Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Kitab Ibn Kathir yang Paling Berpengaruh

Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Kitab Ibn Kathir yang Paling Berpengaruh
Ilustrasi milik BSM
Dalam pemahaman umum Muslim, sebuah ayat tentang kematian bisa dibaca sebagai peringatan, bahan khutbah, atau penghiburan bagi keluarga yang sedang berduka. Ibn Kathir mengajak pembacanya melakukan pekerjaan yang berbeda: mencari ayat lain yang berbicara tentang kematian, memeriksa hadis yang berkaitan dengannya, lalu menelusuri bagaimana para sahabat dan generasi awal Muslim memahami persoalan tersebut. 

Pembaca yang semula ingin memperoleh satu makna segera mendapati dirinya berpindah dari satu riwayat ke riwayat lain. Sebuah ayat membuka pintu menuju ayat berikutnya, sebuah hadis menghadirkan keterangan tambahan, dan penjelasan yang tampak sederhana mulai memiliki sejarah.

Itulah salah satu ciri Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, karya Isma‘il ibn ‘Umar ibn Kathir, ulama yang hidup pada abad ke-14. Ia dikenal sebagai Ibn Kathir, lahir di wilayah Busra di Suriah dan kemudian menetap di Damaskus, pusat penting kehidupan ilmiah pada masa Mamluk. Tafsirnya menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam tradisi Sunni, terutama karena penekanannya pada penjelasan Al-Qur’an melalui Al-Qur’an sendiri, hadis Nabi, serta riwayat dari para sahabat dan generasi awal Islam. Pendekatan itu memiliki konsekuensi besar: penafsiran harus berhadapan dengan bukti-bukti yang diwariskan, bukan hanya dengan kecerdasan orang yang sedang membaca.

Ibn Kathir hidup pada masa ketika Damaskus memiliki masjid, madrasah, perpustakaan, dan lingkaran pengajaran yang menjadi tempat para ulama bertemu dengan warisan intelektual berabad-abad sebelumnya. Ia belajar kepada sejumlah guru, termasuk Ibn Taymiyyah, tokoh yang dikenal karena sikap kritisnya terhadap beberapa tradisi teologi dan praktik keagamaan. 

Hubungan intelektual itu penting untuk memahami kecenderungan Ibn Kathir, meskipun tafsirnya tidak bisa direduksi menjadi pengulangan pendapat sang guru. Ia mengembangkan cara kerja sendiri, terutama melalui pengumpulan dan pembandingan riwayat yang dianggap relevan untuk menjelaskan ayat.

Prinsip yang sering dikaitkan dengan metode Ibn Kathir adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, kemudian dengan Sunnah, lalu dengan keterangan para sahabat dan generasi sesudah mereka. Urutan itu terdengar masuk akal bagi banyak Muslim, tetapi pelaksanaannya jauh lebih rumit daripada rumusnya. 

Ketika sebuah ayat dijelaskan melalui ayat lain, penafsir tetap harus menentukan apakah keduanya benar-benar membicarakan persoalan yang sama. Ketika hadis dipakai, ia harus memeriksa keabsahan riwayat dan hubungannya dengan ayat. Ketika pendapat seorang sahabat dikutip, ia perlu memahami apa yang sebenarnya dikatakan dan bagaimana keterangan itu sampai kepada penulis.

Ibn Kathir tidak menghapus pekerjaan penafsiran dengan menyerahkan semuanya kepada riwayat. Ia justru membuat pembaca melihat betapa banyak keputusan yang terlibat dalam memilih riwayat, menempatkannya, dan menentukan bobotnya. Sebuah hadis mungkin sahih, tetapi belum tentu secara langsung menjawab pertanyaan yang sedang dibahas. Dua laporan bisa memberikan rincian berbeda. Riwayat yang terkenal di kalangan masyarakat belum tentu memiliki kekuatan yang sama dengan riwayat yang telah diperiksa para ahli hadis. 

Kitab ini memperlihatkan usaha untuk mengendalikan penafsiran melalui bahan-bahan yang dapat ditelusuri, walaupun pembaca modern tetap perlu memeriksa penilaian hadis dan perdebatan yang muncul sesudahnya.

Salah satu contohnya bisa dilihat pada cara membaca kisah Nabi Adam. Al-Qur’an membicarakan penciptaannya, perintah kepada para malaikat untuk bersujud, penolakan Iblis, dan kehidupan Adam bersama istrinya. 

Sejumlah surah mengisahkan bagian-bagian yang berbeda. Penafsir yang mengikuti metode Ibn Kathir akan menghubungkan ayat-ayat tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, kemudian memeriksa riwayat yang menjelaskan detail tertentu. Namun, tidak semua cerita tambahan memiliki kedudukan yang sama. Sebagian berasal dari hadis yang dinilai kuat; sebagian lain terkait dengan riwayat-riwayat yang dikenal sebagai Isra’iliyyat, yakni kabar yang berhubungan dengan tradisi Yahudi dan Kristen atau sumber-sumber kisah yang beredar di kalangan ahli kitab.

Persoalan Isra’iliyyat membuat metode Ibn Kathir menarik sekaligus penting untuk dibaca secara kritis. Cerita tambahan dapat memuaskan rasa ingin tahu: bagaimana rupa tokoh tertentu, apa nama benda yang tidak disebutkan Al-Qur’an, atau bagaimana persisnya suatu peristiwa berlangsung. 

Manusia menyukai detail. Sebuah kisah terasa lebih lengkap ketika ruang kosongnya diisi. Tetapi kelengkapan narasi tidak sama dengan kebenaran sejarah. Ibn Kathir membahas perlunya membedakan riwayat yang sesuai dengan ajaran Islam, yang bertentangan dengannya, dan yang tidak memiliki dasar untuk dibenarkan ataupun ditolak. Klasifikasi itu tidak berarti setiap kisah yang muncul dalam tafsirnya otomatis diterima sebagai fakta.

Pembaca perlu mengingat hal tersebut ketika menemukan kisah-kisah yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Nama, rincian peristiwa, atau gambaran dramatis, kadang lebih mudah melekat di ingatan daripada pesan ayat itu sendiri. Seseorang dapat mengingat cerita tambahan selama bertahun-tahun, lalu lupa bahwa status riwayatnya diperdebatkan. Tafsir yang menghimpun banyak keterangan memberi kesempatan untuk belajar, tetapi juga menuntut pembaca agar tidak memperlakukan semua kalimat di dalamnya sebagai satu jenis bukti.

Bandingkan Ibn Kathir dengan Al-Zamakhshari, penulis Al-Kashshaf. Al-Zamakhshari, yang wafat pada 1144, terkenal karena perhatian tajam terhadap bahasa Arab, struktur retorika, dan keindahan susunan Al-Qur’an. Latar teologinya sebagai ulama Mu‘tazilah turut mempengaruhi sejumlah penafsirannya, sehingga ulama Sunni sesudahnya dapat mengambil analisis kebahasaan dari karyanya sambil mengkritik kesimpulan teologis tertentu. 

Ketika membaca Al-Zamakhshari, pembaca sering diajak mengamati bagaimana susunan kalimat menghasilkan makna, dan mengapa satu pilihan bahasa lebih kuat daripada pilihan lain.

Al-Razi, penulis Mafatih al-Ghayb, membawa pembaca ke medan yang berbeda lagi. Ia memberi ruang luas bagi argumen teologis, filsafat, logika, dan persoalan intelektual yang timbul dari ayat. Penafsirannya kadang berkembang menjadi perdebatan panjang mengenai sifat Tuhan, alam, pengetahuan, atau kemampuan akal manusia. Bagi pembaca yang menyukai argumen, Al-Razi menawarkan ruang yang luas untuk mengikuti sebuah persoalan sampai ke cabang-cabangnya.

Ibn Kathir tidak menghindari bahasa maupun pemikiran, tetapi pusat gravitasinya berbeda. Ia lebih sering mengarahkan pembaca kepada ayat lain, hadis, dan keterangan generasi awal. Perbedaan itu bukan pembagian sederhana antara ulama yang menggunakan riwayat dan ulama yang menggunakan akal. Al-Zamakhshari tetap membaca tradisi dan Ibn Kathir tetap membutuhkan penalaran. Al-Razi pun tidak menulis tanpa mengutip sumber. Perbedaannya terletak pada apa yang diberi prioritas ketika sebuah ayat memerlukan penjelasan dan jenis bukti apa yang dianggap paling menentukan.

Perbandingan itu juga memperlihatkan bahwa tradisi tafsir Islam tidak pernah terdiri atas satu metode yang seragam. Para ulama bekerja dengan warisan sumber yang saling bertumpang tindih, tetapi mereka menyusun prioritas yang berbeda. 

Satu penafsir menghabiskan lebih banyak ruang untuk menjelaskan pilihan kata; yang lain memeriksa riwayat; yang lain lagi mengembangkan argumen teologis. Pembaca yang hanya mengenal satu kitab tafsir mungkin mengira cara yang dipakainya adalah cara yang selalu digunakan semua ulama. Membaca beberapa tafsir sekaligus membuat gambaran itu lebih sulit dipertahankan.

Ibn Kathir sendiri bukan mesin pengutip yang bebas dari pilihan dan penilaian. Ia memilih riwayat yang disajikan, menentukan hubungan antar-ayat, serta memberi penilaian terhadap keterangan tertentu. Sikapnya terhadap hadis dan tradisi awal merupakan kekuatan utama kitab ini, tetapi tidak menjadikan setiap kesimpulan tafsirnya kebal dari kritik. 

Para ulama dapat berbeda dalam menilai sanad, memahami hubungan dua ayat, atau menentukan apakah suatu laporan benar-benar relevan. Pembaca tidak perlu menempatkan diri sebagai hakim yang merasa lebih tahu daripada semua ulama terdahulu. Kita hanya perlu memahami bahwa otoritas keilmuan bekerja melalui argumen dan bukti, bukan melalui nama besar semata.

Membaca Ibn Kathir membutuhkan kesabaran yang berbeda dari membaca tafsir yang hanya menyajikan makna ringkas per ayat. Sebuah penjelasan dapat diikuti kutipan hadis, nama sahabat, dan perbandingan dengan ayat lain. Pembaca yang sedang terburu-buru mungkin ingin melompati bagian-bagian tersebut untuk menemukan kesimpulan. Padahal, justru di sana kita dapat melihat bagaimana kesimpulan itu dibentuk, dan mengapa satu riwayat dipakai sementara riwayat lain ditolak atau diperlakukan dengan hati-hati.


Related

Keislaman 6431355759967303829

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item