Di Oslo, Gedung-gedung Kota Bertetangga dengan Hutan

Di Oslo, Gedung-gedung Kota Bertetangga dengan Hutan
Ilustrasi milik BSM
Kapal feri berangkat dari Rådhusbrygga, hanya beberapa langkah dari pusat Oslo. Tidak lama kemudian gedung-gedung di belakang mulai mengecil. Air fyord terbuka, pulau-pulau rendah muncul, dan dalam hitungan menit seseorang bisa turun di Hovedøya untuk berjalan di antara pepohonan, berenang, atau melihat reruntuhan biara Cistercian yang didirikan pada 1147. 

Tiket yang dipakai sama dengan tiket transportasi umum kota. Tidak perlu menyewa mobil, tidak perlu melakukan perjalanan wisata khusus. Naik kapal, turun di pulau, selesai.

Hal semacam itu cukup untuk mengacaukan definisi tentang sebuah ibu kota. Biasanya kota dibangun dengan cara mengambil ruang dari alam: hutan dibersihkan, sungai diluruskan, pantai ditimbun, jalan dipanjangkan, rumah ditempelkan satu sama lain sampai terbentuk wilayah urban yang semakin sulit dibedakan batasnya. Oslo mengambil arah yang agak lain. Di sebelah selatan terdapat Oslofjord. Dari timur, utara, dan barat, kota dikelilingi Oslomarka, kawasan hutan berbukit yang mencakup sekitar dua pertiga wilayah Oslo. Bahkan pusat geografis kota berada di dalam kawasan hutan tersebut.

Angka dua pertiga itu mengubah peta Oslo secara drastis. Kota yang berpenduduk lebih dari 700.000 orang ternyata tidak seluruhnya berupa kota. Bagian yang kita kenal sebagai kawasan terbangun hanyalah semacam ruang di antara fyord dan hutan. Pemerintah kota di sana menyebut wilayah itu sebagai byggesonen, zona pembangunan, yang terletak di antara Marka dan fyord, dan menjadi tempat sebagian besar penduduk tinggal.

Hasilnya terasa ketika bergerak dari pusat kota menuju Marka. Di banyak ibu kota, perjalanan semacam itu berarti keluar dari kota menuju pinggiran. Di Oslo, seseorang bisa naik metro, turun di stasiun yang masih termasuk jaringan transportasi kota, dan beberapa saat kemudian sudah berada di jalur hutan. Tidak ada ritual meninggalkan peradaban. Tidak ada perjalanan panjang menuju “destinasi alam”. Hanya turun dari kereta dan masuk ke pepohonan.

Nordmarka, Østmarka, dan Lillomarka, membentuk jaringan hutan yang sangat besar dengan ribuan kilometer jalan hutan dan jalur. Orang berjalan, berlari, bersepeda, memetik beri dan jamur, berenang di danau, atau pada musim dingin bermain ski. Beberapa jalur bahkan diterangi lampu. Jalur lampu pertama Oslo dibuka pada 1946, dari Frognerseteren menuju Tryvann, dan sampai sekarang sejumlah jalur hutan diberi penerangan hingga malam.

Detail lampu itu menarik, karena mengandung sesuatu yang agak absurd. Manusia masuk jauh ke hutan, kemudian memasang lampu supaya bisa bermain ski setelah hari gelap. Alam dibiarkan menjadi alam, tetapi tetap diberi jadwal operasional.

Hubungan Oslo dengan hutan memang sudah lama memiliki unsur kebijakan yang sangat sadar. Pemerintah kota membeli properti hutan pertamanya pada 1889. Tujuannya bukan terutama menghasilkan uang dari kayu, tetapi menjamin akses warga terhadap rekreasi dan melindungi sumber air minum kota. Sejak itu, kepemilikan dan perlindungan hutan terus berkembang. 

Survei Marka 2021, yang dikutip pemerintah kota, menunjukkan sekitar 85 persen penduduk Oslo menggunakan Marka setidaknya sekali setahun, dan sekitar 40 persen menggunakannya setidaknya sekali seminggu.

Angka 40 persen seminggu terdengar seperti statistik kecil sampai kita membayangkan konsekuensinya. Puluhan atau ratusan ribu orang hidup dalam kota modern, bekerja di kantor, naik trem, mengurus sekolah dan belanja, lalu secara rutin masuk ke hutan. Bagi mereka, alam bukan kegiatan akhir pekan yang membutuhkan perjalanan keluar kota. Alam masuk ke dalam rutinitas.

Fyord bekerja dengan cara yang berbeda. Dari Aker Brygge dan Rådhusplassen, air hanya beberapa langkah. Kepulauan kecil di Oslofjord bagian dalam mempunyai fungsi yang hampir tidak masuk akal untuk ukuran sebuah ibu kota: tempat berenang, piknik, berjalan, memancing, berkemah, dan berjemur. 

Hovedøya mempunyai reruntuhan biara. Lindøya dipenuhi pondok musim panas kecil berwarna merah, kuning, dan hijau. Langøyene memiliki pantai dan bahkan menjadi satu-satunya pulau di inner Oslofjord yang memungkinkan orang berkemah dengan tenda.

Kapal-kapal yang membawa orang ke sana berangkat dari pusat kota. Tidak ada perubahan dunia yang dramatis. Seorang pekerja bisa selesai bekerja, berjalan menuju dermaga, naik feri, kemudian dua puluh atau tiga puluh menit kemudian duduk di tepi air dengan sepatu masih membawa debu trotoar kota.

Oslo juga mempunyai sejarah panjang memperlakukan tepian air sebagai bagian dari kehidupan kota, bukan halaman belakang yang harus ditutup untuk industri. Proyek Fjord City mengubah kawasan pelabuhan lama secara besar-besaran menjadi ruang kota dengan perumahan, tempat kerja, taman, dan jalur tepi air. Rencana tersebut mencakup sekitar sembilan kilometer promenade dan puluhan hektare ruang publik.

Perubahan itu terasa di kawasan yang sekarang penuh pejalan kaki, restoran, museum, dan bangunan kontemporer. Opera House Oslo bahkan memungkinkan orang berjalan naik ke atapnya. Dari sana, fjord terbentang di depan, kapal bergerak pelan, dan pulau-pulau tampak seperti bagian dari komposisi kota. Pemandangan tersebut terlalu mudah dijadikan foto Instagram, padahal persoalannya lebih menarik dari itu: kota sedang dibangun dengan sengaja menghadap air.

Norwegia memiliki istilah allemannsrett, hak untuk menikmati alam terbuka yang dilindungi oleh Outdoor Recreation Act 1957. Orang boleh berjalan, bermain ski, berenang, berkemah dengan syarat tertentu, dan menikmati lahan yang tidak dibudidayakan meskipun tanah tersebut bukan miliknya. Hak itu membantu menjelaskan mengapa hubungan masyarakat Norwegia dengan alam terasa sangat berbeda dari hubungan penghuni kota dengan taman yang dikelola sebagai fasilitas publik.

Oslo membawa gagasan itu sampai ke batas yang aneh. Hutan di pinggir kota bukan taman raksasa yang ditata supaya terlihat cantik. Di dalam Marka terdapat satwa liar, jalur lama, dan kawasan hutan tua. Rusa, rubah, luwak, burung hantu, burung pelatuk, bahkan elang, dapat ditemukan di sekitar kota. Pemerintah kota mencatat 1.827 habitat bernilai tinggi yang teridentifikasi di wilayah Oslo dalam data ekologinya, termasuk habitat penting di kawasan Oslofjord.

Tentu Oslo bukan kota yang hidup tanpa konflik dengan alam. Penduduk bertambah, kebutuhan perumahan bertambah, jalan dan transportasi harus diperluas, dan lahan di sekitar kota mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Justru karena itu keberadaan Marka terasa semakin penting. Batas hutan tersebut tidak muncul secara ajaib. Ia harus dipertahankan ketika kota punya alasan untuk terus tumbuh.

Hal yang paling ganjil dari Oslo mungkin terletak pada pengalaman sehari-hari. Pagi hari bisa dimulai dengan trem melewati Karl Johans gate, gedung parlemen, toko, kantor, dan arus manusia. Beberapa jam kemudian seseorang bisa mengenakan jaket, naik kereta menuju Sognsvann, dan berdiri di pinggir danau dengan bau pinus memenuhi udara. Pada musim dingin, salju menutupi jalur, dan ski menjadi bagian dari transportasi rekreasi. Pada musim panas, orang berenang.

Kota belum benar-benar berakhir ketika hutan dimulai. Hutan juga belum benar-benar berakhir ketika kota muncul.

Mungkin karena itu Oslo terasa lebih luas daripada ukurannya. Bukan karena gedungnya tinggi atau jalannya panjang. Kota itu menyisakan ruang yang biasanya direbut kota-kota lain: pepohonan, air, pulau, batu, dan tanah yang tidak menghasilkan apa-apa selain tempat orang duduk.

Di sebuah halte metro, seseorang bisa turun dengan tas kerja di bahu. Lima menit kemudian suara roda kereta sudah hilang. Tinggal sepatu menginjak tanah basah, ranting yang patah di bawah kaki, dan bau hutan setelah hujan.

Stasiun berikutnya tetap ada di peta. Hanya saja, untuk sementara, orang tidak perlu menuju ke sana.


Related

Geografi 5543571942098711198

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item