Membaca Ta’wilat Ahl al-Sunnah, Kitab Abu Mansur al-Maturidi

Membaca Ta’wilat Ahl al-Sunnah, Kitab Abu Mansur al-Maturidi
Ilustrasi milik BSM
Samarkand tidak berada di pinggiran dunia intelektual Islam hanya karena letaknya jauh dari Makkah, Madinah, atau Baghdad. Kota di kawasan Transoksiana, wilayah Asia Tengah yang kini termasuk Uzbekistan, menjadi tempat berkembangnya tradisi keilmuan yang melahirkan Abu Mansur al-Maturidi. Namanya kemudian melekat pada salah satu mazhab teologi Sunni terbesar, tetapi warisannya tidak terbatas pada buku-buku akidah. Ia juga menulis tafsir Al-Qur’an, Ta’wilat Ahl al-Sunnah, sebuah karya yang memperlihatkan bagaimana perdebatan tentang Tuhan, manusia, dan kemampuan akal, ikut menentukan cara seorang Muslim memahami wahyu.

Kenyataan bahwa seorang teolog menulis tafsir mungkin terdengar biasa. Bagi Al-Maturidi, pekerjaan itu memiliki konsekuensi yang lebih besar. 

Ketika seorang penafsir menjelaskan ayat tentang kehendak Tuhan, misalnya, ia harus berhadapan dengan pertanyaan apakah manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab atas tindakannya. Ketika membahas keadilan Tuhan, ia perlu menjelaskan apa yang membuat suatu tindakan adil dan apakah akal manusia mampu mengenali keadilan sebelum datangnya penjelasan wahyu. Jawaban atas persoalan tersebut akan mempengaruhi cara ayat-ayat lain dibaca. Akidah dan tafsir bertemu di halaman yang sama.

Al-Maturidi hidup pada abad kesembilan dan awal abad kesepuluh, dan wafat di Samarkand pada 944. Ia dikenal sebagai tokoh penting tradisi Hanafi di Asia Tengah. Karya teologisnya, Kitab al-Tawhid, membahas dasar-dasar keyakinan dan menjadi rujukan utama untuk memahami pemikirannya. Ta’wilat Ahl al-Sunnah memperlihatkan bagaimana ia mengerjakan persoalan yang sejenis melalui penafsiran Al-Qur’an secara berurutan, dari surah Al-Fatihah hingga Al-Nas. 

Metodologi tafsir Al-Maturidi memadukan sumber naql—seperti Al-Qur’an dan riwayat—dengan ‘aql, yakni penalaran. Ia juga cenderung mengikuti mazhab Hanafi ketika membahas ayat-ayat hukum. 

Perpaduan itu perlu dipahami secara tepat. Akal bagi Al-Maturidi bukan izin untuk menafsirkan ayat sesuka hati. Ia bekerja dalam batas-batas tertentu: bahasa ayat harus diperhatikan, riwayat perlu dipertimbangkan, dan penafsiran harus dapat dipertahankan secara masuk akal. Riwayat tidak selalu mengakhiri pembahasan, sementara penalaran tidak otomatis mengalahkan riwayat. Ketika beberapa kemungkinan makna muncul, penafsir perlu menerangkan mengapa ia memilih satu kemungkinan daripada yang lain.

Penelitian tentang epistemologi tafsir Al-Maturidi membedakan istilah tafsir dan ta’wil dalam cara kerjanya. Tafsir lebih erat dikaitkan dengan penjelasan yang bersandar pada riwayat, sedangkan ta’wil memberi ruang bagi ijtihad untuk menentukan kemungkinan makna. 

Pembedaan itu tidak berarti setiap tafsir harus bebas dari penalaran atau setiap ta’wil boleh dilepaskan dari sumber agama. Justru pembedaan tersebut memperlihatkan kesadaran bahwa tidak semua penjelasan memiliki tingkat kepastian yang sama. Sebuah riwayat yang menerangkan latar turunnya ayat, misalnya, tidak identik dengan kesimpulan seorang penafsir tentang makna yang paling tepat bagi ayat tersebut. 

Perbedaan tingkat kepastian semacam itu penting, karena penafsiran sering melibatkan lebih dari satu kemungkinan. Kata-kata memiliki cakupan makna; konteks membatasi sebagian kemungkinan; ayat lain dapat memberi petunjuk tambahan. Penafsir yang memilih satu makna sedang mengambil keputusan intelektual. Ia mungkin benar, tetapi keputusan itu tetap perlu dilihat bersama alasan yang mendukungnya.

Al-Maturidi juga hidup dalam masa ketika kaum Muslim memperdebatkan posisi akal dalam persoalan agama. Mu'tazilah, misalnya, menempatkan penalaran sebagai unsur penting dalam pembahasan tentang keesaan dan keadilan Tuhan. Para teolog yang kemudian dikenal sebagai Sunni mengembangkan jawaban mereka sendiri, dan tidak semuanya sepakat mengenai cara menghubungkan akal dengan wahyu. 

Di tengah persimpangan itu, Al-Maturidi merumuskan posisi yang mempertahankan otoritas wahyu sekaligus memberikan peran nyata kepada akal. Ia tidak perlu menerima seluruh kesimpulan Mu'tazilah untuk mengakui bahwa argumen rasional merupakan bagian penting dari pembelaan keyakinan.

Perselisihan tentang keadilan Tuhan memperlihatkan taruhannya. Jika Tuhan memerintahkan manusia melakukan sesuatu, dapatkah manusia memahami bahwa perintah itu baik melalui akalnya sendiri? Apakah akal dapat mengenali keburukan suatu tindakan, atau penilaian moral sepenuhnya bergantung pada perintah dan larangan Tuhan? 

Pertanyaan seperti itu bukan latihan logika tanpa akibat. Jawabannya mempengaruhi pemahaman tentang tanggung jawab manusia, makna pahala dan hukuman, serta alasan manusia harus menaati perintah agama. Dalam kerangka Al-Maturidi, kemampuan akal memiliki arti penting, meskipun akal manusia tidak dianggap mengetahui segala sesuatu dan tetap memerlukan bimbingan wahyu.

Kita perlu berhati-hati agar tidak mengubah Al-Maturidi menjadi pemikir modern yang kebetulan hidup seribu tahun lebih awal. Ia tidak sedang mengusulkan kebebasan berpikir tanpa batas atau menjadikan akal sebagai hakim mutlak atas agama. Ia seorang teolog yang ingin mempertahankan kebenaran Islam menurut kerangka keyakinannya. Justru karena itu, karyanya layak dibaca: ia memperlihatkan bahwa usaha mempertahankan keyakinan dapat melibatkan argumentasi, perbandingan pendapat, dan pemeriksaan terhadap kemungkinan makna. Pembaca tidak harus menyetujui setiap hasil penafsirannya untuk mengakui keseriusan pekerjaan intelektual tersebut.

Hal lain yang membuat Ta’wilat Ahl al-Sunnah penting adalah hubungannya dengan keragaman internal Sunni. Nama Abu al-Hasan al-Asy'ari lebih sering muncul bersama Al-Maturidi ketika orang membicarakan dua mazhab utama teologi Sunni. Keduanya kemudian menjadi rujukan besar dalam sejarah pemikiran Sunni, tetapi kemunculan mereka tidak berarti semua persoalan telah diselesaikan dengan satu rumusan yang sama. 

Tradisi Maturidi berkembang kuat di lingkungan Hanafi, sementara tradisi Asy'ari menempuh sejarah dan jaringan keilmuan yang berbeda. Ada wilayah kesepakatan, tetapi ada pula perbedaan penekanan dalam cara menjelaskan hubungan Tuhan, manusia, dan akal.

Karena itu, menyebut sebuah pendapat sebagai “pendapat Sunni” kadang belum cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang dipertahankan. Pendapat siapa? Berdasarkan metode apa? Dengan pengertian tertentu tentang akal, riwayat, atau bahasa? Label mazhab berguna untuk memetakan tradisi, tetapi ia tidak dapat menggantikan pembacaan terhadap argumen. Bahkan di dalam satu tradisi yang sama, orang dapat berbeda dalam cara menimbang bukti dan menetapkan makna.

Al-Maturidi sendiri tidak selalu tenggelam dalam analisis tata bahasa yang panjang. Ia menggabungkan pendekatan riwayat dan penalaran, relatif jarang menggunakan kisah-kisah Israiliyyat, serta mengambil sikap yang tidak selalu mengikuti salah satu pihak ketika memaparkan perbedaan pendapat teologis. Ciri-ciri itu membantu membedakan kitabnya dari tafsir yang lebih banyak mengumpulkan riwayat atau tafsir yang menonjolkan pembahasan bahasa. 

Membaca Ta’wilat Ahl al-Sunnah juga berarti menerima bahwa penafsiran memiliki sejarah perdebatan. Makna sebuah ayat tidak selalu tampil sebagai jawaban tunggal yang langsung diterima semua ulama. Kadang-kadang, perbedaan muncul karena mereka memulai dari pertanyaan yang berbeda; kadang karena mereka menerima prinsip teologis yang berbeda; kadang pula karena mereka memberi bobot berbeda kepada bukti yang sama. 

Mengetahui hal itu tidak membuat semua penafsiran sama benarnya. Sebaliknya, kita memperoleh dasar yang lebih baik untuk menilai mengapa sebuah penafsiran dipilih dan apa yang harus diperiksa sebelum menerimanya.

Sebuah rak kitab tafsir dapat memuat Al-Tabari, Al-Zamakhshari, Al-Razi, Ibn Kathir, dan Al-Maturidi. Judul-judul itu sama-sama menunjuk pada usaha memahami Al-Qur’an, tetapi setiap kitab membawa kebiasaan intelektual dan masalah yang berbeda. Ta’wilat Ahl al-Sunnah mengingatkan bahwa tradisi Sunni tidak lahir dari keseragaman metode. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan itu bekerja, kita harus membuka kitabnya, mengikuti penjelasannya, dan berhenti pada bagian ketika al-Maturidi menolak satu kemungkinan makna lalu mengajukan kemungkinan lain. Di situlah pembaca harus memutuskan apakah alasan yang ia berikan benar-benar cukup.


Related

Keislaman 7780858539126592262

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item