Masalah Iran, Kompleksitas Dunia Islam, dan Amarah di Media Sosial

Ilustrasi/umroh.com
Sebuah video viral di media sosial, memperlihatkan seorang perempuan Iran terduduk di tanah dengan tangan terikat ke belakang, sementara panas matahari menyengat dan menyilaukan. Di dekatnya ada seorang laki-laki yang menyeretnya, dan memarahinya. Keterangan yang mengikuti video itu menyebut bahwa perempuan itu bermaksud pergi, tapi suaminya tidak mengizinkan. Mungkin terjadi pertengkaran, lalu si suami mengikat istrinya, menjemurnya di bawah panas matahari siang.

Video semacam itu membuat dada terasa sesak bahkan sebelum kita mengetahui apakah kisahnya benar, setengah benar, atau sepenuhnya salah.

Kita hidup di zaman ketika video beredar lebih cepat daripada fakta. Sebuah klip berdurasi dua puluh detik bisa melahirkan seribu kesimpulan sebelum satu wartawan pun tiba di lokasi. 

Iran menjadi salah satu tempat yang paling sering mengalami fenomena itu. Setiap minggu muncul video baru: perempuan tanpa hijab berteriak di jalan Teheran, ulama memukul seseorang, polisi moral mengejar warga, kerumunan demonstran, potongan-potongan kemarahan yang dilempar ke seluruh dunia melalui layar ponsel. Sebagian nyata. Sebagian dilebih-lebihkan. Sebagian lagi ternyata berasal dari peristiwa berbeda.

Meski begitu, kesalahan sebuah video tidak otomatis menghapus persoalan yang lebih besar.

Republik Islam Iran memang bukan negara yang mudah dipahami jika seseorang hanya mengenalnya melalui slogan-slogan. Di atas kertas, negara itu memiliki parlemen, pemilu, universitas, ilmuwan, insinyur, dan kota-kota besar yang modern. Jalan-jalan di Teheran dipenuhi mobil, pusat perbelanjaan, restoran, mahasiswa, dan koneksi internet yang menghubungkan jutaan orang dengan dunia luar. Seorang turis yang baru tiba mungkin akan terkejut karena Iran tidak terlihat seperti gambaran hitam-putih yang sering beredar di media sosial.

Lalu seseorang membuka buku hukum keluarga Iran. Di sana, suasana berubah.

Di Iran, perempuan yang menikah menghadapi pembatasan yang tidak dialami laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sejumlah keadaan, izin suami dapat mempengaruhi kemampuan seorang perempuan untuk bepergian ke luar negeri. Pernikahan usia muda masih memiliki ruang legal dalam sistem hukum. Persoalan hak cerai, hak asuh, dan kesaksian juga telah lama menjadi bahan kritik dari para aktivis hak perempuan Iran sendiri.

Banyak orang di luar Iran mengira penolakan terhadap aturan-aturan tersebut datang dari Barat. Kenyataannya jauh lebih rumit. Sebagian penentang paling keras justru lahir dari dalam masyarakat Iran sendiri.

Nama Mahsa Amini menjadi simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada satu kematian. Setelah kematiannya pada tahun 2022, gelombang protes mengguncang negeri itu. Perempuan membakar jilbab di jalan. Mahasiswi meneriakkan slogan kepada aparat. Orang-orang yang sebelumnya diam mulai berbicara. Sebagian membayar harga yang mahal untuk keberanian tersebut.

Pemandangan itu menarik karena memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perdebatan internet. Konflik utamanya bukan antara "Islam" dan "Barat". Konfliknya sering kali terjadi di dalam rumah yang sama, di dalam kota yang sama, bahkan di dalam kepala orang yang sama.

Seorang perempuan Iran bisa menjalankan shalat lima waktu, dan sekaligus menolak kewajiban hijab negara.

Seorang pria Iran bisa menghormati tradisi keagamaan keluarganya, dan sekaligus muak terhadap polisi moral.

Seorang mahasiswa Iran bisa mencintai negaranya, sambil membenci sebagian hukum yang berlaku di negaranya.

Media sosial tidak suka kerumitan seperti itu. Media sosial lebih menyukai kalimat pendek yang bisa ditempel di atas video.

"Ini syariah."

"Ini Islam."

"Ini budaya Timur."

"Ini propaganda Barat."

Semua terdengar rapi. Kehidupan manusia jarang serapi itu.

Masalahnya, sebagian pembela sistem sering jatuh pada kebiasaan yang aneh. Setiap kritik dianggap serangan terhadap agama. Setiap kisah tragis dianggap rekayasa musuh. Setiap laporan pelanggaran dianggap konspirasi. Kebiasaan semacam itu tidak menyelesaikan apa pun. Orang yang dipukul tetap terluka. Orang yang kehilangan kebebasan tetap kehilangan kebebasan.

Sebaliknya, sebagian pengkritik juga sering melakukan penyederhanaan brutal. Mereka mengambil satu peristiwa, satu video, satu tragedi, kemudian menyimpulkan bahwa satu miliar lebih Muslim di dunia berbagi karakter yang sama. Logika seperti itu tidak akan lolos ujian paling dasar dalam ilmu sosial.

Pikiran saya sering berhenti pada hal yang lebih kecil. Bukan pidato politik. Bukan deklarasi ideologi. Hal-hal kecil.

Seorang perempuan yang ragu keluar rumah karena takut ditegur polisi moral.

Seorang ayah yang diam-diam membiarkan putrinya melepas hijab ketika jauh dari lingkungan keluarga.

Seorang mahasiswa di Shiraz yang membaca filsafat Barat lewat VPN pada pukul dua pagi.

Seorang imam masjid yang sebenarnya tidak setuju dengan sebagian aturan negara tetapi memilih diam agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

Kehidupan nyata biasanya bersembunyi di tempat-tempat seperti itu.

Perdebatan mengenai syariah sering jadi kacau karena orang menggunakan satu kata untuk menggambarkan banyak hal sekaligus. Bagi sebagian orang, syariah berarti etika pribadi. Bagi sebagian lainnya, syariah berarti sistem hukum negara. Sebagian membayangkan doa dan puasa. Sebagian membayangkan polisi dan penjara.

Akibatnya, orang berbicara tentang hal yang berbeda sambil menggunakan istilah yang sama.

Kritik terhadap hukum negara Iran tidak otomatis merupakan kritik terhadap seluruh Muslim dunia. Kritik terhadap aturan wajib hijab di Iran tidak otomatis berarti kebencian terhadap perempuan berhijab. Kritik terhadap pernikahan anak tidak otomatis berarti permusuhan terhadap semua tradisi Islam.

Kita sering gagal menjaga perbedaan-perbedaan sederhana semacam itu. Mungkin karena kemarahan terasa lebih memuaskan daripada ketelitian. Di layar ponsel, semuanya terlihat mudah. Satu video. Satu narasi. Satu musuh. Satu kesimpulan.

Sementara itu, di sebuah apartemen di Teheran, seseorang mungkin sedang menutup jendela karena panas siang hari. Di rak bukunya terdapat Al-Qur'an, novel karya Sadegh Hedayat, dan buku fisika. Ia mungkin religius. Mungkin tidak. Mungkin mendukung pemerintah. Mungkin membencinya.

Ponselnya bergetar. Video baru muncul lagi.


Related

Internasional 3762166962078815175

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item