Gone Girl, Film Pernikahan Terbaik yang Pernah Saya Tonton

Ilustrasi/netflix.com
“Aku mencintaimu,” kata si pria, “tapi yang kita lakukan adalah saling membenci, dan saling berusaha mengendalikan, dan saling menyakiti.”

“Itulah pernikahan,” jawab si wanita.

Adegan yang paling mengganggu dalam Gone Girl bukan ketika Amy Dunne menghilang. Bukan pula ketika darah, pisau, kebohongan, atau rencana pembunuhan mulai muncul. Bagi saya, bagian yang jauh lebih mengerikan datang ketika Nick dan Amy masih bersama, masih hidup serumah, masih bisa duduk berhadapan di meja makan, tetapi keduanya sudah mulai memainkan peran masing-masing.

Pernikahan mereka sudah berubah menjadi pertunjukan sebelum Amy benar-benar menghilang.

David Fincher memahami sesuatu yang jarang dipahami film roman: orang menikah bukan setelah cerita selesai. Mereka menikah justru ketika cerita, yang biasa dijual film, hampir selesai. Ciuman terakhir, pesta pernikahan, rumah baru, musik yang naik, kamera menjauh. The End. Penonton pulang dengan perasaan bahwa dua manusia telah memperoleh sesuatu.

Gone Girl mulai bekerja dari tempat film-film itu berhenti.

Nick Dunne dan Amy Elliott bertemu di sebuah pesta di New York. Keduanya penulis, keduanya punya kecerdasan yang cukup untuk saling mengesankan, dan keduanya tahu bagaimana berbicara dengan cara yang membuat lawan bicara merasa sedang menemukan seseorang yang istimewa. Mereka menikah. Amy adalah perempuan yang sejak kecil sudah dikenal publik melalui buku anak-anak “Amazing Amy”, karakter yang ditulis orang tuanya berdasarkan dirinya sendiri, tetapi selalu dibuat sedikit lebih hebat daripada Amy yang nyata.

Detail kecil itu penting. Amy tumbuh dalam dunia yang sudah mengajarinya bahwa seseorang dapat dicintai melalui sebuah versi dirinya yang telah diedit.

Nick juga punya versi dirinya sendiri.

Ketika mereka pindah ke Missouri setelah kehilangan pekerjaan dan menghadapi masalah keluarga, hubungan itu mulai mengalami perubahan yang lebih biasa daripada thriller yang mengikutinya. Uang menipis. Karier Amy tidak berjalan seperti yang direncanakan. Nick jadi semakin jauh. Rumah menjadi beban. Pernikahan kehilangan kemewahan masa awal. Mereka bertengkar. Mereka saling menyalahkan. Seks berubah. Percakapan jadi transaksi.

Film roman jarang tertarik pada bagian itu karena bagian itu tidak fotogenik. Tidak ada soundtrack indah ketika pasangan harus membicarakan cicilan rumah. Tidak ada montase romantis ketika seseorang merasa pasangannya semakin menjengkelkan. Tidak ada penonton yang bertepuk tangan ketika seorang suami pulang kerja dan mendapati istrinya sedang kesal karena sesuatu yang bahkan sudah dibicarakan tiga kali minggu sebelumnya.

Fincher justru memasukkan semua kebusukan domestik itu ke dalam mesin thriller.

Pada pagi ulang tahun pernikahan kelima mereka, Amy menghilang. Rumah menunjukkan tanda-tanda perkelahian. Polisi datang. Nick memberikan wawancara. Media mulai bergerak. Wajah Nick masuk televisi. Dalam waktu singkat, pertanyaan tentang seorang perempuan yang hilang berubah menjadi pengadilan publik terhadap seorang suami.

Rosamund Pike memainkan Amy dengan cara yang sangat dingin. Ben Affleck memainkan Nick dengan wajah yang kadang tampak bersalah bahkan ketika ia tidak melakukan apa-apa. Itu keuntungan besar film ini. Wajah Affleck sendiri menjadi alat cerita. Penonton terus membaca ekspresinya. Apakah dia takut? Apakah dia berbohong? Apakah dia baru saja sadar bahwa polisi mencurigainya? Apakah dia memang membunuh istrinya?

Media kemudian menemukan sesuatu yang lebih menguntungkan daripada kebenaran: narasi.

Nick adalah suami. Amy adalah istri yang hilang. Masyarakat membutuhkan penjahat.

Nick melakukan kesalahan fatal ketika tampil di depan kamera dengan senyum yang tidak tepat. Foto dirinya dan Amy yang seharusnya romantis dibedah menjadi bukti moral. Ia tersenyum terlalu lebar. Ia tampak terlalu santai. Ia mengatakan sesuatu dengan nada yang salah. Setiap gerak kecil menjadi barang bukti.

Pernikahan, dalam kondisi tertentu, ternyata bisa berubah menjadi industri pertunjukan.

Amy memahami hal tersebut dengan sangat baik.

Ketika film mulai memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi, Gone Girl berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kejam daripada misteri pembunuhan. Amy telah menulis narasi tentang dirinya sendiri sebagai istri yang dianiaya, dan ia menulisnya dengan ketelitian seorang penulis yang tahu bagaimana pembaca bekerja. Ia meninggalkan petunjuk. Ia mengatur bukti. Ia membuat Nick terlihat bersalah. Ia bahkan memahami kelemahan psikologis suaminya. Di sini istilah “cool girl” menjadi pusat gravitasi film.

Amy memperlihatkan perempuan ideal yang bersedia menjadi perempuan yang diinginkan laki-laki: tidak merepotkan, sensual tetapi tidak terlalu menuntut, santai, lucu, cantik, menyukai hal-hal yang disukai laki-laki, tidak terlalu emosional, tidak mengganggu. Ia menggambarkan konstruksi perempuan yang dibuat untuk menyenangkan pasangan kemudian menyalahkan perempuan ketika persona itu tidak bisa dipertahankan selamanya.

Bagian itu sering dibaca sebagai komentar tentang gender, dan memang begitu. Tetapi Gone Girl lebih jahat daripada sekadar mengatakan bahwa laki-laki punya ekspektasi terhadap perempuan. Film ini menunjukkan bahwa pernikahan juga menciptakan penonton.

Suami mengawasi istri. Istri mengawasi suami. Keluarga mengawasi pasangan. Teman-teman mengawasi. Tetangga mengawasi. Polisi mengawasi. Televisi mengawasi. Setelah foto dan video masuk ke internet, orang asing ikut mengawasi.

Setiap orang membawa bayangan tentang bagaimana pasangan menikah seharusnya bertingkah.

Nick dan Amy telah lama mengetahui hal itu. Mereka bahkan memiliki permainan pribadi bernama “treasure hunt”, permainan petunjuk ulang tahun yang dibuat Amy untuk Nick. Dalam pernikahan yang sehat, permainan semacam itu mungkin menjadi kenangan lucu. Dalam Gone Girl, benda-benda romantis berubah menjadi perangkat kriminal.

Itulah bagian yang membuat film ini terasa begitu dekat dengan pernikahan sungguhan meskipun ceritanya gila.

Kita tidak perlu pernah melakukan pembunuhan untuk memahami mekanismenya. Manusia yang hidup bersama bertahun-tahun memang belajar mengarsipkan kelemahan pasangan. Mereka tahu kalimat mana yang membuat pasangannya marah. Mereka tahu kapan harus diam. Mereka tahu kebiasaan kecil yang menjengkelkan. Mereka tahu kebohongan kecil yang pernah diceritakan. Mereka tahu sejarah seksual pasangannya. Mereka tahu hubungan dengan keluarga mertua. Mereka tahu berapa banyak uang di rekening.

Pernikahan memberi seseorang akses yang luar biasa besar terhadap kehidupan orang lain. Karena itu, ketika cinta memburuk, pengetahuan tersebut bisa menjadi senjata.

Nick dan Amy sama-sama melakukan hal itu. Amy mengubah pengetahuan tentang suaminya menjadi perangkap. Nick, dalam caranya sendiri, telah mengubah pengetahuan tentang istrinya menjadi sesuatu yang membuatnya menjauh. Pernikahan mereka bukan hancur karena satu rahasia besar. Ia rusak oleh akumulasi hal-hal kecil: kebanggaan, kebosanan, uang, seks, pekerjaan, rasa kecewa, keluarga, kebohongan, dan perasaan bahwa orang yang dulu kita cintai telah berubah menjadi orang yang harus kita kelola.

Itu sangat domestik. Justru karena itu terasa menyeramkan.

Bagian paling aneh datang menjelang akhir. Amy kembali kepada Nick setelah seluruh dunia mengira ia telah menjadi korban. Nick mengetahui bahwa istrinya adalah monster yang jauh lebih cerdas daripada dirinya. Ia tahu apa yang telah dilakukan Amy. Ia tahu bahwa hidup bersamanya berarti tinggal bersama seseorang yang mampu merancang kehancuran hidupnya dengan tenang.

Ia tetap tinggal. Bukan karena masalah mereka selesai. Bukan karena mereka kembali saling mencintai dengan cara yang sehat. Mereka tinggal karena masing-masing memiliki sesuatu yang dapat menghancurkan yang lain, dan karena Amy kemudian hamil.

Itulah salah satu akhir pernikahan paling pahit dalam film Amerika. Film roman biasanya menganggap pernikahan sebagai hadiah karena dua orang akhirnya memilih satu sama lain. Gone Girl menampilkan bentuk pilihan yang jauh lebih tua dan lebih kotor: dua orang yang mengetahui keburukan masing-masing, mengetahui bahwa mereka bisa pergi, mengetahui bahwa mereka bisa saling menghancurkan, tetapi tetap mempertahankan rumah tangga.

Ketika Nick menulis dalam narasi internalnya bahwa ia dan Amy saling mengenal, kalimat itu tidak terasa romantis. Pengetahuan mereka terhadap satu sama lain justru menjadi bentuk hukuman.

Saya pikir, itu alasan Gone Girl terasa seperti film pernikahan yang jauh lebih jujur daripada banyak film yang secara resmi mengaku sebagai film pernikahan.

Film ini tahu bahwa cinta bukan satu-satunya hal yang mengikat dua orang selama bertahun-tahun. Rutinitas ikut mengikat. Rumah ikut mengikat. Rekening bank. Anak. Reputasi. Foto-foto lama. Teman bersama. Keluarga. Ingatan tentang masa ketika semuanya masih baik. Bahkan kebiasaan bertengkar pun bisa menjadi bagian dari struktur hidup seseorang.

Amy dan Nick tidak mendapatkan pernikahan yang bahagia. Mereka mendapatkan pernikahan yang mereka kenal.

Pada adegan terakhir, keduanya berada di rumah yang sama. Kamera tidak memberikan rasa lega. Tidak ada kemenangan. Mereka berdiri sebagai dua manusia yang telah mengetahui terlalu banyak tentang satu sama lain untuk berpura-pura kembali menjadi pasangan biasa.

Amy berbicara mengenai kehamilannya. Nick menatapnya. Kamera terus merekam.

Di rumah itu, seorang suami dan seorang istri sedang memulai babak berikutnya dari kehidupan mereka, dengan polisi, wartawan, rahasia, kebencian, dan seorang bayi yang belum lahir berada di antara mereka.

Film berhenti di sana. Pernikahannya tidak.


Related

Entertainment 1733286117283044169

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item