Smartphone Diramalkan Akan Punah Pada Tahun 2030

Smartphone Diramalkan Akan Punah Pada Tahun 2030
Ilustrasi milik BSM
Prediksi tentang 2030 sering terdengar seperti brosur pameran teknologi: kacamata pintar, chip di tubuh, mobil otonom, AI yang bekerja sendiri, rumah yang memahami penghuninya. Sebagian akan meleset. Sebagian lain mungkin datang lebih cepat daripada yang kita kira. Yang membuat 2030 terasa berbeda sekarang adalah jaraknya sudah cukup dekat untuk dihitung dengan jari, tetapi masih cukup jauh untuk menampung banyak khayalan.

Empat tahun bukan waktu yang panjang bagi teknologi.

Pada 2022, Pekka Lundmark, CEO Nokia, berbicara di World Economic Forum di Davos, mengenai masa depan jaringan 6G. Ia memperkirakan 6G mulai hadir secara komersial sekitar 2030 dan mengatakan bahwa pada saat itu smartphone seperti yang kita kenal sekarang tidak lagi menjadi antarmuka yang paling umum. Ia menyebut kemungkinan perangkat yang dikenakan pada wajah, seperti kacamata pintar, serta teknologi yang pada akhirnya tertanam langsung pada tubuh manusia.

Kalimat Lundmark kemudian dipotong menjadi judul yang lebih menyeramkan: smartphone akan punah pada 2030. Padahal ia tidak benar-benar mengatakan bahwa semua ponsel akan lenyap pada malam pergantian tahun 2029. Ia berbicara tentang perubahan antarmuka. Perbedaannya kecil secara bahasa, besar secara makna. Televisi tidak hilang ketika YouTube muncul. Komputer tidak lenyap ketika smartphone populer. Teknologi lama sering tetap hidup sambil kehilangan posisi sebagai pusat perhatian.

Maka persoalannya bukan apakah iPhone atau Android masih bisa ditemukan pada 2030. Sangat mungkin masih. Pertanyaannya adalah apakah kita masih akan menganggap sebuah benda berukuran sekitar enam inci sebagai pintu utama menuju dunia digital.

Saat ini, hampir semua aktivitas digital kita masih melewati benda yang sama. Kita bangun dan mencarinya. Kita memeriksa notifikasi. Membuka WhatsApp. Membaca berita. Memesan makanan. Memotret. Membayar. Mencari alamat. Menonton video. Memeriksa rekening. Mengirim dokumen. Bahkan ketika sedang berbicara dengan orang yang duduk dua meter di depan kita, benda itu kadang tetap berada di tangan.

Kita menyebutnya smartphone seolah-olah kecerdasannya berada di dalam benda tersebut. Padahal sebagian besar pengalaman digital kita sebenarnya terjadi di luar benda itu: di server, jaringan, pusat data, sistem pembayaran, aplikasi, dan sekarang model AI. Ponsel selama ini berfungsi sebagai semacam terminal pribadi. Kita menekan layar untuk mengatakan kepada mesin apa yang kita inginkan.

AI sedang mengubah bagian terakhir itu.

Ketika seseorang meminta AI mencari tiket pesawat, membandingkan hotel, membaca email, menyusun jadwal, kemudian mengirimkan hasilnya, hubungan manusia dengan komputer mulai bergeser. Manusia tidak lagi harus mengetahui aplikasi mana yang harus dibuka. Ia memberikan tujuan. Mesin mencari jalan.

Perubahan itu jauh lebih penting daripada sekadar memiliki chatbot yang bisa menulis puisi atau merangkum PDF.

Pada model komputasi lama, manusia bergerak dari aplikasi ke aplikasi. Kita membuka aplikasi bank untuk membayar, aplikasi peta untuk mencari alamat, aplikasi marketplace untuk membeli sesuatu, aplikasi kalender untuk melihat jadwal. Setiap aplikasi menunggu manusia datang.

Model agen AI mencoba membalik urutan tersebut. Agen dapat menjalankan tugas, menggunakan alat, mengakses data, mengambil keputusan dalam batas yang diberikan, dan meneruskan pekerjaan ke agen lain. Google memperkenalkan protokol Agent2Agent, atau A2A, pada 2025 untuk memungkinkan agen AI dari sistem berbeda menemukan satu sama lain, bertukar informasi, mendelegasikan pekerjaan, dan berkoordinasi.

Istilah “agent-to-agent” karenanya bukan lagi sekadar konsep futuristik. Infrastruktur untuk membuat agen berbicara dengan agen lain sudah sedang dibangun. AWS bahkan mendokumentasikan pola komunikasi antargen seperti permintaan sederhana, dialog berkelanjutan, kolaborasi banyak agen, serta struktur tim agen dengan pembagian peran.

Bayangkan bentuk sederhananya tanpa terlalu banyak efek fiksi ilmiah.

AI pribadi seseorang mengetahui bahwa pemiliknya ingin pergi ke Singapura bulan depan. Ia memeriksa kalender. Agen perjalanan berbicara dengan agen maskapai. Agen hotel mengirim pilihan kamar. Agen keuangan memeriksa batas pengeluaran. Agen pembayaran melakukan transaksi setelah mendapat izin. Agen perusahaan tempat orang itu bekerja mengatur jadwal rapat. Manusia tidak membuka tujuh aplikasi dan menyalin tujuh potong informasi dari satu layar ke layar lain. Yang bekerja adalah kumpulan sistem.

Di situlah smartphone mulai kehilangan peran yang selama dua dekade terasa mutlak. Kalau AI sudah dapat memahami tujuan dan menjalankan proses di belakang layar, layar tidak harus selalu menjadi tempat kita melakukan sesuatu. Antarmuka bisa berpindah ke suara, kacamata, earbud, jam tangan, kamera, kendaraan, atau perangkat lain. WEF, dalam tulisan Lundmark pada 2022, membicarakan dua kecenderungan besar menuju 6G: human augmentation dan peleburan dunia digital dengan dunia fisik.

Kacamata pintar jauh lebih masuk akal daripada terdengar pada 2010-an. Kamera dapat melihat apa yang kita lihat. Mikrofon mendengar percakapan. AI mengenali objek, menerjemahkan tulisan, memberi petunjuk arah, menampilkan informasi tanpa kita harus menunduk melihat layar. Kita tidak perlu mengeluarkan ponsel untuk membaca papan nama atau mencari arti sebuah kata.

Ada sesuatu yang agak mengganggu dalam gagasan tersebut: perangkat yang selama ini harus kita lihat untuk mendapatkan informasi justru semakin tidak perlu dilihat.

Tubuh menjadi antarmuka.

Kalimat itu terdengar berlebihan sampai kita melihat bahwa perangkat medis, sensor tubuh, implan, dan antarmuka otak-komputer, memang sedang dikembangkan dalam berbagai bentuk. Lundmark sendiri tidak mengatakan persis perangkat apa yang akan tertanam pada tubuh manusia pada 2030. Ia berbicara mengenai kemungkinan bahwa sebagian fungsi yang sekarang kita asosiasikan dengan smartphone akan dibangun langsung ke tubuh atau perangkat yang dikenakan.

6G sebenarnya masih jauh dari sesuatu yang bisa dianggap selesai. Spesifikasi, arsitektur, spektrum, standar, dan jadwal komersialisasinya masih berkembang. Bahkan pada 2022, Indian Express mencatat bahwa definisi persis 6G belum jelas dan penyebaran 5G bahkan belum merata.

Jadi menghubungkan “2030” dengan kepunahan smartphone sebagai sebuah kepastian memang terlalu gegabah.

Teknologi punya kebiasaan buruk: manusia sering mengira bentuk pertama yang terlihat hari ini akan menjadi bentuk akhirnya.

Google Glass pernah diperlakukan sebagai gambaran masa depan, lalu menghilang dari percakapan konsumen. Humane AI Pin memperoleh perhatian besar sebelum pasar memperlihatkan betapa susahnya membuat perangkat baru menggantikan kebiasaan yang sudah sangat nyaman. Produk semacam itu mengingatkan bahwa mengganti smartphone bukan persoalan membuat teknologi yang lebih canggih. Teknologi itu harus lebih nyaman.

Itu bagian yang sering dilupakan oleh ramalan futuristik.

Manusia bersedia mengeluarkan ponsel dari saku karena sebuah layar kecil sangat berguna. Ia tidak peduli apakah perangkat tersebut memiliki kecerdasan buatan tercanggih di dunia. Kalau kacamata membuat wajah terasa panas, baterainya habis dalam beberapa jam, tampilannya mengganggu penglihatan, atau orang merasa aneh memakainya di warung kopi, smartphone akan tetap berada di saku.

AI menghadapi persoalan yang sama. Orang tidak hanya membutuhkan AI yang pintar. Mereka membutuhkan AI yang dipercaya.

Ketika AI pribadi mulai berbicara dengan AI bank, AI maskapai, AI toko, dan AI kantor, kesalahan kecil tidak lagi berhenti sebagai jawaban buruk di layar. Agen bisa mengirim email, mengubah jadwal, membeli tiket, memesan barang, mengakses data, bahkan melakukan transaksi. Protokol A2A sudah mengangkat persoalan identitas, autentikasi, otorisasi, delegasi, dan kepercayaan antargen sebagai persoalan penting. IETF pada 2026 bahkan mulai membahas kerangka interoperabilitas agen yang mencakup penemuan agen, identitas yang dapat diverifikasi, rantai otorisasi, serta pemindahan konteks tugas secara aman.

Maka 2030 mungkin tidak terasa seperti film fiksi ilmiah ketika ia datang.

Tidak akan terdengar suara sirene ketika smartphone resmi “mati”. Tidak ada tombol yang ditekan pada 1 Januari 2030. Ponsel lama masih tergeletak di meja, layarnya menyala ketika sebuah pesan masuk. Orang mungkin masih menggunakannya selama bertahun-tahun.

Perubahannya justru mungkin terasa menjengkelkan pada awalnya: kita mulai semakin jarang membuka aplikasi sendiri.

AI sudah menghubungi agen lain sebelum kita sempat membuka layar. Kalender sudah berubah. Tiket sudah dipesan. Barang sudah tiba. Kacamata memberi tahu bahwa bus yang kita tunggu terlambat sembilan menit. Ponsel tetap ada di dalam saku, dingin dan berat, sementara beberapa urusan penting dalam hidup kita sedang dibicarakan oleh mesin-mesin yang tidak pernah kita lihat.

Empat tahun lagi, mungkin benda paling penting di saku kita justru benda yang semakin jarang kita sentuh.


Related

Iptek 3792109073454803831

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item