Kerusakan Alam di Antara Kepentingan dan Kerakusan Manusia
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/kerusakan-alam-di-antara-kepentingan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Orangutan tidak memahami dokumen izin pembukaan lahan. Ia tidak tahu harga minyak sawit di pasar internasional, tidak pernah mendengar istilah pertumbuhan ekonomi, dan tidak bisa mengajukan keberatan ketika pepohonan tempatnya mencari buah dirobohkan. Ia hanya tahu bahwa hutan yang dikenalnya mulai menghilang. Suatu hari, ia turun ke tanah, mendekati kebun, mencari makanan.
Manusia menyebutnya hama, menganggapnya pengganggu, kadang menembaknya. Padahal manusia yang lebih dulu datang ke rumahnya dengan gergaji mesin.
Di Kalimantan, nasib orangutan memperlihatkan betapa ganjilnya cara kita membagi dunia menjadi milik manusia dan milik makhluk lain. Hutan dibuka untuk kayu, pertambangan, jalan, dan perkebunan. Ketika habitat terpecah, orangutan kehilangan sumber makanan dan jalur untuk berpindah.
WWF mencatat bahwa populasi orangutan Kalimantan telah menurun lebih dari separuh dalam enam puluh tahun terakhir, sementara habitatnya menyusut setidaknya 55 persen dalam dua puluh tahun. Angka-angka itu terdengar besar, tetapi angka tidak menunjukkan seekor induk yang harus membawa anaknya melewati tanah terbuka, atau pohon buah yang ditebang sebelum musim berbuah.
Kita terbiasa membicarakan kerusakan hutan dengan bahasa yang membuatnya terdengar seperti urusan administrasi: hektare, konsesi, produksi, komoditas. Bahasa itu berguna bagi laporan dan rapat. Ia juga punya kemampuan mengerikan untuk menghilangkan penghuni dari tempat yang sedang kita hitung. Hutan menjadi luas lahan. Sungai menjadi sumber daya air. Hewan menjadi populasi. Setelah semua nama itu diganti dengan istilah yang bisa dimasukkan ke tabel, kehilangan tampak seperti persoalan pengelolaan.
Orangutan yang memasuki kebun tidak membaca tabel.
Kita punya alasan untuk menebang pohon. Kita punya alasan untuk hampir semua hal yang kita lakukan terhadap makhluk hidup. Kayu diperlukan untuk bangunan; lahan dibutuhkan untuk pangan; pertambangan menyediakan bahan bagi telepon genggam, kendaraan, dan jaringan listrik. Kehidupan modern memang menggunakan alam dalam skala yang tidak bisa dihindari begitu saja. Persoalannya muncul ketika kebutuhan manusia dianggap cukup untuk mengakhiri semua perdebatan, seolah-olah makhluk lain tidak memiliki kepentingan apa pun selama kepentingan kita sudah diberi nama yang masuk akal.
Seekor gajah Sumatra yang merusak tanaman warga dapat berakhir dibunuh. Seekor harimau yang masuk ke pemukiman bisa menjadi berita, dibicarakan sebagai ancaman, dan segera dinilai berdasarkan seberapa berbahaya ia bagi manusia. Kita jarang memulai cerita dari sisi sebaliknya: hutan yang terpotong jalan, kebun yang menggantikan habitat, wilayah jelajah yang menyempit.
Ketika hewan memasuki ruang manusia, kehadirannya disebut konflik. Ketika manusia memasuki ruang hewan, kita menyebutnya pembangunan.
Saya tidak mengatakan bahwa petani yang kehilangan panen harus membiarkan keluarganya kelaparan demi menyelamatkan gajah. Orang yang tinggal di sekitar hutan juga manusia, dan mereka sering menanggung biaya dari keputusan ekonomi yang dibuat jauh dari tempat tinggal mereka. Justru di situ persoalannya jadi lebih buruk.
Kerusakan lingkungan diputuskan melalui sistem yang luas, keuntungannya dapat mengalir ke perusahaan dan konsumen di banyak tempat, sementara akibatnya jatuh kepada petani, masyarakat adat, dan hewan yang tidak pernah ikut mengambil keputusan.
Manusia senang menyebut dirinya makhluk bermoral. Kita membangun rumah ibadah, menyusun hukum, mengajarkan belas kasih kepada anak-anak, dan memperdebatkan apakah seseorang sudah menjalani kehidupan yang baik. Namun, batas moral kita sering berhenti tepat sebelum kepentingan kita sendiri mulai terganggu.
Kita bisa tersentuh melihat anak kucing terjebak di selokan, tetapi tidak pernah memikirkan kehidupan ayam di balik dinding peternakan tempat daging makan siang kita berasal. Kita bisa marah melihat video penyiksaan anjing, lalu membeli produk yang rantai produksinya merusak habitat satwa lain. Jarak membuat kita melupakan. Hewan yang menderita di depan mata terasa nyata; hewan yang penderitaannya tersembunyi di balik kemasan jauh lebih mudah diabaikan.
Di sanalah agama semestinya menegur kemanusiaan.
Berbagai tradisi agama mengajarkan bahwa manusia mempunyai kewajiban terhadap kehidupan. Dalam Islam, kisah seseorang yang diampuni karena memberi minum anjing yang kehausan menunjukkan bahwa belas kasih terhadap hewan bukan perkara remeh. Dalam tradisi Buddhis, prinsip tidak menyakiti makhluk hidup menempati tempat penting. Banyak tradisi lain juga mengenal gagasan bahwa manusia tidak berdiri di luar tatanan kehidupan, bebas memperlakukan segala sesuatu sesuka hati.
Tentu saja ajaran-ajaran itu memiliki sejarah, penafsiran, dan praktik yang beragam. Tidak adil menyederhanakan seluruh agama menjadi satu doktrin lingkungan.
Yang layak dipersoalkan adalah jarak antara ajaran dan kebiasaan. Seseorang bisa berdoa dengan khusyuk, menghindari makanan tertentu karena alasan agama, dan tetap tidak merasa perlu mengetahui dari mana bahan makanannya berasal atau bagaimana limbah usahanya mempengaruhi sungai.
Kesalehan dapat menjadi sangat teliti ketika menyangkut aturan yang diwariskan, tapi mendadak tidak punya bahasa ketika kerusakan dilakukan demi keuntungan. Mungkin karena pohon tidak datang ke masjid untuk berdoa, sungai tidak berdiri di depan pintu rumah ibadah, dan orangutan tidak memiliki suara dalam rapat pengurus mushala.
Tumbuhan pun tidak perlu bergerak untuk mengalami kerusakan. Ketika hutan dibakar atau tanah tercemar, kehidupan yang bergantung padanya ikut terganggu: jamur, serangga, burung, mikroorganisme, dan tumbuhan yang mungkin tidak pernah kita kenali namanya.
Kita sering memandang pohon hanya sebagai benda yang berdiri di suatu tempat, padahal pohon merupakan bagian dari hubungan yang jauh lebih rumit. Orangutan, misalnya, menyebarkan biji dari buah yang dimakannya dan membantu regenerasi hutan. Ketika orangutan menghilang, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya satu spesies. Hubungan-hubungan yang menopang hutan ikut berubah.
Laut menghadirkan persoalan yang sama, hanya lebih mudah disembunyikan karena sebagian besar kerusakannya berlangsung jauh dari mata kita. Pada April 2024, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat mengonfirmasi peristiwa pemutihan karang global keempat yang tercatat. Tekanan panas laut telah meluas di kawasan Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Ketika suhu air terlalu tinggi, karang mengalami stres dan dapat mengeluarkan alga yang hidup bersimbiosis dengannya, sehingga warnanya memudar.
Karang yang memutih belum tentu langsung mati, tetapi pemutihan berkepanjangan dapat menghancurkan ekosistem yang menjadi tempat hidup banyak organisme laut. Pada 2025, peristiwa tersebut masih berkembang; NOAA kemudian memperkirakan bahwa peristiwa global itu kemungkinan berakhir pada pertengahan tahun tersebut, setelah dampak tekanan panas menjangkau sekitar 84 persen wilayah terumbu karang dunia.
Persentase itu sulit dibayangkan sebagai sesuatu yang hidup. Cobalah menyelam di terumbu karang yang sehat: ikan-ikan kecil melesat di antara cabang karang, gerakan air menggeser bayangan di dasar laut, dan setiap celah tampak dihuni sesuatu.
Ekosistem semacam itu bukan dekorasi untuk wisatawan. Ia menopang kehidupan laut, membantu melindungi pesisir, dan menyediakan sumber penghidupan bagi banyak masyarakat. Ketika rusak, manusia ikut menanggung akibatnya. Tetapi saya curiga ada sesuatu yang kurang dalam cara kita membela alam hanya dengan menyebut manfaatnya bagi manusia. Seolah-olah terumbu karang baru layak dipertahankan setelah kita membuktikan kegunaannya.
Apakah seekor burung harus menghasilkan sesuatu bagi manusia agar berhak hidup? Apakah pohon tua harus menyimpan nilai ekonomi tertentu sebelum kita memutuskan untuk tidak menebangnya?
Pertanyaan semacam itu terdengar tidak praktis dalam rapat yang membahas investasi. Saya tahu. Anggaran harus dihitung, pekerjaan harus tersedia, dan orang membutuhkan penghasilan. Namun, ketika setiap makhluk harus membuktikan kegunaannya kepada manusia, ukuran moral kita sudah menyempit sebelum perdebatan dimulai.
Masalahnya bukan bahwa manusia memiliki kebutuhan. Hewan juga mencari makanan, melindungi anaknya, berebut wilayah, dan kadang membunuh hewan lain untuk bertahan hidup. Perbedaan pentingnya terletak pada jangkauan kuasa kita. Manusia dapat menebang hutan dalam hitungan bulan, mengubah aliran sungai, memproduksi racun dalam jumlah besar, dan mengangkut hasil eksploitasi melintasi benua.
Kita mampu mengetahui akibat perbuatan itu, menghitung kerugiannya, mendengar peringatan para ilmuwan, kemudian tetap melanjutkannya karena keuntungan tahun ini lebih mudah diukur daripada kerusakan puluhan tahun mendatang.
Kita bahkan bisa menyaksikan kehancuran itu lewat layar sambil duduk di ruang berpendingin udara. Rekaman hutan terbakar muncul di antara iklan mobil baru dan promosi liburan. Kita menghela napas, membagikan tautannya, mungkin menyumbang sedikit uang. Beberapa menit kemudian, layar berganti. Di luar jendela, mesin kendaraan menyala, truk mengangkut barang, dan kehidupan berjalan dengan cara yang sama seperti kemarin.
Orangutan yang kehilangan hutan tidak akan memahami mengapa manusia menganggap semua itu sebagai kemajuan. Ia mungkin menemukan pohon yang tersisa, memanjatnya, lalu bertahan di sana selama masih tersedia makanan. Di bawahnya, tanah telah dibuka, batang-batang kayu menumpuk, dan sebuah kendaraan bergerak mendekat dengan suara mesin yang semakin keras.
Catatan terkait: Orangutan Disuruh Pergi dari Hutan, Padahal Mereka Orangutan


