Guru Gembul dan Seni Membuat Orang Merasa Menemukan Sesuatu
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/guru-gembul-dan-seni-membuat-orang.html
![]() |
| Ilustrasi/sketsanusantara.id |
Hal pertama yang patut diperhatikan dari Guru Gembul bukan isi kepalanya, tetapi keberaniannya membuka mulut tentang terlalu banyak hal. Sejarah, pendidikan, agama, filsafat sosial, politik, sains, kebudayaan.
Kanal YouTube-nya dibuat pada 31 Maret 2019 dan, pada September 2026 (ketika catatan ini ditulis), statistik pihak ketiga mencatat sekitar 1,79 juta pelanggan, lebih dari 408 juta penayangan, dan sekitar 1.500 video. Angka sebesar itu membuat istilah “guru yang punya kanal YouTube” terasa terlalu kecil. Ia sudah jadi semacam media pengetahuan personal.
Di situlah saya pikir persoalannya mulai menarik. Akademisi biasanya memperoleh legitimasi dari institusi: universitas, jurnal, gelar, konferensi, daftar pustaka, nama pembimbing, disiplin keilmuan. Guru Gembul memperoleh legitimasi dengan cara yang jauh lebih kasar: penonton menekan tombol play, mendengar dia bicara, mengikuti argumennya beberapa menit, kemudian memutuskan sendiri apakah orang ini tahu apa yang sedang dibicarakannya.
Mekanisme semacam itu sangat demokratis sekaligus sangat berbahaya. Tidak ada peer review yang menahan sebuah klaim sebelum masuk ke telinga penonton. Tidak ada editor jurnal yang menyuruh penulis menghapus tiga paragraf karena sumbernya lemah. Yang ada hanya layar, wajah, suara, dan keyakinan seseorang bahwa argumennya masuk akal.
Guru Gembul tampaknya memahami medium tersebut dengan baik. Ia tidak berbicara seperti dosen yang sedang membaca makalah. Ia berbicara seperti guru yang sedang menjelaskan sesuatu kepada murid yang dianggap mampu mengikuti lompatan berpikirnya. Itu perbedaan kecil, tetapi penting.
Bahasa akademik sering meminta orang menaiki tangga: definisi, teori, metodologi, data, pembahasan, kesimpulan. Bahasa YouTube bisa meloncat dari satu batu ke batu lain selama penonton masih merasa kaki mereka tidak kehilangan pijakan. Guru Gembul sering bekerja dengan cara begitu. Ia mengambil persoalan yang sudah dikenal penonton—sekolah, guru, agama, sejarah, perilaku masyarakat—kemudian menggeser sudut pandangnya sedikit. Cukup sedikit untuk membuat orang berpikir, “Oh, ternyata bisa dilihat dari sini.”
Salah satu tema yang konsisten dalam pembicaraan publiknya adalah pendidikan Indonesia. Dalam sebuah podcast Malaka Project yang kemudian menjadi objek penelitian akademik, kritiknya diarahkan pada manipulasi nilai, ketidakjelasan tujuan pendidikan, dan ketimpangan antara tujuan pendidikan dengan praktik sekolah.
Penelitian Herlambang dan Tutiasri pada 2025 bahkan menganalisis gaya wacananya menggunakan kerangka Teun A. van Dijk dan menemukan penggunaan struktur retoris, idiomatik, serta sintaksis aktif untuk membangun kritik tersebut. Ada sesuatu yang cukup lucu dalam kenyataan bahwa seorang pembicara yang sering mengkritik bahasa pendidikan kemudian jadi objek penelitian akademik mengenai cara ia berbicara.
Kemampuan semacam itu menjelaskan sebagian daya tariknya. Guru Gembul tidak menjual pengetahuan sebagai barang yang harus dikunyah perlahan. Ia menjual sensasi intelektual. Penonton diberi pengalaman bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata mempunyai sejarah, kepentingan, atau asumsi yang tidak pernah mereka periksa. Sekolah tiba-tiba bukan sekadar sekolah. Nilai bukan sekadar nilai. Guru bukan sekadar guru. Agama bukan sekadar kumpulan doktrin. Sejarah bukan sekadar hafalan nama dan tahun.
Ketika teknik itu berhasil, penonton merasa memperoleh sesuatu yang menyenangkan: dunia sehari-hari mendadak jadi lebih rumit.
Guru Gembul memiliki kelebihan yang sering diremehkan. Ia tidak sekadar berpengetahuan luas. Ia juga mampu mentransformasikan pengetahuan kepada orang lain.
Pengetahuan luas tidak otomatis berguna. Orang yang membaca seribu buku bisa saja tidak mampu menjelaskan mengapa harga cabai naik kepada tetangganya. Guru Gembul punya naluri pedagogis untuk menemukan pintu masuk yang dekat dengan pengalaman penonton. Mungkin itu berkaitan dengan identitasnya sebagai guru, bukan hanya sebagai pembuat konten. Ia terbiasa menghadapi orang yang belum tahu. Itu pekerjaan yang berbeda dari berbicara kepada orang-orang yang sudah tahu.
Masalahnya muncul ketika kemampuan menjelaskan mulai bertemu dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Di sinilah dua pengalaman terhadap Guru Gembul dapat muncul sekaligus: “Orang ini membuka wawasan saya,” dan “Orang ini terlalu yakin dengan kesimpulannya.” Keduanya tidak saling membatalkan. Bahkan keduanya mungkin berasal dari sumber yang sama.
Seorang komunikator yang sangat percaya diri membuat argumen terasa utuh. Ia memilih contoh yang tepat, berbicara dengan tempo yang mantap, memberi hubungan sebab-akibat yang mudah diikuti, kemudian membawa penonton ke sebuah kesimpulan. Otak menyukai perjalanan semacam itu. Kita tidak perlu mengerjakan terlalu banyak pekerjaan tambahan. Argumen sudah dipaketkan.
Masalah epistemologisnya sederhana: argumen yang terdengar lengkap belum tentu argumen yang telah diuji dengan lengkap.
Kontroversi yang mengikuti Guru Gembul memperlihatkan sisi itu. Pada 2023, sejumlah aktivis pendidikan melayangkan somasi setelah pernyataannya mengenai kompetensi guru dalam sebuah acara pendidikan; Guru Gembul kemudian menjelaskan bahwa kritiknya ditujukan kepada lembaga pendidikan tenaga kependidikan, dan menganggap pernyataannya disalahpahami.
Pada 2024, debatnya dengan Muhammad Nuruddin, mengenai hubungan kesalehan akidah dan pembuktian ilmiah, juga menimbulkan kritik mengenai penggunaan referensi. Buku yang ditulisnya mengenai tokoh-tokoh berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam pun pernah dikritik karena persoalan referensi dan keterangan gambar.
Saya tidak menganggap kontroversi semacam itu cukup untuk menyimpulkan bahwa pengetahuannya dangkal. Itu justru kesimpulan yang terlalu gampang. Orang yang menghasilkan lebih dari 1.500 video akan membuat klaim yang benar, klaim yang meragukan, klaim yang terlalu disederhanakan, dan sesekali mungkin klaim yang keliru. Persoalannya adalah bagaimana penonton memperlakukan semua itu.
Di sinilah Guru Gembul berbeda dari akademisi formal. Akademisi bisa mengatakan, “Literatur mengenai persoalan ini menunjukkan beberapa posisi.” YouTuber harus membuat penonton tetap menonton. Konflik lebih menarik daripada nuansa. Pernyataan tegas lebih mudah dipotong menjadi klip. Judul “Mengapa Sistem Pendidikan Kita Gagal?” jauh lebih menggigit daripada “Beberapa Masalah Struktural dalam Sistem Pendidikan Indonesia dan Batas Generalisasi dari Data yang Tersedia.”
YouTube menyukai kepastian. Ilmu pengetahuan sering hidup dari ketidakpastian. Guru Gembul bermain di antara keduanya.
Karena itulah saya tidak terlalu tertarik pada pertanyaan apakah Guru Gembul harus diperlakukan sebagai akademisi. Tidak perlu. Ia menjalankan fungsi yang berbeda. Ia lebih dekat dengan tradisi intelektual populer: orang yang membaca banyak hal, mengambil posisi, menyederhanakan, menghubungkan berbagai bidang, kemudian berbicara langsung kepada publik. Tradisi itu punya sejarah panjang sebelum internet. Bedanya, dulu seorang penulis harus menerbitkan buku atau mengisi kolom surat kabar. Sekarang ia cukup menyalakan kamera.
Yang juga patut dicatat adalah skala produksinya. Statistik kanal menunjukkan sekitar 1.500 video. Itu berarti pengetahuan yang ia tampilkan kepada publik tidak lahir dari satu kuliah yang disiapkan berbulan-bulan. Ia bekerja dalam ekonomi produksi yang berbeda: topik baru, video baru, respons terhadap isu baru, kontroversi baru. Pengetahuan berubah menjadi arus.
Saya kira di situlah Guru Gembul paling menarik sekaligus paling rawan. Ia mengajarkan penonton untuk curiga terhadap jawaban yang sudah tersedia, tetapi gaya penyampaiannya sendiri dapat membuat jawaban baru terasa terlalu cepat menjadi pasti. Penonton yang datang untuk belajar sejarah bisa pulang membawa sebuah teori. Penonton yang datang untuk memahami pendidikan bisa pulang dengan pikiran ruwet. Penonton yang datang karena penasaran bisa pulang dengan perasaan bahwa ia telah menemukan sesuatu.
Perasaan terakhir itu sangat kuat.
Mungkin juga itulah alasan seorang guru dengan kanal YouTube bisa mencapai hampir dua juta pelanggan. Orang tidak hanya mencari informasi. Mereka mencari pengalaman ketika sebuah informasi mengubah cara mereka melihat sesuatu. Guru Gembul cukup piawai menciptakan pengalaman tersebut.
Saya kerap menyimak videonya, mendengar suaranya yang terus bergerak dari satu topik ke topik lain, dan tiba-tiba saya sadar bahwa persoalan paling menarik tentang Guru Gembul bukan apakah ia mempunyai terlalu banyak pengetahuan atau terlalu sedikit. Persoalannya adalah bahwa ia telah menemukan bentuk baru otoritas: bukan orang yang berdiri di depan kelas dengan papan tulis, bukan profesor di balik podium, tetapi seseorang di layar yang membuat kita merasa sedang diajak berpikir bersama—meskipun setelah videonya selesai, kita masih harus memeriksa sendiri apakah semua yang barusan kita dengar memang benar.
Pekerjaan terakhir itu tidak bisa diserahkan kepada Guru Gembul.
Kita yang harus membuka buku.
Catatan terkait: Deddy Corbuzier, Close The Door, dan Revolusi YouTube


