Rio de Janeiro, Kota dengan Keindahan yang Menyebalkan

Rio de Janeiro, Kota dengan Keindahan yang Menyebalkan
Ilustrasi milik BSM
Rio de Janeiro punya masalah yang agak menyebalkan bagi siapa pun yang ingin membuatnya sederhana. Kota itu terlalu indah untuk disebut sekadar kota besar, tetapi terlalu penuh kontradiksi untuk dijadikan kartu pos tanpa catatan kaki. 

Dari Copacabana, laut terbentang biru di bawah garis pegunungan. Pão de Açúcar menjulang dari teluk. Corcovado dengan patung Cristo Redentor berdiri di atas kota. Hutan Tijuca turun dari lereng gunung, sementara gedung-gedung putih memenuhi bidang sempit di antara gunung dan laut. UNESCO bahkan memasukkan lanskap Rio sebagai Warisan Dunia karena hubungan antara alam, tata kota, dan budaya yang terbentuk di ruang yang sangat terbatas itu.

Kamera biasanya berhenti di sana. Masalahnya, Rio terus bergerak setelah kamera dimatikan.

Kota itu memang dibentuk oleh geografi yang nyaris tidak masuk akal. Jalur datarnya sempit, terjepit antara Guanabara Bay dan Samudra Atlantik, sementara bukit dan pegunungan masuk jauh ke dalam wilayah perkotaan. Puncak tertinggi massif Tijuca mencapai sekitar 1.021 meter. Pão de Açúcar, Corcovado, Dois Irmãos, Pedra da Gávea, Urca, Leme—nama-nama itu bukan dekorasi yang kebetulan diletakkan di belakang kota. Mereka ikut menentukan tempat manusia bisa membangun rumah, jalan, taman, kawasan elite, dan permukiman padat. Bahkan Copacabana, yang tampak begitu lapang dari foto, sebenarnya adalah sebidang kota yang sangat padat di antara laut dan lereng.

Karena itulah Rio mempunyai kualitas visual yang agak kejam. Kemiskinan pun bisa muncul di tempat yang sangat fotogenik.

Rocinha merupakan contoh yang sulit diabaikan. Dalam Sensus 2022, IBGE mencatat Rocinha sebagai favela atau komunitas urban dengan jumlah penduduk terbesar di Brasil, 72.021 orang. Pemerintah kota menempatkan Rocinha bersama Vidigal, Gávea, São Conrado, dan kawasan Zona Sul lain, dalam wilayah administratif yang sama. Jalan dan terowongan menghubungkan tempat-tempat tersebut; kehidupan sehari-hari bahkan memakai jalur yang sama.

Dari apartemen mahal di São Conrado, lereng Rocinha terlihat. Dari Rocinha, lingkungan yang sama terlihat dari arah sebaliknya. Jarak fisiknya pendek. Perbedaan harga tanah, kualitas hunian, akses, keamanan, dan kesempatan hidup, bisa terasa jauh lebih panjang.

Rio membuat ketimpangan sulit disembunyikan karena topografinya sendiri menaruhnya di depan mata. Di kota lain, kawasan kaya dan miskin bisa dipisahkan oleh jalan lingkar, kawasan industri, atau beberapa kilometer bangunan yang monoton. Di Rio, sebuah bukit dapat menjadi batas yang sangat tipis. Vidigal berdiri di lereng dengan pemandangan ke laut. Rocinha menempel pada kawasan São Conrado. Dari tempat tertentu, seseorang bisa melihat samudra, hotel, apartemen, pepohonan, dan atap rumah padat, dalam satu sapuan mata. Pemandangan yang sama bisa menghasilkan rasa bangga bagi seseorang dan rasa tidak adil bagi orang lain.

Istilah favela sering diperlakukan sebagai sinonim kemiskinan, seolah-olah seluruh kehidupan di dalamnya bisa diringkas menjadi kriminalitas dan rumah yang berdempetan. Itu malas. Rocinha memiliki perdagangan, sekolah, layanan kesehatan, transportasi, organisasi lokal, restoran, bengkel, salon, dan ribuan kehidupan yang berjalan seperti kehidupan di lingkungan lain. Dokumen tata ruang Pemerintah Kota Rio bahkan mencatat Rocinha berkembang menjadi salah satu favela terbesar di kota dengan perdagangan dan jasa yang signifikan.

Orang-orang yang tinggal di sana tidak bangun setiap pagi untuk menjadi simbol ketimpangan sosial. Mereka bangun untuk bekerja.

Rio juga punya sejarah yang jauh lebih gelap daripada gambar matahari terbenam di Ipanema.

Di kawasan pelabuhan, Cais do Valongo menyimpan jejak sejarah itu. Dermaga batu tersebut dibangun mulai tahun 1811 sebagai tempat pendaratan orang-orang Afrika yang diperbudak. UNESCO memperkirakan sekitar 900.000 orang Afrika yang diperbudak masuk ke Amerika Selatan melalui Valongo. Situs itu baru ditemukan kembali melalui penggalian arkeologis pada 2011 dan kemudian ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada 2017.

Batu-batunya tidak spektakuler. Tidak ada patung raksasa yang bisa menyaingi Cristo Redentor. Justru karena itu tempat tersebut terasa mengganggu. Rio yang hari ini menjual pantai, samba dan matahari, juga menyimpan salah satu titik kedatangan terbesar manusia yang dipaksa masuk ke dunia perbudakan.

Sejarah Afro-Brasil itu kemudian muncul dalam bentuk yang sangat berbeda di kehidupan kota. Carnaval tidak lahir sebagai pertunjukan wisata yang tiba-tiba ditemukan industri pariwisata. Sekolah-sekolah samba, blocos, musik, tarian, kostum, dan kehidupan jalanan, membentuk bagian penting dari kebudayaan Rio. Sambódromo di Marquês de Sapucaí dirancang Oscar Niemeyer dan dibuka pada 1984; lintasan paradenya sepanjang 700 meter. Pemerintah kota menyebut tempat itu sebagai panggung utama parade sekolah samba, sementara Carnaval jalanan menyebar ke berbagai bagian kota melalui ratusan blok.

Niemeyer mungkin terdengar seperti nama yang terlalu serius untuk pesta. Di Rio, arsitektur dan pesta memang bisa bertemu tanpa meminta izin satu sama lain.

Pada malam parade, tubuh kota berubah. Musik tidak lagi terdengar sebagai latar. Drum dari bateria bisa terasa di dada. Lampu menyapu kostum, bulu, kepala raksasa, kereta alegoris. Puluhan ribu orang memenuhi Sambódromo. Pemerintah kota pernah mencatat sekitar 70.000 penonton per hari untuk parade di Sapucaí, sementara jutaan orang mengikuti blok-blok jalanan di berbagai penjuru kota.

Kota yang pada siang hari penuh persoalan transportasi, kekerasan, ketimpangan, dan kemacetan, mendadak menjadi mesin pertunjukan raksasa. Anehnya, dua keadaan itu tidak saling membatalkan.

Pantai Rio juga bukan sekadar garis pasir untuk berjemur. Copacabana, Ipanema, dan Leblon, adalah ruang sosial. Orang berlari, bermain sepak bola, menjual makanan, berpacaran, berolahraga, mengobrol, memandangi laut, atau hanya duduk tanpa tujuan jelas. Burle Marx ikut membentuk lanskap pesisir kota, terutama kawasan Flamengo dan Copacabana. UNESCO mencatat desain lanskap tersebut sebagai bagian penting dari warisan budaya Rio.

Di tempat seperti itu, kelas sosial bisa terlihat melalui pakaian, tubuh, bahasa, jenis olahraga, harga makanan, sampai cara seseorang menempati ruang publik.

Pemandangan Rio sering membuat orang lupa bahwa keindahan tidak pernah netral. Gunung memberi bentuk yang luar biasa pada kota, tetapi juga membatasi tanah yang bisa dihuni. Laut membuat kota terkenal, tetapi pantai yang sama menjadi ruang tempat perbedaan sosial terlihat sangat dekat. Carnaval menciptakan kegembiraan yang luar biasa, sekaligus tumbuh dari sejarah panjang budaya Afro-Brasil yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perbudakan. Favela menghasilkan musik, makanan, bisnis dan komunitas, sementara nama favela sendiri sering dipakai dari luar untuk menyederhanakan manusia yang tinggal di sana.

Maka foto Rio yang paling jujur mungkin justru foto yang terlalu penuh untuk menjadi kartu pos: Cristo Redentor kecil di kejauhan, gedung-gedung putih, laut, bukit hijau, kabel listrik, rumah-rumah rapat di lereng, jalan yang macet, dan seseorang yang sedang menjemur pakaian di balkon. Semuanya masuk ke dalam bingkai tanpa meminta satu sama lain untuk terlihat cocok.

Dari pantai, Rio tampak seperti kota yang sudah selesai dibuat. Naik sedikit ke lereng, melihat atap-atap rumah, tangga sempit, dinding yang dicat ulang, suara televisi dari rumah tetangga, motor yang lewat, pemandangan laut yang masih kelihatan di sela bangunan. Kota itu belum selesai. Mungkin memang tidak pernah.


Related

Geografi 8931294654173086413

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item