Tawanan Perang yang Menyaksikan Nagasaki Dijatuhi Bom
https://www.belajarsampaimati.com/2026/10/tawanan-perang-yang-menyaksikan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
William Reginald Buchanan tidak melihat bom atom dari pusat Nagasaki. Ia melihat sesuatu yang mungkin lebih berguna untuk memahami hari-hari terakhir Jepang: sebuah masyarakat yang mulai bertingkah seperti masyarakat yang tahu perang sedang kalah, meskipun pemerintahnya belum mengatakannya.
Buchanan adalah kopral Australia dari 2/20 Battalion, nomor dinas NX45079, salah satu ribuan tentara Australia yang masuk ke sistem tawanan Jepang setelah jatuhnya Singapura. Perjalanannya menuju Jepang tidak berhenti di satu kamp. Ia melewati jaringan kerja paksa yang memindahkan tawanan dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya tiba di Jepang dan bekerja di tambang batu bara Fukuoka.
Australian War Memorial menyimpan rekaman wawancaranya dengan Frank Hole, dibuat pada 7 November 1984. Rekaman itu hanya 44 menit 46 detik, tetapi isinya padat: kamp Fukuoka No. 2B, kehidupan penduduk lokal, tambang batu bara, makanan, perlakuan penjaga, bom atom Nagasaki, pembebasan, perjalanan pulang.
Fukuoka bukan tempat yang nyaman untuk menjadi tawanan pada 1945. Para lelaki bekerja di tambang dalam keadaan kurang makan. Tubuh sudah kurus sebelum masuk ke Jepang, dan tidak tiba-tiba jadi lebih kuat hanya karena pindah negara. Australian War Memorial (AWM) mencatat bahwa sebagian besar tawanan Australia di Jepang ditempatkan di tambang batu bara, galangan kapal, dan pabrik; disiplin keras dan pemukulan merupakan bagian dari kehidupan kamp, sementara musim dingin memperparah keadaan. Mereka yang berada di Naoetsu menghadapi salju setinggi beberapa kaki. Banyak yang merasa mereka tidak akan sanggup melewati musim dingin berikutnya.
Buchanan berada dalam dunia yang semakin ganjil. Pesawat Amerika datang semakin sering. Kota-kota industri Jepang dibombardir. Pabrik-pabrik yang menjadi tempat kerja tawanan mulai terkena dampak serangan udara. Orang Jepang masih bekerja, masih berjaga, masih memerintah para tawanan, tetapi sesuatu mulai berubah dalam cara mereka menghadapi perang. Buchanan kemudian mengingat hal-hal yang kelihatannya kecil: penduduk menyembunyikan senjata di dalam peti mati, makanan yang ditinggalkan di makam mulai dimakan, dan kehidupan sehari-hari jadi semakin kacau. Detail-detail itu tercatat dalam katalog AWM untuk rekamannya.
Senjata di peti mati adalah detail yang sangat aneh untuk sebuah negara yang sedang mengklaim dirinya masih berperang. Peti mati seharusnya membawa orang mati. Di Jepang pada 1945, menurut kesaksian Buchanan, peti mati juga dapat menjadi tempat menyembunyikan senjata. Masyarakat sipil mulai berurusan dengan benda-benda yang sebelumnya merupakan urusan militer. Pemisahan antara perang dan kehidupan sehari-hari sudah rusak.
Makanan di makam bahkan lebih telanjang. Orang yang lapar tidak terlalu peduli pada kesopanan yang dibuat oleh keadaan normal. Buchanan mengingat penduduk yang mengambil makanan yang ditinggalkan di kuburan. Tidak perlu menambahkan cerita tentang kelaparan nasional untuk membuat detail itu terasa keras. Ia sudah cukup. Orang makan makanan yang ditinggalkan di makam.
Perubahan itu tidak berlangsung dengan suara terompet. Jepang masih memiliki tentara. Polisi militer masih memiliki kekuasaan. Tawanan masih bisa dihukum. Pemerintah masih berbicara tentang perang. Pesawat Amerika masih datang dari langit. Pada saat yang sama, warga sipil mulai beradaptasi dengan kemungkinan yang selama bertahun-tahun hampir tidak boleh disebut: Jepang bisa kalah.
Buchanan sendiri belum tentu memahami gambaran besarnya ketika bom jatuh di Nagasaki. Ia berada di kawasan Nagasaki dan mendengar ledakan serta melihat asap. Katalog AWM menyebut secara langsung “sound and smoke of atom bomb on Nagasaki”, dan mencatat pembicaraan Buchanan tentang akibat setelah ledakan. Ia bukan pengamat dari pusat kota yang menyaksikan manusia menguap dalam sekejap. Ia adalah tawanan di dekat salah satu kota yang baru saja dihantam senjata paling mengerikan yang pernah digunakan dalam perang.
Jarak itu penting. Kesaksian tawanan perang sering berubah menjadi cerita tentang ledakan, karena ledakan lebih mudah diceritakan daripada perubahan suasana sosial yang berlangsung berbulan-bulan. Padahal Buchanan memberikan bahan yang jauh lebih menarik. Ia melihat Jepang sebelum dan sesudah bom sebagai lingkungan tempat ia sendiri masih harus hidup. Bom tidak hanya mengubah bangunan di luar sana. Bom mengubah cara orang berbicara, bergerak, menyembunyikan barang, mencari makanan, dan menunggu.
Nagasaki dibom pada 9 Agustus 1945. Tiga hari sebelumnya Hiroshima dihancurkan oleh bom atom pertama. Australian War Memorial mencatat bahwa beberapa tawanan Australia di Jepang cukup dekat dengan titik ledakan Nagasaki untuk merasakan dampaknya. Di kamp-kamp lain, berita mengenai kehancuran kota itu tidak selalu langsung dipahami. Sebagian tawanan bahkan baru mengetahui perang telah berakhir beberapa hari kemudian.
Buchanan kemudian mengalami salah satu bagian paling aneh dari akhir perang: perang selesai sebelum kehidupan sebagai tawanan benar-benar terasa selesai. Para penjaga tidak langsung berubah menjadi orang yang ramah. Tidak semua kamp langsung dibuka. Berita kekalahan Jepang bergerak lambat. Di beberapa tempat, tawanan melihat pesawat menjatuhkan persediaan makanan sebelum mereka menerima penjelasan resmi.
Australian War Memorial mencatat bahwa banyak tawanan di Jepang keluar dari kamp secara hati-hati setelah penjaga menghilang; mereka menjelajah sedikit demi sedikit, belum yakin apakah kebebasan itu benar-benar aman.
Bagi Buchanan, pembebasan memiliki bentuk yang sangat konkret. Setelah perang, ia berada di tengah jaringan pemulangan tawanan, bertemu orang-orang Amerika, menerima makanan dan bantuan Palang Merah, kemudian kembali ke Australia. Dalam rekamannya, bagian itu muncul setelah kisah kamp dan Nagasaki.
Ia akhirnya kembali ke Sydney Harbour pada 13 Oktober 1945. Bahkan perjalanan pulang itu masih menyimpan sisa-sisa keanehan perang: seorang lelaki yang bertahun-tahun dipaksa bekerja oleh Jepang kini pulang sebagai orang bebas, sementara Jepang yang baru saja ia tinggalkan sedang berada di bawah pendudukan Sekutu.
Ada sesuatu yang agak mengganggu ketika mendengar kesaksian seperti milik Buchanan puluhan tahun setelah perang. Rekaman itu tidak terdengar seperti pidato sejarah. Ia berbicara tentang orang-orang yang ia lihat, tempat ia bekerja, apa yang dilakukan penduduk, apa yang terjadi setelah bom, bagaimana tawanan ditemukan dan dibebaskan. Ingatan bergerak ke samping. Kadang sebuah detail tentang makanan atau peti mati terasa lebih nyata daripada peristiwa besar yang menjadi judul buku sejarah.
Mungkin itu alasan Buchanan layak ditempatkan di antara saksi-saksi kecil tahun 1945. Ia tidak menjelaskan Jepang dari Tokyo. Ia tidak ikut rapat para jenderal. Ia tidak berdiri di kapal Missouri ketika penyerahan ditandatangani. Ia berada di bawah tanah, di kamp, di antara orang-orang yang lapar, sementara sebuah negara perlahan kehilangan kemampuan untuk berpura-pura bahwa semuanya masih terkendali.
Pada hari-hari terakhir itu, perubahan Jepang dapat terbaca dari benda-benda yang sangat aneh: senjata masuk ke peti mati, makanan makam dimakan orang, pesawat Amerika terbang semakin rendah, penjaga semakin tidak jelas, dan sebuah ledakan di Nagasaki mengubah langit.
Buchanan masih berada di sana. Perang belum selesai untuknya. Jepang sudah mulai bertingkah seperti perang telah selesai.
Catatan terkait: Dalam Perang, Sirine Bisa Menjadi Tanda dan Bahasa Rahasia
.jpg)

