Kisah GeoCities dan Hilangnya Jutaan Halaman Web di Internet
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/kisah-geocities-dan-hilangnya-jutaan.html
![]() |
| Ilustrasi/vapor95.com |
Jutaan halaman web menghilang dalam satu keputusan bisnis. Kalimat itu terdengar seperti ringkasan laporan perusahaan, padahal isinya lebih menyerupai pembongkaran sebuah kota. Tidak ada ledakan. Tidak ada api. Tidak ada tentara. Yang terdengar hanya pengumuman bahwa layanan akan ditutup, server akan dimatikan, dan seluruh isi yang tidak sempat diselamatkan akan ikut lenyap.
Begitulah akhir GeoCities, salah satu tempat paling penting dalam sejarah internet yang kini hanya dikenang oleh orang-orang yang pernah hidup di masa ketika web masih terasa seperti wilayah liar.
GeoCities lahir pada 1994 melalui tangan David Bohnett dan John Rezner. Gagasannya sederhana sekaligus aneh jika dilihat dari sudut pandang internet modern. Mereka tidak menyusun situs berdasarkan kategori seperti "olahraga", "musik", atau "teknologi". Mereka membangun sebuah kota virtual. Pengguna yang membuat halaman pribadi ditempatkan dalam "lingkungan" atau "neighborhood" sesuai minatnya.
Penggemar komputer tinggal di SiliconValley. Penulis ditempatkan di Hollywood atau Broadway. Pecinta sejarah dapat memilih Athens. Orang yang menyukai ilmu pengetahuan sering berkumpul di EnchantedForest atau ResearchTriangle. Konsepnya terasa kekanak-kanakan, tetapi justru itulah yang membuat internet awal begitu memikat. Orang tidak sekadar membuka website. Mereka merasa pindah ke sebuah lingkungan.
Tampilan GeoCities sekarang mungkin akan membuat desainer web modern pusing. Latar belakang dipenuhi bintang atau pola marmer. Tulisan berwarna hijau menyala bertabrakan dengan latar hitam. GIF berkedip di setiap sudut. Animasi amplop bergerak menandai alamat email. Ikon "Under Construction" muncul di mana-mana seolah seluruh internet sedang diperbaiki tanpa pernah selesai. Musik MIDI langsung diputar begitu halaman terbuka. Speaker komputer yang semula diam mendadak mengeluarkan lagu instrumental dengan kualitas yang nyaris seperti nada dering ponsel lawas.
Semua itu tampak berlebihan. Semua itu juga sangat manusiawi.
Belum ada standar estetika yang memaksa semua orang tampil seragam. Setiap halaman membawa kepribadian pembuatnya, termasuk selera yang buruk. Orang bebas membuat website yang indah ataupun benar-benar kacau. Anehnya, kekacauan itu terasa lebih hidup daripada banyak platform masa kini yang bersih, simetris, dan nyaris tidak memiliki karakter.
Yahoo melihat potensi besar itu. Pada 1999, ketika gelembung dot-com sedang mengembang, Yahoo membeli GeoCities dengan nilai sekitar 3,6 miliar dolar AS dalam bentuk saham. Nilainya luar biasa besar pada masa itu. Banyak pengamat menganggap Yahoo sedang membeli masa depan internet. Sulit menyalahkan mereka. GeoCities termasuk situs dengan lalu lintas terbesar di dunia. Jutaan orang menjadikannya rumah digital pertama.
Rumah digital.
Istilah itu sekarang terdengar berlebihan karena media sosial telah mengubah cara kita memandang internet. Dulu, sebuah halaman pribadi benar-benar terasa seperti rumah. Orang menulis puisi, mengunggah foto keluarga, membuat halaman tentang kucing peliharaan, menyimpan resep masakan, menampilkan koleksi prangko, menjelaskan cara memperbaiki motherboard, menulis kisah perjalanan ke Yogyakarta, atau membuat fan page Elvis Presley. Hampir semua topik yang dapat dibayangkan pernah menemukan tempatnya di GeoCities.
Mesin pencari belum secanggih sekarang. Orang sering menemukan halaman-halaman itu secara kebetulan. Satu tautan membawa ke halaman lain. Halaman lain mengarah ke daftar teman. Daftar teman membawa kita ke situs seseorang di negara berbeda yang sedang mendokumentasikan pembangunan kapal kayu mini di garasinya. Dua jam berlalu tanpa tujuan yang jelas. Mata mulai pedih karena menatap monitor tabung CRT, tetapi rasa penasaran belum habis.
Internet waktu itu tidak terlalu sibuk mengejar efisiensi. Ia lebih senang mengajak orang tersesat.
Justru karena sifatnya yang amat pribadi, banyak sejarawan internet menganggap penutupan GeoCities sebagai salah satu kehilangan budaya digital terbesar. Ketika Yahoo mengumumkan layanan itu akan ditutup pada 2009, jutaan halaman web terancam hilang. Sebagian memang dapat diselamatkan oleh kelompok relawan seperti Archive Team yang berpacu dengan waktu mengunduh sebanyak mungkin data sebelum server dimatikan. Mereka bekerja hampir seperti tim penyelamat manuskrip kuno yang tahu perpustakaan akan segera dibakar. Tetap saja, tidak semua dapat diselamatkan.
Yang hilang bukan sekadar file HTML. Yang ikut hilang adalah kehidupan sehari-hari jutaan orang.
Seorang siswa SMA mungkin pernah menulis kecemasannya menghadapi ujian masuk universitas. Seorang ayah mendokumentasikan pertumbuhan anaknya dari bayi hingga mulai berjalan. Penggemar kereta api mengumpulkan foto stasiun kecil yang sekarang sudah dibongkar. Kolektor kaset memajang daftar album yang kini tidak lagi diproduksi. Hal-hal seperti itu jarang dianggap penting oleh perusahaan teknologi. Justru di sanalah sejarah kehidupan biasa tersimpan.
Kita sering mengira sejarah dibangun oleh presiden, perang, dan penemuan besar. GeoCities memperlihatkan bahwa sejarah juga tersusun dari resep kue buatan nenek yang dipublikasikan pada 1998, halaman penggemar anime yang dibuat remaja berusia lima belas tahun, atau catatan perjalanan keluarga ke Taman Mini Indonesia Indah yang ditulis dengan ejaan seadanya.
Perusahaan teknologi memandang server sebagai biaya operasional. Pengguna memandangnya sebagai lemari penyimpanan kenangan. Dua cara melihat yang sama sekali berbeda.
Saya sering membayangkan seseorang yang bertahun-tahun tidak pernah membuka situs pribadinya di GeoCities. Kehidupan berjalan. Pekerjaan berganti. Anak-anak tumbuh dewasa. Sesekali ia teringat bahwa dulu pernah memiliki website. Ia mengetik alamat lamanya ke browser beberapa tahun kemudian. Alamat itu tidak lagi menuju ke mana-mana.
Perasaan semacam itu sulit dijelaskan pada generasi yang tumbuh bersama Instagram atau TikTok. Platform-platform sekarang mendorong kita menghasilkan konten yang cepat dikonsumsi lalu segera tenggelam. GeoCities justru dipenuhi halaman yang dibuat tanpa target jumlah pengunjung, tanpa algoritma, tanpa sponsor, tanpa tekanan untuk viral. Orang menulis karena ingin menulis. Orang membuat website karena senang memiliki tempat sendiri.
Internet hari ini jauh lebih canggih. Saya tidak yakin ia selalu lebih hangat.
Kisah GeoCities juga memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian. Kita terlalu mudah percaya bahwa apa pun yang sudah berada di internet akan bertahan selamanya. Kenyataannya, internet jauh lebih rapuh daripada rak buku di ruang tamu. Buku yang disimpan baik-baik masih dapat dibaca lima puluh tahun kemudian. Sebuah website bisa menghilang hanya karena perusahaan memutuskan model bisnisnya sudah tidak menguntungkan.
Situs-situs pribadi di GeoCities tidak menghasilkan uang dalam jumlah besar. Laporan keuangan akhirnya menang. Kenangan kalah.
Sesekali saya membuka arsip GeoCities yang dapat diselamatkan oleh Internet Archive atau proyek-proyek komunitas. Halaman-halamannya tampak kikuk. Tombol navigasinya kecil. Gambar bergeraknya berlebihan. Font yang dipilih sering menyiksa mata. Saya tetap bertahan beberapa menit, mungkin lebih lama daripada yang diperlukan.
Kejanggalan tampilannya justru membuat saya percaya bahwa semua itu pernah dibuat oleh manusia sungguhan. Bukan oleh sistem yang sedang menghitung berapa lama saya akan bertahan sebelum menggulir ke halaman berikutnya.
Catatan terkait: Kaskus, Forum Internet Indonesia yang Pernah Jadi Raksasa Dunia
.jpg)

