Bolivia Dicekik Inflasi, Rakyat Ngamuk dan Minta Presiden Mundur
https://www.belajarsampaimati.com/2026/05/bolivia-dicekik-inflasi-rakyat-ngamuk.html
![]() |
| Ilustrasi/cnbcindonesia.com |
Antrean bensin di Bolivia sekarang bisa memanjang berjam-jam. Mesin mobil dimatikan untuk menghemat sisa bahan bakar. Orang-orang berdiri di trotoar sambil menggigit roti murah atau menatap layar ponsel yang nyaris kehabisan baterai. Di beberapa SPBU di La Paz dan El Alto, sopir taksi tidur di kursi kendaraan mereka sendiri karena takut kehilangan giliran. Bau solar bercampur udara tipis pegunungan Andes yang dingin dan menusuk paru-paru.
Negara yang duduk di atas cadangan gas alam dan lithium besar malah kehabisan dolar.
Di jalan-jalan Bolivia, ribuan demonstran meneriakkan tuntutan agar Presiden Luis Arce mundur. Ban dibakar. Jalan diblokade. Polisi antihuru-hara bergerak dengan tameng bening dan helm berat. Foto-foto protes terbaru memperlihatkan wajah-wajah yang bukan lagi wajah marah semata. Lebih dekat ke letih. Letih yang sudah melewati tahap frustrasi biasa.
Orang Indonesia sering membayangkan krisis ekonomi sebagai grafik merah di televisi atau nilai tukar yang bergerak cepat di aplikasi finansial. Bolivia memberi gambaran yang lebih fisikal; antrean bensin, dolar menghilang, apotek kosong, harga ayam naik, dan orang mulai membeli bahan pokok dengan gugup seperti sedang bersiap menghadapi badai.
La Paz sendiri sudah terasa seperti kota yang dibangun di ambang sesak napas. Kota itu berada lebih dari 3.600 meter di atas permukaan laut. Pendatang sering pusing dan mual di hari pertama. Jalanannya curam, kabel-kabel teleférico melintas di langit seperti benang kusut raksasa, sementara rumah-rumah bata merah menumpuk di lereng bukit El Alto sampai tampak seperti longsoran permanen yang belum jatuh.
Krisis ekonomi membuat kota itu terasa lebih keras lagi.
Pemerintah Bolivia selama bertahun-tahun mempertahankan subsidi bahan bakar besar-besaran. Harga bensin sengaja dijaga murah demi stabilitas sosial dan popularitas politik. Model itu sempat bekerja ketika Bolivia menikmati booming komoditas pada era Evo Morales. Gas alam diekspor, cadangan devisa menumpuk, negara punya uang untuk program sosial, subsidi, dan proyek infrastruktur.
Banyak orang kiri di Amerika Latin menjadikan Bolivia masa Morales sebagai contoh keberhasilan ekonomi alternatif. Pendapatan rakyat miskin naik. Kemiskinan ekstrem turun. Simbol-simbol identitas pribumi memperoleh tempat lebih besar dalam politik nasional. Morales, seorang mantan petani coca dari suku Aymara, menjadi figur nyaris mitologis bagi sebagian pendukungnya.
Masalahnya, ekonomi yang terlalu bergantung pada ledakan komoditas sering terlihat kuat justru ketika fondasinya mulai rapuh.
Cadangan devisa Bolivia anjlok dalam beberapa tahun terakhir. Produksi gas alam turun. Dolar makin langka. Pemerintah tetap mencoba mempertahankan kurs resmi boliviano dan subsidi energi, tetapi pasar mulai bergerak sendiri. Selisih kurs resmi dan pasar gelap melebar. Orang-orang memburu dolar seperti warga negara yang mulai kehilangan kepercayaan pada uang mereka sendiri.
Kepercayaan adalah bagian paling aneh dalam ekonomi. Selama orang percaya, kertas bisa bernilai. Ketika kepercayaan bocor sedikit saja, antrean mulai muncul.
Laporan terbaru menunjukkan demonstrasi besar terjadi di beberapa wilayah, termasuk Cochabamba dan Santa Cruz. Kelompok sopir truk, pedagang pasar, petani, hingga serikat pekerja ikut turun. Sebagian menuntut pengunduran diri Luis Arce, sebagian lagi menuntut solusi konkret soal bahan bakar dan inflasi. Ada juga yang sebenarnya lebih sibuk menyerang kubu politik lawan daripada menyelesaikan ekonomi.
Politik Bolivia memang selalu gaduh dengan cara yang nyaris melelahkan.
Hubungan Luis Arce dan Evo Morales pecah. Padahal Arce dulu menteri ekonomi Morales dan dianggap arsitek “keajaiban ekonomi Bolivia”. Sekarang keduanya saling serang. Pendukung Morales menuduh Arce gagal mengelola negara. Pendukung Arce menuduh Morales haus kekuasaan dan sengaja memperkeruh situasi menjelang pemilu.
Pecahnya kubu kiri Bolivia memberi pemandangan yang cukup brutal; orang-orang yang dulu berdiri di panggung yang sama kini menggunakan bahasa hampir serupa dengan musuh politik lama mereka.
Santa Cruz punya peran penting dalam kekacauan ini. Kota itu berbeda dibanding La Paz yang dingin dan penuh birokrasi negara. Santa Cruz lebih panas, lebih kaya, lebih liberal secara ekonomi, dan selama bertahun-tahun menjadi pusat oposisi terhadap pemerintahan sosialis MAS (Movement for Socialism). Ketegangan antara dataran tinggi Andes dan wilayah timur Bolivia bukan sekadar soal politik. Ada lapisan etnis, ekonomi, dan identitas regional di sana.
Bolivia sering terlihat seperti negara yang dipaksa hidup bersama, meski masing-masing bagiannya memandang masa depan dengan cara berbeda.
Di pasar-pasar tradisional La Paz, pedagang mulai mengeluh soal harga impor. Obat-obatan tertentu sulit ditemukan. Spare part kendaraan naik tajam. Orang-orang membawa lebih banyak uang tunai untuk membeli barang yang sebenarnya makin sedikit. Krisis ekonomi selalu punya ritme visual yang khas; wajah cemas di depan ATM, toko menempel tulisan “tidak menerima transfer”, percakapan pendek soal harga telur.
Lalu lithium. Dunia terus membicarakan Bolivia sebagai “Arab Saudi lithium”. Salar de Uyuni, hamparan garam raksasa yang terlihat seperti lanskap planet asing, menyimpan cadangan lithium besar untuk baterai kendaraan listrik global. Investor asing mengincarnya. China, Rusia, perusahaan-perusahaan Barat, semua datang dengan proposal dan jargon energi hijau.
Ironis sekali mendengar negara dengan cadangan strategis masa depan justru kesulitan menjaga pasokan bensin hari ini.
Banyak negara berkembang mengalami kutukan serupa; kaya sumber daya, miskin stabilitas. Uang komoditas menciptakan ilusi bahwa negara akan selalu punya bantalan. Ketika harga turun atau produksi jatuh, seluruh mesin mulai berbunyi aneh.
Wajah Luis Arce sendiri sekarang tampak lebih tua dibanding awal masa jabatannya. Dalam beberapa konferensi pers terakhir, ia berbicara soal “serangan ekonomi” dan “upaya destabilisasi”. Bahasa seperti itu cukup umum di Amerika Latin. Pemerintah yang terdesak sering menyalahkan spekulan, oposisi, elite bisnis, atau intervensi asing. Kadang tuduhannya memang ada benarnya. Kadang cuma cara membeli waktu.
Ribuan demonstran di jalan tampaknya sudah tidak terlalu peduli pada teori besar. Mereka ingin solar tersedia. Mereka ingin harga stabil. Mereka ingin dolar ada.
Sulit menjelaskan pada orang yang sudah antre lima jam bahwa situasi itu bagian dari restrukturisasi ekonomi global.
Ada foto dari demonstrasi terbaru yang cukup mengganggu; seorang perempuan tua, memakai topi bowler khas chola Bolivia, berdiri dekat blokade jalan sambil membawa kantong plastik belanja kecil. Wajahnya datar. Polisi berdiri beberapa meter di belakangnya. Asap hitam naik dari ban terbakar.
Topi bowler sendiri sejarahnya absurd. Topi itu awalnya mode Eropa yang gagal dipasarkan, lalu justru diadopsi perempuan pribumi Bolivia dan menjadi identitas budaya. Bolivia memang penuh ironi semacam itu.
Bolivia pernah mengalami hiperinflasi parah pada 1980-an. Orang-orang tua di Bolivia masih ingat harga barang berubah terlalu cepat dan nilai uang seperti meleleh di tangan. Trauma ekonomi semacam itu tidak benar-benar hilang. Ia tinggal diam di kepala masyarakat, lalu muncul lagi setiap antrean mulai panjang dan dolar mulai menghilang dari bank.
Teleférico di La Paz tetap bergerak di atas kota saat demonstrasi berlangsung. Gondola-gondola kecil melintas pelan di atas rumah bata, jalan macet, dan kerumunan protes. Dari atas, semua tampak tenang. Hampir indah.
Di bawahnya, orang-orang berteriak meminta presiden turun. Seorang sopir memukul-mukul kap mobilnya sendiri karena frustrasi antrean tidak bergerak. Polisi mengangkat tameng. Pedagang kaki lima buru-buru menutup lapak.
Udara Andes tipis sekali malam itu.

.png)

