James Doohan, Kehilangan Jari dan Diselamatkan Kotak Rokok

James Doohan, Kehilangan Jari dan Diselamatkan Kotak Rokok
Ilustrasi milik BSM
James Doohan kehilangan jari tengah tangan kanannya, karena peluru sesama tentara. Bukan peluru Jerman. Bukan tembakan dari bunker yang baru saja mereka rebut. Pelurunya berasal dari senapan Bren milik seorang sentry (penjaga/pengawal) Kanada yang gugup pada malam pertama setelah pendaratan di Normandia. Empat peluru masuk ke kakinya, satu mengenai dada, satu lagi menembus jari tengah tangan kanannya. Peluru di dada berhenti pada sebuah kotak rokok perak pemberian saudaranya.

Kelak jutaan orang akan mengenalnya sebagai Montgomery Scott (Scotty), kepala teknisi USS Enterprise, lelaki Skotlandia yang panik setiap kali kapten meminta mesin bekerja lebih cepat. Tangan kanan Scotty hampir selalu ditempatkan dengan hati-hati di luar bingkai kamera. Penonton yang tidak tahu ceritanya mungkin mengira itu sekadar kebiasaan akting. Jari itu hilang di Normandia.

Doohan lahir di Vancouver pada 3 Maret 1920 dan tumbuh di Sarnia, Ontario. Ketika Perang Dunia II pecah, ia bergabung dengan Royal Canadian Artillery. Ia baru berusia sembilan belas tahun. Karier militernya berkembang cepat; ia mendapat komisi sebagai letnan dan akhirnya bertugas dalam 13th Field Regiment, 3rd Canadian Infantry Division. Inggris menjadi tempat pelatihannya selama bertahun-tahun sebelum invasi Eropa benar-benar dimulai.

Penantiannya panjang. Doohan mengingat masa sebelum pertempuran dengan nada yang hampir mengejek: pub, fish and chips, bir Inggris yang hangat. Bertahun-tahun latihan untuk satu hari yang belum diketahui kapan datangnya. Bagi prajurit muda, perang kadang terasa seperti pekerjaan yang terlalu lama tidak dimulai.

Kemudian 6 Juni 1944 datang. Doohan mendarat di Juno Beach dalam gelombang kedua bersama pasukan Kanada. Lautnya kasar. Ia mengatakan bahwa mereka lebih takut tenggelam dibanding pada orang Jerman. Detail itu terasa sangat manusiawi karena perang dari dalam kapal pendarat tidak selalu tampak seperti sejarah besar. Air laut masuk, kapal bergerak keras, orang-orang berpegangan pada apa pun yang bisa dipegang, sementara pantai di depan dipenuhi rintangan dan tembakan.

Unit artileri Doohan bergerak bersama pasukan yang menyerbu ke daratan. Ia dan anak buahnya bergerak melalui wilayah yang masih berbahaya. Dalam salah satu kisah yang kemudian jadi bagian dari legenda hidupnya, Doohan menembak dua penembak jitu sebelum membawa anak buahnya menuju posisi yang lebih tinggi melalui sebuah ladang ranjau antitank. Berat tubuh manusia tidak selalu cukup untuk memicu ranjau yang dirancang menghancurkan kendaraan. Mereka berhasil melewatinya dan mengambil posisi bertahan untuk malam hari.

Hari pertama invasi berakhir, tetapi Doohan belum selesai.

Malam di Normandia punya jenis ketakutannya sendiri. Pasukan Sekutu telah berhasil mendarat, tetapi garis depan masih kacau. Banyak unit bercampur. Pos komando berpindah. Tentara yang baru tiba belum selalu mengenal wajah orang-orang di sekitarnya. Dalam gelap, seorang prajurit yang muncul dari arah yang salah dapat tampak seperti musuh.

Sekitar pukul 23.30, Doohan sedang berpindah antara pos komando. Sentry Kanada melihatnya. Bren berbunyi. Enam peluru. Empat mengenai kaki. Satu menghantam dada. Satu menembus jari tengah tangan kanan.

Doohan jatuh. Peluru di dadanya seharusnya bisa membunuhnya, tetapi kotak rokok perak menyerap hantaman tersebut. Jari tengahnya kemudian harus diamputasi. Ia selamat, meskipun cerita itu memiliki ironi yang nyaris kasar: setelah berhasil melewati invasi, ranjau, penembak jitu, dan tembakan Jerman, ia hampir mati ditembak orang dari pihaknya sendiri.

Tubuhnya dikirim kembali ke Inggris untuk pemulihan. Di sana kisah Doohan berubah arah.

Luka itu bisa saja menjadi akhir hubungan militernya dengan medan operasi. Ia justru masuk pelatihan Air Observation Pilot. Setelah lulus, ia menerbangkan Taylorcraft Auster Mark V bersama 666 Squadron, RCAF, sebagai perwira artileri. Tugasnya terdengar lebih tenang jika dibaca cepat: mengamati posisi musuh dari udara, membantu menentukan sasaran, memberikan informasi yang memungkinkan artileri menembak dengan lebih tepat.

Pekerjaan sebenarnya sangat berbahaya.

Pesawat Auster kecil, lambat, dan tidak dibuat untuk bertempur seperti pesawat tempur. Ia digunakan untuk terbang rendah di atas wilayah musuh, mencari posisi, mengamati gerakan, dan membantu artileri dari udara. Seorang pilot seperti Doohan bukan sekadar membawa pesawat dari titik A ke titik B. Ia harus melihat tanah di bawahnya dengan cukup teliti untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, sementara dirinya sendiri berada di dalam mesin kecil yang jauh dari kata aman.

Ironinya makin aneh: lelaki yang kehilangan jari akibat tembakan teman sendiri kemudian menjadi penerbang. 

Ia bahkan mendapat julukan yang tidak terlalu resmi sebagai “craziest pilot in the Canadian Air Force”. Pada 1945, di Salisbury Plain dekat Andover, ia menerbangkan Auster di antara tiang-tiang telegraf hanya untuk membuktikan bahwa manuver tersebut bisa dilakukan. Ia mendapat teguran serius. Itu bagian dari Doohan yang sering terasa terlalu cocok untuk seorang aktor.

Ia memang sudah memiliki kecenderungan untuk memainkan karakter. Ia pandai meniru aksen. Ketika ditempatkan di Inggris selama perang, ia bertemu seorang prajurit dari Aberdeen dan mempelajari cara bicaranya. Bertahun-tahun kemudian, ketika Gene Roddenberry mencari aktor untuk memerankan seorang insinyur di Star Trek, Doohan memberikan beberapa pilihan aksen. Ia memilih aksen Aberdeen untuk Montgomery Scott.

Jadi, suara Scotty yang kita kenal dari televisi sebagian lahir dari seorang prajurit yang ditemuinya di Inggris ketika Doohan masih mengenakan seragam perang.

Kemudian datang Hollywood. Star Trek mulai tayang pada 1966. Doohan menjadi Scotty, teknisi kepala USS Enterprise. Karakter itu terkenal karena kemampuannya memperbaiki mesin dalam keadaan yang seolah sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Kapten Kirk meminta tenaga lebih besar. Scotty mengeluh, menghitung waktu, kemudian entah bagaimana mesin kembali bekerja. Tangan kanan Scotty hampir selalu menyembunyikan bagian yang hilang.

Doohan sendiri jarang menjadikan jarinya sebagai pusat cerita. Ia tahu penonton mengenal wajah dan suaranya, bukan tubuh yang dibawanya keluar dari perang. Pada beberapa kesempatan, ia menggunakan sarung tangan atau posisi tangan tertentu agar amputasi pada jarinya tidak terlalu terlihat di layar. Kadang kamera menangkapnya juga.

Saya suka bagian itu karena tidak heroik. Jari yang hilang tidak berubah menjadi simbol besar. Tidak ada musik latar. Tidak ada pidato. Dalam sebagian besar adegan Star Trek, tangan itu hanya lewat sebentar di depan kamera, memegang sesuatu, menunjuk panel, bergerak di atas konsol.

Penonton melihat Scotty. Doohan membawa Normandia bersamanya. Ia membawa juga seorang sentry Kanada yang gugup, enam peluru, sebuah kotak rokok perak yang penyok, ranjau antitank, laut dingin Juno, dan Auster kecil yang diterbangkannya setelah sembuh. Semua itu tidak tampak ketika ia berdiri di ruang mesin Enterprise.

Pada 2005, menjelang akhir hidupnya, Doohan menghadiri acara terakhir yang menghubungkannya dengan para penggemar. Ia sudah tua dan tubuhnya telah jauh berubah dari lelaki yang turun dari kapal pendarat di Juno Beach. Ia meninggal pada 20 Juli tahun itu di Redmond, Washington.

Foto-foto Scotty yang paling terkenal hampir selalu memperlihatkan wajahnya. Kalau tangan kanannya terlihat, sering kali hanya sebentar. Empat peluru di kaki. Satu di dada. Satu mengambil jari.

Kemudian kamera berpindah ke panel mesin, dan Scotty kembali bekerja.


Related

Sejarah 3519643152648290320

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item