Merpati Hijau Timor Hampir Punah, dan Kita Mungkin Tidak Tahu
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/merpati-hijau-timor-hampir-punah-dan.html
![]() |
| Ilustrasi/tokyo-zoo.net |
Hijau burung itu bukan hijau yang ramah kamera ponsel. Bukan hijau neon seperti logo minuman energi atau jaket ojol kehujanan di lampu merah. Warna tubuh merpati hijau timor (Punai Timor) sedikit lebih aneh. Ada nuansa daun yang hampir tua, bercampur abu-abu lembut di dada, dengan mata yang terlihat seperti selalu sedang mengawasi sesuatu dari balik ranting.
Yang jadi masalah, semakin sedikit orang yang masih sempat melihatnya hidup-hidup.
Treron psittaceus. Nama ilmiahnya terdengar dingin, seperti kode barang laboratorium. Padahal itu makhluk yang dulu terbang di hutan-hutan Timor, mematuki buah ara liar, bergerak dalam kelompok kecil di tajuk pohon tinggi. Sekarang populasinya diperkirakan tinggal ratusan. Maksimal lima ratus ekor di Timor Leste.
Di wilayah Indonesia, sebagian peneliti bahkan menganggapnya sudah “functionally extinct”. Punah secara fungsional. Frasa yang terdengar birokratis sekali untuk menjelaskan bahwa seekor burung sedang perlahan menghilang dari dunia.
Functionally extinct berarti jumlahnya mungkin masih ada, tapi terlalu sedikit untuk mempertahankan populasi sehat. Bayangkan menjadi spesies yang secara teknis belum mati, tapi sebenarnya sudah hampir selesai.
Saya membaca laporan lama tentang burung itu sambil membuka foto-fotonya. Rasanya aneh. Ada sensasi seperti melihat wajah seseorang yang sedang sakit keras, sementara orang di sekeliling tetap menjalani hari biasa. Di luar sana, orang masih ribut soal saham, konser musik, video TikTok, diskon e-commerce tanggal kembar. Sementara di hutan kering Timor, seekor burung mungkin sedang menjadi salah satu dari individu terakhir jenisnya. Sunyi kepunahan selalu kalah berisik dibanding urusan manusia.
Pulau Timor sendiri keras. Bukit-bukit kapur. Musim kering panjang. Pohon lontar berdiri seperti makhluk kurus yang sudah terlalu lama kena matahari. Jalanan tertentu di sekitar Kabupaten Timor Tengah Selatan berdebu seperti tepung semen saat kemarau. Orang-orang bicara tentang air dengan nada serius di sana. Tentang panen yang gagal. Tentang ternak.
Burung langka sering jadi kemewahan pikiran bagi wilayah yang sibuk bertahan hidup. Itu kenyataan yang kadang bikin percakapan konservasi terasa canggung. Kita mudah bilang “selamatkan spesies”, tapi warga lokal mungkin sedang menghitung uang beli beras.
Merpati hijau timor sebenarnya pernah tersebar lebih luas. Catatan naturalis kolonial Belanda menyebut keberadaannya di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur. Burung itu hidup di hutan monsun tropis dan daerah semi-kering. Mereka makan buah-buahan kecil, terutama jenis ficus atau ara. Dalam ekosistem, burung seperti itu penting untuk penyebaran biji. Mereka semacam kurir biologis hutan.
Saat satu spesies hilang, kadang yang ikut mati bukan cuma hewannya. Ada rantai kecil yang ikut putus diam-diam.
Tapi kepunahan jarang terasa dramatis di lapangan. Tidak ada musik sedih. Tidak ada pengumuman resmi bahwa hari ini seekor spesies berhenti eksis.
Yang ada cuma jumlah pengamatan makin sedikit. Peneliti makin sulit menemukan jejak. Suara panggilan burung tak terdengar lagi di lokasi lama. Hutan berubah jadi kebun. Anak-anak tumbuh tanpa pernah tahu burung itu pernah ada. Dunia modern sangat ahli membuat sesuatu hilang tanpa upacara.
Saya teringat cerita Martha, merpati penumpang terakhir di Kebun Binatang Cincinnati. Burung terakhir spesies Passenger Pigeon yang dulu jumlahnya miliaran di Amerika Utara. Miliaran. Langit pernah gelap oleh kawanan mereka. Manusia menembak burung itu secara massal seperti hujan daging. Martha mati sendirian pada 1914.
Seekor spesies bisa bergerak dari miliaran menuju nol lebih cepat daripada imajinasi manusia nyaman menerimanya.
Merpati hijau timor tidak pernah sebanyak Passenger Pigeon. Ia burung pulau kecil. Habitatnya memang terbatas sejak awal. Spesies pulau selalu rentan. Sedikit perubahan saja bisa fatal; pembukaan hutan, perburuan, predator invasif, perubahan iklim.
Dan manusia Indonesia punya hubungan yang rumit dengan burung. Kita memelihara mereka dalam sangkar sambil menyebut diri pencinta alam.
Pasar burung di Indonesia kadang terasa seperti museum kepunahan masa depan. Suara ribut. Bau kotoran bercampur rokok kretek dan plastik basah. Burung-burung stres melompat di kandang sempit. Ada yang bulunya rontok. Ada yang diam terlalu lama. Orang menawar harga sambil tertawa kecil. Saya pernah masuk pasar seperti itu, dan kepala terasa pengap setelah sepuluh menit.
Banyak spesies Indonesia perlahan habis lewat jalur yang sangat banal; ditangkap satu-satu. Bukan karena perang besar. Bukan bencana spektakuler. Cuma kombinasi keserakahan kecil yang berlangsung terus menerus.
Ironisnya, sebagian besar orang Indonesia mungkin bahkan tidak tahu merpati hijau timor ada. Orang lebih kenal karakter Pokémon daripada fauna endemik sendiri. Saya tidak bilang itu dengan nada sok nasionalis konservasi. Memang begitu kenyataannya. Pendidikan lingkungan kita lemah sekali. Nama-nama spesies lokal kalah total oleh budaya populer global.
Anak di Jakarta bisa hafal nama seluruh Avengers, tapi tidak tahu beda antara julang, rangkong, dan pergam. Padahal Indonesia salah satu negara dengan biodiversitas paling liar di planet ini.
Burung merpati hijau timor juga punya nasib sial lain; tampilannya tidak cukup “ikonik” bagi publik luas. Orang lebih mudah tersentuh harimau, orangutan, atau panda. Merpati hijau? Kedengarannya biasa. Bahkan namanya seperti NPC fauna. Padahal kalau diperhatikan dekat, burung itu indah dengan cara yang tidak agresif. Kepalanya bulat lembut. Warna tubuhnya menyatu dengan dedaunan seperti makhluk yang memang diciptakan untuk menghilang di antara ranting.
Mungkin itu juga sebabnya ia gampang lenyap dari perhatian manusia. Spesies yang tidak cukup karismatik sering mati lebih cepat.
Saya sempat membaca catatan pengamatan burung di Timor Leste dari beberapa tahun lalu. Nama-nama tempat seperti Mount Ramelau, Lautém, dan hutan-hutan kecil tersisa muncul berkali-kali. Peneliti harus bangun dini hari, berjalan lama, menunggu suara panggilan samar dari kanopi pohon. Kadang hasilnya nihil.
Bayangkan mengejar bayangan spesies terakhir di pulau panas berbatu. Sepatu penuh debu merah. Keringat masuk mata. Lalu pulang tanpa melihat apa-apa.
Ada kalimat yang terus mengganggu saya; “punah secara fungsional di Indonesia.” Kalimat itu terdengar seperti diagnosis medis untuk pasien koma. Belum benar-benar mati, tapi sistem vitalnya hampir selesai. Kita bahkan punya kemampuan luar biasa untuk membuat kepunahan terdengar administratif. Kata-kata seperti “penurunan populasi”, “degradasi habitat”, “tekanan antropogenik”, rasanya dingin sekali.
Bahasa ilmiah sering terlalu steril untuk tragedi biologis. Padahal yang sebenarnya terjadi lebih brutal. Seekor burung mencari pohon tempat biasa makan, tapi pohonnya sudah hilang. Musim berubah. Hutan pecah jadi jalan. Suara mesin masuk lebih dulu daripada suara burung.
Banyak orang suka bicara tentang “warisan untuk generasi mendatang”. Frasa itu sudah terlalu sering dipakai sampai kehilangan rasa. Tapi kepunahan spesies membuat kalimat itu terasa fisik. Sangat fisik. Anak-anak masa depan mungkin benar-benar hanya mengenal merpati hijau timor dari ilustrasi digital dan spesimen museum berdebu. Mereka tak akan pernah mendengar kepakan aslinya. Tak pernah melihat warna hijaunya berubah sedikit saat kena cahaya sore.
Dan manusia punya kemampuan mengerikan untuk cepat terbiasa kehilangan. Dulu orang mungkin masih mendengar burung tertentu tiap pagi. Sekarang hilang. Hidup tetap jalan. Orang tetap kerja. Tetap menikah. Tetap upload story makan siang. Kepunahan tidak menghentikan lalu lintas. Planet ini penuh makhluk yang musnah sambil nyaris tidak diperhatikan.
Di Timor, angin sore biasanya membawa bau tanah kering dan rumput terbakar matahari. Pohon-pohon bergerak pelan. Di salah satu dahan mungkin masih ada seekor merpati hijau diam mematung, matanya kecil mengilap, tubuhnya nyaris menyatu dengan daun.
Lima ratus ekor. Mungkin kurang. Mungkin jauh kurang.

.png)

