Kisah Witold Urbanowicz, dari Langit Inggris ke Langit China

Kisah Witold Urbanowicz, dari Langit Inggris ke Langit China
Ilustrasi/kards.com
Seorang pilot yang sudah bertahun-tahun memburu pesawat Jerman seharusnya tidak perlu mencari perang baru. Witold Urbanowicz justru melakukan sebaliknya. Ketika banyak penerbang mulai ditempatkan di kantor, sekolah, atau pekerjaan staf, ia merasa perang dari balik meja tidak cukup. Ia kemudian menyeberangi separuh dunia untuk masuk ke medan tempur lain, naik ke kokpit Curtiss P-40 di China, dan memburu pesawat Jepang. Perjalanan itu sendiri sudah terdengar tidak masuk akal.

Urbanowicz adalah salah satu ace (pilot tempur) Polandia paling terkenal dalam Pertempuran Britania. Ia menerbangkan Hawker Hurricane bersama No. 303 Polish Squadron, dan kemudian memimpin 1st Polish Fighter Wing. Dalam Pertempuran Britania, ia memperoleh 15 kemenangan terkonfirmasi dan satu kemungkinan, sebuah catatan yang menempatkannya di antara pilot tempur Sekutu paling sukses dalam kampanye tersebut. RAF Museum menyebutnya sebagai salah satu ace utama Polandia yang kemudian mengalami perpindahan medan perang yang nyaris absurd: dari Inggris ke China.

Polandia sendiri sudah hilang dari peta ketika Urbanowicz bertempur untuk Inggris.

Ia lahir pada 1908 di Olszanka, dekat Augustów, dan lulus dari sekolah penerbangan militer di Dęblin pada 1932. Ketika Jerman dan Uni Soviet menghancurkan Polandia pada 1939, ia melarikan diri dan akhirnya sampai ke Inggris. Di sana para pilot Polandia membawa pengalaman yang tidak dimiliki banyak pilot Inggris: mereka baru saja kalah dalam kampanye pertahanan negara mereka sendiri. Mereka tahu seperti apa rasanya melihat lapangan terbang diserang, kota dibom, dan negara runtuh di bawah invasi.

Urbanowicz membawa pengalaman itu ke Inggris, kemudian masuk ke 303 Squadron, salah satu unit Polandia paling terkenal di RAF. Hurricane yang diterbangkannya memiliki delapan senapan mesin Browning .303 inci. Di kokpit, semua teori tentang perang udara menyusut menjadi jarak, kecepatan, bahan bakar, arah matahari, dan titik hitam yang mendadak berubah menjadi pesawat musuh. Ia ternyata sangat bagus dalam pekerjaan tersebut.

Pada 1941, setelah masa komando di 1st Polish Fighter Wing, kariernya bergerak ke arah yang menurut standar birokrasi militer lebih masuk akal: Amerika Serikat, sekolah penerbangan, kemudian posisi atase udara di Washington. Ia pernah menghabiskan waktu mempelajari pesawat Amerika seperti P-38, P-39, dan P-40. Secara profesional, penugasan diplomatik itu penting. Secara pribadi, tampaknya ia membencinya.

Ada persoalan kecil: Urbanowicz masih ingin terbang.

Pada 1943, ia bertemu Jenderal Claire Lee Chennault, komandan 14th Air Force Amerika Serikat di China. Chennault sebelumnya terkenal karena memimpin American Volunteer Group, “Flying Tigers”, dan kemudian memimpin kekuatan udara Amerika yang beroperasi dari pangkalan-pangkalan Cina. Urbanowicz meminta izin untuk bergabung sementara sebagai pilot sukarelawan. Chennault menyetujuinya.

Perjalanan menuju China bukan penerbangan pendek. Urbanowicz berangkat dengan pesawat angkut DC-4, melewati Portoriko, Guyana, Brasil, Pulau Ascension, Afrika Utara, India, kemudian menuju China. Jalur tersebut memperlihatkan skala perang yang berbeda dari perang di Eropa. Ia tidak sekadar berpindah pangkalan. Ia menyeberangi dunia untuk mencari sebuah front yang bahkan tidak berada di bawah komando Polandia.

Ia tiba di China pada Oktober 1943.

Mula-mula Urbanowicz ditempatkan pada 26th Fighter Squadron di Kunming, kemudian dipindahkan ke 75th Fighter Squadron dari 23rd Fighter Group. Unit tersebut sering disebut sebagai bagian dari “Flying Tigers”, meskipun secara organisasi Flying Tigers yang asli sudah berubah menjadi struktur USAAF. 23rd Fighter Group berada di bawah 14th Air Force Chennault.

Pesawatnya sekarang bukan Hurricane. Ia menerbangkan P-40 Warhawk.

P-40 mempunyai reputasi yang agak keras kepala. Ia bukan pesawat paling cepat atau paling lincah di langit, terutama dibandingkan beberapa pesawat Jepang. Kekuatan utamanya terletak pada konstruksi yang kokoh dan persenjataan yang berat. 

Di China, pesawat itu juga harus beroperasi dalam kondisi logistik yang menyebalkan: bahan bakar terbatas, suku cadang sulit, dan suplai harus melewati jalur “Hump” dari India ke Cina. 14th Air Force bahkan harus mengatur operasi dengan mempertimbangkan keterbatasan tonase yang bisa diangkut melalui rute pegunungan tersebut. Urbanowicz tidak memperoleh kemewahan perang udara Eropa.

Di Inggris, ia terbang di atas wilayah yang memiliki sistem radar, jaringan pangkalan RAF, kontrol darat, dan konsentrasi pesawat yang besar. Di China, perang udara berlangsung di atas wilayah yang sangat luas, dengan pangkalan yang terpencar dan dukungan logistik yang jauh lebih tipis. Banyak misi 14th Air Force juga berkaitan dengan serangan terhadap sasaran darat dan pengawalan bomber, bukan duel pesawat tempur yang rapi.

Ia tetap mencari pesawat Jepang.

Pada 11 Desember 1943, Urbanowicz terlibat dalam pertempuran udara yang kemudian menjadi episode paling terkenal dari karier singkatnya di China. Ia menghadapi enam pesawat tempur Jepang dan menembak jatuh dua. 

Catatan awal dan beberapa kisah populer menyebut lawannya sebagai Mitsubishi Zero. Penelitian kemudian mengidentifikasi pesawat tersebut sebagai Nakajima Ki-44 Shōki atau “Tojo” dari 85th Sentai. Detail identifikasi itu kecil, tetapi penting. Ingatan perang sering mengubah semua pesawat tempur Jepang menjadi “Zero”, padahal langit Asia memiliki banyak jenis pesawat dengan karakter yang berbeda.

Dua pesawat jatuh.

P-40 Urbanowicz tidak ditembak jatuh.

Beberapa sumber bahkan menekankan bahwa selama perang, pesawatnya tidak pernah terkena tembakan musuh. Klaim seperti itu perlu dibaca hati-hati karena catatan operasional perang tidak selalu sempurna, tetapi reputasi Urbanowicz sebagai pilot yang sangat agresif dan sangat beruntung memang konsisten dalam berbagai sumber.

Ia tidak lama berada di China. Dari 19 Oktober sampai 15 Desember 1943, ia melakukan sekitar belasan penerbangan tempur dan operasional. Pada 15 Desember, ia melakukan misi terakhirnya di China. Beberapa minggu kemudian ia kembali ke Inggris. Seluruh petualangan Asia itu berlangsung begitu singkat sampai terasa seperti episode yang diselipkan ke dalam biografi seorang pilot Eropa.

Namun angka-angka kemenangan Urbanowicz di Asia kemudian menjadi rumit. Catatan resmi umumnya mengakui dua kemenangan udara yang diperolehnya di China. Ia sendiri kemudian mengklaim jumlah yang jauh lebih besar. 

Dalam kesaksiannya setelah perang, Urbanowicz menyatakan bahwa ia memperoleh 11 kemenangan di Timur Jauh, termasuk pesawat yang dihancurkan di darat ketika menyerang pangkalan Jepang. Sejumlah sejarawan juga menerima angka yang lebih tinggi, sementara daftar kemenangan resmi Polandia biasanya tetap menggunakan angka 17 kemenangan terkonfirmasi sepanjang perang dan satu kemungkinan, yang terutama berasal dari pertempuran di Eropa.

Perbedaan tersebut justru membuat kisahnya lebih menarik. Urbanowicz bukan tokoh yang harus dipoles menjadi legenda sempurna. Ia adalah pilot yang sangat percaya pada kemampuannya sendiri, pernah berselisih dengan struktur militer Polandia, tidak menyukai pekerjaan meja, dan bersedia meminta komandan Amerika untuk memberinya kesempatan bertempur di negara yang bahkan tidak punya hubungan langsung dengan angkatan udara Polandia.

Ia datang sebagai orang asing. Para pilot Amerika memanggilnya Witek.

Chennault menerimanya sebagai semacam tamu tempur yang aneh: seorang ace Polandia dari Battle of Britain yang tiba di China untuk menembak Jepang. Dalam sebuah publikasi tahun 1945, Urbanowicz digambarkan sebagai pilot tamu yang telah ikut mengawal misi pengeboman 14th Air Force dan sangat ingin memperoleh kesempatan bertempur langsung melawan Jepang.

Ada ironi kecil dalam perjalanan tersebut. Ia telah bertempur untuk sebuah negara yang bukan tanah airnya sendiri, karena Polandia sudah diduduki. Kemudian ia pergi ke China untuk bertempur bagi Amerika, melawan Jepang, dalam perang yang mempunyai sejarah, geografi, dan logika yang sama sekali berbeda. Identitas militernya jadi semakin aneh semakin jauh ia terbang dari Polandia.

Setelah kembali ke Inggris, Urbanowicz kembali ke pekerjaan diplomatik. Pada 1944 ia kembali menjadi atase udara di Washington. Perang berakhir, tetapi masalahnya belum selesai. Ia pulang ke Polandia pada 1946 dan berhadapan dengan negara komunis baru yang mencurigai orang seperti dirinya. Ia ditangkap beberapa kali oleh aparat keamanan sebagai tersangka mata-mata. Setelah dibebaskan, ia pergi ke Amerika Serikat dan akhirnya menetap di New York. Ia bekerja untuk American Airlines, Eastern Airlines, dan Republic Aviation sebelum pensiun pada 1973.

Ia baru kembali ke Polandia setelah runtuhnya komunisme.

Pada 1995, di negara yang telah berubah total dari Polandia yang ia tinggalkan pada 1939, Urbanowicz menerima kenaikan pangkat menjadi jenderal. Ia meninggal di New York pada 17 Agustus 1996.

Foto-fotonya dari China memperlihatkan seorang pria dengan seragam Amerika, berdiri di dekat P-40 dengan wajah yang tampak tenang. Di belakangnya mungkin ada teknisi, mungkin ada landasan tanah, mungkin pegunungan China. Tidak ada yang memberi tahu betapa aneh perjalanan menuju tempat itu: seorang pilot Polandia yang pernah mengejar Messerschmitt di langit Inggris kini duduk di pesawat Amerika, menunggu pesawat Jepang muncul di atas China.

Pada 11 Desember, enam pesawat muncul. Urbanowicz menarik P-40-nya masuk ke pertempuran. Dua pesawat Jepang tidak pulang.

Beberapa menit kemudian langit kembali kosong, dan seorang Polandia di China masih memiliki bahan bakar untuk mendarat.


Related

Tokoh 8003693123224129108

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item