Mahatma Gandhi, Orang Suci India dengan Latar Belakang Buram

Ilustrasi milik BSM
Tubuhnya kecil sekali. Tulang dadanya menonjol. Kain putih melilit pinggang. Sandal sederhana. Di banyak foto, Mahatma Gandhi tampak lebih seperti pertapa yang tersesat ke dunia politik daripada tokoh yang akan menjatuhkan salah satu imperium terbesar dalam sejarah. Lalu kamera bergerak sedikit lebih dekat; matanya tajam, hampir mengganggu. Mata seseorang yang tahu efek dari citra dirinya sendiri.

Dunia menyukai Gandhi karena ia memberi bentuk yang mudah dipahami untuk moralitas politik. Lelaki tua kurus melawan imperium bersenjata dengan puasa dan kain tenun. Hollywood suka tipe karakter begitu. Buku pelajaran juga. 

Patungnya berdiri di Tavistock Square, London, tidak jauh dari lalu lintas bus merah dan pekerja kantoran yang makan sandwich sambil scrolling LinkedIn. Di Washington DC ada patung Gandhi dekat Kedutaan India. Di Johannesburg juga ada. Burung sering hinggap di bahunya. Anak-anak sekolah mempelajari “non-violence” seperti konsep yang bersih dan utuh.

Lalu arsip dibuka. Lalu surat-surat lama dari Afrika Selatan muncul lagi.

Gandhi muda yang hidup di Durban dan Johannesburg akhir abad ke-19 berbeda jauh dari figur suci yang kemudian diproduksi dunia. Ia saat itu masih pengacara muda berdasi, belum memakai dhoti sederhana. Kumisnya rapi. Cara berpikirnya juga masih sangat kolonial. Dalam sejumlah tulisan awalnya, Gandhi berulang kali membedakan orang India dari penduduk kulit hitam Afrika, dengan nada merendahkan terhadap warga Afrika.

Ia pernah memprotes karena orang India ditempatkan di penjara bersama “kaffirs”, istilah rasial menghina untuk orang kulit hitam Afrika Selatan. Ia menulis seolah orang India lebih beradab dan layak diperlakukan lebih tinggi dalam hierarki kolonial Inggris. Tulisan-tulisan itu sekarang terasa kasar dibaca. Keringat dingin sedikit muncul kalau membaca bagaimana ikon anti-rasisme global pernah berbicara seperti birokrat kolonial kecil yang takut status sosialnya turun.

Sebagian pembela Gandhi bilang itu konteks zamannya. Memang benar, sampai titik tertentu. Afrika Selatan waktu itu dibangun di atas hierarki ras brutal; Inggris kulit putih di atas, lalu berbagai kelompok lain disusun seperti rak supermarket kolonial. Gandhi muda tampaknya ingin orang India mendapat posisi lebih baik dalam struktur itu, bukan menghancurkan strukturnya.

Tetap saja, arsip tidak bisa disuruh diam. Beberapa akademisi India modern mulai lebih terbuka membicarakan hal itu. Nama seperti Ashwin Desai atau Goolam Vahed menulis detail-detail tidak nyaman tentang Gandhi di Afrika Selatan. Patung Gandhi di University of Ghana pernah diprotes karena pandangan rasialnya. Mahasiswa Afrika mempertanyakan kenapa kampus mereka harus memuliakan seseorang yang dulu memandang rendah orang kulit hitam.

Reaksi di India campur aduk. Sebagian marah karena merasa Gandhi sedang “dibatalkan” ala perang budaya internet. Sebagian lagi justru lega karena tokoh nasional akhirnya diperlakukan sebagai manusia biasa, bukan wallpaper moral.

Masalah dengan Gandhi memang bukan cuma soal ras. Tubuh selalu menjadi obsesi besar dalam hidupnya. Makanan, seks, tidur, buang air, puasa, susu kambing—semuanya diatur seperti eksperimen spiritual. Ia mencatat detail hidupnya dengan ketelitian yang kadang terasa melelahkan. Gandhi tidak sekadar ingin memimpin gerakan politik; ia ingin mendesain ulang dirinya sendiri sampai ke tingkat biologis.

Ia berhenti berhubungan seks dengan istrinya, Kasturba Gandhi, dan mengambil sumpah brahmacharya atau selibat. Pengendalian nafsu dianggap bagian dari perjuangan spiritual dan politik. Kedengarannya masih bisa dipahami, sampai cerita-cerita masa tuanya mulai muncul.

Lalu orang membaca soal “eksperimen” tidur bersama perempuan muda.

Beberapa perempuan itu masih sangat muda. Salah satunya Manu Gandhi, keponakan buyutnya sendiri, yang saat itu tinggal dekat Gandhi dan membantu aktivitas hariannya. Gandhi tidur telanjang bersama mereka tanpa hubungan seksual, katanya untuk menguji disiplin diri dan kemampuan mengendalikan hasrat.

Sulit membaca bagian itu tanpa rasa tidak nyaman merayap pelan.

Ruangan-ruangan tempat Gandhi tinggal sering sederhana; tikar tipis, bau minyak, kain katun, suara kipas tangan, nyamuk, tubuh renta yang kurus. Lalu di tengah suasana asketis itu, ada eksperimen seksual-psikologis yang membuat banyak orang di sekitarnya bingung bahkan marah. Beberapa pengikut dekat Gandhi sendiri keberatan. Sardar Patel tidak nyaman. Nehru juga resah. Psikologi modern praktis akan membedah praktik itu habis-habisan.

Gandhi tampaknya sungguh percaya dirinya sedang melakukan latihan spiritual. Itu justru membuat semuanya terasa lebih aneh.

Orang-orang terlalu sering membayangkan tokoh besar sejarah sebagai figur yang konsisten. Gandhi tidak konsisten. Ia bisa sangat lembut lalu keras kepala secara melelahkan. Ia berbicara tentang kasih sayang universal sambil mengontrol orang-orang di sekitarnya dengan disiplin ekstrem. Ia menentang kekerasan, tetapi kadang menuntut pengorbanan fisik dan emosional besar dari para pengikutnya. Kasturba sering menjadi korban pertama dari keras kepalanya.

Di ashram, Gandhi mengatur banyak hal sampai detail kecil; siapa membersihkan toilet, apa yang dimakan, bagaimana hidup sederhana dijalani. Ia percaya kerja kasar memurnikan manusia. Ide itu terdengar mulia, sampai orang membaca bagaimana ia kadang memaksakan keyakinannya kepada keluarga sendiri dengan intensitas yang hampir dingin.

Hubungannya dengan anak-anaknya juga tidak harmonis. Putranya, Harilal Gandhi, hidup berantakan dan lama menyimpan luka terhadap ayahnya. Alkohol, kemiskinan, frustrasi. Harilal seperti bayangan gelap dari figur “Bapak Bangsa” India. Ada surat-surat yang menunjukkan hubungan mereka penuh ketegangan dan rasa gagal.

Tapi dunia tetap lebih suka poster Gandhi yang sederhana. Kalimat “be the change you wish to see in the world” bahkan mungkin tidak pernah ia ucapkan persis seperti itu, tapi internet telanjur mencetaknya di mug, tote bag, dan caption Instagram yoga retreat di Bali.

Pengaruh Gandhi terhadap gerakan politik dunia memang nyata. Martin Luther King Jr. mempelajari strategi non-kekerasannya. Nelson Mandela juga terinspirasi sebagian oleh warisan perjuangannya. Gerakan hak sipil Amerika mengambil banyak elemen dari satyagraha; disiplin moral, demonstrasi damai, kekuatan simbolik tubuh yang menolak tunduk.

Tetapi tubuh Gandhi sendiri ternyata penuh wilayah aneh. Ia sangat takut pada kelemahan fisik dan seksual. Ketakutan itu terasa hampir obsesif. Kadang ia terdengar seperti lelaki yang berusaha mengalahkan tubuhnya sendiri sampai titik absurd. Makanan dibatasi. Garam dikurangi. Hasrat ditekan. Tidur diuji. Semua dijadikan arena moral. 

Orang suci tampaknya sering lahir dari hubungan yang rumit dengan tubuh mereka sendiri.

India modern juga mulai berubah dalam cara memandang Gandhi. Nasionalis Hindu garis keras banyak yang membencinya karena dianggap terlalu lunak terhadap Muslim saat pembagian India-Pakistan. Nama Nathuram Godse, pembunuh Gandhi, bahkan mendapat simpati di sebagian lingkaran ekstrem kanan India sekarang. Ada kuil kecil untuk Godse di beberapa tempat. Absurd rasanya melihat pembunuh dipuja, sementara korban diperdebatkan moralitasnya.

Internet mempercepat semuanya. Kutipan lama Gandhi dipotong, dilempar ke Twitter, dijadikan amunisi perang budaya. Sebagian orang tiba-tiba memperlakukannya seperti monster tersembunyi. Sebagian lagi bertahan mati-matian mempertahankan citra sucinya. Padahal manusia memang sering lebih kacau daripada monumen mereka.

Di museum Gandhi Smriti di New Delhi, masih ada jejak kaki menuju tempat ia ditembak pada 1948. Rumput halaman tampak terlalu rapi. Udara Delhi sore hari sedikit lengket di kulit. Turis berjalan pelan sambil memotret kacamata bundarnya di etalase kaca. 

Dekat pintu keluar, seorang anak kecil membeli gantungan kunci bergambar Gandhi sambil menggigit es krim yang mulai meleleh.


Related

Tokoh 8730839071294314668

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item