Get Out (2017), Film Bagus yang Rusak Gara-gara Ocehan di Internet

Get Out, Film Bagus yang Rusak Gara-gara Ocehan di Internet
Ilustrasi/tribecafilm.com
Pria kulit hitam berjalan sendirian di pinggir jalan malam hari di lingkungan suburban yang terlalu sunyi. Lampu jalan kuning pucat. Rumah-rumah besar berdiri rapi dengan halaman seperti dipangkas memakai penggaris. Mobil putih perlahan mengikuti dari belakang. 

Adegan pembuka Get Out sebenarnya sederhana sekali, tapi ada rasa tidak nyaman yang langsung masuk ke tubuh. Bukan takut model monster lompat dari lemari. Lebih seperti rasa ketika sadar sedang berada di tempat yang tidak ditujukan untukmu.

Jordan Peele paham atmosfer semacam itu.

Waktu Get Out meledak tahun 2017, media sosial benar-benar membuat film itu seperti peristiwa budaya, bukan sekadar film horor biasa. Timeline Twitter penuh meme “the sunken place”. Orang mengutip dialog “I would have voted for Obama for a third term.” YouTube dipenuhi video reaction. Artikel think piece muncul di mana-mana, mulai dari kritik rasial serius sampai tulisan absurd tentang simbol sendok teh.

Masalahnya, kehebohan semacam itu kadang merusak pengalaman menonton. Bukan karena filmnya jelek. Justru karena ekspektasi jadi terlalu bising sebelum film dimulai. Penonton masuk bioskop bukan dengan kepala kosong, tapi membawa koper penuh komentar internet. Ada tekanan aneh untuk “merasakan sesuatu yang besar”. Kadang film yang sebenarnya bagus malah terasa lebih kecil karena kita sudah dijejali reputasinya duluan. Get Out menurut saya termasuk korban dari kesuksesannya sendiri. 

Film ini sebenarnya sangat presisi. Chris Washington, fotografer kulit hitam yang diperankan Daniel Kaluuya, pergi bersama pacarnya, Rose Armitage, ke rumah keluarga Rose di daerah utara New York. Ayah Rose seorang neurosurgeon kaya bernama Dean, dimainkan Bradley Whitford dengan senyum liberal putih-Amerika yang terlalu ramah. Ibunya, Missy, seorang psikiater dengan tatapan yang bikin bahu ikut tegang.

Rumah keluarga Armitage terasa menyeramkan justru karena tampak begitu nyaman. Sofa kulit bersih. Cangkir teh. Pesta kebun. Orang-orang tua kulit putih dengan pakaian mahal dan senyum sopan. Tidak ada darah di dinding. Tidak ada rumah reyot. Horor Get Out lahir dari keramahan yang terlalu licin.

Kaluuya bermain luar biasa lewat detail kecil wajahnya. Ia hampir tidak pernah bereaksi berlebihan. Tatapannya justru sering seperti orang yang terus menghitung situasi sosial di kepalanya. Senyum tipis saat tamu-tamu pesta mulai menyentuh lengannya sambil mengomentari fisiknya. Tatapan diam ketika seseorang berkata “black is in fashion.”

Film ini sangat tajam menangkap bentuk rasisme modern yang tidak selalu datang lewat kebencian vulgar. Kadang datang lewat fetish, rasa ingin memiliki, kekaguman palsu. Orang-orang kulit putih tua di pesta itu tidak membenci tubuh kulit hitam; mereka menginginkannya. Dan itu lebih mengganggu.

Peele sangat cerdas memainkan humor. Rod Williams, sahabat Chris yang bekerja di TSA dan diperankan Lil Rel Howery, hampir seperti katup tekanan bagi penonton. Waktu suasana mulai terlalu tegang, Rod masuk dengan paranoia kocak tentang “sex slave cult”. Penonton tertawa. Beberapa menit kemudian, mereka sadar Rod sebenarnya hampir benar.

Saya suka cara Get Out membangun rasa tidak nyaman lewat detail sosial kecil. Dean Armitage terlalu sering menyebut bahwa ia akan memilih Obama tiga kali. Seorang tamu pesta bertanya apakah “pengalaman seksual pria kulit hitam benar-benar lebih baik”. Pelayan rumah kulit hitam bergerak terlalu kaku dan bicara seperti robot sopan era 1950-an. Semua terasa salah beberapa derajat.

Peele juga pintar memanfaatkan tubuh Daniel Kaluuya. Wajahnya punya kemampuan langka tampak sangat tenang sekaligus sangat ketakutan dalam waktu bersamaan. Adegan hipnosis ketika Missy mengaduk teh dengan sendok kecil, dengan suara denting cangkir memenuhi ruangan, masih terasa mengerikan sampai sekarang. Tidak ada hantu. Tidak ada gore. Hanya suara logam kecil yang berulang.

The Sunken Place sendiri jadi simbol budaya pop yang terlalu besar, sampai sedikit kehilangan kekuatan aslinya. Padahal pertama kali melihat adegan Chris jatuh ke ruang hitam kosong, sementara layar hidup menjauh di depannya, rasanya benar-benar mengganggu. Tubuhnya lumpuh, kesadarannya aktif, matanya menonton hidupnya sendiri dari kejauhan.

Ada sesuatu yang sangat brutal tentang konsep tidak bisa mengendalikan tubuh sendiri.

Get Out juga datang di momen politik Amerika yang panas. Donald Trump baru jadi presiden. Ketegangan rasial terasa terbuka lagi di media. Film itu langsung dibaca bukan cuma sebagai horor, tetapi komentar sosial nasional. Jordan Peele sendiri sebelumnya dikenal lewat komedi sketch Key & Peele. Banyak orang tidak menduga ia bisa membuat film setegang ini.

Lalu internet mulai bekerja seperti biasa; mengunyah semuanya terlalu cepat. Meme, teori, video breakdown, artikel “ending explained”. Bahkan sebelum banyak orang sempat menonton, filmnya sudah berubah jadi paket simbol siap konsumsi. Saya rasa itu yang sering merusak pengalaman menonton film modern. Kita jarang benar-benar bertemu film dalam keadaan segar. Semuanya sudah dipotong-potong duluan oleh algoritma. Bahkan jumpscare sekarang sering bocor jadi GIF.

Get Out sebenarnya sangat efektif kalau ditonton tanpa tahu apa-apa. Struktur filmnya rapi sekali. Paruh pertama terasa seperti social discomfort comedy yang makin lama makin salah arah. Penonton terus bertanya; apakah Chris terlalu paranoid? Apakah keluarga ini cuma canggung? Apakah ini satire awkward liberalisme semata?

Lalu pelelangan diam-diam itu muncul.

Adegan auction garden party salah satu favorit saya. Orang-orang kulit putih tua duduk diam sambil mengangkat kartu bingo untuk “membeli” tubuh Chris. Matahari cerah. Rumput hijau. Semua tampak sopan. Justru itu yang bikin ngeri. Peele tahu kekerasan modern sering hadir dalam bentuk administratif dan santun.

Banyak film horor modern terlalu tergila-gila pada simbol sampai lupa menjadi film yang menghibur. Get Out masih ingat dirinya harus menegangkan. Adegan Chris berusaha kabur dari rumah Armitage menjelang akhir punya energi survival horror yang sangat fisikal. Kapas dari kursi yang dimasukkan ke telinga supaya tidak kena hipnosis lagi—detail kecil yang cerdas sekali.

Tubuh Kaluuya penuh luka, mata merah, napas berat. Saya ingat telapak tangan terasa agak dingin waktu menonton adegan itu pertama kali. Peele mengontrol ritme ketegangan dengan sangat baik.

Ending aslinya sebenarnya lebih gelap. Jordan Peele pernah bilang, versi awal film ini menunjukkan Chris ditangkap polisi dan masuk penjara. Studio akhirnya memilih ending lebih “lega” ketika Rod datang menyelamatkannya dengan mobil TSA. Sebagian orang menganggap ending bioskop terlalu aman. Saya mengerti alasannya, tapi saya juga paham kenapa Peele mengubahnya. Amerika tahun 2017 sudah cukup sesak secara emosional.

Ada rasa lega absurd waktu mobil polisi ternyata milik Rod, bukan polisi sungguhan.

Get Out kemudian memenangkan Oscar Best Original Screenplay. Jordan Peele jadi penulis kulit hitam pertama yang menang di kategori itu. Film horor jarang mendapat penghargaan sebesar itu kecuali benar-benar menembus budaya populer.

Sayangnya, film ini rusak duluan sebelum ditonton, gara-gara banyaknya orang yang, waktu itu, ramai-ramai membahas di media sosial dengan segala celoteh dan teori. Kadang hype media sosial membuat kita menonton bukan sebagai manusia penasaran, tapi sebagai konsumen yang sudah dijejali ekspektasi kolektif. Kita menunggu adegan “yang viral”. Menunggu twist terkenal. Menunggu simbol yang katanya genius. Rasanya jadi seperti mengerjakan checklist.

Ironisnya, Get Out sendiri bicara tentang konsumsi. Tentang tubuh manusia yang dijadikan objek keinginan. Tentang bagaimana sesuatu kehilangan kemanusiaannya saat berubah jadi komoditas. Termasuk film.

Sekarang banyak orang pertama kali mengenal film bukan dari poster bioskop atau rekomendasi teman, tapi dari potongan 30 detik TikTok dengan caption “THIS MOVIE WILL BLOW YOUR MIND”. Sensasi menonton jadi berbeda. Kepala terlalu ramai bahkan sebelum lampu bioskop padam.

Saya kadang iri pada penonton tahun 1970-an yang masuk bioskop Alien tanpa tahu chestburster scene akan muncul. Atau orang-orang yang menonton Psycho tanpa spoiler soal Janet Leigh mati di tengah film. Mereka benar-benar mengalami kejutan secara utuh.

Get Out tetap film yang bagus. Tajam, lucu, kejam, terkontrol. Tetapi pengalaman pertama menonton memang rapuh sekali. Sekali bocor oleh hype, meme, ekspektasi internet, rasanya tidak bisa sepenuhnya dikembalikan.

Adegan terakhir ketika Chris mencekik Rose di jalanan malam, sementara lampu mobil mendekat, masih kuat sekali. Wajah Rose berubah total saat sadar permainannya selesai. Tidak ada lagi senyum liberal nan lembut.

Hanya suara napas dan lampu merah-biru memantul di aspal basah.


Related

Entertainment 1638288633759586123

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item