Kehidupan yang Datang dari Masa Lalu: Catatan dari Fez, Maroko

Kehidupan yang Datang dari Masa Lalu: Catatan dari Fez, Maroko
Ilustrasi milik BSM
Seekor keledai membawa karung melewati gang yang begitu sempit, sampai dua orang harus menempel ke dinding untuk memberinya jalan. Dari sebuah pintu terbuka keluar aroma mint, suara logam dipukul, dan teriakan pedagang yang bercampur dengan langkah kaki wisatawan. Kamera-kamera segera terangkat.

Bagi pengunjung, adegan itu hampir terlalu sempurna.

Keledai, pengrajin, gang batu, pintu kayu, toko kecil, suara pasar—semuanya tampak seperti potongan Fez yang berhasil lolos dari abad pertengahan dan entah bagaimana masih bekerja sampai sekarang. National Geographic pernah menyebut medina Fez sebagai living, working city: kota yang benar-benar hidup dan bekerja, bukan ruang yang dipertahankan terutama untuk wisatawan. Justru kehidupan sehari-hari itulah yang dianggap memikat.

Pemerintah pariwisata Maroko memakai bahasa yang sedikit berbeda. Situs resminya menyebut Fez sebagai “open-air museum”, lalu berbicara tentang ancestral art of living yang masih diekspresikan di jalan-jalan medina. Para pengrajin tembaga, penenun, penyamak kulit, pembuat keramik, dan berbagai pekerja tradisional, ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya yang dapat dilihat pengunjung.

Dua deskripsi itu sebenarnya tidak bertentangan. Justru dari situlah masalah kecil yang menarik muncul.

Sebuah kota bisa menjadi museum bagi mata orang luar dan tetap menjadi tempat kerja bagi orang yang tinggal di dalamnya.

Fez el-Bali, bagian tua medina Fez, memang luar biasa tua. Bersama Fez el-Jdid, kawasan itu membentuk medina yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 1981. National Geographic mencatat bahwa kawasan itu masih dihuni sekitar 200.000 orang, dan jalan-jalannya tetap menjadi bagian dari kehidupan perkotaan sehari-hari.

Angka penduduk itu sendiri seharusnya cukup untuk mengganggu imajinasi wisatawan tentang “kota masa lalu”.

Museum biasanya memiliki jam buka. Rumah tidak. Museum memiliki benda yang diberi label. Rumah memiliki cucian yang belum kering.

Museum mengharapkan pengunjung berjalan pelan. Jalan medina harus dilewati orang yang sedang membawa barang.

Wisatawan dapat berhenti di tengah gang untuk memotret pintu berukir karena pintu itu terlihat indah. Orang yang tinggal di belakang pintu tersebut mungkin sedang mencoba membawa belanjaan ke dapur. Dua aktivitas itu memakai ruang yang sama dan tidak memiliki hubungan apa pun.

Manon Istasse, dalam penelitian etnografinya tentang kehidupan sehari-hari di medina Fez, justru memulai dari rumah. Bukunya, Living in a World Heritage Site, memperlihatkan bagaimana penghuni memperbaiki, merenovasi, menghias, menggunakan, dan merawat rumah mereka dengan pertimbangan yang jauh lebih intim daripada bahasa konservasi warisan budaya. Rumah bagi penghuni dapat menjadi tempat tinggal, sumber kenangan, ruang keluarga, benda yang perlu diperbaiki, bahkan sumber konflik; status “heritage” muncul kemudian, melalui perhatian dan proses sosial tertentu.

Itu penting karena wisatawan cenderung melihat sesuatu setelah ia diberi nilai. Pintu tua jadi menarik setelah disebut bersejarah. Rumah menjadi indah setelah disebut tradisional. Gang menjadi pengalaman setelah disebut autentik. Pengrajin menjadi “penjaga tradisi” setelah pekerjaannya masuk ke dalam brosur.

Orang yang tinggal di sana tidak perlu melakukan semua itu untuk memahami rumahnya. Ia hanya perlu memperbaiki atap.

Penelitian Istasse mengenai suasana medina juga memperlihatkan perbedaan yang lebih halus. Wisatawan dan penduduk Maroko dapat berada dalam lingkungan fisik yang sama, tetapi merasakan suasana yang berbeda. Wisatawan asing menghargai medieval ambiance, sementara penduduk Maroko sendiri merupakan bagian aktif dari kehidupan sosial yang menghasilkan suasana tersebut; pada saat yang sama, mereka kadang merasa ruang itu semakin diarahkan untuk kepentingan wisatawan.

Itu bagian yang saya suka dari Fez, karena persoalannya tidak membutuhkan penjahat.

Wisatawan tidak harus dianggap bodoh karena menikmati gang tua. Penduduk juga tidak harus dianggap sebagai korban yang diam-diam membenci turisme. Mereka hanya memiliki hubungan berbeda dengan tempat yang sama.

Seorang turis mendengar suara palu dari toko pengrajin tembaga dan merasa sedang menyaksikan tradisi yang bertahan ratusan tahun. Pengrajin itu mungkin memang menyukai pekerjaannya, mungkin bangga dengan keterampilannya, tetapi ia juga sedang menyelesaikan pesanan yang harus dikirim sore nanti.

Kita sering mengubah pekerjaan orang lain menjadi pertunjukan, karena kita tidak perlu memikirkan bagian ekonominya.

Pengrajin yang memukul lembaran logam terdengar seperti “tradisi”. Pengrajin yang memukul lembaran logam karena harus membayar sewa terdengar seperti sesuatu yang terlalu biasa untuk masuk brosur wisata. Padahal keduanya adalah orang yang sama.

Persoalan rumah di Fez bahkan lebih keras daripada sekadar perbedaan cara melihat. Studi tentang regenerasi medina yang terbit pada 2024 mencatat bahwa populasi Fez al-Bali turun lebih dari 25 persen antara 2004 dan 2014, sementara banyak rumah tradisional mengalami persoalan pemeliharaan. Penelitian itu juga menggambarkan perubahan medina akibat migrasi, tekanan ekonomi, pariwisata, dan perubahan fungsi bangunan. Lebih dari 3.000 rumah disebut berada dalam ancaman keruntuhan, menurut data lembaga rehabilitasi medina yang dikutip penelitian tersebut.

Jadi ketika wisatawan berkata, “Semoga Fez tetap seperti ini,” kalimat itu memiliki masalah kecil.

Tetap seperti apa? Tetap tua bagi siapa? Rumah yang retak mungkin sangat fotogenik. Bagi orang yang tinggal di dalamnya, retak berarti biaya perbaikan.

Guesthouse memperlihatkan persoalan yang lebih rumit lagi. Istasse mencatat bahwa sebagian rumah di medina diubah menjadi akomodasi wisata, dan perubahan itu membawa pertukaran yang tidak selalu sederhana: uang dan hubungan sosial dengan tamu dapat datang bersamaan dengan berkurangnya privasi. Dalam penelitiannya, pemilik penginapan menceritakan pekerjaan tambahan seperti menyambut tamu, membeli bahan makanan, mengurus administrasi, dan menjawab email; seorang pemilik bernama Youssef bahkan pindah dari rumah keluarganya setelah bangunan tersebut berubah fungsi menjadi akomodasi wisata karena persoalan privasi dan keintiman.

Wisatawan datang mencari “kehidupan lokal”. Pemilik rumah mungkin harus keluar dari rumahnya agar kehidupan itu bisa dijual.

Fez jadi menarik karena tidak pernah sepenuhnya bisa dipisahkan dari kontradiksi tersebut. Kota itu terlalu hidup untuk menjadi museum yang rapi, tetapi kehidupan sehari-harinya terus-menerus dipilih, dikemas, dan dijelaskan sebagai warisan. Pengunjung ingin melihat bagaimana orang membuat roti, berbelanja di souk, membawa barang dengan keledai, bekerja sebagai pengrajin, duduk minum teh. Penduduk tentu melakukan semua itu. Mereka tidak sedang memainkan kembali kehidupan leluhur untuk penonton.

Di situlah wisatawan kadang mengalami kekeliruan kecil yang sangat manusiawi: mengira sesuatu terasa autentik karena ia tampak tua.

Padahal yang membuat Fez terasa hidup justru bagian-bagian yang tidak dirancang untuk mengesankan siapa pun. Seorang anak yang berlari terlalu cepat di gang. Kardus yang menghalangi jalan. Motor yang lewat dan membuat orang menyingkir. Bau kulit dari penyamakan. Pedagang yang sedang kesal kepada pemasok. Seorang perempuan membawa kantong belanja melewati kelompok turis yang sedang memotret dinding.

Bagi wisatawan, gang itu adalah bagian dari pengalaman Fez. Bagi perempuan itu, gang tersebut mungkin cuma jalan pulang.

Seorang pemandu mengangkat tangannya agar rombongan berhenti. Seekor keledai datang dari tikungan membawa karung yang tampak terlalu berat. Wisatawan mundur beberapa langkah, memberi ruang, beberapa kamera kembali terangkat.

Keledai terus maju.

Pemandu meminta mereka menepi.

Pemilik karung bahkan tidak menoleh ke kamera.


Related

Geografi 5422749997422971199

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item