London, Kota Tua Keras Kepala yang Menatap Sungai Thames

London, Kota Tua Keras Kepala yang Menatap Sungai Thames
Ilustrasi milik BSM
London terasa tua dengan cara yang agak tidak masuk akal. Di sekitar Bank Station, orang bisa berjalan melewati Bank of England, menyelusuri jalan yang namanya berasal dari perdagangan abad pertengahan, melihat gereja yang dibangun kembali setelah kebakaran besar, kemudian beberapa menit setelahnya berdiri di antara menara kaca yang berurusan dengan uang yang bergerak dari Singapura ke New York. 

Di ujung lain kota, restoran Pakistan, toko roti Bengali, gereja Karibia, masjid, pub tua, dan rumah-rumah bergaya Victoria hidup dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Kota itu tidak pernah benar-benar mengganti dirinya. Ia lebih suka menumpuk lapisan baru di atas lapisan lama.

Secara administratif saja London sudah agak aneh. Greater London mencakup 32 borough ditambah City of London, wilayah kecil sekitar satu mil persegi yang merupakan inti kota kuno dan masih mempunyai pemerintahan khusus. City of London menyebutnya sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan seremoni sejak zaman Romawi.

Jadi ketika orang mengatakan “London”, mereka sebenarnya sedang menunjuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada kota tua di tepi Sungai Thames. London modern adalah hasil dari beberapa pusat yang tumbuh berdekatan, saling menelan, lalu hidup sebagai satu kota tanpa pernah benar-benar menjadi satu benda.

Nama pertama yang perlu diingat adalah Londinium. Orang Romawi mendirikan permukiman di sekitar Thames pada abad pertama Masehi, dan posisi sungai membuatnya menjadi tempat yang masuk akal untuk perdagangan. Berabad-abad setelah kekuasaan Romawi pergi, London dan Westminster berkembang dengan fungsi yang berbeda. City of London menjadi pusat perdagangan dan pemukiman; Westminster menjadi pusat kerajaan, pemerintahan, dan agama. Pemerintah City of London masih menggambarkan sejarah awal tersebut sebagai dua kota: City yang komersial dan Westminster yang royal-administratif.

Pembagian tua itu belum benar-benar hilang. Ketika seseorang berdiri di Westminster Abbey atau berjalan di sekitar Whitehall, suasananya terasa seperti ibu kota kerajaan dan negara. Beberapa kilometer ke timur, di sekitar Threadneedle Street dan Cornhill, logikanya berubah menjadi uang, asuransi, perbankan, dan transaksi. Royal Exchange didirikan oleh Thomas Gresham pada abad ke-16 sebagai tempat perdagangan, mengikuti model bursa di Antwerpen. Sementara Lloyd’s bermula dari sebuah coffee house sebelum berkembang menjadi nama besar dalam industri asuransi.

London ternyata mempunyai kebiasaan lama: urusan raja dan urusan uang diletakkan berdekatan, tetapi tidak persis di tempat yang sama.

Kota itu juga beberapa kali hampir kehilangan dirinya sendiri. Pada malam 2 September 1666, kebakaran muncul dari toko roti Thomas Farriner di Pudding Lane. Selama empat hari api menghancurkan sekitar 13.000 rumah, 87 gereja, Royal Exchange, Custom House, dan Old St Paul’s Cathedral.

John Evelyn, yang datang setelah api padam, menulis tentang tanah yang masih begitu panas sampai telapak sepatunya terasa terbakar. Rencana besar untuk membangun ulang London dengan jalan-jalan lebih lebar dan tata kota yang lebih teratur pernah dibuat oleh Christopher Wren dan orang-orang sezamannya, tetapi sebagian besar rencana itu ditolak. London dibangun kembali mengikuti banyak pola jalan lama.

Itu detail yang cukup penting. London pernah mendapat kesempatan untuk menjadi kota yang lebih rapi, lalu memilih tetap menjadi London.

St Paul’s Cathedral yang sekarang selesai dibangun Wren pada 1710 di atas lokasi katedral abad pertengahan yang terbakar.

Beberapa abad kemudian, kota yang sama kembali dihantam bom dalam Blitz. Gereja St Vedast di dekat St Paul’s pernah dibangun ulang setelah Great Fire, kemudian mengalami kerusakan berat lagi pada 1940–41.

London memiliki bangunan yang bukan hanya tua, tetapi tua karena berkali-kali mengalami sesuatu.

Pertumbuhan berikutnya datang dari industri, pelabuhan, kereta api, dan kerajaan. Thames membuat London terhubung dengan dunia jauh sebelum istilah “kota global” terdengar keren. Kapal membawa gula, teh, rempah, kapas, barang manufaktur, dan manusia. Docklands berkembang sebagai bagian dari mesin perdagangan tersebut. Kekayaan kota dibangun dari jaringan yang jauh lebih luas daripada pulau Inggris sendiri, termasuk jaringan imperial yang menghubungkan London dengan Asia, Afrika, Karibia, dan Amerika.

Orang-orang dari jaringan itu kemudian datang dan tinggal di London.

Salah satu hal yang membuat London modern berbeda dari gambaran ibu kota Inggris yang sering muncul dalam kartu pos adalah kenyataan bahwa lebih dari empat dari sepuluh penduduk London pada Sensus 2021 lahir di luar Inggris. Angkanya 40,6 persen. London mempunyai proporsi penduduk kelahiran luar negeri tertinggi di antara region Inggris dan Wales.

Angka itu besar, tetapi jalan-jalan London membuatnya terasa lebih konkret. Di Southall, aroma makanan India dan Punjabi memenuhi jalan. Brick Lane membawa sejarah Yahudi East End yang kemudian bertemu komunitas Bengali. Brixton mempunyai hubungan kuat dengan migrasi Karibia. 

Pada 1948, kedatangan Empire Windrush menjadi salah satu simbol penting migrasi Karibia ke Inggris; pada dekade 1950-an dan 1960-an, ribuan orang Karibia datang dan mengalami sekaligus kesempatan, pekerjaan, diskriminasi, dan kehidupan baru di Inggris. British Library bahkan mengajarkan sejarah migrasi Inggris dengan memasukkan orang Black, Irish, South Asian, European, Jewish, Polish, dan Caribbean dalam gelombang migrasi yang berbeda.

London tidak sekadar menerima imigran. Imigrasi ikut mengubah apa yang dianggap sebagai London.

Kita bisa melihat perubahan itu pada makanan, bahasa, musik, agama, toko, klub sepak bola, pasar, dan nama jalan. Orang datang membawa sesuatu yang awalnya dianggap asing, kemudian anak mereka lahir di sana, dan generasi berikutnya mulai menganggap benda itu sebagai bagian biasa dari kota. Chicken tikka masala mungkin contoh yang terlalu sering dipakai, tetapi justru karena terlalu terkenal ia menunjukkan sesuatu: bahkan makanan yang kemudian dianggap “Inggris” dapat mempunyai sejarah migrasi di belakangnya.

Sementara itu, uang terus bergerak di City.

Pagi hari, orang-orang berdasi turun di Bank Station. Di atas mereka terdapat bangunan-bangunan lama yang tampak seperti peninggalan kekaisaran, sementara beberapa meter lebih jauh muncul Lloyd’s Building yang bentuknya seperti mesin industri yang dibalik keluar. Bank of England berdiri di Threadneedle Street. London Stock Exchange mempunyai sejarah perdagangan sekuritas yang panjang. Arsip City of London bahkan menyimpan Course of the Exchange sejak 1698 dan daftar resmi perdagangan saham dari abad ke-19.

Pemandangan itu terasa hampir kasar. Seorang pekerja finansial bisa keluar membeli kopi di tempat yang berdiri di atas sejarah perdagangan berabad-abad, menatap menara kaca, kemudian masuk kembali ke gedung untuk mengurus angka yang nilainya lebih besar daripada anggaran beberapa negara.

Beberapa Tube station membawa kita ke London yang sama sekali berbeda. Di Underground, aksen berubah lebih cepat daripada peta. Seorang penumpang berbicara bahasa yang tidak dikenali, pengumuman datang dengan suara datar, pintu terbuka, orang-orang keluar, dan kereta bergerak lagi. Tidak ada upacara untuk semua perubahan itu. London terlalu sibuk untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Kerajaan masih berada di sana. Westminster Abbey masih dipakai untuk penobatan. Istana Buckingham masih menjadi kediaman resmi monarki di London. Parlemen masih bekerja di Westminster. Pada saat yang sama, London adalah kota yang sangat bergantung pada migrasi, perdagangan internasional, jasa keuangan, universitas, teknologi, seni, dan jaringan perusahaan global.

Lapisan-lapisan itu tidak selalu akur. Harga rumah, ketimpangan, kemacetan, gentrifikasi, kepadatan, dan perubahan lingkungan, terus mengubah kawasan yang sebelumnya mempunyai kehidupan sendiri. Canary Wharf adalah contoh yang hampir lucu: kawasan pelabuhan lama yang pernah menjadi bagian dari mesin perdagangan maritim berubah menjadi hutan gedung perkantoran tinggi. Di sana, London lama tidak hilang sepenuhnya; ia terkubur di bawah nama-nama perusahaan dan kaca.

Itulah yang membuat London terasa seperti beberapa kota yang dipaksa memakai alamat yang sama. Kota Romawi, kota kerajaan, kota perdagangan, ibu kota imperium, kota industri, kota imigran, kota finansial, kota budaya global—semuanya masih meninggalkan benda yang bisa disentuh. Batu gereja. Rel kereta. Pub. Pasar. Menara bank. Rumah teras Victoria. Masjid. Stadion. Istana. Graffiti.

Menjelang malam, lampu kantor di City menyala sementara sebagian pegawai mulai pulang ke borough yang jauh. Di Westminster, wisatawan masih memotret Big Ben. Di Brixton, toko-toko belum tutup. Di restoran kecil di Soho, seseorang sedang membawa makanan ke meja yang ditempati tiga orang dengan tiga aksen berbeda.

Thames terus mengalir di antara semuanya.

Besok pagi, kereta pertama akan masuk lagi ke stasiun.


Related

Geografi 3156019154556365300

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item