Tante Ernie, Gofar Hilman, dan Cara Kerja Ekonomi Perhatian
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/tante-ernie-gofar-hilman-dan-cara-kerja.html
![]() |
| Ilustrasi/kumparan.com |
Ada jenis ketenaran yang tidak membutuhkan film, album, sinetron, atau prestasi apa pun yang biasanya dipakai untuk menjelaskan mengapa seseorang layak dikenal. Cukup sebuah akun Instagram, foto-foto yang rutin diunggah, tubuh yang terawat, wajah yang dianggap menarik, lalu seseorang dengan kamera dan jumlah penonton yang cukup besar mengajak ngobrol. Sisanya bisa dikerjakan internet.
Ernie Judojono, yang kemudian lebih dikenal sebagai Tante Ernie, mengalami persis hal semacam itu. Sebelum namanya meledak pada Mei 2020, ia sudah menjadi selebgram dengan lebih dari satu juta pengikut. Ia mengunggah foto ketika berolahraga, bepergian, berkumpul dengan teman, memasak, atau sekadar menjalani kehidupan sehari-hari. Ia sendiri pernah menjelaskan bahwa dirinya bukan penyanyi, pemain sinetron, atau presenter. Ia ibu rumah tangga yang suka memotret kegiatan sehari-hari dan mengunggahnya ke Instagram. Dari jumlah pengikut yang terus bertambah, tawaran endorsement mulai datang.
Kemudian Gofar Hilman mengundangnya ke program YouTube SekutFM. Judul episodenya sudah mengandung bahan peledak: “Tante Ernie, Tante Pemersatu Bangsa”. Mereka mengobrol lebih dari lima puluh menit. Gofar tidak sedang membuat film atau meluncurkan artis baru. Ia sendiri mengatakan ingin membuat konten yang membuat orang “senyum-senyum”, karena pada masa itu isi kontennya banyak membicarakan hal-hal berat, dan orang-orang internet sedang sibuk terbelah menjadi kubu ini dan kubu itu.
Hasilnya agak menakjubkan, kalau dipikir-pikir. Nama Tante Ernie menjadi trending topic Twitter. Orang-orang yang bahkan belum pernah mendengar namanya bertanya, “Who is Tante Ernie?” Dalam beberapa hari, jumlah pengikut Instagram-nya disebut naik dari sekitar satu juta menjadi 1,1 juta. Internet telah melakukan pekerjaannya dengan sangat efisien: seseorang yang sudah populer di satu ruang dipindahkan ke ruang lain, lalu ruang kedua mengembalikannya dalam ukuran yang jauh lebih besar.
Julukan “Tante Pemersatu Bangsa” kemudian ikut hidup sendiri. Ernie bahkan mengaku tidak benar-benar memahami mengapa orang menyebutnya begitu. Menurut penjelasan Gofar, analoginya sederhana dan agak lucu: orang-orang yang biasanya bertengkar karena politik, kelompok, atau macam-macam perbedaan, berkumpul di kolom komentarnya. Bahkan ada cerita seorang anak dan ayah sama-sama mengikuti akun Tante Ernie. Mereka, setidaknya untuk beberapa menit, memiliki satu kepentingan bersama.
Kata “pemersatu” di sini tentu saja bukan politik. Justru kelucuan istilah itu terletak pada ketidakseimbangannya. Bangsa Indonesia, dengan seluruh sejarah, perang, pemilu, agama, kelas sosial, dan konflik identitasnya, tiba-tiba diparodikan menjadi sekumpulan laki-laki yang menemukan kesepakatan bersama di bawah unggahan Instagram seorang wanita. Negara yang begitu besar berubah menjadi kolom komentar.
Tetapi internet memang senang melakukan hal semacam itu. Ia mengambil sesuatu yang sebenarnya kecil, lalu memberinya ukuran sosial yang jauh lebih besar. Sebuah foto pribadi dapat menjadi bahan obrolan nasional. Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi trending topic. Seseorang yang tidak punya pengalaman akting dapat masuk ke industri hiburan. Batas antara “orang biasa” dan “artis” jadi semakin sulit dipertahankan.
Tante Ernie menarik karena ia tidak benar-benar memulai kariernya sebagai calon artis. Ia membangun audiens terlebih dulu. Itu perubahan yang penting dalam kebudayaan selebritas Indonesia. Pada masa televisi menjadi gerbang utama, orang perlu ditemukan oleh produser, casting director, pencari bakat, atau wartawan hiburan. Popularitas biasanya datang setelah seseorang memperoleh pekerjaan di industri. Instagram membalik urutannya. Kumpulkan perhatian dulu. Industri bisa menyusul.
Perhatian bahkan dapat dihitung. Jumlah followers, likes, komentar, views, engagement. Tubuh manusia yang sedang berolahraga, makanan di meja, perjalanan ke suatu tempat, pakaian yang dipakai hari itu, semuanya dapat menjadi unit kecil ekonomi perhatian. Foto tidak lagi sekadar foto. Ia mempunyai kemungkinan menghasilkan endorsement, undangan, kolaborasi, wawancara, bahkan pekerjaan di luar Instagram.
Kisah DM yang diceritakan Tante Ernie pada saat obrolan dengan Gofar juga memperlihatkan sisi lain ekonomi tersebut. Ia mengatakan bisa menerima ratusan pesan setiap hari, termasuk dari artis, penyanyi, pemain band, pejabat, pengacara, dan fotografer. Sebagian hanya pujian, sebagian mengajak bertemu, dan sebagian menurutnya sudah menjurus sehingga ia memilih memblokir.
Di sini tubuh menjadi sekaligus konten, komoditas, dan pintu masuk sosial. Orang-orang yang memiliki centang biru datang ke kotak pesan orang yang bahkan belum masuk industri hiburan. Status sosial bergerak lewat jalur yang aneh. Seorang pejabat atau artis yang namanya sudah dikenal publik dapat muncul sebagai pengirim DM kepada seorang ibu rumah tangga yang mereka temukan dari foto Instagram. Tidak ada red carpet. Tidak ada agen. Hanya jempol, layar ponsel, dan tombol “message”.
Gofar sendiri mungkin tidak menyangka dampaknya sebesar itu. Ia mengatakan trending nomor satu tersebut tidak direncanakan. Justru ketidaksengajaan semacam itu merupakan ciri khas ekonomi perhatian. Tidak ada rapat redaksi yang menentukan bahwa Tante Ernie akan menjadi fenomena nasional. Tidak ada produser yang menghitung formula dengan presisi. Sebuah percakapan di YouTube bertemu jutaan mata, Twitter mempercepatnya, Instagram menyediakan arsip visualnya, dan algoritma melakukan sisanya.
Tiga tahun kemudian, proses yang pada 2020 tampak seperti lelucon internet mulai menghasilkan sesuatu yang lebih konvensional: karier akting. Pada 2023 Tante Ernie melakukan debut akting dalam “Open BO 2” sebagai Mami Teressa. Ia bahkan melakukan riset terkait akting tersebut. Ia sempat mendapat tawaran karakter lain, tetapi memilih Teressa setelah mempertimbangkan adegan yang harus dilakukan.
Perpindahan itu terasa hampir absurd. Perempuan yang pada 2020 berkata, “Saya hanyalah ibu rumah tangga yang suka posting foto di Instagram,” beberapa tahun kemudian berdiri di lokasi syuting dan memerankan seorang tokoh dalam film.
Yang berubah sebenarnya bukan hanya Tante Ernie. Industri hiburan juga berubah. Dunia hiburan semakin bersedia menerima orang yang sudah memiliki penonton sebelum memiliki keterampilan industri. Penonton menjadi semacam surat rekomendasi. Kalau satu juta orang bersedia melihat foto seseorang secara sukarela, perusahaan hiburan mempunyai alasan untuk bertanya: bagaimana kalau orang-orang itu juga mau menonton dia di film?
Tentu ada perbedaan besar antara terkenal dan bisa berakting. Followers tidak otomatis menghasilkan kemampuan memainkan karakter. Tetapi industri perhatian tidak selalu bekerja berdasarkan urutan tersebut. Keterampilan dapat dipelajari setelah seseorang memperoleh kesempatan. Audiens, sebaliknya, jauh lebih mahal untuk dibangun dari nol.
Pada 2025, Tante Ernie masih bermain sebagai Mami Teresa dalam “Open BO: I Am Campus”. Vidio menggambarkan Teresa sebagai perempuan yang tegas dan berkuasa; Ernie sendiri mengatakan karakter itu sangat berbeda dari dirinya. Pada 2026 ia bahkan muncul sebagai cameo dalam film horor-komedi “Sebelum Dijemput Nenek”.
Perjalanan itu membuat istilah “selebgram” terasa semakin tua. Dulu kata itu terdengar seperti kategori setengah bercanda: orang yang terkenal karena Instagram. Sekarang mekanismenya sudah menjadi salah satu jalur normal menuju pekerjaan media. Selebgram dapat menjadi presenter, bintang iklan, aktor, pengusaha, podcaster, atau apa saja, selama perhatian yang dikumpulkannya bisa dipindahkan ke medium lain.
Tante Ernie kebetulan menjadi contoh yang sempurna, karena seluruh prosesnya terlihat jelas. Foto-foto Instagram menghasilkan pengikut. Pengikut menghasilkan perhatian. Perhatian menghasilkan undangan Gofar. Percakapan menghasilkan trending topic. Trending topic menghasilkan lebih banyak pengikut. Pengikut menghasilkan peluang komersial. Beberapa tahun kemudian, peluang itu sampai ke lokasi syuting.
Yang paling lucu mungkin julukan lama itu masih menempel: “Tante Pemersatu Bangsa”. Julukan yang awalnya lahir dari lelucon komentar Instagram kemudian menjadi bagian dari identitas publik yang terus dibawa ketika ia sudah masuk televisi dan serial streaming. Internet memang begitu. Ia bisa memberi seseorang nama dalam satu malam, lalu membutuhkan bertahun-tahun untuk melepaskan nama tersebut.
Sementara layar terus berganti. Instagram, Twitter, YouTube, serial streaming. Tante Ernie berpindah dari satu layar ke layar lain, dan setiap layar membawa penonton yang sedikit berbeda. Di satu tempat ia adalah ibu rumah tangga yang mengunggah foto. Di tempat lain ia selebgram. Di tempat berikutnya ia bintang podcast. Setelah itu aktris. Nama yang sama, pekerjaan yang berbeda.
Mungkin besok algoritma akan menemukan orang lain.
Catatan terkait: Kylie Jenner Bersaing dengan Telur, Hasilnya Telur yang Menang


