Ibnu Sina: Ilmuwan, Dokter, dan Pemikir Terbesar dalam Sejarah

Ilustrasi milik BSM
Seorang remaja berusia tujuh belas tahun berhasil menyembuhkan penguasa paling berkuasa di Asia Tengah. Sebagai hadiah, ia tidak meminta emas, tanah, atau jabatan. Ia meminta akses ke perpustakaan kerajaan.

Pilihan itu terdengar seperti keputusan seorang kutu buku.

Rak-rak kayu penuh manuskrip terbuka di hadapannya. Naskah Yunani, Persia, India, dan Arab, tersusun dalam ruang yang mungkin berbau debu, kulit, tinta, dan sedikit kelembapan. Sebagian besar orang akan melihat tumpukan buku. Abu Ali al-Hasan ibn Abdullah ibn Sina melihat bahan bakar. Dari tempat-tempat seperti itulah lahir salah satu pikiran paling besar dalam sejarah manusia.

Nama yang lebih dikenal dunia adalah Ibnu Sina. Orang Barat mengenalnya sebagai Avicenna. Di banyak buku sejarah sains, ia muncul sebagai dokter besar. Sebutan itu benar, tetapi juga terlalu kecil. Menyebut Ibnu Sina hanya sebagai dokter sama seperti menyebut Leonardo da Vinci sekadar pelukis. Gelarnya meluber ke mana-mana: filsuf, ahli logika, ilmuwan alam, astronom, penyair, negarawan, penulis, dan mesin intelektual yang tampaknya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Ia lahir di Afsyanah, sebuah desa dekat Bukhara, wilayah yang sekarang berada di Uzbekistan. Bukhara pada akhir abad ke-10 bukan kota pinggiran. Kota itu merupakan salah satu pusat intelektual dunia Islam di bawah Dinasti Samaniyah. Pedagang berlalu-lalang membawa sutra, rempah-rempah, kertas, dan berita. Menara-menara masjid berdiri di atas jalan-jalan berdebu. Para ulama berdebat tentang hukum. Para filsuf memperdebatkan Aristoteles. Para dokter membaca Galen. Lingkungan seperti itu dapat mempercepat perkembangan seorang anak berbakat.

Ayahnya, Abdullah, berasal dari Balkh dan bekerja sebagai pejabat administrasi. Rumah keluarga mereka sering menjadi tempat diskusi berbagai gagasan. Ibnu Sina sendiri kemudian menulis autobiografinya, yang dilanjutkan muridnya, Abu Ubayd al-Juzjani. Dari sumber itulah sebagian besar detail hidupnya diketahui.

Ia menghafal Al-Qur’an pada usia muda. Pelajaran sastra Arab, fikih, matematika, dan logika, datang berikutnya. Ketika guru-guru mulai kehabisan materi untuk diajarkan, mereka mendatangkan seorang filsuf bernama Abu Abdullah al-Natili. Al-Natili mengajar logika dan filsafat. Hubungan mereka tidak berlangsung lama. Muridnya berkembang terlalu cepat.

Kisah-kisah tentang kejeniusannya sering terdengar berlebihan sampai kita melihat apa yang benar-benar ia hasilkan. Pada usia sekitar delapan belas tahun, ia telah menguasai hampir seluruh ilmu yang tersedia pada zamannya. Kalimat seperti itu biasanya terdengar sombong. Dalam kasus Ibnu Sina, sulit menemukan bukti yang menyangkalnya.

Salah satu bagian paling manusiawi dalam autobiografinya muncul ketika ia menceritakan perjuangannya memahami karya Aristoteles, khususnya Metafisika. Ia membaca buku tersebut puluhan kali. Empat puluh kali, menurut pengakuannya. Teksnya sampai ia hafal di luar kepala, tetapi maknanya tetap tidak terbuka. Kebuntuan itu berakhir setelah ia menemukan komentar karya filsuf lain, Al-Farabi. Mendadak semuanya menjadi jelas.

Detail kecil seperti itu penting. Orang sering membayangkan para genius bergerak tanpa hambatan. Kenyataannya, Ibnu Sina juga pernah duduk berjam-jam dalam kebingungan, menatap halaman yang sama berulang kali.

Ketika Emir Samaniyah, Nuh ibn Mansur, jatuh sakit, Ibnu Sina dipanggil untuk membantu pengobatan. Penyakitnya tidak diketahui secara pasti. Sang emir pulih. Pintu perpustakaan kerajaan terbuka.

Perpustakaan itu kemudian terbakar beberapa tahun setelahnya. Sebagian orang menuduh Ibnu Sina membakarnya agar tidak ada yang bisa menyamai pengetahuannya. Tuduhan tersebut nyaris pasti fitnah politik. Tapi saya tersenyum saat mengetahui hal itu, karena menarik bahwa bahkan pada usia muda ia sudah memancing kecemburuan sesama ilmuwan yang lebih tua.

Ketika kekuasaan Samaniyah runtuh, dunia tempat Ibnu Sina tumbuh ikut runtuh bersamanya. Masa hidupnya setelah itu lebih menyerupai novel petualangan daripada kisah akademik. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain: Gurganj, Nasa, Merv, Nishapur, Jurjan, Rayy, Hamadan, Isfahan. Kadang sebagai tamu kehormatan. Kadang sebagai buronan. Kadang sebagai pejabat tinggi. Kadang bersembunyi.

Kebanyakan biografi ilmuwan dipenuhi buku. Biografi Ibnu Sina dipenuhi buku sekaligus intrik politik.

Di Hamadan, ia menjadi wazir bagi penguasa Buyid, Shams al-Dawla. Jabatan itu bukan posisi aman. Lawan politik bermunculan. Pemberontakan terjadi. Tentara marah. Ia pernah dipenjara. Ia pernah bersembunyi selama berbulan-bulan di rumah seorang sahabat sambil tetap menulis.

Bayangkan ritme hidup seperti itu. Siang hari mengurus administrasi negara. Malam hari menulis filsafat. Pekan berikutnya menghadapi krisis politik. Bulan berikutnya menyusun ensiklopedia kedokteran.

Telinganya mungkin masih dipenuhi suara perdebatan pejabat dan denting senjata para pengawal ketika ia kembali ke meja kerja, membuka lembaran kosong, lalu menulis tentang jiwa manusia.

Produktivitasnya hampir sulit dipercaya. Daftar karya yang dikaitkan dengannya mencapai lebih dari dua ratus judul, meskipun tidak semuanya bertahan. Dua karya paling berpengaruh adalah Al-Qanun fi al-Tibb (Kanon Kedokteran) dan Kitab al-Shifa.

Nama Kitab al-Shifa sering membingungkan pembaca modern. Judulnya berarti Kitab Penyembuhan, tetapi bukan buku kedokteran. Isinya adalah ensiklopedia filsafat dan ilmu pengetahuan yang sangat besar. Logika, fisika, matematika, metafisika—semuanya masuk ke dalamnya.

Al-Qanun fi al-Tibb berbeda. Itulah karya yang membuat namanya mendominasi sejarah kedokteran selama berabad-abad. Buku tersebut menyusun pengetahuan medis Yunani, Romawi, Persia, India, dan Islam, menjadi sistem yang rapi. Penyakit dijelaskan. Obat diklasifikasikan. Diagnosa dibahas. Metode pengobatan dijelaskan dengan detail luar biasa untuk zamannya.

Ketika universitas-universitas Eropa mulai berkembang berabad-abad kemudian, Canon of Medicine karya Ibnu Sina menjadi buku standar. Mahasiswa kedokteran di Montpellier, Bologna, dan Leuven, mempelajarinya. Nama seorang pria dari Asia Tengah hidup di ruang kuliah Eropa selama hampir enam ratus tahun.

Ilmu kedokterannya memang hebat. Filsafatnya bahkan lebih berpengaruh. Ia mengembangkan sistem filsafat yang mencoba menyatukan Aristoteles dengan tradisi intelektual Islam. Salah satu gagasannya yang paling terkenal adalah pembedaan antara “esensi” dan “eksistensi”. Seekor kuda dapat dibayangkan tanpa harus benar-benar ada. Esensinya berbeda dari keberadaannya. Tuhan, menurut Ibnu Sina, merupakan Wujud Niscaya; keberadaan-Nya tidak bergantung pada apa pun.

Gagasan-gagasan semacam itu kemudian mengguncang dunia Islam dan Kristen. Para teolog mengkritiknya. Para filsuf mengaguminya. Nama-nama besar seperti Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan Thomas Aquinas, harus berurusan dengan warisan intelektual yang ditinggalkannya.

Ibnu Sina sendiri tampaknya tidak terlalu tertarik membangun pagar antar-disiplin ilmu. Pikiran manusia, tubuh manusia, gerak planet, logika, musik, farmakologi, dan metafisika, muncul berdampingan dalam karya-karyanya. Dunia baginya tampak sebagai satu kesatuan besar yang bisa dipelajari dari banyak pintu.

Kehidupan pribadinya jauh lebih berantakan dibanding gambaran seorang filsuf yang tenang. Beberapa sumber menggambarkannya menyukai anggur, musik, pesta, dan kehidupan sosial yang ramai. Musuh-musuhnya menggunakan hal itu untuk menyerangnya. Pengagumnya berusaha mengabaikannya. Sosok yang muncul justru terasa lebih manusia: sangat disiplin dalam berpikir, tidak selalu disiplin dalam mengatur tubuhnya sendiri.

Tubuh itu mulai melemah ketika usianya mendekati akhir empat puluhan. Penyakit usus yang kronis menghantuinya. Ia mencoba mengobati dirinya sendiri. Dosis obat kadang terlalu keras. Kondisinya memburuk.

Pada tahun 1037, dalam perjalanan menuju Hamadan bersama penguasa Isfahan, Ala al-Dawla, kesehatannya runtuh. Ia menyadari kematian mendekat. Harta dibagikan. Pelayan dibebaskan. Kehidupan yang selama puluhan tahun bergerak dengan kecepatan nyaris tak masuk akal mulai berhenti.

Hamadan masih berdiri sampai hari ini. Lalu lintas modern mengalir di sekitarnya. Orang-orang memegang telepon genggam dan berbicara tentang kecerdasan buatan. Di kota yang sama, hampir seribu tahun lalu, seorang pria yang pernah menghafal isi perpustakaan-perpustakaan besar dunia berbaring sakit sambil membawa di kepalanya lebih banyak buku daripada yang sanggup dibaca sebagian besar manusia sepanjang hidup mereka.

Beberapa halaman terakhir mungkin masih tergeletak di dekat tempat tidurnya, penuh koreksi kecil di tepi naskah, kalimat yang belum selesai, dan tinta yang mengering terlalu cepat.


Related

Tokoh 446810957286732664

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item