karena hukum rasial menjadi komandan partisan. Setelah perang ia menjadi pejabat politik. Kemudian, dari sebuah koran Partai Komunis di Vercelli, ia membantu memberi ruang kepada tulisan seorang penyintas Auschwitz yang kelak dibaca di seluruh dunia.
Ortona menikah pada 1946 dengan Ada Della Torre, sesama pejuang antifasis dan perempuan yang juga aktif sebagai kurir partisan. Mereka sebelumnya telah berada dalam jaringan pertemanan yang sama di Milan. Della Torre bekerja sebagai guru setelah perang dan kemudian menjadi penulis. Keluarga mereka akhirnya pindah ke Turin pada 1963. Anak-anak mereka tumbuh dalam keluarga yang politiknya bukan kenangan jauh di dinding, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Silvio Ortona meninggal di Ciriè pada 6 Maret 2005, hampir enam puluh tahun setelah perang berakhir. Ia hidup cukup lama untuk melihat Italia berubah total: dari monarki fasis menjadi republik, dari negara perang menjadi negara demokrasi, dari pemuda yang dilarang menjadi perwira karena Yahudi menjadi anggota parlemen Italia.
Foto terakhir dari perang yang tersimpan di arsip CDEC memperlihatkan dirinya dengan telepon di tangan. Bukan senapan. Bukan podium. Bukan bendera.
Seorang lelaki tinggi yang pernah dikeluarkan dari tentara karena negara menganggap darahnya salah, kini berdiri di sebuah kantor partisan di Vercelli, berbicara melalui telepon pada awal Mei 1945. Di luar sana tentara Jerman sedang pulang sebagai tawanan. Italia sedang mencoba menentukan apa yang akan dilakukannya dengan kebebasan yang baru saja diperolehnya.
Ortona masih memegang gagang telepon itu.
Catatan terkait: Merril Sandoval dan Kode Bahasa Perang: Catatan dari Iwo Jima
.jpg)

