Gotham: Kebobrokan Kota dan Masalah di Balik Batman
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/gotham-kebobrokan-kota-dan-masalah-di.html
![]() |
| Ilustrasi/rri.co.id |
Hal paling ganjil dalam Batman Begins adalah betapa sedikitnya Bruce Wayne harus menjelaskan dirinya kepada orang-orang yang membantunya. Ia datang kepada Lucius Fox, memilih perlengkapan militer, menanyakan bahan pakaian yang bisa menahan peluru, lalu pergi dengan barang-barang yang kelak dipakai untuk memukuli orang di malam hari.
Fox tentu curiga. Ia tetap membantu.
Di perusahaan Wayne, seorang pegawai bisa kehilangan pekerjaan karena menyalahgunakan fasilitas, tetapi seorang pewaris miliarder rupanya bisa membangun identitas rahasia dengan fasilitas yang sama dan menyebutnya sebagai pekerjaan lapangan.
Saya tidak tahu apakah Christopher Nolan sengaja membiarkan kejanggalan itu terbuka. Filmnya punya banyak urusan yang lebih mendesak: masa kecil Bruce, kematian orang tuanya, korupsi Gotham, League of Shadows, dan Jonathan Crane dengan topeng gasnya. Namun setiap kali Bruce mengunjungi Fox, saya justru teringat bahwa seluruh proyek Batman bergantung pada orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengetahui pekerjaan yang sedang mereka bantu.
Fox membuat perlengkapan, Alfred menjaga rahasia, polisi tertentu menerima bantuan, dan Bruce sendiri mengatur semua itu tanpa harus meminta izin kepada siapa pun. Ia ingin menyelamatkan kota, tetapi cara kerjanya menyerupai seseorang yang terbiasa memiliki kota itu.
Gotham tidak pernah terasa seperti kota yang dimiliki penduduknya. Dalam film ini, kota tersebut dikuasai oleh orang-orang yang mempunyai akses ke sesuatu: uang, jabatan, obat-obatan, senjata, atau koneksi dengan polisi.
Carmine Falcone dapat menjalankan bisnis kriminal karena ia memahami siapa yang bisa dibeli. Dr. Jonathan Crane memanfaatkan kedudukannya di Arkham Asylum untuk menjalankan eksperimen yang tidak semestinya. Para pejabat bekerja di tengah sistem yang telah kehilangan kemampuan untuk membedakan tugas resmi dan kepentingan pribadi. Bruce Wayne datang dengan sumber daya yang berbeda, lalu menggunakan keistimewaan itu untuk melawan orang-orang yang menyalahgunakan keistimewaan mereka.
Perbedaannya tentu penting. Falcone tidak peduli pada Gotham, sedangkan Bruce ingin menyelamatkannya. Namun keduanya mempunyai keyakinan yang mirip: ketika lembaga gagal, orang yang mempunyai cukup kekuatan berhak bertindak sendiri.
Falcone membeli polisi. Bruce membeli perlengkapan, mengumpulkan informasi, menerobos tempat-tempat yang tak bisa dimasuki orang biasa, dan menentukan siapa yang pantas dihajar. Film memberi kita alasan moral untuk menerima tindakan Bruce. Saya sendiri tidak keberatan menerima alasan itu sebagai bagian dari fiksi superhero. Yang mengganggu saya adalah betapa mudahnya kekuasaan pribadi berubah menjadi jawaban atas kegagalan lembaga publik.
Gordon menjadi penting karena ia tidak mempunyai kemewahan tersebut. Ia polisi yang bekerja di dalam sistem yang busuk, bukan orang yang bisa meninggalkan sistem itu lalu kembali dengan kendaraan lapis baja. Ketika Batman muncul, Gordon mendapatkan bantuan yang tidak mungkin diperoleh melalui prosedur kepolisian biasa. Mereka akhirnya bekerja sama karena masing-masing mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pihak lain.
Hubungan mereka cukup masuk akal, tetapi juga agak menyedihkan: seorang polisi yang masih berusaha melakukan pekerjaan dengan benar harus menerima bantuan dari orang yang tidak dapat ia periksa identitasnya, tidak dapat ia panggil ke kantor, dan tidak dapat ia tuntut jika suatu malam memutuskan bahwa seseorang layak dihukum.
Gotham membutuhkan Batman karena orang-orang yang seharusnya menjalankan tugas mereka sudah terlalu lama gagal. Itu alasan yang kuat untuk membuat film superhero. Masalahnya, alasan tersebut juga membuat Gotham tidak perlu benar-benar memperbaiki dirinya. Selama Batman bisa datang ketika keadaan genting, kita dapat terus mengikuti petualangannya tanpa harus melihat pekerjaan panjang yang membosankan: membersihkan kepolisian, membangun proses hukum yang dapat dipercaya, mengusut pejabat, atau memastikan orang miskin tidak harus hidup di bawah kekuasaan para kriminal.
Film memang bukan rapat pemerintah kota. Saya tidak meminta Bruce Wayne membentuk komisi reformasi kepolisian selama dua jam. Namun Gotham begitu rusak sehingga tindakan seorang lelaki berkostum terasa lebih masuk akal daripada tindakan lembaga-lembaganya.
Narrows, kawasan padat tempat Crane menyebarkan racunnya, memperlihatkan kerusakan itu dalam bentuk yang bisa dilihat. Bangunan saling berhimpitan, jalanan sempit, dan orang-orang tinggal di lingkungan yang membuat kepanikan mudah menyebar. Ketika racun dilepaskan, kota berubah menjadi kekacauan yang sulit dikendalikan.
Bruce melawan akibatnya, tetapi film tidak terlalu lama berhenti pada kehidupan orang-orang yang harus tinggal di sana setelah malam itu selesai. Kita melihat mereka sebagai bagian dari kota yang perlu diselamatkan, bukan sebagai penduduk yang harus kembali hidup di lingkungan yang sama.
Saya tahu itu tuntutan yang tidak adil jika diarahkan kepada film aksi. Namun Batman Begins sendiri ingin menjadi lebih dari sekadar tontonan tentang seseorang yang memukuli penjahat.
Film ini menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan mengapa Bruce harus menjadi Batman, bagaimana ia membentuk dirinya, dan mengapa Gotham memerlukan simbol. Karena itu, saya ingin tahu lebih banyak tentang hubungan antara simbol tersebut dan kota yang melahirkannya. Apakah Batman membuat warga Gotham lebih berani menghadapi kekuasaan yang korup, atau justru mengajar mereka untuk menunggu seorang penyelamat yang tidak perlu dipilih, diawasi, atau dimintai pertanggungjawaban?
Film tidak menjawabnya, dan mungkin memang tidak bisa. Bruce harus menjadi pusat cerita. Gotham membutuhkan wajah yang dapat dipasang di poster, sosok yang dapat muncul di atap gedung, tokoh yang bisa dikenali dari siluetnya. Kota yang rusak jauh lebih sulit dijual sebagai tontonan daripada seorang miliarder dengan jubah hitam.
Saya juga lebih mudah mengingat Batman yang berdiri di atas gedung daripada ribuan warga yang hidup di bawahnya. Itulah bagian yang agak memalukan dari menonton film ini: saya ikut menikmati fantasi tentang seseorang yang mengambil alih masalah, sebab saya tidak perlu menyaksikan bagaimana masalah itu sebenarnya diselesaikan.
Ada satu hal yang terus mengganggu saya pada Bruce. Ia menyembunyikan wajah karena ingin menjadi simbol, tetapi simbol itu tetap bergantung pada kekayaan dan nama keluarga yang diwarisinya. Wayne Manor, Wayne Enterprises, laboratorium, kendaraan, dan akses ke teknologi, semuanya tersedia sebelum Batman pernah muncul di Gotham.
Ia bisa mengubah dirinya menjadi sosok yang menakutkan karena kehidupan sebelumnya telah memberinya segala alat untuk melakukannya. Orang lain yang mempunyai kemarahan dan keberanian serupa tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama. Mereka mungkin hanya menjadi korban berikutnya dari kota yang rusak.
Di akhir film, Gordon memperlihatkan kartu Joker. Bruce menerima kabar itu sebagai masalah baru yang harus ditangani, dan penonton mendapat janji tentang film berikutnya.
Fox, yang mungkin sedang bekerja di Wayne Enterprises, mengurus perlengkapan yang rusak dan pesanan baru yang tidak bisa dijelaskan dengan jujur.
Gotham kembali membutuhkan Batman.
Catatan terkait: The Dark Knight Trilogy, Batman yang Dilahirkan Kembali


