Kisah Pembantaian My Lai dan Pelajaran Pahit tentang Manusia
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/kisah-pembantaian-my-lai-dan-pelajaran.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Hugh Thompson sedang menerbangkan helikopter pengintai ketika ia melihat mayat-mayat warga Vietnam berserakan di sekitar sebuah desa bernama My Lai. Dari udara, ia melihat sesuatu yang tidak cocok dengan gambaran pertempuran yang biasa diceritakan tentara: banyak korban adalah perempuan, anak-anak, dan orang tua, sementara tembakan balasan dari pihak musuh tidak terlihat.
Thompson menurunkan helikopternya untuk memeriksa keadaan. Pada 16 Maret 1968 itu, ia menemukan tentara Amerika sedang membunuh warga sipil yang tidak bersenjata.
Thompson adalah anggota militer Amerika yang bertugas mendukung operasi pasukan darat. Orang-orang yang ia temukan membunuh warga desa adalah rekan satu pihak dalam perang yang sama. Ia tidak datang sebagai musuh mereka. Ia mengenakan seragam yang sama, bekerja untuk militer yang sama, dan seharusnya membantu operasi mereka. Namun, setelah melihat apa yang sedang terjadi, ia mengambil keputusan yang membuatnya berhadapan dengan tentara negaranya sendiri.
Thompson mendaratkan helikopter di antara warga sipil dan tentara yang mengejar mereka. Ia memerintahkan awaknya, termasuk penembak Lawrence Colburn, untuk mengarahkan senjata kepada tentara Amerika jika mereka terus menyerang warga yang hendak diselamatkan. Awak helikopter itu kemudian membantu mengevakuasi sejumlah penduduk yang masih hidup. Tindakan mereka ikut menghentikan pembunuhan yang berlangsung di My Lai.
Catatan sejarah militer Amerika mendokumentasikan peristiwa tersebut, termasuk kenyataan bahwa beberapa tentara yang ditanyai Thompson berdalih bahwa mereka hanya menjalankan perintah.
Kita bisa membaca kisah Thompson sebagai cerita tentang keberanian seorang individu. Itu memang bagian penting dari peristiwa tersebut. Namun, ada bagian lain yang lebih mengganggu: dalam situasi yang sama, ketika berhadapan dengan warga sipil yang tidak bersenjata, sejumlah tentara meneruskan pembunuhan sementara Thompson memilih menghentikannya. Mereka mengenakan seragam yang sama, berada dalam operasi militer yang sama, dan bekerja dalam struktur komando yang sama. Mengapa situasi tersebut tidak menghasilkan keputusan yang sama?
Pembantaian My Lai menewaskan ratusan warga sipil Vietnam. Jumlah pasti korban masih diperdebatkan dalam berbagai catatan, tetapi penyelidikan resmi militer Amerika menyimpulkan bahwa sedikitnya 175 orang dan kemungkinan lebih dari 400 orang terbunuh dalam pembantaian di sejumlah permukiman di kawasan Son My.
Letnan William Calley, yang memimpin satu peleton, kemudian diadili dan dinyatakan bersalah atas pembunuhan warga sipil. Peristiwa itu memperlihatkan kegagalan yang jauh lebih luas daripada tindakan satu orang: kekerasan berlangsung dalam sebuah operasi militer, dilakukan oleh banyak orang, dan pada awalnya dilaporkan dengan cara yang menutupi apa yang sesungguhnya terjadi.
Kalimat “saya hanya menjalankan perintah” memiliki daya tarik khusus bagi orang yang tidak ingin melihat dirinya sebagai pelaku. Kalimat tersebut memindahkan pusat perhatian dari tindakan yang dilakukan ke orang yang menyuruhnya. Pelaku tidak lagi merasa sebagai orang yang memilih, tetapi sebagai bagian dari rantai panjang keputusan yang dimulai di tempat lain. Ia hanya menjalankan satu bagian kecil. Ia tidak merancang operasi, tidak menentukan kebijakan, dan tidak memegang jabatan tertinggi. Semua itu mungkin benar, tetapi tidak menjawab pertanyaan tentang apa yang ia lakukan sendiri.
Kita tidak perlu berada di medan perang untuk mengenali pola tersebut. Seorang pegawai bagian administrasi diminta mengubah laporan agar angka penjualan terlihat memenuhi target. Ia tahu angka yang baru tidak sesuai dengan data. Manajernya mengatakan bahwa perubahan itu sudah dibicarakan dengan direktur dan hanya bersifat sementara. Pegawai itu mengerjakannya karena takut dianggap menghambat tim. Ketika auditor menemukan ketidaksesuaian, ia menjelaskan bahwa dirinya hanya mengikuti instruksi atasan.
Dalam versi yang lebih ringan, seorang guru diminta oleh kepala sekolah untuk menaikkan nilai siswa tertentu agar angka kelulusan sekolah tetap baik. Seorang petugas layanan pelanggan diperintahkan menolak klaim yang sebenarnya layak dibayar karena perusahaan sedang mengurangi pengeluaran. Seorang anggota kelompok percakapan meneruskan kabar palsu tentang orang yang tidak disukainya, lalu berkata bahwa ia hanya membagikan apa yang dikirim orang lain.
Akibat setiap tindakan berbeda jauh dalam skala dan tingkat kerusakannya. Mekanisme pembenarannya memiliki kemiripan: tanggung jawab terasa lebih kecil ketika keputusan dapat dikaitkan dengan seseorang yang lebih berkuasa.
Psikolog Albert Bandura menggunakan istilah moral disengagement untuk menjelaskan proses ketika seseorang menjauhkan tindakan tertentu dari standar moral yang biasanya ia anut. Orang dapat menggunakan bahasa yang memperhalus perbuatan, mengalihkan tanggung jawab kepada atasan, membaginya ke banyak orang, atau mengecilkan penderitaan korban.
Kekerasan bisa disebut “penertiban”; pemalsuan disebut “penyesuaian”; penghinaan disebut “gurauan yang kelewatan”. Perubahan kata-kata itu membantu seseorang melakukan sesuatu tanpa harus menerima gambaran dirinya sebagai orang yang sedang melakukan kesalahan.
Namun, persoalan kepatuhan lebih rumit daripada sekadar orang yang tahu mana yang benar lalu memilih menjadi pengecut. Tekanan dari otoritas dapat sungguh-sungguh membatasi pilihan. Seorang prajurit dalam perang tidak memiliki kebebasan yang sama dengan pegawai yang bisa mengundurkan diri. Orang yang menolak perintah mungkin menghadapi ancaman fisik, hukuman, atau pemecatan. Dalam keadaan represif, tindakan menolak dapat menuntut risiko yang sangat besar. Menilai semua orang dengan ukuran keberanian yang sama akan mengabaikan keadaan nyata yang mereka hadapi.
Meski begitu, tekanan tidak selalu bekerja melalui ancaman. Kadang-kadang ia bekerja melalui keinginan untuk tetap menjadi bagian dari kelompok. Kita ingin dianggap sebagai bawahan yang bisa diandalkan, anggota tim yang tidak merepotkan, atau orang yang memahami keadaan lebih baik daripada mereka yang terus bertanya. Ketika semua orang di sekitar kita menganggap suatu tindakan wajar, keraguan pribadi mulai terasa seperti kekurangan diri. Kita mungkin berpikir bahwa atasan memiliki informasi yang tidak kita ketahui, bahwa rekan-rekan yang lebih senior pasti memahami prosedur, atau bahwa menolak sekarang hanya akan membuat pekerjaan berantakan.
Ada bahaya ketika seseorang mulai menganggap kepatuhan sebagai bukti kebajikan. Ia tidak lagi menilai perintah berdasarkan akibatnya, tetapi berdasarkan siapa yang mengeluarkannya. Jika atasan yang menyuruh, berarti ada alasan. Jika seluruh tim setuju, berarti tindakan itu dapat diterima. Jika prosedur telah ditandatangani, berarti tak seorang pun perlu merasa bersalah. Cara berpikir seperti itu membuat kewenangan tampak memiliki kemampuan untuk mengubah sesuatu yang salah menjadi benar.
Thompson memperlihatkan bahwa kepatuhan tidak pernah menjadi satu-satunya kemungkinan, bahkan ketika orang berada di dalam struktur militer yang kuat. Ia tidak memiliki jabatan untuk mengadili para tentara yang dilihatnya. Ia juga tidak mengendalikan seluruh operasi. Yang ia miliki saat itu hanyalah apa yang dapat dilihatnya dari helikopter, senjata yang dibawa awaknya, dan keputusan untuk menempatkan dirinya di antara warga sipil dan orang-orang yang memburu mereka. Ia mengambil tindakan sebelum seluruh sistem menyatakan bahwa apa yang terjadi memang salah.
Sesudah melaporkan pembantaian itu, Thompson tidak langsung diperlakukan sebagai pahlawan oleh semua orang. Ia menghadapi permusuhan dan tekanan dari sebagian kalangan militer, sementara pengungkapan peristiwa My Lai berkembang melalui laporan, penyelidikan, dan kesaksian yang memerlukan waktu. Awak helikopternya juga mengambil risiko ketika membantu warga sipil. Menolak tindakan yang salah tidak selalu menghasilkan pengakuan atau penghargaan. Kadang-kadang, orang yang menolak justru menjadi orang yang dianggap mengganggu kesepakatan diam-diam dalam kelompoknya.
Catatan terkait: Perang Meletus, Warga Jepang Tiba-tiba Harus Pindah ke India


