‘Identity’, Film Thriller-Misteri yang Benar-benar Mengecoh Penonton

‘Identity’, Film Thriller-Misteri yang Benar-benar Mengecoh Penonton
Ilustrasi/roku.com
Hujan deras, motel kumuh di tengah Nevada, neon berkedip merah-biru, mesin es rusak, seorang PSK bernama Paris yang ingin berhenti dari hidup lamanya, sopir limo dengan wajah lelah dimainkan John Cusack, keluarga aneh, polisi, napi, anak kecil. Semua terasa seperti potongan film thriller murahan yang pernah kita lihat seratus kali. Identity sengaja membuat dirinya tampak familier dulu. Film itu seperti penjudi yang sengaja kalah kecil di awal supaya lawannya lengah.

Waktu pertama menonton, saya benar-benar mengira sedang melihat variasi lain dari formula Agatha Christie; orang-orang terjebak di satu tempat, lalu mati satu per satu. Sepuluh orang asing di motel terpencil. Hujan memutus jalan. Tidak ada sinyal. Tidak ada jalan keluar. Bahkan nomor kamar motel itu terasa terlalu sengaja. Semua tamu memiliki tanggal lahir yang jika dijumlahkan menuju angka yang sama. Filmnya menabur petunjuk seperti orang menjatuhkan remah roti.

James Mangold mengarahkan film itu dengan rasa dingin yang aneh. Tidak terlalu bergaya seperti thriller David Fincher, tidak terlalu eksplosif juga. Banyak adegannya justru terasa lembap dan sempit. Aspal depan motel mengilap kena hujan. Lampu vending machine menyala pucat. Ada bunyi petir yang kadang terlalu keras sampai telinga seperti berdenging sedikit kalau menonton malam-malam dengan volume besar.

John Cusack cocok sekali untuk film seperti ini, karena wajahnya membawa rasa capek yang spesifik. Ia bukan tipe aktor yang terlihat heroik penuh otot. Sebagai Ed Dakota, mantan polisi yang kini jadi sopir limo, Cusack tampak seperti pria yang terlalu sering begadang dan mulai kehilangan kesabaran terhadap hidup. Bahkan cara dia memegang senter terasa seperti orang yang malas berada di situ.

Identity sebenarnya bekerja bukan karena plot twist semata. Banyak film punya twist. Sebagian besar gagal karena twist diperlakukan seperti kartu UNO terakhir; kejutan murahan yang dilempar ke muka penonton. Identity lebih licin. Film itu membuat penonton sibuk menyusun teka-teki yang salah.

Orang fokus mencari pembunuhnya. Padahal pertanyaan sebenarnya berbeda.

Film itu dirilis pada 2003, masa ketika Hollywood sedang keranjingan thriller psikologis dengan struktur realitas retak. Fight Club sudah lebih dulu jadi fenomena. The Sixth Sense mengubah cara penonton memandang twist ending. Secret Window, The Machinist, Gothika, semuanya datang dari era ketika identitas manusia mulai diperlakukan seperti ruang gelap yang bisa pecah kapan saja.

Identity mengambil gangguan kepribadian ganda, lalu mengubahnya jadi panggung pembantaian.

Tentu sekarang ada kritik terhadap cara Hollywood memakai Dissociative Identity Disorder sebagai alat horor. Banyak psikolog menganggap representasinya berlebihan dan menyesatkan. Film-film seperti Split atau Identity membuat gangguan mental terasa seperti arena sirkus kekerasan. Kritik itu valid. Tetapi sebagai mesin suspense, Identity bekerja nyaris terlalu baik.

Saya suka bagaimana film itu membuat motel seolah berada di luar dunia nyata. Tidak ada kota jelas di dekatnya. Tidak ada ritme normal kehidupan. Bahkan hujannya terasa tidak natural, seperti hujan mimpi buruk. Karakter-karakternya juga seperti stereotip yang terlalu rapi; artis gagal Caroline Suzanne, polisi Samuel Rhodes, pasangan pengantin baru, ibu yang kasar, bocah pendiam. Waktu menonton ulang, semuanya mulai terasa seperti konstruksi pikiran seseorang yang sedang berusaha mengisi ruang kosong.

Ray Liotta luar biasa di film ini. Senyumnya punya rasa tidak aman. Ia memainkan Samuel Rhodes dengan energi yang membuat penonton terus curiga. Liotta memang punya bakat memainkan pria yang tampak bisa meledak kapan saja. Tatapan matanya seperti orang yang sedang menahan sesuatu di belakang gigi.

Film ini juga pintar memainkan tubuh manusia sebagai petunjuk. Karakter-karakternya tidak terasa sepenuhnya nyata. Kadang dialog mereka terlalu teatrikal. Kadang reaksi emosinya agak meleset dari situasi. Penonton biasanya menganggap itu kelemahan penulisan. Ternyata tidak.

Adegan ketika kepala korban dimasukkan ke mesin pengering laundry motel masih terasa mengganggu. Bukan karena gore berlebihan—film ini sebenarnya cukup hemat darah dibanding slasher modern—tapi karena bunyi mekanisnya. Dentuman logam. Putaran mesin. Ruangan laundry sempit dengan lampu putih dingin. Horor Identity sering datang dari rasa kotor dan pengap.

Film thriller sekarang sering terlalu sibuk menjelaskan dirinya. Identity justru cukup berani membiarkan penonton kebingungan cukup lama. Ada rasa tidak nyaman ketika cerita mulai meloncat ke sidang Malcolm Rivers, terpidana mati yang menjalani evaluasi psikiatris. Untuk beberapa menit, film tampak seperti pindah jalur total. Penonton dipaksa menyesuaikan ulang orientasi mereka.

Saya suka film yang tidak terlalu hormat pada kenyamanan penonton.

Twist-nya memang memukau pertama kali ditonton. Semua karakter motel ternyata representasi kepribadian dalam kepala Malcolm Rivers. Satu demi satu “identitas” dibunuh dalam upaya terapi psikologis, untuk menyisakan persona yang paling tidak berbahaya. Konsepnya terdengar hampir konyol kalau diceritakan ulang dengan datar. Tetapi cara film membangunnya membuat semuanya terasa masuk akal selama dua jam.

Ada momen kecil yang sangat saya suka; ketika Paris, karakter Amanda Peet, berbicara tentang keinginannya membuka kebun jeruk di Florida. Kalimat itu sederhana sekali. Ia ingin hidup biasa. Tidak lagi jadi PSK. Hanya ingin bangun pagi dan mencium bau jeruk.

Film ini penuh karakter yang sebenarnya ingin keluar dari dirinya sendiri.

Amanda Peet memberi rasa manusia yang penting di tengah seluruh kekacauan psikologis film. Wajahnya tampak lelah tapi tetap hangat. Tanpa karakter Paris, Identity mungkin cuma jadi permainan puzzle dingin. Ada kelembutan kecil saat Ed Dakota dan Paris mulai saling percaya di tengah mayat berserakan dan hujan yang tidak berhenti.

Kemudian film itu menampar penonton lagi lewat twist terakhir.

Anak kecil itu. 

Timmy York, bocah dengan wajah kosong dan potongan rambut aneh, ternyata identitas paling berbahaya. Saya masih ingat sensasi pertama melihat adegan kebun jeruk di akhir film. Matahari terang, suasana damai, lalu mayat-mayat mulai ditemukan. Rasanya seperti lantai ditarik mendadak dari bawah kaki.

Yang menarik, Identity tidak terlalu peduli pada realisme psikologis. Film ini bekerja seperti mimpi buruk logika. Bahkan motif angka-angka dan tanggal lahir terasa seperti teka-teki surealis. Banyak orang mengkritik twist-nya karena dianggap “cheating”. Saya justru suka karena film itu cukup nekat untuk menjadi aneh sepenuhnya.

Hollywood modern sering terlalu takut tampak bodoh. Semua harus punya lore rapi, penjelasan ilmiah, cinematic universe. Identity datang dari masa ketika thriller studio besar masih boleh sedikit liar dan melodramatis.

Motel dalam film itu sendiri terasa seperti karakter hidup. Signboard neon “Vacancy” menyala di tengah hujan, kamar-kamar sempit dengan wallpaper kusam, suara TV samar dari balik dinding tipis. Tempat itu tampak seperti lokasi yang benar-benar bisa muncul di pinggir jalan Amerika bagian selatan; sepi, lembap, penuh bau karpet tua dan kopi basi.

Film itu juga membuat hujan terasa melelahkan. Setelah sejam lebih, suara hujan mulai seperti tekanan psikologis. Baju semua karakter basah. Rambut menempel di wajah. Kulit tampak lengket. Tidak ada momen lega.

John Cusack pernah bilang, ia tertarik pada naskah Identity karena twist-nya membuatnya benar-benar bingung saat membaca pertama kali. Itu terasa. Banyak aktor bermain di film twist ending sambil tampak sadar penuh terhadap kejutan akhir. Cusack bermain seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Sekarang internet penuh video “ENDING EXPLAINED”, dan penonton terbiasa mencari teori bahkan sebelum film selesai. Identity datang dari masa ketika orang masih bisa benar-benar terkecoh tanpa spoiler TikTok muncul tiga jam setelah premiere.

Film itu juga punya keberanian kecil yang jarang ada sekarang; ia rela tampak berlebihan. Musik dramatis, hujan nonstop, simbolisme angka, dialog psikolog yang hampir seperti opera murahan. James Mangold belum jadi sutradara prestise seperti ketika membuat Logan atau Ford v Ferrari. Identity terasa seperti film yang dibuat dengan sedikit kenakalan.

Kadang saya rindu thriller yang tidak malu menjadi thriller. Bukan elevated horror. Bukan meditasi trauma berkedok genre. Bukan film yang takut memberi hiburan karena terlalu sibuk ingin dianggap serius.

Identity hanya ingin membuat penonton tenggelam dua jam dalam paranoia dan kebingungan, lalu meninggalkan penonton dengan rasa ditipu yang justru memuaskan.

Adegan terakhir Timmy berjalan kecil di kebun jeruk masih terasa jahat sekali. Matahari cerah. Langit biru. Musik tenang.

Anak itu membawa sekop.


Related

Entertainment 6041284819407028275

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item